
Rima terdiam mematung di tempat, menyaksikan interaksi antara keluarganya dan Dihyan.
Sesekali mereka terlihat tertawa bersama. Dekat dan akrab sekali.
Menoleh kearah dihyan, memandang lekat pria itu.
Pria yang telah memberikan senyum pada keluarganya, setelah mentorehkan luka terlebih dahulu pada Rima.
Apa maunya pria ini?
Menyadari diri jika tengah diperhatikan, Dihyan menoleh kearah Rima. Membalas tatapan itu dengan senyuman manis, mengulurkan tangan.
Lagi-lagi Rima dibuat terkejut, saat tangan yang pernah mencekiknya kini mengusap lembut pipinya.
"Maaf sayang, aku nggak ngasih tahu sama kamu. Ya namanya juga kejutan." Dihyan lagi lagi dengan senyuman memikat hati. Dalam hati menyadari, jika permukaan yang sedang ia sentuh itu terasa lembut dan halus. Rima pandai merawat diri.
Apa? sayang?
Hueeeek, rasanya ingin munt@h saja.
Rima tak pernah mengharap kata itu keluar dari mulut Dihyan. Ia tahu bahwa kata itu hanya dipergunakan Dihyan, untuk semakin meyakinkan keluarganya.
"Eh tampang kamu jelek tahu Dek." melihat tampang adiknya yang terlihat kebingungan. Lucu sekali pikir Romi.
Rima mengepalkan tangan, mengangkat seolah ingin memukul kakaknya. Segera Dihyan meraih tangannya, menggenggam dan meletakkannya bertumpuk di atas meja.
"Jangan ejek istriku!" Ucapnya pada Romi.
Sementara Romi hanya tertawa melirik kearah Rima yang terdiam kembali melongo. Memandang tangan yang berada dalam genggaman Dihyan.
"Yah, kadang istriku bar-bar loh." Pandangan Dihyan kini beralih pada Ayah. Lagi-lagi kening Rima berkerut, apa yang ingin dihyan sampaikan pada ayahnya.
" Kalau marah ganas,hahahaha...." Tawa itu terlihat seperti sungguhan bukan tipuan.
"Nah kalau itu aku juga setuju." Romi dengan hentakkan telunjuk mengarah pada Dihyan.
"Aku pernah di sembur air waktu dia marah loh." Dihyan sambil sesekali melirik ke arah Rima.
Lirikan nakal pada istrinya diperlihatkan di depan sang mertua. Pria itu benar-benar menghayati aktingnya.
Rima hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Beberapa kali mencoba menarik tangannya, namun tak bisa lepas dari gengaman tangan Dihyan.
Dihyan kembali menoleh ke arah Rima, mempersembahkan senyum termanis. Membawa genggaman tangan ke arah bibirnya, kecupan singkat diberikan di punggung tangan Rima.
Membuat Romi dan ayah menggeleng-gelengkan kepala sembari tertunduk.
Dihyan yang tengah romantis, kenapa mereka yang malu.
Lagi-lagi Rima hanya mampu menatap Dihyan tanpa berkedip. Setidaknya Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengimbangi akting Dihyan yang dipertontonkan di depan keluarganya. Ia tak mampu untuk tersenyum, sekalipun itu hanya pura-pura seperti Dihyan.
Acara makan malam telah selesai. Meninggalkan segudang pertanyaan di otak Rima.
Apalagi yang menjadi tujuan Dihyan saat ini?
__ADS_1
Ia hanya mampu ikut dalam sandiwara yang diperankan oleh suaminya. Bahkan saat hendak memasuki mobil pun Dihyan bertingkah sangat manis. dengan membukakan Rima pintu mobil terlebih dahulu.
"Apa yang kamu lakukan?"Rima membuka perbincangan di mobil.
Tak ada jawaban dari Dihyan, memang pria itu tak berniat menjawab. Wajah dingin dan aku telah kembali ditunjukkan. Toh disini hanya tinggal mereka berdua. Tak ada mertua atau Romi, Kakak Rima. Artinya akting telah selesai. dan ini adalah dunianya dan Rima yang sesungguhnya.
"Apa maumu?" Tanya Rima lagi. Tapi tak kunjung mendapat jawaban dari Dihyan. Pria itu seperti seenaknya saja.
Andaikan itu dirinya, Rima akan siap menerima semuanya. Tapi kenapa Dihyan justru melibatkan keluarganya dalam permainannya.
Kesal.
Namun tak tahu harus berbuat apa.
Tak seperti tadi saat hendak masuk mobil. Dihyan bahkan meninggalkan Rima tanpa sepatah katapun saat telah sampai di depan rumah.
"PAK DIHYAAAAAAN." Teriaknya kencang.
Dihyan seperti menulikan telinganya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Entah kesalahan apalagi yang Rima lakukan hingga mendapatkan hukuman dari Andra.
