Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Sakit Perut


__ADS_3

Kejadian demi kejadian nyatanya tak membuat Reno mundur demi mendapatkan Rima kembali.


Baginya, Wanita untuknya hanya satu di dunia ini, yaitu Rima, Tiada Yang Lain.


Ia hanya memberi beberapa waktu saja untuk Rima menjalani hari tanpanya, setelah itu ia kembali.


Terlebih lagi setelah mengutarakan yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Rima pada Dihyan.


Sekiranya Dihyan mengerti dengan benar tentang arti cinta dan saling memiliki.


Reno akan terus berusaha dengan jalannya, apalagi Ia sangat tahu bahwa Rima juga memiliki perasaan yang sangat dalam untuknya.


" Hai selamat siang!" Ucapnya yang tengah berada di ambang pintu, tentu saja dengan senyum memukau yang akan membuat siapapun lupa diri.


Meisya kembali  tercengang melihat keberadaan pria ini, meski telah terbiasa dengan kehadiran pria ini, nyatanya rasa penasaran masih saja membayangi.


Dalam hati terus bertanya siapakah sebenarnya pemilik dari wanita berjas putih yang kini tengah duduk di kursi pemeriksaan ini. Pria yang inikah atau pria yang dulu juga pernah datang berkunjung?


Hendak bertanya langsung pada sang wanita, nyatata ia terlalu sungkan, takut menyinggung sebenarnya.


Ah sudahlah, tak usah terlalu kepo Mesya! Rutuknya dalam hati sebelum keluar meninggalkan kedua insan ini.


"Hai juga." Senyum kikuk pun ia sumbangkan.


Tanpa segan, Reno mulai melangkah mendekati Rima mengambil tempat yang biasa ia duduki, tempat pemeriksaan pasien yang ada di depan Rima.


Mengeluarkan bekal dari dalam ranselnya kemudian menatanya di atas meja. Hingga mereka menikmati makan siang berdua. Masih seperti biasa, tenang dan seperti tak terjadi apa-apa.


Terlalu lama tak bersua, membuat rindu menggunung. Reno menarik kursinya hingga berdekatan dengan Rima. Wanita itu hanya memandang aksi Reno tanpa hendak mencegah.


Makan siang telah usai, masih menyisakan sedikit waktu untuk berdua sebelum waktu istirahat habis.


" Keadaan kamu gimana! Dengar-denger kamu habis sakit? Sakit apa?"


Tanpa sepengetahuan Rima, Reno telah beberapa kali datang untuk makan siang saat ia dirawat.


Namun ia tak bisa berbuat apa-apa, apalagi hanya untuk mencari kabar tentang bagaimana dan di mana Rima dirawat.


Seribu orang yang ia tanyai tak ada yang tahu jawabannya, atau mungkin mereka sengaja menyembunyikannya pada pria ini.


Ia hanya bisa menunggu hingga keadaan Rima membaik dan kembali masuk kerja lagi.


" Baik, hanya perlu istirahat sebentar." Rima.

__ADS_1


Jika ditanya tentang kata rindu, jujur maka ia pun rindu. Namun ketakutan tentang perjumpaan hari itu hingga membuat keluarga besarnya memanas tak bisa ia idahkan.


" Keadaan dia gimana?" Tangan Reno terulur demi mengelus lembut perut buncit Rima.


" Ba-baik kok!" Itu hanya sekedar kata Semata. Di sini wanita itu mulai merasa sudah tak baik-baik saja.


Meski tersentak saat merasakan telapak tangan Reno di perutnya, wanita itu mencoba mengendalikan ekspresinya.


Ia masih tak ingin kehilangan Reno, meskipun rasanya Iapun tak tega untuk menyakiti Dihyan kembali.


Egois kah ini?


Baginya tidak.


Ia mencintaiReno, dan hendak pergi meninggalkan Dihyan saat ia rasa pria itu telah membaik dari segala rasa sakit yang menjadi traumanya.


Rima meringis, menahan rasa sakit perut yang lumayan.


Sementara Reno tersenyum, masih terus mengusap perut Rima. Pancaran kebahagiaan yang tergambar di wajah pria itu terlalu kentara. Seolah ia telah menyalurkan kasih sayangnya kepada anak kandungnya sendiri.


Dan karena senyum itu pula, membuat Rima enggan menepis tangan pria itu.


