
"Om? Eh bapak?" Reno terkesiap saat melihat pria paruh baya di hadapannya. Masih pagi pikirnya.
Panggilan om pada pria itu memang telah biasa, mengingat seringnya mereka berinteraksi di luar jam kantor.
Pria itu tersenyum sejenak kemudian menepuk pelan pundak Reno. " Ayo kerja!" Ucapnya lalu masuk ke dalam ruang kerja.
Meski tersenyum namun pandangannya menyiratkan sebuah beban berat di pundak.
Reno dan Gea masuk ke ruangan atasan mereka itu dengan berkas di dalam pelukan masing-masing. Memberikan semua laporan yang dibutuhkan, termasuk agenda harian atasannya.
Reno mengibaskan tangannya pelan ke arah Gea, seolah mengatakan keluarlah lebih dulu.
"Bagaimana keadaan Pak Dihyan sekarang Pak?" Tanyanya setelah pintu baru saja tertutup rapat.
Meski dekat dengan Dihyan semenjak kecil, namun sekarang adalah waktu kerja.
Panggilan bapak pun jelas untuk menghormati atasan.
" Ya begitulah!" Jawaban yang diterima dari atasannya yang masih memberikan senyum terluka.
"Jika kamu punya waktu, sesekali tengoklah dia, berikan sedikit semangat!"
"Ck, tantemu benar-benar rapi menyembunyikan Rima."
Info yang sangat penting bari Reno.
Kini ia semakin yakin jika Rima berada di bawah pengawasan Mamanya Dihyan.
Pertanyaannya, kenapa sulit memberi tahukan pada Dihyan tentang RIma. Bahkan saat kondisi pria itu sudah seperti sekarang.
"Kembalilah bekerja!" Perintah sang Bos tak terlalu ingin membahas pertanyaan itu.
Sepeninggalan Reno, Papa cakra menyapukan kedua tangan di atas meja.
Sepasang meja dan kursi kerja ini adalah miliknya dulu, dan telah Ia wariskan kepada Dihyan, Sang putra mahkota di keluarga kecilnya.
Namun sekarang, ia harus kembali menempatinya untuk waktu yang tak bisa ditentukan.
Ingatannya terburai pada beberapa kejadian.
Melihat kondisi anaknya seperti itu, tak ayal mereka membawa Dihyan turut bersama mereka.
Tak mungkin membiarkan pria itu hidup sendiri dalam kondisi seperti ini.
Mama dan Papa sama-sama merangkul pundak sang anak.
Dihyan masih terus diam dengan wajah tanpa ekspresi. membiarkan tubuhnya dibawa masuk ke rumah tempat ia dibesarkan dulu.
Dan di hari berikutnya mereka membawa Dihyan menjalani psikoterapi.
Pandangan pria itu masih tetap lurus ke depan tak berujung, dengan mimik datar tanpa ekspresi.
Satu pertanyaan yang mampu mengalihkan pandangan Dihyan, ketika ditanya " di mana istrimu?"
"Pergi." Jawabnya singkat, kembali meluruskan pandangan lurus ke depan.
" I'm oke." Ucapan Dihyan, yang artinya Ia seolah tak ingin lagi mendengarkan pertanyaan-pertanyaan lain dari pria yang mengaku sebagai teman Papanya Itu.
Entah sadar atau tidak, Dihyan tahu jika pria di hadapannya ini adalah seorang psikiater.
Kepala papa tertunduk masih memikirkan kondisi sang putra.
__ADS_1
Dihyan sekarang seperti kembali ke masa kecilnya.
Menjalani hari-harinya dengan diam diri.
Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari, pria itu harus dibantu oleh orang lain.
Makan disuapi, mandi hingga mengenakan kembali pakaiannya pun harus di bantu oleh seorang perawat laki-laki yang telah di siapkan.
Sampai kapan harus seperti ini?
Pun dengan kehidupan papa yang sekarang. Semua bagai kembali pada beberapa tahun silam
Pulang kerja, akan ada mama yang menyambutnya dengan senyuman meski hati masih belum sembuh jua.
Semua anak-anak, buah cinta mereka berada dalam satu atap di saat dirinya memang harus beristirahat dengan menikmati hari tua.
Namun, keadaan ini bukanlah hal yang membahagiakan.
"Mah, tidak bisakah kita memberikan satu kesempatan untuk Iyyan untuk memperbaiki rumah tangganya lagi?" Tanya papa saat baru saja membantunya melepaskan jas kerja.
