
Tok.
Tok.
Tok.
Suara pintu ruang pemeriksaannya kembali diketuk.
Rima hanya memandang Meisya, di otaknya mulai menerka siapa yang akan datang hari ini Dihyan atau Reno kah?
Enggan berdiri, lebih memilih menantikan sosok yang akan muncul dengan sendirinya. Ia hanya perlu mempersiapkan perasaan dan raut wajah agar tidak terlalu terkejut nantinya. Tangannya terulur saat Mesya hendak melangkah membukakan pintu.
Pandangan mata terpasang dengan sangat baik, menanti detik demi detik pintu terbuka mulai dari saat handle yang terlihat turun.
Dan yang muncul adalah pria sang pemilik hati yang tersenyum simpul dengan sangat tampannya membuat hati dan jantung seolah porak-poranda.
"Hai, nungguin ya?" Sapanya masih dengan senyuman
Rima langsung berdiri dari tempatnya, sedikit mempercepat langkah menuju ke arah pintu. Dan ketika telah sampai di dekat pintu wanita itu langsung mendorong dada Reno, hingga membuat pria itu mundur kembali ke luar ruangan.
"Tunggu sebentar!"
Segera tiba menutup kembali pintu, meninggalkan Reno yang termanggu di tempatnya, namun mendengarkan pesan Rima tadi, pria itu masih setia berdiri di depan pintu.
Butuh beberapa menit bagi pria itu menunggu, hingga Rima kembali muncul dengan penampilan yang berbeda. menggunakan pakaian putih-putih khas perawat dengan masker yang menutup wajahnya.
" Ayo!" Tangannya langsung menyambar pergelangan tangan Reno.
"Ayo isssh!" Ucapkan kembali setengah kesal saat Reno justru terpaku di tempatnya sementara Ia merasa sedang terburu-buru.
Reno menganggukan kepala cepat, memulai langkah mengikuti langkah kaki Rima yang sedikit tergesa-gesa.
Meninggalkan ruangan yang di dalamnya ada seorang wanita yang berdiri termangu, menatap pemampilannya yang sedikit terasa aneh.
Pakaian yang sedikit mahal untuk hanya seorang perawat sepertinya. Sedikit terkesan pada diri sendiri.
Ah, ternyata cantik juga saat menggunakan pakaian mahal. Tersenyum sambil memuji diri sendiri. Penampilan memang bisa membuat seseorang berubah. Ada rasa bangga dan percaya diri dalam diri saat ini.
Langkah kaki Rima berhenti di balik sebuah dinding, memandang ke arah Reno yang sebenarnya bingung namun tetap mengikuti arahannya.
__ADS_1
Sebagian hati Rima merasa ketakutan, Ia tahu Dihyan mengutus seseorang untuk menjaganya.
" Kamu duluan!" Titahnya kembali. Meski Reno masih sedikit bingung dengan semua keadaan ini, pria itu masih tetap mengikuti ucapan.
Berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Rima yang tengah bersembunyi di balik dinding.
"Cepetan ih!"
Reno mulai mempercepat langkahnya, meninggalkan Rima di belakang sana. Ia berusaha meredam rasa penasarannya, kepala ditahan agar tak menoleh ke belakang.
Di dalam mobil,Reno tak henti mengatur jari-jarinya pada kemudi mobil sambil menanti kedatangan Rima.
Apa Rima benar akan menyusulnya di sini? Apakah Rima masih mengingat mobilnya?
Berjuta pemikiran yang ada saat ini, sebagian hati merasa sempat meragu.
Apa tujuan Rima mengajaknya pergi dari sini?
"Huffff, huffft."
Reno menoleh saat baru saja pintu dibuka dan ditutup menyusul suara seorang wanita yang tengah mengatur nafas sambil mengusap perutnya yang telah membuncit.
Senyum terukir begitu saja di wajah tampan Reno, pria itu sedikit lega setidaknya Rima tak membiarkannya terlalu lama sendiri.
"Heem, capek! Nggak bisa dibawa berlari." Rima masih berbicara dengan sedikit ngos-ngosan, tangan kanan berhenti mengusap perutnya membiarkan tangan Reno yang bekerja di sana.
"Kamu lari?" Tanya Reno seolah tak percaya, matanya bahkan membulat penuh.
Rima menganggukan kepala dengan senyum disumbangkan ke arah Reno, berusaha memperlihatkan diri bahwa ia masih baik-baik saja.
