Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Syarat


__ADS_3

Dihyan bangkit dan menjauh dari tubuh Rima setelah selesai dengan urusannya, membantu membersihkan tubuhnya dengan tissu.


Dihyan berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan wajah Rima, dipandanginya wajah yang masih berhias cairan bening itu. Meletakkan telapak tangannya di sudut matanya Rima, membersihkan air matanya dengan sentuhan. Kemudian dengan sigap mengangkat tubuh Rima dan memindahkannya ke tempat tidur.


Pasrah!


Tak ada yang bisa dilakukan oleh wanita itu. Toh semua telah terjadi.


Setelah membersihkan tubuhnya dalam kamar mandi, Dihyan kembali ke ranjang berbaring di belakang Rima. Diletakkannya tangan kekarnya melingkar di pinggang Rima, tak butuh waktu lama hingga Rima menghempaskan tangan itu dengan sisa-sisa tenaganya.


Merasa jijik dengan pria yang berada di belakangnya ini.


“Rima, maafkan aku! Kita mulai.....”


*“Tidak jangan dilanjutkan Dihyan, dia akan semakin menolakmu!” *Batinnya.


Berbicara dalam keadaan marah membuat wanita itu bisa berbuat apa saja.


Lain kali saja. Ketika Rima sudah siap. Perlahan demi perlahan, wanita itu pasti menerima dirinya lagi.


Dan kini mereka diam tanpa kata. Dihyan hanya memandang punggung Rima hingga wanita itu terlelap karena kelelahan.


Rasa hangat membalut tubuhnya saat dingin menyapa insan lain.


Seperti pada awal hari sebelumnya, dada polos kini menjadi pemandangan pertama. Bahkan kali ini, dia telah berada di dalam pelukan sang pemilik dada. Tak ketinggalan tangannya juga telah melilit di perut sang pria, bagaimana bisa?


Rima mencoba melepaskan diri dari pelukan Dihyan, namun yang terjadi pelukan itu semakin erat.


“Lepas! Sesak,” Rima.


Justru Dihyan kembali membawa tangan Rima melilit di pinggangnya. Bahkan terasa semakin kuat saja.


“Maaf!" Ucapnya lirih.


"Maafkan aku Rima! Kita mulai dari awal!"


"Kita.... iissssshh,” Dihyan mencoba menahan perih di pinggangnya karena cengkraman Rima mungkin saja menembus kulitnya.


“Sakit Rima!"


"Jangan menggodaku! Aku bisa menyantapmu kembali!” Dihyan.


Dan berhasil, Rima langsung melepas cengkramannya.


Mungkin ini salah satu bentuk dari pepatah yang mengatakan cinta itu buta. Ketika sebuah cakaran dianggap sebagai sentuhan lembut yang mampu menimbulkan efek meningkatnya gairah tubuh.


Tapi yakinkah kalian jika semua itu tentang cinta?


“Anak pintar. Ayo bangun! Mandi! Aku atau kamu duluan?” Dihyan merenggangkan pelukannya demi menatap wajah Rima.


Meskipun kesal namun bagi Dihyan wajah itu tetap cantik.


Memberikan kecupan ringan di keningnya dan langsung berdiri, tak lupa menyumbangkan senyuman manisnya dan berlalu menuju ke kamar mandi.


“Aku kerja dulu. Jangan nakal hem!” Menahan dirinya untuk tidak mengecup kening Rima meskipun ia sangat ingin.


\=\=\=\=\=\=\=


Membayangkan sentuhan demi sentuhan Dihyan pada tubuhnya, membuat Rima bergidik ngeri.


Rasanya seperti ia telah dilec3hkan saja.


Memukul-mukul sofa namun tak terlalu berpengaruh.


Tapi tidak dengan meja kaca di depannya yang telah terbalik ke samping di ikuti seluruh penghuni meja yang


sudah tak berbentuk setelah tadi mendapatkan serangan langsung dari kakinya.

__ADS_1


Mungkin saat ini waktu yang sangat tepat melampiaskan segala amarahnya yang selama ini dipendamnya.


Rima mulai menghamburkan segala dapat yang diraih oleh tangannya. Mulai dari gelas dan piring tempat cemilan, vas bunga dan lain-lain.


Berjalan masuk ke kamarnya dan kembali melakukan hal yang sama. Meraih apa saja yang bisa diraih lalu


membantingnya, menghambur selimut, bantal dan apapun lagi.


Gejolak kemarahan yang beberapa hari tertutup rapat kini seolah ingin menyembur keluar bagai luapan lava dari


gunung berapi.


Selama ini ia diam karena merasa semuanya akan sia-sia belaka.


Namun diam itu mengendap menjadi sebuah kemarahan yang sangat luar biasa.


“Halo Pak. Ibu mengamuk!” Suara bu Lia dari apartemen menghentikan aktifitas Dihyan di kantor. Tak ingin


mendengar informasi selanjutnya ia langsung mematikan sambungan telpon itu.


Membuka rekaman cctv apartemennya di ponsel. Gambar Rima yang sedang melepaskan kekesalannya mampu mengubah raut mukanya.


“Ada apa?” Reno bertanya ketika melihat Dihyan diam dengan raut wajah yang tak bisa ditebak.


Dihyan hanya memicingkan mata. Dihadapannya adalah seorang mata-mata.


