
“Beri aku sepuluh anak, maka aku akan melepaskanmu!” Dihyan berucap santai sambil membelai wajah Rima.
“Kau gila!” Rima melototkan matanya.
“Kau telah merenggut anakku, hal wajar jika aku menginginkan ganti yang lebih.”
“Aku kehilangan calon anakku karena kamu, dan kau bilang aku yang merenggut anakmu? Yang benar saja!” Wajah Rima berada antara marah dan sedih.
“Kau tak bilang waktu itu kau hamil.”
“Lalu apa? Kau akan menyiksaku terus hah!” Suaranya kembali meninggi dan kembali meronta agar bisa terlepas
dari kukungan Dihyan.
“Tenanglah! Tenang! Atau kita akan terus seperti ini.”
Dirasa Rima mulai tenang kembali, Dihyan mulai mengendurkan kungkungannya dan perlahan melepaskan Rima.
Duduk membelakangi Rima, namun masih mampu menangkap pergerakan gadis itu dengan sudut matanya. Tetap siaga jika Rima kembali menyerangnya dengan brutal.
Tak punya pilihan lain Rima harus tenang, atau ia tak tahu apa lagi yang akan di lakukan oleh Dihyan. Masih berbaring, RIma berbalik memunggungi Dihyan.
“Jadi bagaimana dengan permintaanku? Sepuluh anak lalu aku akan melepaskanmu dan aku janji tak mengganggumu lagi. Janji!” Kini Dihyan telah duduk di sisi tempat tidur sambil menyebutkan permintaan aneh bin ajaibnya.
“Kau ingin membunuhku?” Dengan nada yang masih tak bisa dikendalikan.
Permintaan itu kembali menarik emosinya.
Sepuluh anak mungkin akan menghabiskan seluruh hidupmu bersama dengan pria ini.
Heh!
Yang benar saja
\=========================
BRAKKK.
Pintu kerjanya terbuka dengan paksa dan sangat keras. Menampilkan mama yang muncul memamerkan amarah yang jelas tergambar melalui sorot mata.
"Di mana RIma?" Tanyanya dengan suara melengking di udara.
Dihyan terpaku, memandang wanita yang telah melahirkannya itu seperti memandang malaikat kematian saja.
"Mah!" Ucapnya berdiri dengan pandangan tak lepas dari sang mama.
"Mamah?" Tubuh tiba-tiba gemetar. Ada rasa takut yang langsung menyergap begitu saja.
"Di mana kamu sembunyikan Rima hah?" Mama lagi masih dengan intonasi yang meninggi.
"Mah, mama!" Menguatkan diri untuk tetap berdiri. Perlahan melangkahkan kaki mendekati mamanya yang berdiri tegak di depan sana.
Membuka tangan selebar-selebarnya, meraih tubuh sang ibu dengan sempurna, memasukkan ke dalam dekapan.
Bahkan tubuh wanita itu hampir tak bergerak, dengan kedua tangan yang turut masuk dalam dekapan. Dihyan seolah hendak melumpuhkan pergerakannya dengan dekapan itu.
"Mah, mama." Ucapnya dengan suara yang turut bergetar.
Mama membulatkan mata mencoba menelisik perasaan Dihyan saat ini.
Suara dan tubuh pria itu sama bergetar, seperti orang yang ketakutan.
"Mah, tolong! Jangan ambil RIma lagi mah." Ucapnya memohon.
"Jangan pisahkan kami mah!" Pria itu benar tengah merasakan ketakutan yang luar biasa.
"Aku mohon mah."
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Iba dengan keadaan putranya yang tiba-tiba seperti itu. Kagetpun pastinya. Tak pernah menyangka putranya akan serapuh ini saat ia datang, padahal hanya untuk menanyakan keberadaan Rima semata.
"Aku mohon jangan pisahkan kami lagi!"
"Bagaimana jika Rima hamil anakku lagi mah, lalu kalian kembali memisahkan kami?"
RIma hamil?
Rasanya tak mungkin bagi Mama Cinta. Namun tak ada yang tak mungkin di dunia ini, jika memang takdir berkata demikian.
"Kamu mencintai RIma?"
"I-Iya mah."
"Tolong beri aku kesempatan sekali lagi!"
"Aku janji takkan menyakiti Rima lagi!"
Sadar, jika Mama Cinta memiliki kekuasaan yang lebih. Jika ingin mengambil Rima darinya, itu bukanlah sesuatu yang terlalu sulit.
Hanya dengan memohon seperti ini, mungkin bisa menyentuh sedikit saja hati mama untuknya.
Ketakutan itu datang secara tiba-tiba.
Takut jika benar Mama CInta menggunakan kekuasaan itu, dan kembali mengambil Rima darinya. Dan ia harus apa setelah itu?
Nyatanya darah lebih kental dari pada air.
Mama Cinta yang lebih memilih putranya dari pada kebahagiaan Rima.
