Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Kabar Bahagia


__ADS_3

"Saya tak terlalu berani mengambil kesimpulan, sejauh pemeriksaan saya, kondisi bapak Dihyan baik-baik saja."


"Denyut nadi, tekanan darah, kecepatan pernapasan dan alat-alat vital anda semua dalam keadaan normal."


"Tapi untuk lebih memastikan semuanya baik-baik saja, Anda bisa melakukan check up."


Rima menganggukkan kepala mengerti.


Sementara Dihyan hanya mendengarkan semua penjelasan dokter, enggan menanggapi. Baginya, Rima ada di sampingnya itu sudah lebih dari cukup. Tangannya terus menggenggam pergelangan tangan Rima agar wanita itu tak menjauh darinya.


Rima berdiri di samping tempat tidur dengan diam dengan tangan terulur karena pergelangan. Masih memberikan ruang pada dokter memeriksa keadaan Dihyan.


Dan semua itu tak lepas dari tatapan sang dokter pria. " Jika Boleh saya tahu, sudah berapa lama kalian menikah?"


Dihyan dan Rima saling menatap satu sama lain, kembali menatap sang dokter, " Sudah hampir setahun." jawaban datar dari Dihyan.


Dokter mengangguk, " Jika bapak berkenan, saya akan memeriksa istri bapak."


" Istriku tidak sakit apa-apa, tak harus diperiksa. Lagian dia juga Dokter kok, hanya saja sedang tidak bertugas."


Dihyan menurunukan pandangan saat mengatakan itu, tanpa diperintah, otaknya langsung menjurus pada pemikiran negatif. Untuk apa Sang dokter memeriksa Rima? Padahal di sini dirinyalah yang sedang butuh perhatian. Dokter itu bahkan tidak bisa memberitahukan tentang kondisinya saat ini, lalu ingin memeriksa Rima juga?


Heh, ada-ada saja. Siapasih yang panggil dokter seperti ini?


Lagi-lagi dokter itu hanya bisa menganggukkan kepala. iya paham betul, jika tak semua suami akan rela saat istrinya diperiksa oleh dokter pria sepertinya.


"Saya belum bisa mengambil kesimpulan tentang penyakit bapak. Tapi menurut kecurigaan saya, Ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi keadaan Bapak saat ini. Misalnya kehamilan istri mungkin?"


" Kamu hamil?" Dihyan kini beralih menatap Rima.


Sementara yang ditatap hanya bisa menggelengkan kepala. Rima bingung dalam keadaan ini, atau memang itu sebagai Jawaban dari pertanyaan Dihyan.


"Itupun hanya kecurigaan saya, karena kita belum memeriksakan istri bapak."


"Ibu bisa mengetahui jawabannya sendiri. Bagaimana perasaan ibu saat ini? Atau bisa juga dengan tespek mungkin, agar lebih jelas."


"Jika memang ragu, Bapak dan Ibu bisa langsung ke rumah sakit Untuk melakukan check up berdua."


Biarlah dokter itu pulang dengan tangan kosong. Bahkan sebuah resep pun tak bisa Ia berikan, mau memberikan resep apa pada manusia yang sedang berbaring sementara semua laporan kesehatan terlihat baik-baik saja, hanya sedikit manja dan sensi.


Hanya meninggalkan satu pengharapan yang sangat besar pada kedua Insan di dalam kamar itu.


Dihyan kembali menenggelamkan wajahnya di dada sang istri, Ia masih ingin beristirahat, tentunya dengan menghirup aroma tubuh Rima.

__ADS_1


" Suruh Pak Eko saja belikan kamu tespek!"


"Hemmmm!"


Entah bagaimana perasaan Rima saat ini? bahagiakah atau tidak saat Dokter tadi justru mencurigai keadaan Dihyan yang katanya mungkin karena ngidam.


Dihyan menengadahkan kepala hendak menatap raut wajah Rima. " Kamu kenapa?"


" Nggak apa-apa." Tangannya membelai lembut kepalaDihyan, menarik agar kepala pria itu kembali  menempel padanya. Ada rasa kurang nyaman jika harus bertatapan di saat seperti ini.


" Kamu sepertinya tidak bahagia." Pelukan semakin dieratkan, Yakinlah ada rasa tercubit di dalam sana saat mengatakan itu.


Apakah benar, Rima merasa berat saat harus mengandung anaknya?