Sementara bagi Reno, pura-pura tidak tahu dengan DIhyan yang telah merebut RIma darinya. Hendak mendekati berniat melakukan hal yang sama pada Dihyan, merebut RIma dengan permainan halusnya.


Namun terlebih dahulu, ia harus menjadi teman baik Dihyan.


"Gak pa-pak." Dihyan sambil menyembunyikan ponselnya.


Hal baru, karena selama ini Dihyan tak pernah menyembunyikan masalahnya pada Reno. Bahkan masalah


pribadinya sekalipun.


“Kamu urus kantor, aku ada urusan sedikit!” Dihyan meninggalkan Reno begitu saja.


Dihyan mendapatkan apartemennya yang kini sudah tak berbentuk. Segala perabotan kini tak lagi pada tempatnya.


“Sayang!” Dihyan masih tetap mencoba lembut.


“Sayang, sayang. Berhenti memanggilku sayang!” Rima yang tadinya diam melepaskan pandangannya keluar


jendela kini berbalik memandanginya dengan sinis. “Apa yang kamu inginkan dariku?”


“Kita bisa bicarakan baik-baik!” Dihyan berjalan mendekati Rima.


“Jangan mendekat!” Rima dengan kerasnya, “Cepat katakan apa yang kau inginkan?”


“Kita berdamai! Kita mulai hidup baru dari sekarang!” Dihyan.


“Hidupku tak bersamamu, dan hidupmu tak bersamaku. Aku telah menandatangani surat perceraian kita. Sekarang


harusnya kita sudah tak bersama lagi!”


“Aku tak menerima perceraian itu, artinya kita masih suami istri.”


“Setelah semua yang kau lakukan padaku? Dan kini kau tak mau bercerai? Sampai kapan? Sampai kau benar-benar membunuhku?” Rima masih dengan tatapan sinis.


“Maafkan aku! Kita mulai dari awal!”


BUG.


“Akh!” Tendangan Rima mampu mengenai bahu Dihyan.


Pria itu tak siap hingga membuat tubuhnya tersungkur di lantai. Dan tak pernah menyangka RIma akan berani melayangkan serangan padanya. Segera bangkit jika tak ingin kembali dihajar wanita itu.

__ADS_1


“Rima!” Dihyan berteriak.


“Apa?”


Rima tetap berupaya melayangkan pukulan pada Dihyan. Sementara, pria itu hanya menghindar.


“Kita bicara baik-baik! Jangan pakai kekerasan!”


Namun Rima masih tetap saja berusaha menyerangnya. Pukulan pertama, kedua mampu ditepis oleh Dihyan.


Namun sebuah tendangan yang tak ia sangka mampu menjatuhkan bobot tubuhnya ke lantai.


Kamar semakin terlihat porak-poranda.


Rima seperti menggila, berlari segera mendatangi suaminya dengan naik ke atas perut. Bukan maksud menggoda, namun,


BUG.


Sebuah bogem mampu ia layangkan tepat ke rahang pria itu.


BUG.


Sekali lagi dengan tempat yang hampir sama.


“RIMA,” Suara Dihyan menggema ke seluruh ruang kamar.


Lelah menghadapi istrinya, Dihyan meraih tubuh Rima dan langsung membantingnya di tempat tidur. Dihyan berniat


mengungkung tubuh Rima dengan membuang tubuhnya sendiri di atas tubuh Rima.


Namun kalah cepat karena Rima langsung menggulingkan tubuhnya ke pinggir tempat tidur. Baru saja ingin berdiri tangannya berhasil diraih dan langsung dihempaskan ke arahnya hingga Rima kembali berbaring ditempat tidur. dengan cepat Dihyan langsung mengukungnya, berhasil!


"AAAAAAAA." Suara RIma berteriak, menggema seisi kamar.


Kesal karena pergerakannya tertahan. Ia tak bisa lagi menghajar Dihyan.


Rima hanya mampu meronta meskipun tenaganya tak cukup melawan Dihyan.


“Tenanglah! Atau aku melakukannya lagi seperti semalam!” Kalimat Dihyan mampu menenangkan Rima. Wanita itu diam meski dada kembang-kempis. Pertanda amarah masih menguasai.


"Tenanglah!" Dihyan sambil menempelkan bibirnya di ceruk Rima.


Kesempatan!


“Sssstttt” Sebuah tanda merah telah terbentuk di lehernya.


“Kita lanjutkan?” Dihyan mengangkat kepalanya agar bisa melihat wajah Rima yang kelelahan plus kesal.


Kecupan singkat berhasil lolos ke kening Rima.


Dihyan bangkit, melepaskan Rima dari kukungannya.


Gadis itu masih enggan untuk bangkit, merasa kalah. Berbalik memunggungi Dihyan


“Lepaskan aku! Apapun akan aku lakukan, agar kau menandatangani surat perceraian itu!”


“Tak bisakah kita seperti pasangan normal lainnya?”


“Tidak! Apapun akan aku lakukan agar kau melepaskanku!”


“Apakah kau begitu membenciku? Tak bisakah kau belajar menerimaku?” Dihyan menatap Rima dengan begitu lekat. Pancaran mata menyiratkan kepedihan yang terpendam.


“Tidak! Karena aku menyayangi tubuh dan nyawaku. Lepaskan aku!”


“Baiklah! Dengan satu syarat!”


“Apa?”

__ADS_1


__ADS_2