Janji akan memberikan kebebasan pada Rimapun akhirnya tertahan.
Hanya ingin memberikan kesempatan pada Dihyan untuk kembali hidup seperti semula tanpa bayang-bayang ketakutan kehilangan sosok seorang istri.
"Kamu janji takkan menyakiti Rima lagi?"
"Baiklah, jangan sakiti RIma lagi. Dia juga sama rapuhnya seperti kamu."
"Iya ma. Iyyan janji!" Namun lingkaran tangan masih enggan mengendor.
"Lepas dulu! Mama susah gerak!"
"Tapi janji dulu, mama gak akan ambil Rima lagi!"
"Iya issssh, cepat lepas!"
"Janji dulu!"
"Iya, mama janji gak akan bawa Rima pergi lagi asalkan kamu tidak menyakiti Rima lagi."
"Iya ma, Iyyan juga janji!"
Selesai dengan urusannya, Mama Cintapun meninggalkan Dihyan meski dengan setengah hati.
Di luar Reno berdiri tepat di depan pintu, menunggu sedari tadi. "Bagaimana tante?"
"Heh," Mama Cinta tersenyum kaku. Tak enakpun pada pria satu ini.
Seribu gadis perawan di luar sana, mengapa harus Rima yang menempati hati pria ini?
Mengapa Rima harus berada diantara dua orang pria ini. Dihyan dan Reno.
"Beri Dihyan kesempatan sekali lagi."
Kalimat itu serasa menghantam sanubari.
Dukungan yang Reno harapkan kini musnahlah sudah. Pria itu membeku dengan sorot mata memandang mama CInta seolah tak percaya.
__ADS_1
Tanpa mengidahkan Reno, Mama CInta berjalan meninggalkan tempat itu.
Meninggalkan hati yang luluh lantah dengan perjuangan panjang yang sia-sia belaka.
Biarlah pria itu menata hati. Seiring waktu, mungkin cinta itu akan luntur dengan sendirinya.
\=================
Dihyan pulang dengan hati yang lapang, Satu persatu mampu ia singkirkan, Rima semakin kokoh dalam ikatannya.
Mendapati Rima yang berbaring di sofa tunggal menghadap ke arah jendela. Tubuh semampai itu seperti terlipat karena sofa sempit di paksa menerima tubuhnya.
"Sedang apa?" Tanyanya.
"Main bola." Rima menjawab dengan ketus.
Menggunakan kaos oblong Dihyan yang kebesaran.
Hingga hari ini, pria yang mengaku sebagai suaminya itu belum memberinya kebutuhan sandang padanya dengan baik.
Paha polos, karena malas mencari celana yang cocok untuknya.
Bahkan ********** masih menggunakan milik Dihyan.
Pc, pelit sekali pria itu.
Dihyan tersenyum kaku menerima jawaban itu. Masih beruntung Rima mau menjawab pertanyaannya meski dengan jawaban seperti itu.
Menundukkan tubuh tepat di hadapan RIma, membuat gadis itu berbalik memunggungi, enggan menatap suaminya sendiri. Rima masih merajuk padanya.
Dihyan tak menyerah, merangkul Rima dengan caranya. Pun tak peduli meski beberapa kali menerima penolakan, saat Rima mencoba menepis tangannya.
Kembali menempatkan tangan itu di atas pundak sang istri, hingga Rima sedikit lelah, membiarkan tangan itu mendarat begitu saja.
Menempatkan wajah di tengkuk sang istri, dengan tangan yang terus berusaha melingkar di badan. Menghirup wangi tubuh yang sedari tadi ia tinggalkan.
Mungkin rindu.
Membayangkan kembali pertemuan tadi siang dengan Sang ibu.
Berjanji untuk tak menyakiti Rima seperti dulu.
Iya, iya berjanji. Dan akan selalu mengingat janji itu.
Sebab benar, ketakutan kehilangan Rima kembali sangat besar.
Namun,
Cinta?
Jangan tanyakan lagi padanya, tentang Apa itu cinta.
Bagi seorang Dihyan, cintanya telah mati terkubur bersama sebuah jasad. Dengan berhias Pusara yang bertuliskan nama Nindy.
CIntanya satu hanya untuk Nindy.
Rima istrinya, namun tak mampu mengambil hatinya.
Untuk saat ini, Dihyan tak terlalu yakin tentang adanya cinta sejati.
Hatinya menyakini jika tak kan ada seorangpun wanita yang mau menerima keadaannya saat ini.
Hanya Rima yang benar nyata telah menjadi istrinya saat ini untuk tetap dipertahankan. Meski tanpa kata cintapun tak apa.
Lalu untuk apa pernikahan tanpa cinta ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Karya ini diterbitkan oleh Novel Toon. Jika suatu saat nanti menemukan karya ini berada di platform lain, itu artinya karya ini telah di copy atau plagiat.