"Kalau kamu benar-benar hamil, kamu mau minta hadiah apa?" Dihyan hanya ingin memberikan semangat dan sepercik rasa bahagia pada istrinya. Seperti dirinya yang kini merasa bahagia, meski kehamilan itu baru berupa kecurigaan Semata.


"Emang boleh?"


Dihyan kembali menengadahkan kepala, mengangguk sambil tersenyum memandang Rima.


" Aku mau kerja lagi, boleh?" Bahkan saat ini ia masih meragu jika Dihyan mengabulkan permintaannya itu.


Nyatanya pria itu kembali menganggukkan kepala, membuat Rasa Bahagia benar-benar terbagi pada mereka.


Rima kira Dihyan tidak akan mengabulkan permintaannya dengan alasan kehamilan itu.


" Beneran boleh?"


"Iyaaaaa, nggak usah kalau nggak mau!" Dihyan kembali merapatkan wajah di dada Rima.


"Aku mau!" Rima menggoyangkan tubuh, hendak menjauhkan Dihyan darinya. Senyumnya kini menghiasi wajah cantiknya.


" Iya boleh, dengan catatan kamu harus menjaga kondisi dan kehamilanmu." Dihyan.


" Iya aku, mau aku mau aku mau!"


Dihyan tersenyum, betapa bahagianya Rima saat ini hanya karena diizinkan bekerja.


" Iya tapi tidur dulu!" Dihyan.


"Kamu yang tidur, aku malah pusing kebanyakan tidur dari tadi." Rima kembali mengusap-usap pelan kepala Dihyan, berharap pria itu kembali tertidur dan dirinya bisa keluar dari kamar ini secepatnya.


"Tunggu sebentar!"Rima berusaha melepaskan lingkaran tangan Dihyan di pinggangnya.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Mau pipis, kebelet."


rasanya ia sudah pegal karena terlalu lama berbaring dengan posisi yang sama. Belum lagi tangannya pun terasa lelah terus mengusap kepala Dihyan sedari tadi, namun hingga kini pria itu belum terlelap juga.


Barupun Rima beranjak dari tempat tidur, Dihyan kembali menahan pergelangan tangannya. "Aku ikut aja!" Ucapnya tanpa dosa.


" Aku cuma mau ke kamar mandi, bukan mau ke mana-mana!" sedikit kesal, Saat Dihyan seolah tak mengizinkannya pergi.


" Iya aku ikut."Dihyan.


"Kamu mau ngintip? Mana bisa aku pipis diliatin?"


"Aku ngak bisa kalau kamu jauh-jauh." Dihyan berkata jujur.


"Aku cuma di sana, kamar mandi, gak keluar dari kamar ini."


"Ya udah, tapi jangan lama!" Akhirnya Dihyan mengalah, saat memandang wajah istrinya yang memberenggut, takut jika wanita itu marah dan mendiamkannya saat seperti ini. Pasti tak enak rasanya, dia masih sangat-sangat butuh kehadiran, belaian dan perhatian dari Rima.


"Mana ada orang ke kamar mandi, pintu gak di tutup!" Berjalan dengan bibir yang masih mengomel, tak lupa menghentakkan kaki demi menyalurkan kekesalannya.


DIhyan hanya bisa diam, memilih menenggelamkan wajah pada bantal yang biasa digunakan Rima. Semakin ke sini, ia semakin yakin dan dengan pengharapan yang teramat besar jika istrinya itu benar-benar hamil.


Ngidam?


Satu kata yang sangat membahagiakan, namun juga menyiksa.


Ia siap menanggung derita seperti ini, entah sampai kapan?


Selesai urusan ke kamar mandi, Rima harus kembali ke tempat tidur. Yang jelas itu perintah dari DIhyan yang lansung mengangkat kepala saat mendengar langkah kakinya. Menepuk sisi samping, agar Rima kembali meluknya, tugas bantal menggantikan Rima telah selesai.


Heh, Rima bisa apa selain menurut?


Kasihan juga, tapi jujur tubuhnya pegal-pegal karena terlalu banyak berbaring. mungkin setelah ini ia butuh olahraga yang sesungguhnya.


To Be Continued!


Jalan-jalan Ke pulau Sumatera!


Jangan lupa oleh-olehnya!


Hehehehe, garing yah pantunnya?

__ADS_1


Bikin pantun sendiri aja yah! Yang jelas oleh-olehnya jangan sampai lupa.


__ADS_2