
“Dihyan mana?” Sambil kedua tangan berada dalam saku celananya.
“Maaf pak, beliau-masih-rapat.” Ghea kembali harus mengatur napasnya setelah beberapa jam kini ia tak tau lagi apa yang akan terjadi demi melihat orang yang sedang berada di depan pintu itu.
Amarah terlihat jelas pada wajah yang memerah.
“Bapak boleh masuk, pak!”
Menuntun beliau untuk masuk karena ia tak mau lagi menjadi saksi sebuah insiden yang menegangkan.
Aaaaah, lagi-lagi ia merasa menyesal telah menyuruh Armada untuk membuatkannya kopi. Harusnya ia membuatnya sendiri di pantry, agar tak lagi berada di tengah pertikaian seperti ini.
“ Jam berapa rapatnya di mulai?”
“Sekitar satu jam yang lalu pak. Mungkin sebentar lagi selesai. Bapak menunggu sambil duduk di dalam pak!” Ghea
masih mencoba menuntunnya masuk.
Tapi sayang ia tak berhasil karena terlihat pintu ruangan sana telah terbuka dan telah muncul sosok yang sedari
tadi di tunggu disusul dengan beberapa orang di belakangnya termasuk Reno.
Dihyan terus berjalan mendekat bersama Reno sementara yang lain telah berhenti di depan lift menunggu pintu lift
terbuka.
Dihyan masih terdiam, mencoba membaca raut wajah sang ayah, ada apa gerangan?
“Ada.....”
Belumpun selesai apa yang ingin ia ucapakan, oleh-oleh berupa bogem mentah telah mendarat tepat di rahangnya.
BUG.
Dihyan sedikit sempoyongan, masih beruntung Reno segera menangkap dan membantunya berdiri.
“Pah,” Sapanya sambil meraih ujung bibir dengan ibu jarinya, disana ada warna merah. Bibirnya berdarah.
Reno segera berlari menuju lift guna menuntun orang-orang untuk segera masuk ke lift meninggalkan insiden baru
ini.
"Jangan sampai berita ini meluas, karena jika ada gosip yang terdengar sedikit saja, maka kalianlah pelakunya!"
Tak ingin kejadian ini meluas hingga mencemarkan nama baik perusahaan. Mungkin Pak Cakra terlalu marah, hingga tak bisa menahan diri.
Sementara Ghea segera menundukkan tubuhnya, beringsut masuk bersembunyi di bawah kolom meja kerjanya. Tak ingin lagi dijadikan saksi seperti kejadian tadi.
“Cepat tanda tangani berkas ini!” Papa Cakra melemparkan sebuah map berisikan berkas.
Dihyan menunduk demi meraih berkas yang telah tergeletak di lantai dengan sedikit kasar, matanya sempat melirik sedikit saja pada papa. Dibaca tulisan paling atas terketik dengan huruf bold “SURAT GUGATAN CERAI”.
__ADS_1
“Pah! Apa lagi ini pah?”
Ck. Dengan kasar Dihyan langsung merobek berkas itu, dan menghamburkannya ke lantai.
Dikiranya hidupnya telah tenang bersama keluarga. Hanya karena kejadian singkat yang tak pernah ia sangka nyatanya kembali mengusik keluarganya.
Renopun masih sempat melirik judulnya membuat senyuman miring tercipta di bibirnya. Kemenangan di depan mata.
Dan senyuman itu masih sempat terlihat pada Dihyan sebelum ia berjalan masuk ke ruangannya. Cih, jangan harap!
Dihyan masuk ke ruangannya di ikuti papa di belakangnya.
“Pah, ada apalagi sih?” Dihyan saat telah berada di dalam ruangannya.
“Buat apa kamu terus mempertahankan Rima kalau kamu terus saja menyakitinya? Dia terlalu banyak menderita karena kamu Iyan? Apa kamu punya hati?”
“Pah, aku gak ngerti pah,” Dihyan.
Keduanya masih sama-sama berdiri, pembicaraan sangatlah jelas, namun ia seolah tak ingin tahu tentang ini.
“Jangan pura-pura bodoh kamu, ceraikan Rima! Setelah itu kamu mau menikah dengan Fely atau siapapun terserah kamu!” Papa.
“Ooohhh, aku ngerti!” Dihyan mengangguk sambil tersenyum sinis, “Rima mengadu pada papa?”
“Dan papa percaya pada Rima tanpa bertanya padaku terlebih dahulu?” Dihyan mencoba tetap tenang di hadapan papa, tapi sayang rasa kesal itu masih tetap terlihat.
