
Waktu terasa sangat lambat berjalan bagi Reno.
Kabar dari Romi membuat hari-harinya semakin berat saja.
Seribu kali ia mencoba menghubungi ponsel pria itu, seribu kali pula Romi menolak
panggilannya. Semakin membuat hidup seperti setengah nyawa. Ingin pergi tapi
tak bisa meninggalkan kewajiban begitu saja.
Ketidakhadiran Dihyan menjadikan dirinya sebagai orang pertama yang dipercaya akan mengganti.
Hingga akhir pekan yang telah lama dinantikan seperti hari raya baginya.
Belum apa-apa, pakaian telah di packing rapi, tiket telah ada di tangan, siap meluncur. Cukup sebuah tas ransel lihat di gendongan.
Dan tempat yang pertama ia sambangi adalah rumah Rima di sana. Mendapatkan kabar dari sang bibi, jika Lely masih dirawat di rumah sakit semakin membuat dadanya bergetar hebat.
Apa gerangan yang terjadi hingga membuat Lely harus dirawat beberapa hari di rumah sakit?
Kembali berlari memasuki pelataran rumah sakit. Hari ini kakinya sangat aktif demi mendapatkan informasi tentang sang kekasih hati.
Kaki terhenti begitu saja, tubuh menegang begitu saja saat sosok yang beberapa hari kemarin menelponnya, memberikan kabar buruk namun kembali mengabaikan panggilan darinya.
Romi turut berhenti di sana saat melihat sosoknya. Dengan kedua tangan yang memegang kendali sebuah kursi roda.
Romi menatapnya dengan sangat tajam seolah ingin mengulitinya saat ini juga.
Pun dengan Lely, gadis itu sama menatap tajam tak bersahabat.
Di hadapannya, Lely duduk seolah tak berdaya duduk di atas kursi roda itu. Di temani seorang perawat wanita yang dulu pernah ia lihat bersama Rima membawa tas, mungkin milik Lely. Warna biru keunguan masih tergambar di wajah tegas wanita itu.
Jika keadaan Lely saja seperti ini, lalu bagaimana dengan RIma.
"Rom?" Sapa Reno pelan sambil mendekat. Langkahpun turut memelan, pandangan ini melambungkan hayalannya tentang kondisi Rima saat ini. Lutut harus ditahan sekuat mungkin agar tak membuat tubuhnya ambruk.
"Romi."
Pria yang dipanggil namanya turut mendekat, meninggalkan Lely di atas kursi roda.
Tanpa aba-aba, melayangkan kepalan tangan sekuat-kuatnya menghampiri pelipis Reno.
BUG.
BUG.
Tak sekali, dua kali mampu membuat pria itu tumbang begitu saja. Tak ada perlawanan, entah mengapa.
"Aku sudah bilang, jauhi adikku!" Teriaknya pada Reno. Padahal bertemupun baru sekali ini.
"Kenapa kamu harus datang lagi hah?"
"Belum puas kamu membuat dia menderita?"
"Aku gak tau apa-apa Rom?" Reno mulai bangkit dari kejatuhannya.
__ADS_1
"Iya, kamu memang tak berbuat apa-apa, tapi temanmu!"
Rena terdiam mencerna kata-kata Romi. Khayalan melayang menghampiri manusia yang diberi julukan teman oleh Romi, Dihyan.
Tanpa sadar jika Romi telah bergerak meninggalkannya.
"Ngapain lagi kamuuu?" Romi menghentak tangan Reno yang baru saja menggapai, hendak membuka pintu mobil.
" Aku cuma mau bantuin!"
"Nggak usah bantuin kalau setelahnya kamu menimbulkan kesulitan bagi kami." Romi.
Pria itu dapat menangkap kegundahan pada Reno. tangan yang sedikit bergetar, dengan raut wajah yang jauh dari kata tenang.
"Sudah lapor polisi?"
Hening.
Sepertinya tak ada yang mau menjawab pertanyaan Reno. Kini mereka bertiga telah berada di atas mobil, dengan Romi yang menjadi sopirnya.
" Kamu kenapa tenang begitu? Kita tidak tahu keadaan Rima sekarang bagaimana?"
Masih belum ada jawaban, pun dengan Lely yang memilih diam sedari tadi.
"Dia adik kamu Rom." Lanjut Reno.
"Nggak ada orang lain yang berkepentingan dengan rima selain dia." Romi.
