
Kedua pria itu masih sama-sama diam, hanya ada hembusan napas yang kadang terdengar berat.
Berada dalam ruangan yang sama. Sama-sama berpikir tentang keputusan yang akan diambil semoga bisa membuat keadaan jauh lebih baik, hingga tak ada penyesalan di kemudian hari.
Di sini tidak hanya mengancam satu hubungan rumah tangga. Tapi masa depan seorang anak yang belum tahu apa-apa meski hanya berucap.
"Lepaskan Rima!"
Ayah mulai membuka cakap.
"Apakah ayah tega jika cucu ayah memiliki orang tua yang tak utuh? Jelas itu akan berpengaruh pada mentalnya nanti. Saat ia sekolah nanti, mungkin akan iri pada teman-temanya saat melihat keluarga yang lain sedang berkumpul." Ia hanya bisa mengharapka putranya sebagai penengah.
"Ini bukan hanya tentang cucu ayah, tapi ini juga tentang anak ayah." Ayah.
"Orang tua mana yang akan diam ketika melihat anaknya terus sajadi sakiti oleh orang yang sama? Dan bahkan sekarang kau telah menghianatinya, maka lepaskan putriku! Ambillah semua yang ingin kau ambil dariku, asal kembalikan putriku padaku!"
Pria paruh baya itu masih memberikan waktu pada DIhyan untuk menjelaskan. Ia tak terlalu kejam untuk langsung memberikann hukuman sebelum mendengar pembelaan dari keduanya, anak dan menantunya.
"Aku tidak pernah menghianati Rima yah. Sumpah!"
"Tapi Rima melihatnya dengan jelas." Ayah.
"Wanita itu yang datang untuk meminta tanda tanganku, tidak lebih."
"Ayah pernah berada di posisiku. Setidaknya ayah tahu apa yang biasa terjadi saat orang-orang seperti kita."
"Kumohon mengerti keadaanku yah, jika bukan ayah yang hendak mengerti lalu siapa lagi."
"Aku berani bersumpah dengan nama Tuhan, ... "
Kalimat panjang lebar itu akhirnya terpotong saat ayah turut berucap dengan lantang.
"Jangan terbiasa membawa nama Tuhan demi menggadaikan perbuatanmu!"
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar kalian semua percaya padaku?"
" Maaf, Ayah tidak bisa lagi membantumu. Dan biarkan Rima menentukan jalannya sendiri." Ayah.
" Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi yah, aku mohon! demi Putraku, demi cucu ayah juga!"
Terdengar helaan napas dari pria paruh baya itu. Semua yang dikatakan oleh menantunya ini benar adanya.
__ADS_1
Tentang posisi DIhyan yang kadang mendapatkankan ujian berupa wanita, ia tahu. Bahkan ia pun pernah mengalaminya. Harus kuat iman, istripun harus tetap sabar dan tegar.
Juga tentang keadaan mental sang cucu yang mungkin akan terganggu saat perpisahan kedua orang tua ini.
" Ayah harap, kamu bisa menerima semua keputusan yang Rima ambil nantinya."
Tak ingin membuat putrinya kembali terkekang dengan rasa yang tak seharusnya.
Dihyan berjalan lunglai menaiki satu persatu undakan anak tangga. Tubuhnya lemas, kepala berat, ia butuh sandaran, tapi di mana?
Tangannya berusaha menekan heandle pintu kamar RIma, tapi tak kunjung terbuka, pasti di kunci.
"Rima. Ini aku!" Ucapnya di balik pintu.
"Pak, maaf pak." Suara dari belakang memaksanya untuk berbalik. Bibi berdiri dengan kedua tangan terpaut di depan tubuh,
" Tapi tuan menyuruh saya membersihkan satu kamar di bawah, katanya buat gunakan untuk beristirahat. Maaf pak!" Rasanya sungkanpun.
DIhyan hanya tersenyum sambil mengangguk berusaha menampakkan raut yang baik-baik saja meski hatinya sedikit tersinggung. Ia tak diperbolehkan tidur bersama istri dan anaknya.
"Iya bi, maaf mengganggu!" Berbalik badan siap mengikuti segala peraturan yang ada di rumah ini. Toh memang ia yang menumpang.
