
Semua acara telah selesai, baik itu pernikahan ataupun kumpul keluarga. Kewajiban menghadapi hidup memaksa mereka kembali ke posisi masing-masing.
Sama halnya dengan Rima dan Dihyan setelah menghabiskan satu putaran hari tinggal bersama keluarga, dengan menimbulkan bermacam-macam rasa.
“Ma, pa kita pulang dulu yah!” Saat Rima telah keluar dari kamar itu sambil menyeret sebuah koper kecil. Sementara Dihyan menggendong Azka di pelukannya.
“Kok dah mau pulang sih, nginap semalam lagi dong sayang!” Mama.
Berkumpul bersama seluruh keluarganya merupakan hal yang jarang mereka lakukan, namun sangat seru. saat memasak, berbelanja dan masih banyak hal yang mereka telah lakukan bersama, namun rasanya masih kurang saja.
“Mau beres-beres di rumah juga ma, besokkan aku udah masuk kerja,” Rima.
“Cari pengantin barunya dulu, mau pamitan!” Dihyan sambil melangkah ke belakang rumah.
Sementara Rima, terus berjalan menuju ke luar rumah.
Pamitan dengan pengantin baru, heh yang benar saja. Justru itulah yang paling ia hindari.
Dan sesuatu yang ia hindari itu malah sejak tadi menunggunya di teras. Reno sedang duduk dan
langsung berdiri ketika menyadari keberadaanya.
“Mau kemana?” Tanya Reno berusaha meraih tasnya berusaha untuk membantunya.
__ADS_1
“Mau pulang kak, gak tenang di sini,” Kenapa Rimaa jujur pada Reno.
wanita ini benar-benar tersiksa menghabiskan waktu seharian penuh berada di rumah ini. Iya seolah sedang bermain peran di sana sini.
“Maaf,” Reno setelah menghembuskan napasnya dengan sangat kasar, “Kapan masuk kerja lagi?”
“Besok,” Rima singkat memang tak ingin terlalu berlama-lama bersama dengan pria ini.
“Masih boleh aku datang?” tangannya terulur hendak menggenggam jemari yang selalu bisa membuatnya berdebar itu.
“Gak usah kak, kita udah gak ada harapan!” Rima seolah tepat sasaran. Tangannya pun segera ditarik agar menjauh dari jangkauan Reno.
Karena dengan mengijinkan Reno menemuinya lagi berarti masih memberikan harapan pada mereka.
Sementara Rima terus saja menundukkan kepala. Matanya mulai berkabut, berbicara dengan Reno sungguh bukan sesuatu yang baik bagi mereka berdua.
“Huh, dicari-cari malah ada disini!” Dihyan mengeraskan suaranya membuat mereka
terhentak seperti orang yang kedapatan sedang selingkuh.
Dan mungkin seperti itulah kiranya.
“Kita mo pamitan pulang." Ucapnya sambil mendekat. Semuanya tertangkap oleh mata tajamnya, namun mencoba untuk berlaku biasa saja seperti itu terjadi apa-apa pada kedua Insan itu.
__ADS_1
Sejak semalam ia sengaja untuk tak meninggalkan Rima sendirian, namun kali ini rasanya ia kecolongan sehingga pertemuan sang istri dengan Reno tak bisa Ia cegah.
oke baiklah, ya pastikan ini akan menjadi interaksi terakhir antara Rima dan Reno.
Ia harus memastikan, perasaan yang salah yang ada pada kedua Insan ini harus sirna bagaimanapun caranya.
Langkah pertama yang Dihyan lakukan adalah memberikan Reno ruang kerja yang sedikit jauh dari jangkauan Rima.
Dan atas segala bujuk rayu, alasan dan alibinya, Ia mampu meminta pada sang ayah Untuk memindahkan Reno di pabrik di kawasan perindustrian.
Tidak terlalu jauh sih sebenarnya, namun cukup memakan waktu bagi pria itu menghabiskan jam istirahat hanya untuk datang menemui Rima.
Ia masih berbaik hati, untuk tak melempar Reno menjauh hingga keluar pulau. Namun entah sampai Kapan itu berlangsung, Ia pun tak tahu. Karena bisa saja Ia menggunakan kuasanya untuk benar-benar mendepak pria itu jauh dari kehidupannya dan Rima
...****************...
Maaf ya cuma dikit.
Tetangga sekaligus saudaranya nenekku (ribet banget yah, hihihihi) lagi berduka. Gak etis banget kalo otor justru enteng di depan laptop.
Tapi udah berapa hari nggak sampai harus ditagih sama ente.
Doain moga-moga besok bisa dobel-double lagi, biar ceritanya cepat kelar.
__ADS_1