Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Kamu harus membantuku!


__ADS_3

“Ren, dimana?” Dihyan memberhentikan mobilnya.


Kali ini menghubungi sang asisten, masih dengan satu alasan, membantunya mencari RIma.


“Di rumah bos. Ada apa?” Reno.


“Aku butuh bantuan. Ketemu dimana?” Dihyan.


“Emmm, terserah bos. Ada masalah?” Reno.


“Rima kabur,” Dihyan.


“Hah, kabur?”


Lagi kabar itu mengejutkan bagi pendengarnya.


“Wajar saja dia kabur bos, dia selalu mendapatkan siksaan di sana. Jika saja dia adikku, aku juga akan membawanya pergi jauh dari bos. Pasti Romi sudah tidak tahan mengetahui keadaan rumah tangga kalian sehingga dia membawa adiknya pergi.” Berbicara selugas mungkin.


Masih bagus ia tak mengatakan siap memeluk Rima jika saja pria di sana tak siap merengkuh wanita itu.


"Ren, kamu harus bantu aku!" Dihyan penuh harap.


“Ren, RENO?” Dihyan berteriak karena tak mendapat tanggapan dari Reno.


“i, iya bos?” Reno menjauhkan ponsel dari telinganya demi mendengar suara Dihyan yang menggelegar memenuhi


gendang telinganya.


“Kamu dengar tidak? Aku butuh bantuanmu mencari Rima?” Dihyan dengan emosi yang mulai memuncak.


Bantu tidak ya?


Kalau Rima kembali pada pada Dihyan sudah pasti ia akan mendapatkan siksaan lagi. Tidak tega melihatnya selalu disiksa. Bukan hanya Dihyan bahkan Dianrapun ikut menyiksanya. Tak ada alasan untuk membantu.


“RENO! Kumohon bantu aku! Cari istriku!” Dihyan sudah tidak sabaran, sementara pria di sana mungkin terlalu sabar lagi.


Istri? Sejak kapan dia menganggap Rima istrinya?


“Emmm, aku baru bangun, belum mandi. Kalau bos mau, bos bisa ke rumahku saja!” Reno masih enteng, separuh nyawa tak sudi membantu. Namun rasa penasaran masih tetap saja ada.


“Baiklah, tunggu di rumahmu!” Tanpa menunggu waktu lama, Dihyan mematikan sambungan telpon tanpa kata


penutup lagi dan melajukan mobilnya menuju ke rumah Reno.


Mobil menepi di depan rumah Reno.


“Pak, Renonya ada?” Mendapatkan bapak Reno yang sedang duduk di teras sambil menikmati kopi di hari menjelang senja.


“Oh, ada di dalam. Mungkin lagi makan soalnya baru bangun. Masuklah!” Bapak Reno.


Baru saja ia ingin menanyakan tentang wajahnya namun Dihyan telah melangkahkan kakinya masuk ke rumah itu.


“Terima kasih pak, aku masuk ya pak!” Dihyan.


“Hem.”


Melangkahkan kakinya langung menuju ke ruang makan.


“Kamu sudah makan?” Reno ketika melihat sosok Dihyan dengan lebam di wajahnya.


Astaga, lupa makan siang hanya karena mencari Rima.


“Boleh? Aku belum makan,” Dihyan jujur.

__ADS_1


Makan siang atau makan malam, entahlah.


“Kenapa?” Reno sambil menyerahkan piringnya di depan Dihyan.


“Cari Rima,” Dihyan singkat.


Membuat Reno melototkan matanya.


Tidak makan? Hanya karena mencari Rima. Sejak kapan dia menyiksa dirinya sendiri demi Rima. Apakah dia mencintai Rima?


Senyuman sinis tercipta.


“Makanlah dulu! Baru kita cari Rima sama-sama!” Reno.


Mereka makan dengan tenang.


Meskipun Reno telah melihat kecemasan dimata Dihyan, ia menahan dirinya untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaannya. Bahkan dihyan belum makan.


“Kita bicara di ruang kerjaku!”


Meskipun tak terlalu besar, Reno menyiapkan ruang kerjanya sendiri agar bisa berkonsetrasi penuh saat melakukan pekerjaannya. Dan disinilah mereka berada, duduk berhadapan.


“Ada apa?” Reno membuka pembicaraan.


“Rima hamil, dia keguguran,”


Dihyan menundukkan kepalanya, bahkan untuk menatap bawahannya rasanya tak sanggup.


“Hamil? Keguguran? Karena apa?”