" Kamu hamil Rima, kalau ada apa-apa dengan kandunganmu bagaimana?" Reno. Entah ini Suatu bentuk perhatian atau memang kekhawatiran.
" Kenapa kamu takut bayi ini kenapa-napa, Padahal dia bukan anakmu?" Rima.
" Biar bagaimanapun, bayi ini sudah menjadi bagian dari dirimu. Ada atau tidak ada, aku akan tetap sayang dan perhatian padamu." Reno mendekatkan wajah berusaha menekan setiap perkataannya agar Rima sadar jika pria ini akan selalu menerimanya dalam keadaan apapun.
Membuat jantung kembali tak sehat, berdetak tak sesuai dengan denting detik jarum jam.
"Setelah kamu melahirkan nanti, Aku ingin kita bisa benar-benar bersama. Jika Dihyan menginginkan bayi ini, berikan saja selama dia tak mengusik hidupmu lagi."
__ADS_1
"Tapi jika pria itu tak menginginkan bayi ini, maka aku akan menerimanya dengan senang hati."
Rima tergugu di sampingnya, pandangan menunduk menatap ke arah tangan Reno yang masih terus Setia mengelus perutnya.
"Dihyan sangat menginginkan anak ini." Ucapnya Lirih, tak mungkin rasanya pria itu merelakan sesuatu hal yang selama ini diinginkannya.
"Tak apa, kita bisa membuat lagi nanti." Ucap Reno dengan senyum di wajahnya.
Mampu menimbulkan rona merah di pipi Rima. Wanita itu kini tengah melambung tinggi dengan angan dan mimpi yang kini tengah Reno lukis untuknya.
Wanita itu hanya ingin merasakan bahagia hidup bersama pria yang ia cintai.
Berharap hari itu akan benar-benar datang. Hidup mereka hanya ada ia dan Reno, lengkap dengan anak-anak mereka yang berlarian, meramaikan suasana rumah.
Ah mungkin itu terlalu jauh. Ia masih berada di genggaman seorang suami yang bernama Dihyan.
Masih harus melahirkan, dan masih harus mengurus kembali perceraian mereka terlebih dahulu.
Mobil melesat meninggalkan parkiran rumah sakit. Sepanjang perjalanan, yang ada hanyalah senyum dan tawa, sambil bercerita apapun yang bisa membuat mereka bahagia.
Mengambil tempat di sebuah kafe yang tak jauh dari sana, memikirkan jam makan siang Rima.
" Kamu akan menungguku sampai anak ini lahir?" Kalimat itu akhirnya keluar, setelah seribu kali alasan Rima hanya mampu menahannya dalam hati.
Reno menggelengkan kepala dengan memejamkan mata, itu terlihat sangat mantap dengan jawaban yang akan Ia berikan.
Dan hanya seperti itu, mampu membuat raut wajah Rima tiba-tiba muram. Mimpi bahagia yang tadi dilukis oleh Reno tiba-tiba terhapus begitu saja.
"Bukan sampai anak ini lahir, tapi aku akan tetap menunggumu sampai kapanpun. Sampai kamu bisa menyelesaikan semua urusan dengan suamimu." Reno dengan sedikit menganggukkan kepala, begitu mantap.
"Kita akan kembali ke sana, dengan Romi dan Leli. Aku akan menikahimu, lalu kita akan memiliki anak banyak, biar tambah ramai."
Matanya menatap dalam, bahkan hHampir tak berkedip sambil kembali melukiskan mimpi-mimpi indah yang lampu tertanam di sanubari.
Dan kini tangan pria lajang itu terulur demi meraih tangan Rima di atas meja. Dengan ibu jari kemudian menggenggamnya. Lagi-lagi Rima hanya mampu menatap dalam retina mata Reno, sambil menikmati semua tentang keindahan ini meski hanya kata dan mimpi.
Terlebih saat Reno membawa tangannya ke depan wajah, mengecup dengan perlahan dengan mata yang terpejam, begitu menikmati kecupan di tangan dengan dalam.
Lagi-lagi mampu membuat Rima melayang tinggi, semakin tak sabar rasanya nanti hari itu datang.
__ADS_1
Saat dia lepas dariDihyan, dan ia dan Reno merajut asa.
Asa yang sempat tertunda karena keadaan dan waktu.