Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Bukan Sang Pemilik


__ADS_3

Dihyan menggenggam erat ponsel yang berada di tangan kanannya. Sangat erat hingga menampakkan buku-buku jarinya. Melampiaskan amarah yang menyambar dan menggelegar di dalam dadanya.


Pandanganpun terlihat sangat tajam.


Sesekali menghembuskan napas keras sambil menutup mata erat, berharap sesak itu pergi seiring napas yang keluar dari rongga dada.


Beberapa kiriman gambar baru saja ia terima. Berisikan gambar sepasang manusia tak tahu diri, yang tengah mengumbar kemesraan di tempat umum.


Mungkin karena sedang kasmaran sehingga mereka tak tahu, batasan menyentuh lawan jenis itu sampai di mana.


Pergi berdua, makan siang berdua, mungkin masih terlalu jauh untuk menuduh mereka tengah memadu kasih, namun,…


Apakah mengusap pipi bisa dikatakan hanya sekedar teman?


Apakah mengecup tangan teman bicaranya bisa dikatakan biasa saja?


Terlebih sang wanita terlihat tak ingin menolak atau menepis perlakuan manis namun salah itu.


Wanita itu justru tersenyum, terlalu nampak jika tengah menikmati sentuhan tangan dari sang pria.


Itu baru segelincir hal-hal yang terlihat oleh tangkapan mata orang-orang di sekeliling mereka.


Dan yang tak terlihat? Entah mereka akan melakukan apa?


Dihyan masih mencoba menahan amarahnya. Memijat panggal hidung dengan tangan yang bertumpu di atas meja. Sesekali membanting punggung pada sandaran meja kerjanya.


Ia kira, kedekatan antara Reno dan Rima hanya sebatas menjalankan tanggung jawab.


Ia tahu, Reno mendapatkan perintah dari kedua orang tuanya untuk melindungi Rima.


Kesalahannya yang dulu membuat Rima celaka, membuat kedua orang tuanya tak percaya dengan dirinya hingga kini.


Ia pun tahu, jika sampai saat ini Rima tak pernah mencintainya.


Tapi sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya olehnya, jika akan mendapatkan penghianatan seperti ini. Rima dan Reno menjalin kasih di belakangnya.


Dihyan masih berdiam di ruangannya sendiri, meski jam kantor telah usai. Pun dengan Armada dan Ghea yang baru saja masuk ke dalam ruangannya, berniat untuk meminta pekerjaan jika saja diharuskan lembur menemani sang atasan.


" Pulanglah! Saya masih ada sedikit pekerjaan, sebentar lagi juga selesai."


Membuat kedua orang itu menganggukkan kepala sebelum meninggalkannya sendiri.


Padahal, dia hanya berniat menenangkan diri. Tak ingin pulang dalam keadaan marah, dan mungkin akan berbuat sesuatu pada Rima yang akan membuat wanita itu semakin takut dan membencinya.


Dihyan memutuskan untuk pulang setelah maghrib. Mobil berbelok, singgah terlebih dahulu di sebuah masjid demi menyiapkan hati.

__ADS_1


Menjatuhkan bobot diri di atas, tidur terlentang dengan pandangan ke atas.


Lampu-lampu yang terpasang di langit-langit masjid membuat matanya seketika cerah.


Untaian kaligrafi yang terlukis di dinding atas masjid, membuatnya penasaran untuk membacanya. meski terbata-bata akhirnya ia mampu menyelesaikan tulisan yang mengelilingi dinding bagian dalam masjid. Ada rasa menantang bagi orang sepertinya yang minim agama.


Kedua kaki digoyang-goyangkan, sejenak yang melupakan masalahnya.


Sampai Isya telah selesai, Ia kembali berdiam diri. Tak ada tegur sapa, tak ada yang mengenalnya di sini.


Hanya ada beberapa laki-laki yang sedang berkumpul dan saling bercerita. Mungkin mereka tinggal tak jauh dari sini, sehingga tak perlu buru-buru untuk pulang.


" Masih mau tinggal Pak?" Seorang pria dari kelompok mereka mendatanginya.


" Hah, Iya Pak maaf ini juga baru mau pulang!" Dengan perasaan sedikit keki ya iya mulai bangkit dari sana.