Di dalam kamar ternyata telah ada tas yang berisi pakaiannya dan pakaian Azka. Ah, akan ia gunakan sebentar sebagai senjata untuk masuk ke kamar Rima, toh di tas itu ada semua kebutuhan putra mereka.
Kantuknya sengaja ditekan demi menanti waktu tengah malam, meski tubuh lelah benar ingin beristirahat.
Ah, lapang sekali terasa kamar dan ranjang ini tanpa anak dan istrinya. Kedua tangannya terbentang di atas tempat tidur, pun dengan kedua kakinya. Tak ada yang bisa dipeluk kecuali guling.
Sunyi benar-benar terasa di saat sendiri seperti ini. Ck begini rasanya ditinggal istri.
Baru semalam menikmati kesendirian ia telah merasakan kerinduan yang begitu dalam.
Dihyan buru-buru membuka mata. Rasa lelah setelah seharian bekerja nyatanya menghantar lelap yang begitu sangat.
Segera ia bangkit dari tidurnya, keluar dari kamar. Lampu di luar kamar terang, mungkin bibi lupa mematikannya.
Berjalan dengan cepat ke arah kamar Rima, bahkan tas yang akan ia pergunakan sebagai alasan untuk bisa masuk ke kamar itupun ia lupakan. Lalu bagaimana caranya masuk sebentar?
Ia tak terpikirkan. Bahkan saat melihat seluruh ruangan telah terang dengan lampu-lampu tak ia gubris.
Segera menekan handle pintu, terbuka.
__ADS_1
Cepat sekali, bahkan tak ada rintangan sama sekali.
Dihyan membulatkan mata, di dalam sana Rima telah duduk di depan meja riasnya. Pakaianpun terlihat sudah rapi.
Jendela di kamar ini bahkan telah terbuka menampilkan sinar mentari yang mungkin sedang menertawakannya. Ini sudah pagi.
Tidur dipenghujung malam nyatanya membuat bangun kesiangan.
"Rima," Sapanya sambil berjala mendekat. "Kamu mau ke mana?"
Heeeh, bangun tergesa-gesa hingga melupakan sedikit nyawanya yang mungkin masih menggangtung di langit-langit kamar bawah.
Rima tak menjawab, wanita itu masih mencari jawab dari pandangannya.
Apakah pria itu telah selesai bersiap?
Namun saat melihat mata itu masih merah dengan tatanan rambut yang berantakan bisa ditebak pria itu baru saja terbangun dari tidur malamnya.
Melihat penampilan suaminya yang masih menggunakan pakaian semalam saat bertemu membuatnya mendengus. Kenapa suka sekali tak membersihkan diri jika hendak tidur.
Rima berjalan mendekati nakas, meraih air minum untuk di serahkan pada Dihyan.
"Duduk, minum dulu!" Perintahnya.
Ck, setelah itu Ia mengutuk dirinya sendiri, kenapa harus perhatian pada pria ini.
Dihyanpun menurut, duduk di tepi ranjang sambil meneguk air minum pemberian sang istri, "TErima kasih!" Ucapnya sambil meletakkan gelas kosong itu ke atas nakas.
Dihyan tertunduk dengan mata terpejam sambil mengatur napas, mencoba menarik Nyawa yang masih berserakan masuk ke dalam tubuhnya.
Rima bahkan sudah kembali bangkit meninggalkan meja riasnya, berjalan mendekat hanya untuk mengambil tasnya, wanita itu siap berangkat kerja.
"Aku pergi dulu!" Wanita itu masih berucap pamit pada suaminya, padahal mereka sedang bertentangan satu sama lain.
Kakinya terhenti saat tangannya dicekal oleh DIhyan.
Heeeh, hanya menghembuskan napas keras sambil memandang arloji yang ia gunakan saja mampu membuat tangan Dihyan terlepas. Pria itu sadar diri, tak ingin membuat RIma semakin kesal padanya karena tertahan.
"Azka mana?" Tanyanya.
" Di bawa sama bibi, di jemur di luar." Santun wanita itu menjawab. Tidur bersama sang buah hati semalam mampu membuat hatinya sedikit menghangat. Hari ini ia hanya ingin menjaga kondisi hati agar pekerjaannya dapat dilalui dengan tenang dan damai.
__ADS_1
"Bersiaplah, nanti terlambat!" Ucapnya demi bisa terbebas dari pria ini. Ia ingin segera lepas dan berlalu dari sini.