Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Semua Berubah


__ADS_3

Belum sehari sikap Dihyan yang dulunya baik-baik saja pada Rima beralih menjadi kasar dan ganas.


Dihyan bahkan telah meletakkan tangannya pada leher Rima dan menekannya dengan kuat.


Sementara Rima hanya mampu menepuk pelan lengan Dihyan berharap melepaskan cengkraman tangan pria itu.


Udara terasa semakin sulit saja untuk masuk melalui pernapasannya. Mata mulai berair dan memerah.


Ingin ia menjelaskan, namun untuk bernapaspun saat ini terasa sulit baginya.


Entahlah ia masih hidup esok hari atau sudah dead?


“Kakak, jangan!” Diandra menghampiri kakaknya. “Dia bisa mati kak.”


Andra melepaskan satu persatubjari-jari kakaknya yang masih mencengkram dengan kuatnya.


“Biar saja dia mati! Biar dia rasa apa yang Nindy rasakan dulu!”


“Kakak bisa di penjara kak!” Andra masih berupaya melepaskan satu persatu jari Dihyan yang semakin kuat mencengkram leher Rima.


“Aku gak peduli!” Jawabnya.


“Papa sama mama akan kecewa sama


kakak kalau kakak jadi pembunuh!” Andra mulai panik.


Ini tak seperti yang ia bayangkan.


Cukup dengan membenci Rima dan mengeluarkannya dari kehidupan mereka, hanya itu yang ia inginkan. Bukan dengan membonuh!


Ia juga akan terseret jika benar itu terjadi.


Dihyan melepaskan cengkaramannya dengan mendorong tubuh Rima sangat keras hingga kembali membentur dinding, hingga Rima terkulai lemas dilantai.


Dengan napas pendek-pendek, mengobati sesak yang masih sedikit terasa. Lehernya mungkin merah karena tekanan terasa sangat kuat di sana.


Sisi kejam yang tersembunyi dalam diri Dihyan mulai terlihat.


Setelah Dihyan pergi, Andra justru tersenyum sinis menatap Rima yang terduduk, mengatur nafas sambil meraba lehernya.


Tak ada niat untuk membantunya berdiri

__ADS_1


bahkan saat Rima masih terbatuk karena cengkraman dari Dihyan tadi.


“Aku tak menyangka kakakku bisa membencimu seperti itu hingga ingin membunuhmu.”


Selanjutnya akan menjadi hari-hari yang berat bagi Rima.


Semua berubah.


\=\=\=\=\=\=


Rima terlebih dahulu berada di meja makan. Meskipun tak mahir dalam memasak, tapi Rima masih melayani suaminya meskipun hanya sekedar mengambilkan nasi ke piring, begitulah yang diajarkan oleh Nindy padanya.


Seperti saat ini, sambil menunggu Dihyan untuk sarapan bersama ia hanya menatap seluruh sajian yang terdapat di meja makan.


tak beberapa lama Dihyan telah sampai ke meja makan disertai Diandra yang tadi berjalan di belakangnya. Hemmm, ternyata gadis itu memilih nginap di rumah kakaknya.


Tak perlu bertanya lagi, Rima telah menempatkan dua sendok nasi goreng ke piring yang berada di hadapan Dihyan.


Tapi bukannya terima kasih yang ia dapatkan, justru tatapan sinis.


“Siapa yang menyuruhmu mengambilkan nasiku?” bentak Dihyan yang kembali berdiri setelah duduk hanya sepersekian detik.


Kenapa bertanya lagi? Bukankah itu sudah menjadi kebiasaannya selama mereka menikah? Bahkan saat Nindy masih hidup.


sementara Dihyan yang menatap Rima dengan mulut terbuka lebar, justru menampakan tatapan sinisnya.


Heh gadis bodoh, umpatnya dalam hati.


semakin kesal saja karena Rima hanya diam berdiri dan melongo tak berniat menjawab pertanyaannya.


Mendorong tubuh Rima dengan sangat keras hingga membuat tubuhnya jatuh terduduk di lantai. membuat garis itu tersadar dari pemikirannya sendiri.


Kini kaki Dihyan yang telah berbalut sepatu pantofel coklat mengkilap dengan sol kuat dan kaku berada di atas punggung Rima. Dihyan menekan kakinya dengan keras membuat Rima setengah tiarap.


kedua tangan Rima, berada dilantai menahan tubuh agar tak terlalu menempel.


“Sakit,” Satu kata berhasil lolos dari mulut Rima, namun tak menggoyahkan hati nurani Dihyan. Ia masih menekan kakinya.


“Hah, nafsu makanku langsung hilang.” Bersamaan dengan diangkatnya kaki yang sedari tadi berada ditubuh Rima.


Ada rasa sakit yang menyambar di bahunya.

__ADS_1


Prang.


Ternyata Dihyan melemparkan piring ke tubuhnya dan mengenai bahunya. Lalu pecah sesaat setelah mendarat di lantai. Kemudian berbalik dan menjauhi ruang makan meninggalkan Rima dan Andra.


Diandra yang sedari tadi menonton


aksi kakaknya kemudian beranjak dari duduknya mendekati Rima, mungkin ingin


membantunya untuk berdiri.


Tapi salah, Andra justru menyiram tubuh Rima dengan susu hangat hingga membuat gadis itu mengeliat seolah ingin menghindar.


“Panas, panas. Ndra panas ndra.”


“Ups, sory. Kelepasan.” Ucapanya kemudian mengikuti jejak kakaknya yang meninggalkan ruangan itu.


“Non!” Suara pekikan berikut sosok Bi Titi yang mendekati Rima. “Non gak papa non? Kok malah jadi gini sih?” Tanyanya sembari membantu Rima untuk berdiri.


“Aku juga gak tau bi. Kenapa pak Dihyan jadi kejam begitu.” ucapnya lirih hampir menangis.


Namun keter-kejutan nya melihat sikap Dihyan, lebih besar daripada rasa sedihnya.


Rima terpaksa kembali ke kamarnya untuk mandi membersihkan dirinya yang tersiram susu hangat membuat pakaian dan tubuhnya bahas dan terasa kaku.


Malamnya di ruangan yang sama.


Rima memilih tak melayani Dihyan untuk mengambil makanan ke piring pria itu. Tapi baru saja Dihyan tiba di meja makan pria itu kembali menatapnya dengan sinis.


“Mau apa di Sini?” Dihyan dengan kerasnya.


Namanya juga meja makan, ya mau makanlah!


“Pergi!” Bentaknya, “Makan sama Bi titin sana. Jangan mengacaukan makan malamku!”


Di sebelah sana Diandra tersenyum sinis, mungkin merasa usaha membuat Dihyan membenci Rima berhasil. Mungkin itu pula yang membuat gadis itu betah dan bertahan tinggal di rumah itu.


Senang sekali rasanya melihat Rima yang telah merusak hubungannya dulu dengan Tio kini menderita, dan itupun terlihat jelas di depan matanya. Inginnya ia bersorak gembira sambil


melompat-lompat.


Rimapun meninggalkan ruang makan menuju ke belakang tempat para art di sana untuk makan. Tak apalah, setidaknya ia tak kelaparan malam ini.

__ADS_1


Rima memilih mengamankan dirinya dengan tak pernah lagi duduk di meja makan itu bersama Dihyan dan juga Diandra yang entah mengapa menjadi sangat betah untuk tinggal di rumah kakaknya itu.


Sekalipun akhir pekan, jika gadis itu tak keluar rumah ia lebih memilih menghabiskan waktunya di sana daripada pulang ke rumah orang tuanya.


__ADS_2