Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Saling Berbagi Rasa


__ADS_3

Dihyan masih berdiam diri di dalam ruangannya meski hari telah gelap sekalipun.


Ia hanya menikmati pemandangan malam yang dihiasi dengan lampu-lampu di seluruh penjuru kota, berwarna-warni dan sangat indah dipandang mata. Namun tidak bagi pria yang tengah berada dalam kegelapan ruang kantornya ini. Membiarkan lampu-lampunya tetap padam, menikmati sunyi dan sepi-nya malam.


Kata demi kata yang tadi dilontarkan Reno padanya terputar berulang-ulang di atas kepalanya, menjadi obat tersendiri baginya untuk menikmati kesakitannya sendiri. Beberapa kali menarik napas agar sedikit mampu melonggarkan rongga pernapasan yang masih saja sesak sedari tadi.


Ia memang curiga dengan kedekatan antara RIma dan Reno, namun hatinya selalu saja berkata jika hal itu biasa saja. Sebelum Reno mengurai segalanya bersama Rima.


Sesekali Ia terduduk dalam kursinya dengan tetap menghadap keluar kaca jendela.


Ponsel yang berdering beberapa kali tak ia hiraukan bahkan hanya untuk menatap Siapa nama yang tertera di dalam layar ponsel itu pun tidak.


Hingga suara ponsel terdengar secara brutal membuatnya mau tak mau bergerak meraih benda itu.


Rima, satu nama tertera di sana namun mampu menghadirkan kembali rasa sakit di dada.


Apa maunya wanita ini?


Mengapa menghubunginya setelah menorehkan luka dan pengkhianatan?


" Kenapa belum pulang?" Suara indah itu mengalun lembut di Indra pendengarannya.


Mata yang tadi sayu penuh kelukaan kini terbuka lebar, Rima mengkhawatirkannya. Seolah ada setitik harapan baginya.


" Lembur." Singkat dan bohong.


Setelah itu tak ada kata lagi yang tercipta di antara mereka, hanya mampu menikmati suara deru nafas masing-masing.


" Baiklah, aku tidur duluan ya!"


Kenapa wanita itu harus meminta izin padanya hanya untuk kata tidur?


" Iya,!" Ucapnya lagi singkat, jujur ia memang tak tahu harus berkata apa sekarang. Meski hatinya sedikit menghangat saat Rima mengkhawatirkannya dan menunggunya pulang. Namun sesak masih menyiksa.


Telepon terputus, membuat pandangan kelap kelip Lampu kembali terlihat menggoda di pelupuk mata.


Rima menunggunya pulang.


Kalimat yang mampu membuat langkahnya terayun keluar ruangan. Dia ingin pulang, memandang wanita yang kini tengah mengandung anaknya.


" Baru pulang?"


Ayah mertua yang meluangkan waktu membukakan pintu untuknya.


" Lembur yah, ada pekerjaan." Dihyan dengan pandangan tertunduk, lesu dan tidak bersemangat. Apakah ia masih harus mempertahankan wanita yang jelas tidak Mencintainya, wanita yang memiliki niat untuk meninggalkannya.


Oh ia mungkin lupa, wanita itu memang pernah meninggalkannya begitu saja. Ck, Kenapa kenyataan itu sulit sekali ia terima.


"Rima mungkin sudah tidur." Kalimat Ayah mengiringi langkahnya masuk ke dalam rumah. Benda penunjuk waktu telah menuju ke arah sepuluh, sebagian penghuni bumi telah masuk ke dalam selimut masing-masing.


" Iya yah." Ia hanya membalas singkat sekedar formalitas.


Menapaki satu persatu anak tangga dengan lesu, kaki berhenti di depan pintu kamar, tangan telah berada di handle pintu meski tak menekan.


Ia Jadi meragu untuk masuk ke dalam sana.

__ADS_1


Beberapa waktu lamanya Ia hanya diam berdiri di sana, hingga perlahan mulai bergerak kembali membuka pintu.


Kaki mulai melangkah masuk ke kamar, gelap. Kamar itu hanya menerima penerangan dari lampu luar melalui celah-celah ventilasi.


Di sana, di atas ranjang, tubuh wanita itu telah terbaring di bawah selimut, hanya rambut yang terlihat. Itu artinya Rima tidur membelakangi pintu.


Entah mengapa, rasa sesak di dada kini semakin menjadi, takut pun turut menghinggapi.


Dihyan mulai merayap naik ke atas ranjang, tubuhnya terus beringsut hingga menempel-erat dengan tubuh Rima. Tangan pun bergerak, hingga jatuh di atas perut buncit Rima. Kini wajahnya pun telah tenggelam pada tengkuk sang istri.


Ia tak sanggup membayangkan jika Rima akan pergi meninggalkannya setelah melahirkan anak mereka nanti.


Bagaimana dengan dirinya nanti tanpa Rima?


Bagaimana dengan anak mereka nanti yang harus tumbuh besar tanpa seorang ibu?


Tak terasa rasa khawatiran dan sesak yang sedari tadi mengganjal dadanya keluar dalam bentuk air mata.


Wanita ini istrinya.


Ia berhak atas segalanya pada wanita ini.