Duduk sendiri di teras rumah sambil mengutak-atik ponselnya.
Romi telah membawa Leli masuk ke dalam rumah, namun hingga sekarang pria itu tak terlihat.
Panggilan terhubung dan wanita yang ia anggap mampu membantunya.
"Tante, Rima hilang." Ucapnya putus asa.
Entah jawaban apa yang ia dengar dari sana, yang jelas tak mampu mengalihkan perasaan gundah yang setelah beberapa hari ya rasa.
Jauh-jauh ke sini pun, ia merasa terabaikan begitu saja.
"Rom, Romi!"
Memanggil sambil berjalan masuk mencari sosok itu.
Kesal sekali rasanya, saat melihat dua orang itu justru tenang di depan meja makan menikmati santapan.
"Kamu kenapa begini? Kenapa santai begini?"
"Rima dalam bahaya, tapi kamu tidak khawatir sedikitpun?"
Serentetan kata itu ya ucapkan sambil mengguncang tubuh Romi, dengan kedua tangan menggenggam erat kerah baju pria itu.
"Ck, kita baru makan dengan tenang setelah berhari-hari. Kamu datang justru kembali mengusik ketenangan kami."
Romi masih tenang, bahkan wajahnya kesal karena acara makannya diganggu. Menghempas tangan yang dirasa mengganggu di tubuhnya,
__ADS_1
"Atau kalian bukan saudara kandung?"
"Kamu tenang saja. Adik kandungku baik-baik saja!"
Penekanan pada kata terakhir menjawab seluruh pertanyaan Reno.
\=========
Membaca berlembar-lembar mampu membawa Rima masuk ke alam mimpi.
Mimpi yang sangat indah. Saat dirinya, ayah dan kak Romi berada dalam sebuah taman dengan tikar yang terbentang.
Hamparan Rumput hijau sangat indah di pandangan mata.
Juga tempat berlari, bahkan saat duduk di sanapun ayah tak kan marah, kembali mengambil minuman bersoda setelah lelah berlari.
Nafasnya terasa sedikit berat, mungkin terlalu jauh berlari saat Romi mengejarnya.
Hembusan kasar kini jelas terasa di wajahnya. Tubuhnya serasa berat seperti ada yang menindih. Rima perlahan membuka mata.
Pandangan kini memanaskan mata.
Dihyan telah berada diatas seolah siap menyerang tubuhnya.
“Egh!” Rima memberontak berharap bisa segera lepas dari kungkungan Dihyan.
Namun tidak, tetap saja dia kalah tenaga. Bahkan dengan posisi mereka saat ini, sangat jelas bahwa Rima kalah
telak. Karena sang suami telah siap menanam diri.
“Jangan menolak! Itu akan membuatmu lebih kesakitan.” Meskipun dengan nada lembut tapi begitu menyakitkan
bagi Rima.
“Aaaa.”
Menjerit tertahan.
Tak sanggup menerima keadaan ini.
Ketika orang yang sangat ia benci, orang yang pernah menyakitinya luar dan dalam, orang yang pernah membuatnya kehilangan calon bayinya kini sedang menikmati surga dunia dengan tubuhnya.
Rima memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap apa yang tersaji diatasnya dengan air mata yang satu
persatu terjun dari pelupuk mata.
Marah, kecewa, bahkan kini dia merasa jijik pada dirinya sendiri.
Menyakini dirinya telah bercerai dengan suaminya meskipun tak ada sidang. Baginya setelah menandatangani surat gugatan perceraian itu, Dihyan dan Rima telah bercerai, titik.
Mengigit bibir bawah menahan suara menjijikkan keluar dari mulutnya sendiri.
Bukan tak tahu jika Dihyan telah beberapa kali melakukan ini padanya. Tapi saat melihat dan merasakan dengan nyata, rasa sakitnya justru semakin dalam saja.
“Jangan menangis! Tak ada yang salah dengan apa yang kita lakukan. Aku masih suamimu, dan akan tetap menjadi suamimu.” Dihyan sejenak berhenti dari kegiatannya demi menenangkan Rima.
__ADS_1
Tapi tidak kalimat itu tak mampu menenangkannya. Bahkan tubuhnya kini terlah terguncang karena menahan air
matanya yang semakin membanjiri. Disertai dengan guncangan yang timbul dari atas tubuhnya.