Tersinggung, pastinya.


Mungkin orang-orang di sana sengaja menunggunya bangkit terlebih dahulu. Namun Ia yang tidak peka sama sekali justru tengah menikmati kesendiriannya.


Sambil menyumbangkan senyum pada pria-pria itu akhirnya ia berlalu.


Ia lupa jika pria-pria itu pasti juga ingin pulang ke rumah menemui keluarga masing-masing.


Berbeda dengannya yang justru menghindari istrinya yang kini menunggunya.


Hah, naif sekali.


Meninggalkan masjid, di dalam mobil ia masih berpikir ke mana baiknya setelah ini.


Ia hanya ingin pulang setelah Rima tertidur. Setidaknya, amarah mulai sedikit meredam saat mereka tak harus berpapasan, atau matanya yang menatap mata Rima yang memancarkan kebahagiaan yang justru akan semakin menyakiti hatinya.


Memilih menepikan mobilnya di dekat warung ayam bakar, perut telah keroncongan. Wajar saja karena waktu makan malam telah masuk.


Duduk sendiri sambil berusaha menelan nasi dan lauk pauk ayam bakar lengkap dengan lalapannya.


Meskipun terlihat sangat menggiurkan, namun bayangan Rima dan Reno yang tengah menikmati acara makan bersama seolah menari di atas kepalanya.


Saat menyaksikan sepasang muda-mudi yang juga berada di sana tengah duduk berhadapan, Entah mengapa penglihatannya itu seperti melihat wujud rima dan Reno.


Saat sepasang kekasih itu saling melemparkan senyum, entah mengapa ia justru merasa tengah ditertawakan dan diejek.


Lebih baik segera menyelesaikan santapannya, daripada harus tetap tinggal di sini dengan dada yang tertekan.


Mobil kembali melaju, memilih di sebuah taman kota, dan duduk pada dinding tanaman hias.

__ADS_1


Bangku-bangku di taman telah penuh, sebagian terisi oleh pasangan muda-mudi, sebagian juga terisi oleh sekumpulan remaja yang tengah menikmati malam mereka sambil bernyanyi diiringi petikan gitar dari salah satu temannya.


Kembali ya tersenyum miris.


Reno, pria yang menjadi temannya sejak dulu.


Pria yang pernah ia percayai, baik untuk urusan kerja maupun urusan pribadi.


Pria yang selalu saja ada waktu untuk membantunya.


Pria yang kira adalah sahabat.


Pria yang pernah berjanji padanya, akan mencari Rima saat ia terpuruk karena kepergian Rima.


Mengingat sedekat apa mereka dulu.


Itu dulu. Dulu sekali.


Nyatanya tega menikamnya dari belakang. Mendekati, merayu, dan mungkin hendak merebut istrinya.


Nyatanya pria itu mencari Rima bukan untuk dirinya, tapi untuk Reno sendiri.


Setelah lama terduduk dalam kesendirian, menikmati hembusan angin malam yang mampu menembus hingga ke tulang.


Dia mulai berdiri, beranjak dari sana.


Kaki melangkah pelan, pandangan terus berputar mengelilingi taman. Menikmati pemandangan dalam redupnya lampu-lampu taman.


Kembali senyum tersungging di wajah, saat memperhatikan wajah para remaja di sana yang seolah tak memiliki beban hidup.


Nikmatilah, sebelum kalian benar-benar masuk pada kehidupan yang benar-benar nyata.


Merasakan beratnya kehidupan setelah dewasa menghampiri.


Memiliah mana teman, mana lawan, itu sulit bro.


Rasanya sudah cukup ia berkelana malam ini.


Setidaknya amarah itu perlahan memudar dan mulai menghilang.


Mobil kembali ya kendarai. Sekarang ia berada di jalan yang tepat menuju pulang ke rumahnya.


Kembali bayangan Rima tersingkat dari keindahan gelapnya malam.


Berharap benar-benar malam ini ia tak sempat menemui wanita itu.

__ADS_1


Dengan dada yang bertalu-talu tangan mulai meraih handel pintu. Membuka pintu kamar dengan sangat pelannya, berharap tak menimbulkan bunyi hingga membangunkan wanita hamil yang tengah tertidur di dalam.


...****************...


__ADS_2