Istrinya itu benar-benar keras kepala dan tega.
"Kesempatan apa lagi pah?"
"Tidak bisakah mama kembalikan RIma pada Iyyan?" Papa.
"Jangan membahasnya lagi pah. Kita tetap bantu Iyyan tapi please jangan libatkan RIma lagi pah!" Pintanya dengan penekanan.
"Sampai kapan mah? Anakmu sudah seperti itu!" Papa juga mulai berbicara dengan penekanan suaranya.
"Pelan-pelan pah. Semua akan kembali seperti dulu lagi. Tapi jangan lagi ada korban lagi pah. Sudah cukup!"
Nada di tekan sehalus mungkin, tak ingin ada pertengkaran dengan suaminya. Tahu jika pria itu pasti lelah sepulang kerja.
"Hati mama terbuat dari apa sih?" Mulai dengan nada yang tak enak untuk di dengar.
Benar lelah akan cepat membuat lava mencair.
"Karena hati mama tak ingin melihat orang lain menderita jadi mama tak ingin mengembalikan Rima pada Iyyan pah." Mama.
"Mama ingin melihat Iyyan sembuh, tapi bukan mengorbankan kehidupan orang lain."
"Iyyan sudah menyesal mah, dia tidak akan mungkin menyakiti istrinya kembali." Papa.
"Coba pikirkan masa depan putramu mah. Ingat dia putramu!" Papa.
Mereka berbicara dengan nada yang mulai meninggi.
"Lalu bagaimana dengan masa depan Rima?" Mama.
"Papa tahu bagaimana keadaan Rima saat ini?"
"Dia trauma pah. TRAU MA."
"Rima trauma lihat darah. Lalu bagaimana dengan masa depannya?"
Menghela napas panjang dan keras.
Nyatanya pertengkaran tetap terjadi.
Mama mulai menjauh, duduk di tepi ranjang sambil mengatur napas yang memburu karena emosi. Mata ikut terpejam, mencoba menenangkan diri sendiri. Tak ingin terlalu larut dengan pertengkaran ini.
__ADS_1
"Bagaimana jika yang menjadi korban itu salah satu putri kita?" Mama berbicara dengan pelan, mata tertunduk ke bawah.
Jika mata menatap ke arah papa, mungkin saja pertengkaran tak kan reda.
"Apa kamu masih mau mengembalikan putri kita pada orang yang pernah mencelakainya?"
"Begitu juga pak Herman. Papa yakin jika pak Herman tahu, ia akan membiarkan anaknya terus berada di keluarga kita?"
"Pak Herman tahu mah?" Tanya papa penuh rasa penasaran.
"Belum, tapi sampai kapan?" Mama masih menunduk.
"Menyatukan mereka hanya membuat mereka saling menyakiti satu sama lain."
Membiarkan papa masuk ke dalam kamar mandi setelah terdengar hembusan kerasnya.
\==========
Melihat kondisi kakaknya, membuat Diandra merutuki Rima.
Harusnya Rima tak mengandung anak Dihyan.
Dan harusnya Rima tak usah pergi meninggalkan kakaknya itu.
Kembali melirik Dihyan yang masih tenang hampir tak berkedip.
Seharusnya pria itu mendengarkan semua kata-katanya.
Jangan jatuh cinta pada Rima!
Jangan menyentuh Rima!
Namun nyatanya?
Ck, bahkan ia hampir mendapatkan keponakan dari wanita gen!t itu.
Lagi ia merutuki ini semua.
Ini semua di luar kendalinya.
Terlepas dari itu semua, masih ada ketakutan dalam diri.
Bagaimana jika Rima melaporkan perbuatannya pada pihak yang berwajib?
Ohh... tak bisa terbayangkan jika ia harus berurusan dengan Polisi.
Lalu bagaimana dengan karirnya? Reputasi dan nama baiknya?
Bukan seperti ini yang ia rencanakan.
Hanya ingin mengerjai Rima sedikit saja.
Dan hanya ingin menunjukkan pada wanita gen!t itu, bahwa ia memiliki sesuatu yang lain yang bisa dibanggakan.
Semua ini tak termasuk tindakan kriminal kan?
Ia tak bersalahkan?
Sebisa mungkin Diandra mencoba menenangkan hatinya sendiri dengan berbagai argumen yang ia tanam dalam otaknya.
Namun tetap saja rasa takut masih menghantui.
__ADS_1
To Be Continued LAgi!