Wanita yang harus ia pertahankan dari segala gangguan yang datang dari luar.


Isak tangis mulai terdengar, bahunya bahkan bergetar. Meski sebisa mungkin ia tak menangis agar tak mengganggu sang penghuni kamar, namun tetap tak bisa.


Sesak yang ia rasakan hanya dengan membayangkan segala sesuatu yang mengancam rumah tangganya, tak dapat terbantahkan.


Hingga tangisnya membangunkan wanita yang berada dalam dekapannya ini.


Dia hanya mampu menebak rasa sakit yang dirasakan pria ini, tentu itu karenanya. Entah mengapa semakin ke sini ia merasa bimbang dengan dirinya sendiri.


" Jangan dilepas!" Suara Dihyan saat merasakan tangan Rima bergerak kehendak merupakan melepaskan tangan yang berada di perutnya.


" Jangan tinggalkan Aku, kumohon!" Diiringi dengan suara tangis yang terdengar pilu dari seorang pria yang kini berada di titik paling bawahnya. Putus asa.


" Sesak!" Rima.


Tanpa sadar Dihyan menekan perutnya terlalu keras. Hingga pria itu melonggarkan dekapannya setelah mendengar kata itu.


Mendapatkan sedikit ruang,Rima mulai bergerak berbalik demi menatap sang suami.


Dihyan kembali masuk dalam dekapannya, menenggelamkan wajah di dada Rima.


" Maaf!"


" Jangan Tinggalkan aku!" Suaranya masih bercampur dengan isak tangis. Bahkan saat ini, baju tipis Rima telah basah saja.


Lelah, rindu, sakit melebur jadi satu saling berdesakan dalam rongga dada.


Tak bisa dipungkiri, sedihnya Dihyan juga menjalar pada Rima. Air mata turut mengalir membasahi pelipisnya. Tangan bergerak mengusap pelan kepala sang suami.


" Baru pulang?"


Dihyan hanya bisa menganggukkan kepala, tak mampu lagi berkata lebih.

__ADS_1


" Jangan terlalu kencang! Bayiku susah bernafas."


Rima kembali mengingatkan saat tangan Dihyan memeluknya dengan sangat erat.


Mendengar kata bayi, Dihyan beringsut turun menempatkan wajahnya tepat di depan di hadapan perut buncit Rima.


Mengelus pelan, sesekali mendaratkan ciuman di sana, tempat bayi mereka bersemayam. " Maaf!" Ucapnya pelan.


" Kalau pulang kerja harusnya langsung membersihkan diri, bukan langsung naik keranjang."


Daripada membahas tentang tangisan Dihyan, lebih baik dia membahas hal lain. Ia bisa menebak ke mana ujung ceritanya nanti.


Dihyan kembali mendorong tubuh ke atas tepat di dada Rima, kembali menenggelamkan wajah di sana.


" Kamu lembur?" Rima.


Dihyan menganggukkan kepala.


Iya, tadi dia lembur. Pekerjaannya menikmati pemandangan kota di malam hari sembari mencoba menenangkan diri.


"Sudah makan?"


Kali ini Dihyan menggeleng, "Aku lapar," Ucapnya jujur.


" Ya sudah, kita makan dulu yah!"


Rima dengan lembut, Ia kini seolah tengah membujuk seorang anak kecil hanya untuk makan. Tangannya masih bergerak mengusap kepala Dihyan.


" Kamu bangun dulu!" Rima kembali berkata saat Dihyan belum ada tanda-tanda bergerak, meski tadi telah menganggukkan kepalanya.


Perlahan Dihyan mulai merenggangkan pelukannya, tubuh sedikit menjauh dengan kepala yang mendongak ke atas menatap wajah Rima yang juga terlihat sedikit sembab.


"Jangan menangis!"


RIma mengulurkan tangan mengusap pelan wajah sang suami, membersihkan sisa-sisa air mata dari sana. Ia tak mampu membantah rasa bersalahnya pada pria ini.


" Jangan Tinggalkan Aku!" Mata sayup dan sembab itu memandang Rima dengan begitu dalam dan sangat memohon.


" Aku sedang hamil, perutku berat untuk dibawa lari." Entahlah, mungkin Rima tengah bercanda menjawab permintaannya.


Plak.


Kesal sebab Dihyan masih bergeming di tempatnya sambil terus memandanginya, membuat Rima melayangkan tepukan sedikit keras di pundak pria itu.


" Kamu mandi, biarkan aku yang menyiapkan makananmu di bawah!"


"Suap!" Keadaan lemah pria itu benar dimanfaatkan dengan baik, berbicara dengan manja penuh pengharapan.


Rima tak kuasa menolak, mulai menyendokkan sesendok nasi ke hadapan Dihyan.


" Di sini aku yang sedang hamil, harusnya aku yang dimanja oleh suami. Ini kok malah sebaliknya?" Ia mencoba melayangkan protes. Seingatnya Dihyan tak pernah menyuapinya dengan tulus.


"Iya, sini aku suapi juga!"


Dihyan mulai mengambil alih sendok, menyuapkan nasi ke hadapan RIma.

__ADS_1


Entah sampai kapan kebahagiaan dan romantis mereka tercipta.


__ADS_2