Reno dengan wajah menelisik, mata menyipit, anggapan telah terjadi sesuatu, pasti.


Sempat terkejut, namun tarikan napas keras masih mampu membuat dadanya sedikit longgar.


Dihyan menunduk, sementara Reno menatap sang bos dengan tajam.


“Rima jatuh dari tangga,” Nada masih lirih.


“Kamu yakin?" Reno dengan nada yang entah, senyum sinisnya belum juga sirna.


"Bukan karena kamu kan?” Reno mulai menatap Dihyan dengan rasa benci.


Hatin semakin sakit saja.


Bagaimana bisa ia membiarkan wanita yang pernah mengusik hatinya hidup bersama monster seperti ini?


“Heh, maaf,”


Dihyan semakin menundukkan wajahnya. Mungkin dia lupa bahwa di depannya adalah bawahannya.


Atau rasa bersalah membuatnya tak mampu mengangkat kepala.


“Dan aku harus membantumu?” Entah sadar atau tidak, kalimat itu terdengar dengan nada mengejek.


“Kamu harus bantu aku! Atau aku akan memecatmu?” Dihyan langsung mengangkat kepalanya.


Sekarang ia sadar,dirinya adalah atasan dan yang di hadapannya ini adalah bawahan. Ini perintah seorang atasan.


Jika bukan Reno, pada siapa lagi ia minta bantuan?


Papa dan mama berada di pihak Rima, jangan bilang Reno juga berada di pihak Rima. Lalu siapa yang harus berada di belakangnya?


“Kamu yakin bisa memecatku?" Reno masih dengan nada mengejek.

__ADS_1


"Apa papamu tau Rima kabur?”


“Papa mama tau, bahkan aku mencurigai mereka yang membawa Rima,” Dihyan berusaha tetap tenang.


Demi bantuan Reno.


“Dan kamu ingin memecatku karena tak membantumu mencari Rima? Haaaaahaaaahaaaaa,” Tertawa jahat.


“Kamu harus membantuku!” Teriak Dihyan keras.


“Lalu?” Sikap Reno seolah semakin berani.


“Lalu kau akan menyiksanya kembali? Itu sama artinya aku membantu seorang pembunuh sepertimu. Aku selalu melihatmu menyiksanya, memukulnya, menarik rambutnya. Bahkan Rima pernah ingin bunuh diri karena tak tahan


denganmu. Dan.....”


Mulai terlihat genangan di mata Reno membayangkan kehidupan Rima yang sangat menderita berdampingan dengan Dihyan.


“Jangan bilang kamu mendorong Rima dari tangga sehingga dia keguguran,” Reno mulai memandang Dihyan dengan tatapan kebencian.


Dipecat? Mungkin dia sudah siap.


Dihyan hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Reno, dan itu seolah menjadi jawaban yes dari Dihyan membuat Reno Semakin berani meraih kerah bajunya dan,


BUG.


Reno berhasil menambah lebam di wajah tampan Dihyan membuat tubuh itu tersungkur di lantai.


Ia diam, tak ada niat untuk melawan. Mungkin mulai sadar dengan kesalahannya.


Ia pantas mendapatkannya.


Bahkan satu pukulan mungkin belum melunasi semua perbuatan buruk yang ia lakukan pada Rima dan anak dalam kandungannya.


Pukul saja! Pukul lagi! Pukul sampai puas!


“Kamu apakan Rima hah? Kalau kamu tidak suka kenapa tidak menceraikannya? Dia punya ayah, bagaimana dengan ayahnya jika tau kondisi anaknya hah?” Reno kembali meraih kerah baju Dihyan.


BUG.


Lagi Dihyan kembali tersungkur.


Dan lagi, Reno maju kembali meraih kerah baju Dihyan.


Mendengar kegaduhan di ruang kerja anaknya, ibu dan bapak Reno menghampiri mereka dan telah terlihat Reno


yang sudah kembali mengangkat kepalan tangannya bersiap untuk kembali memukuli bosnya.


“RENO." Teriak, terkejut justru Renolah yang melayangkan pukulan pada Dihyan, sangkaannya ternyata salah.


"Apa yang kamu lakukan?”


Bapak meraih tangan Reno, menahannya agar tidak mendarat lagi pada Dihyan.


"Astaghfirullah, ..."


Suara ibu yang turut masuk menyaksikan ruangan itu sudah mulai berantakan.


Menghampiri Dihyan dengan darah di ujung bibirnya.


"Kalian kenapa?"


To Be Continued!

__ADS_1


__ADS_2