Meski saat Reno mulai menundukkan kepala, memberikan kecupan singkat pada perut bulat milik Rima.


" Cium anaknya saja dulu, ibunya nggak bisa dicium, nanti aja kalau sudah halal." Saat Reno mulai menjauhkan wajah dari perut Rima.


Senyum di wajah pria itu masih bertahan. Sebelum, ...


" Eh kamu kenapa?" Panik langsung tercipta saat Reno mulai menatap raut wajah Rima yang seolah tengah menahan rasa sakit.


" Rima!" Panggilnya dengan tangan yang kembali mengelus perut Rima, mencoba memberikan ketenangan. "Apanya yang sakit?" Tanyanya lagi.


Namun Rima menggelengkan kepala, sambil menggigit bibir bawah.


" Perutmu sakit?"


" Rima, bilang aku harus apa?"


Rima belum mampu menjawab meski bulir-bulir keringat telah nampak di wajah cantik wanita itu.


" Sudah mau melahirkan?"


kali ini Rima menganggukan kepala. Rasa mules yang dari tadi ia rasakan, semakin sering seiring berjalannya waktu. Terlebih lagi saat Reno menyentuhkan telapak tangan pada perutnya.

__ADS_1


" Kamu tunggu ya, aku panggilkan dokter dulu."


Beranjak dengan tergesa-gesa, keluar ruang pemeriksaan dan segera menarik tangan salah satu dokter yang ada di sana.


Ia tak tahu apakah Dokter itu bisa menangani dirimu dengan baik atau tidak.


" Ada yang mau melahirkan dokter, cepat!" Ucapnya sambil berlari dengan tangan menarik sang dokter.


" Tunggu tunggu, Saya bukan saya bukan dokter obgyn." Kakinya tertahan agar tak lagi berjalan dengan tangan yang menepuk pelan tangan Reno yang menariknya.


" Dok, tolong dok ada yang mau melahirkan di sana!" Dokter yang tadi ia bawa lari telah menghampiri seorang wanita lainnya yang ia ketahui sebagai dokter.


Siapapun itu yang jelas dia ingin Rima segera mendapat pertolongan.


" Masih bisa jalankan Dok?" Pertanyaan dokter gitu justru menurut emosinya.


" Dia kesakitan dokter, Kenapa disuruh berjalan? Biar aku yang gendong!" Ucapnya dengan sedikit kesal.


" Pembukaan akan lebih cepat jika dibawa berjalan." Keterangan dokter mampu meredam emosinya meski hanya sedikit. Tak tahan rasanya jika harus melihat wajah Rima menahan kesakitan.


" Jangan lupa untuk bernafas lewat hidung dan mengeluarkannya dengan mulut. Itu akan sedikit menambah dorongan pada rahim." Lagi dokter memberikan arahan pada Rima.


Rima hanya bisa membalas dengan mengangguk, tak lupa memberikan senyuman manis sebagai ucapan terima kasih telah mengingatkannya.


" Sini aku bantu!" Reno mulai merangkul tubuh Rima mau apa hingga mempermudah langkah Rima di tengah kesakitannya.


Mereka masih berjalan beberapa langkah menjauh dari ruang pemeriksaan tempat Rima bekerja.


Hingga akhirnya Rima berhenti melangkahkan kaki dengan kepala yang menggeleng. Bulir-bulir keringat mulai membasahi keningnya, tangan yang digenggam Reno terasa begitu dingin.


" Nggak kuat!" Ucapnya dengan nafas berat.


" Ambilkan kursi roda!" Reno memerintahkan Seorang perawat yang ada di antara mereka.


Begitu cekatan namun tetap pelan pria itu menggendong dan meletakkan tubuh Rima di atas kursi roda. Ia mulai berjalan dengan langkah cepat mengikuti arah perawat itu berlari.


Reno ikut masuk ke ruangan bersalin, ia masih bekerja memindahkan tubuh Rima ke atas berangkat tempat persalinan.


Setelah itu kakinya menjauh, berjalan keluar dari sana.


Hati dan otaknya masih bekerja dengan baik, hingga mampu menggerakkan tangannya merogoh koceknya demi mengambil ponsel.


Memberikan kesempatan kepada rivalnya untuk merasakan kebahagiaan terakhir bersama Rima. Ada saatnya nanti ia akan mengambil posisi itu.

__ADS_1


Entah cinta seperti apa yang dimiliki pria ini?


__ADS_2