
"Ngapain kamu cari-cari Rima di epbi hah?"
Suara dari belakang sofa yang mereka duduki membuat mereka tersentak kaget. Suara besar dan sedikit kasar.
Ragu, memalingkan wajah pelan-pelan demi melihat sang pemilik suara, meski mereka tahu siapa sebenarnya sosok yang berdiri di sana.
Belum apa-apa gadis itu sepertinya sudah ketakutan saja.
Apakah mencari Rima merupakan suatu kesalahan dalam keluarga mereka?
Lalu apakah semua akan membiarkan kondisisi kakaknya yang seperti mayat hidup itu?
DIandra kini tengah berdiri tegap dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Kilatan mata memandang tajam lengkap dengan wajah menyiratkan kemarahan.
Tak sampai di situ, tangan melambung melewati kepala Diva. Meraih benda pipih yang berada di tangan gadis itu.
Brakkkk.
Suara benda keras menyambar lantai.
Hanya dalam hitungan detik, ponsel sang gadis telah luluh lantah tergeletak di lantai.
"Kak," Pekiknya tertahan, saat melihat mata melotot milik Diandra menatapnya tajam.
"Andra."
Suara teriakan menggema Memanggil nama sang pelaku.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..." Gadis itu turun menuju ke belakang sofa, tempat benda kesayangannya baru saja mendarat.
"Kak Andra jahat." Ucapnya sambil menghampiri ponselnya.
"Apa salahnya mencari tahu tentang Kak Rima. Kak Iyyan saja tidak protes. Kenapa justru kakak yang marah?" Masih di sela-sela tangis nya, mencoba menyatukan yang telah terburai.
"HP ini dari mama, dikasih ke aku, Kak Andra nggak berhak atas HP ini. Pegang aja harus izin dulu sama aku."
Kini ia telah berdiri tepat dihadapan Andra, dan tentu dengan linangan air mata. Sambil mendekap erat benda kesayangannya itu.
"Kamu masih kecil, nggak usah campuri urusan orang dewasa. Kerjamu cuma belajar biar bisa lulus dengan nilai baik!" Diandra.
"Mah, kak Andra Mah." Berjalan menuju ke tempat mama sambil mengadukan sikap Diandra.
Mengharap pembelaan, atau jika beruntung mengharapkan penggantian barang.
"Kenapa kamu semarah itu?" Mama Cinta yang telah mendekap sang anak bontot. Memandang ke arah Diandra dengan tatapan heran plus marah.
Terlebih gadis itu telah merusak sesuatu yang bukan miliknya dengan sangat kasar dan itu tepat di hadapan seluruh keluarga.
Diandra tak menjawab, Ia pun tak tahu mengapa ia harus marah saat tahu adiknya mencoba mencari tahu Rima melalui internet.
Gadis itu hanya diam, meski amarah memang masih ada.
"Dasar wanita j@h@t!" Umpat Diva sambil berjalan ke arah tangga meninggalkan seluruh keluarganya. Dan dengan kaki yang menghentak-hentak lantai menandakan jika ia juga marah namun tak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Asal Kakakku yang telah dewasa itu tahu, jika papa dan mama juga bertengkar karena tingkah laku kalian berdua."
Di anak tangga yang ke sekian, ia berbalik, memandang sinis pada kakak perempuannya.
Kesal saat di sebut bocah, padahal umur telah delapan belas tahun, ia telah remaja dan bukan lagi bocah yang tidak tahu apa-apa.
"Tingkah laku kalian yang menyakiti orang lain. Apalagi itu anggota keluarga sendiri."
"Rumah ini kacau. Kacau karena kalian berdua." Dengan kedua tangan yang melambung ke atas.
"Hei bocah, nggak usah sok tahu kamu! Kamu masih kecil belum tahu apa-apa."
Dengan posisi yang telah mulai menjauh, Diandra harus sedikit mengeraskan suara.
"Iya aku memang bocah, tapi bukan ibl!s seperti kalian!" Ucapnya ditujukan kepada kedua Kakaknya, Diandra dan Dihyan.
"Mah pah, doakan Diva Semoga mendapatkan jodoh yang baik. Suami yang mencintai dan menghargai Diva."
"Kalau masa depanku justru mendapatkan jodoh yang menyakiti Diva, itu artinya karma atas kedua saudaraku justru dilimpahkan padaku."
Sepeninggalan Diva, ruangan seketika hening tanpa sepatah kata pun. Hanya hembusan hembusan nafas yang terdengar secara bergantian.
"See!" Papa mulai berbicara, pandangannya ke arah mama.
