Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Haruskah Ia Jujur?


__ADS_3

Matahari mulai muncul dengan malu-malunya.


Ketiga pria dewasa itu kini berada di teras sambil berbincang ringan.


Dihyan beberapa kali menata bokongnya pada kursi. posisinya serasa selalu saja salah.


Sesekali melirik pada pria yang dipanggilnya dengan sapaan abang, mungkin mencoba mencari memont yang tepat untuk menyampaikan maksud dan tujuannya kesini.


Tapi semakin matahari beranjak naik, suasana semakin ramai. Rasanya kurang elok jika hendak membicarakan keinginannya itu.


Apalagi hari ini, akhir pekan sebagian orang beraktifitas di rumah seperti sekarang ini.


Masih berupaya untuk menutupi kekacauan rumah tangganya pada orang lain, meski itu kerabat sekalipun.


“Eh ada Dihyan?” Ucap seorang wanita yang baru saja keluar dari rumah sebelah. Wanita itu terlihat menarik selang panjang guna menyiram tanaman yang tumbuh di depan rumah ayah, “Kapan datang?” Masih sempat melayangkan tanya meski tangan terlihat sibuk.


“Semalam?” Dihyan sambil tersenyum, “Apa kabar kak?” Wanita itu sepupunya, dari keluarga mama. Istri dari pria yang ia panggil abang.


“Alhamdulillah baik, kamu?”


“Alhamdulillah baik juga kak.”


“Sendiri ke sini? Istrimu mana?”


Istri?


Ia terdiam seraya menundukkan matanya sambil memainkan jari-jarinya, menautkan satu sama lain.


Berpikir, alasan apa yang ia lontarkan.


Pertanyaan itu menandakan tak ada yang tahu tentang keluarganya.


Mungkin mama lebih memilih menutupi masalahnya.


“Kamu ada masalah?” Tanya ayah yang mungkin melihatnya gelisah.


“Aku ingin minta tolong sama abang, boleh?” Tanyanya sambil menatap pada abang yang juga menatapnya.


Pertanyaan ayah tak digubris.


“Ada apa?” Abang.


Ia masih diam, mungkin masih mengatur kata demi kata yang harus ia ucapkan.


“Istriku di culik,” Ucapnya kembali tertunduk.


“APA? Istri kamu di culik?” Suara itu dari dalam.

__ADS_1


Ibu terlihat tergesa-gesa keluar mencari sumber suara yang mengatakan istriku di culik, beserta wanita yang lebih tua yang biasa dipanggil dengan ucapan nenek yang turut menyusul dari dalam.


“Siapa yang di culik?” Nenek yang turut bergabung, tubuh masih berada di ambang pintu.


“Istri Dihyan bu,” Jawab ibu pada wanita itu. "Katanya tadi diculik. Ini juga baru mau denger ceritanya." Kedua wanita itu heboh sendiri.


“Kok bisa Yan?” Nenek kini telah duduk di samping Dihyan.


"Diculiknya di mana?"


"Kapan?"


"Kenapa gak ditolongin?"


"Sudah lapor polisi?"


"Kamu di mana waktu itu?"


Serentetan pertanyaan dari kedua wanita secara bergantian namun tak putus itu justru membuat kepala pening.


Sementara ayah dan abang hanya diam sambil melihat ke arah padanya, dan wanita yang menyiram tanaman justru menggulum bibir, hampir tertawa. Pasti bingungkan menghadapi emak-emak? Mungkin seperti itu arti tatapan matanya.


Kini Dihyan jadi sorotan mata mereka, jujur berada di posisi ini merasa sangat tidak nyaman.


Makanya sedari tadi mencari moment yang sedikit sunyi hanya untuk menceritakan masalah ini hanya bertiga dengan abang dan ayah.


Tapi proses pencarian moment tepat sangat lama hingga iapun tak tahan memendam keinginan sendiri. Ingin Dihyan, agar Rima segera di temukan.


“Kamu tau siapa yang nyulik?” Ibu.


“Iya siapa yang culik istrimu?” Nenek.


“Istrimu cantik, seksi lagi. Kalau ketemu nanti kamu harus merubah sedikit penampilannya agar tidak terlalu mengundang tatapan laki-laki lain,” Ibu.


Orang di sekitar sini hampir semuanya menutup aurat, bahkan kakak sepupunya yang sedang menyiram tanaman itu telah menutup aurat secara sempurnya, hanya tinggal wajahnya saja yang belum tertutupi. Gadis kecil yang tadi


subuhpun sudah menutup aurat, meskipun hanya saat ia hendak keluar rumah.


Mungkin dari sinilah mama Cinta juga ikut menggunakan hijab meskipun gaya sedikit  stylish dari mereka.


Mereka memang tak pernah melihat langsung Rima, tentang penampilan Rima yang seksi itu pasti dari informasi mama Cinta sama Papa Cakra.


Heh, mungkin waktunya tak tepat untuk bercerita dengan abang, karena serentetan pertanyaan datang dari ibu dan nenek setiap ia berkata meski hanya sepenggal kalimat.


“Gak ada kopi ni?” Ayah berusaha mencairkan suasana yang tegang campur kaku plus panik ini.


“Iya, iya,” Ibu kembali masuk ke dalam meninggalkan.

__ADS_1


“Bu, biarkan Dihyan tenang dulu. Jangan langsung di serang dong. Ibu masuk istirahat yah!” Kini berganti nenek yang harus di amankan terlebih dahulu.


“Ya sudah, kalian bicara saja. Mungkin sesama laki bisa lebih terbuka.”


Aman.


Nenek juga sudah masuk kembali ke rumah.


Tinggal kakak perempuan yang masih merami tanamannnya dan seolah tak peduli lagi dengan percakapan


mereka.


“Kamu yakin istrimu di culik?” Tanya ayah seolah meragukan ucapannya.


Apa kebohonganku terlalu terlihat?


Diam.


Hanya itu yang menjadi jawabannya.


“Apa ada orang yang kamu curigai?” Kini abang sudah mulai berbicara.


“Mama sama papa?” Jawaban singkat yang langsung menyita perhatiann semua yang ada di


situ, termasuk kakak perempuan yang kini telah berjongkok mungkin sedang mencabut rumput. Sempat memandang kembali ke arahnya. Tersenyum saat melihat kode dari sang suami, kembali melanjutkan kegiatannya.


“Kamu yakin istrimu diculik?” Abang. Pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda.


“Nih kopinya dah siap. Jadi gimana?”


Ibu yang baru saja ingin mendaratkan bokongnya di kursi tapi kembali berdiri demi mendengar.


“Bu, masuk dulu bu!” Ayah.


“Iya, iya.” Dengan wajah malas ibupun kembali masuk.


“Kamu ada masalah?” Ayah kembali bertanya meskipun belum mendapat jawaban dari pertanyaan pertama.


Suasana kembali hening. Dihyan masih ragu berkata.


“Ya sudah, kamu tenangkan diri dulu. Bentar ikut ayah!”


Dihyan hanya mengangguk.


Sekali orang berbohong, maka ia akan berbohong lagi untuk menutupi kebohongannya yang pertama. Dan kembali berbohong untuk menutupi kebohongannya yang kedua, dan begitu seterusnya.


Seperti ia yang kini memikirkan kebohongan apa lagi yang harus ia ucapkan setelah istriku diculik. Padahal yang sebenarnya adalah istriku kabur.

__ADS_1


Haruskah


Ia jujur?


__ADS_2