“Papa punya bukti.” Papa sambil mengulurkan ponsel pada Dihyan. Meskipun ponsel itu belum menampilkan apa-apa hanya hitam, namun ia mengerti apa yang menjadi bukti yang sikatakana papanya.
perselingkuhan. Dan jangan bilang kalau Rima telah menambahkan bumbu-bumbu sebagai pelengkap?
“Apa papa benar-benar telah melihat vidio itu dari awal sampai selesai?” Tanyanya sinis pada papa.
“Mau bukti seperti apa lagi?” Papa.
“Pah, tolong! Jangan bahas masalah perceraian lagi. Kami sudah punya Azka pah. Apa papa tega melihat
keluarga kami berantakan? Apa papa tega melihat aska tumbuh tanpa kasih sayang salah satu dari orang tuanya?”
“Dan untuk vidio itu, perempuan itu yang menggodaku de....” Belum selesai penjelasannya, papa terlebih dahulu
mengangkat suaranya.
“Tapi kamu menikmatinya kan?” Papa.
“Andaikan saja Rima tidak datang, coba pikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya?”
“Pah.”
Dihyan tak mampu berkata apa-apa lagi. Merasa frustasi sendiri. Dia tertunduk dengan kepala bertumpu pada kedua tangannya.
Ia benar-benar tak mengerti tentang apa yang ada dipikiran papanya. Atau apa yang telah Rima sampaikan pada
__ADS_1
papa.
"Harusnya papa menjadi penengah yang baik, dengan mendengarkan semua penjelasan terlebih dahulu. Bukan hanya mendengar dari satu pihak saja. Semua ini hanya permainan. Bisa jadi ini juga permainan Rima agar dapat mem-fitnahku."
"Papa sudah memberimu beberapa kali kesempatan, tapi apa yang kamu lakukan?" Papa.
"Pah, tolong, kendalikan diri papa! Jangan terlalu cepat mengambil keputusan hingga bisa merugikan salah satunya. Ini juga tentang keluarga kita pah, jangan sampai papa menyesalinya." Dihyan masih mencoba menenangkan sang papa. Itu sangat penting, mengingat semua kesalahan kini mengacu padanya.
Dalam hati ia mengutuk Rima.
Rima. Rima. Rima.
Ia harus buat perhitungan pada Rima. Menghentikan semua usaha Rima mendapatkan kata perceraian.
“Bukannya papa pernah berada di posisiku?” Ia mulai kembali mengangkat kepalanya, menatap sang papa.
“Di goda oleh wanita demi kontrak kan? Bagaimana rasanya? Apa papa menikmatinya?”
“Papa berbeda denganmu,” Papa mulai mencoba mengerti keadaan anaknya.
"Apanya yang beda pah, kita sama!" Dihyan.
“Papa mendapatkan mamamu dengan usaha yang sangat berat, jadi tak mungkin bagi papa untuk melepaskannya,
apalagi menggantikannya dengan wanita yang lain. Apalagi hanya dengan alasan kontrak.”
“Berbeda denganmu yang dari awal tidak pernah mencintai Rima, bahkan kamu selalu menyakitinya. Dan sekarang? Jika memang kamu sudah memiliki wanita lain, kenapa masih mempertahankan pernikahanmu?”
“Pah!” Pekik Dihyan yang sama sekali tak menerima usulan papanya.
“Lepaskan Rima, setidaknya biarkan ia bahagia!” Papa lanjut.
“Tidak, aku tidak akan melepaskan Rima. Dan aku mohon jangan campuri urusan rumah tangga kami. Biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri!” Pinta Dihyan.
“Dengan terus menyakiti Rima?” Papa.
“Aku tidak menyakitinya pa?”
“Baiklah, anggap saja ini kesempatan terakhirmu memperbaiki hubunganmu dengan Rima. Biarkan Rima memilih,
untuk tetap bersamamu atau melepaskanmu. Dan jangan paksa dia!” Pinta papa yang lalu beranjak dari duduknya keluar dari ruangan Dihyan.
Meninggalkan Dihyan yang semakin terlihat berantakan.
Tak pernah terpikir olehnya, menjalani pernikahan dengan begitu rumitnya bersama Rima yang dulu pernah ia
sebut sebagai, “bukan tipenya”.
Tidak seperti pernikahannya bersama Nindy yang sangat mulus seperti jalan tol, tanpa hambatan.
Nindy yang selalu mengerti kesibukannya. Nindy yang mengerti jika banyak wanita yang menggodanya hanya demi kontrak, bahkan Nindy sangat mengerti jika banyak yang mendekatinya karena dia seorang pemimpin perusahaan yang memiliki cukup kekayaan.
__ADS_1