"Itu karena kamu mencoba membawa Diva ikut dalam masalah ini."
"Diandra benar. Diva masih kecil mah, jangan merusak otaknya yang harusnya belajar dengan permasalahn orang dewasa." Papa.
"Memang Mama kenapa? Bagian mananya Mama merusak otak anak sendiri?" Mamapun mulai tersulut emosi.
"Pantas saja anakmu seperti itu, ternyata mendapat dukungan dari Papanya." Mama dengan sinisnya.
Papa menggeleng, tak terima. Bukan seperti itu maksud dari ucapannya tadi.
Dengan hentakan, mama terdiri dari duduknya. Membalik tubuh dan mulai berjalan ke kamar Diva. Ia ingin membujuk anak bontotnya itu.
Meninggalkan Ketiga orang dengan kebisuan yang melanda.
" Maafkan Iyyan." Ucap Dihyan dengan kepala tertunduk.
"Heh, bawa kakak mau kembali ke kamar!" Papa ikut beranjak dari duduk.
Entah kemana arah kakinya kali ini setelah perdebatan untuk ke sekian kalinya dengan sang istri.
Di dalam kamarpun terasa mencekam saat insan yang terbiasa ia peluk justru hanya menampakkan punggung.
Dengan menggandeng tangan Dihyan, menuntun pria itu ke kamar. Kamar yang pernah di tempati sebelum menikah dengan Nindy.
Perawat pria yang biasa mengurus keperluan Dihyan sedang libur dan tak ada yang menggantikan.
Mama bilang, bisa mengurus putranya itu.
"Kakak masih mencari Rima?" Tanya Diandra saat telah berhasil mendudukkan kakaknya di tempat tidur.
Dihyan tak menjawab.
__ADS_1
"Kakak mau sampai kapan seperti ini?" Nadanya mulai terdengar seperti orang yang putus asa.
"Rima tak pantas untuk kakak, dia yang pergi mencari kehidupannya sendiri. Meninggalkan Kakak dengan keadaan seperti ini. Kenapa masih mencari juga?"
"Aku yang salah!" Dihyan mulai mengeluarkan kata, Apakah ini sesuatu yang baik?
"Bukan Kakak yang salah, Rima yang salah!"
"Rima yang gak becus jadi istri. Rima yang tidak berkata jujur tentang kehamilannya?"
Diandra salah jika harus terus menyalahkan Rima di hadapan Dihyan.
Ucapan yang dilontarkan gadis itu justru membuat Dihyan kembali ke dasar jurang penyesalan.
"Aku yang salah! Aku yang salah" Dihyan memukul tangan kanan dengan tangan kirinya sendiri.
Tangan yang pernah beberapa kali menggoreskan perih di tubuh dan hati Rima.
"Rima tidak bersalah! Aku yang jahat!" Kini berganti tangan kanannya yang memukul tangan kirinya.
"Aku yang selalu menyakiti dia! Aku! Aku!" Suara telah naik ke level lebih tinggi.
Pukulanpun mulai berpindah ke lengan, lanjut ke dada.
Dengan kepalan tangan dan tenaga yang tak ditahan, ia mencoba menghukum dirinya sendiri.
Memukul, menghajar.
Mengabaikan rasa sakit yang dideranya.
Seperti inilah sakitnya Rima dahulu.
Bahkan mungkin lebih sakit lagi. Dan itu semua karena dirinya, karena tangan itu.
Kembali memukul tangan sendiri dengan tangan yang lain.
Berteriak, menyalahkan diri sendiri.
Menggemparkan seisi rumah.
Papa dan Mama muncul dari pintu hampir bersamaan, mereka pasti berlari dari kamar saat mendengar suara yang menggelegar tadi.
"Apalagi yang kamu katakan pada kakakmu b0d0h?" Umpatan mama mengiringi tubuhnya masuk ke dalam kamar Dihyan.
Beberapa hari ini Dihyan terlihat baik-baik saja, meskipun belum ada respon. Setidaknya tidak memukuli diri sendiri sambil berteriak seperti saat ini.
Diandra melangkah mundur, saat orang-orang justru maju mendekati Dihyan.
Tatapannya menyiratkan ketakutan tersendiri, dengan gelengan kepala yang berulang kali. Tak ingin mengambil salah dengan apa yang terjadi pada kakaknya kini.
Diva pun turut muncul, memandang Andra yang kini telah berada di sudut kamar.
Wueeek! Nyahooo! Tahu rasa!
Umpatnya dalam hati.
__ADS_1