Rima berlulut dihadapan Andra, sementara Andra berdiri dengan tegap dengan kedua tangannya berada di pinggang.
Dengan menggunakan sandal selop, Andra menempatkan kakinya diatas tangan Rima. Terus menekan kakinya sambil memutar ke kiri dan ke kanan.
“Andra, lepas! Sakit ndra!” Rima meringis menahan sakit di tangannya sambil terus meminta pada Andra untuk melepaskan tangannnya.
Menepuk-nepuk kaki Andra dengan tangan yang masih terselamatkan dari pijakan kejam gadis itu. Namun lagi-lagi tak menggoyahkan Andra, bahkan semakin keras hingga menggit giginya.
“Andra kumohon hentikan!”
Gadis itu masih terus menyalurkan emosi dan kebenciannya pada Rima. Tak bisakah dia menyurutkan sedikit saja perasaan cemburunya yang dulu? Setidaknya pada mantan sahabatnya itu.
Rima mulai menangis menahan rasa nyeri di tangannya.
“Sakit, ndra!” Suaranya semakin lirih.
“Ada apa?” Suara berat dari seorang pria yang baru saja memasuki ruangan itu.
Memandang wajah suaminya yang baru saja masuk. Menunjukkan wajah sendu dan kesakitannya, berharap Dihyan mau menyelamatkan dirinya.
Andra menatap kakaknya sang pemilik suara tapi masih dengan gaya yang sama, dengan kakinya berada di atas
tangan Rima. Sementara Dihyan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya memandang kelakuan adiknya itu, tanpa menegurnya.
Kembali melanjutkan langkah kakinya untuk masuk menuju ke kamarnya yang terletak di lantai dua.
Dihyan ku mohon setidaknya beritahu adikmu itu untuk mengangkat kakinya! Ah, sampai lupa jika perbuatanmu
juga sama saja. Bagaimana bisa kau menegurnya?
__ADS_1
Rima hanya mampu berteriak dalam hati. Dirinya ingat jika suaminya itu selalu berada di pihak Andra dalam menyakitinya.
Rima masih menangis berlutut di hadapan Andra.
“Ada apa?” Suara lain memasuki ruangan itu.
“Apa yang kau lakukan?” Reno menarik tangan Andra hingga tubuhnya mundur ke belakang.
“Kak Reno?” Suara Andra menggema, tak terima dengan sikap Reno yang seolah membela Rima.
“Kau kenapa hah?” Reno balik membentak Andra.
Tak habis pikir pada sikap gadis yang satu ini. Apakah ia benar manusia tak berhati? Atau berhati tapi berkarat.
Reno meraih tubuh Rima yang masih terduduk di lantai dan membawanya ke dalam dekapannya. “Kau tak apa-apa?” Suara lembut itu semakin memancing emosi Andra.
Ditambah lagi dengan perhatian yang Reno berikan. Sungguh benar-benar satu alasan yang mampu mendobrak rasa bencinya pada Rima.
“Kak! Tak seharusnya kakak membelanya!” Suara Andra melengking.
Namun pria itu tak menaggapinya, ia terus menenangkan Rima.
Tak kuasa melihat pria yang dipujanya memeluk wanita lain. Terlebih wanita itu adalah Rima, wanita yang memang seharusnya menderita di depannya.
Andra memilih keluar meninggalkan rumah itu dengan menghentak-hentakan kakinya berjalan mendekati mobilnya, kemudian mulai melajukannya.
Reno semakin menguatkan pelukannya seraya membelai rambut lembut Rima yang mulai acak-acakan. Entah
sadar atau tidak, pria itu telah mendaratkan bibir di pucuk kepala Rima.
Reno mencium pucuk kepala Rima dengan sangat lama dan dalam.
Rima semakin menangis di dalam pelukan Reno.
Rasa iba yang terpatrih di hatinya kini kembali menjadi rasa cinta yang mendalam. Meskipun Cinta yang dulu
pernah ia bunuh secara sengaja, namun rasa itu kembali mengetuk hatinya.
“Tenanglah, ada aku di sini!” Kembali ia menghujani pucuk kepala Rima dengan kecupannya. Tak terasa setetes
air jernih lolos dipelupuk matanya, menyambar rambut Rima.
Ia terus membelai rambut gadis yang pernah ia puja.
Hingga Rima pun merasa sedikit tenang dari tangisannya.
Reno membantu Rima untuk bangkit dari duduknya dan membawanya ke sofa.
Kini mereka duduk bersebelahan, dengan Rima yang masih berada dalam pelukan Reno.
“Kamu tunggu di sini! Aku akan mengambilkan air hangat!” Reno berdiri, berjalan ke dapur. Namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok pria yang tengah berdiri di tangga dan sedari tadi menatap ke arah mereka, memperhatikan semua yang terjadi di atara mereka.
Seorang suami yang menyaksikan secara langsung istrinya dipeluk oleh pria lain. Akh tidak, apakah dia benar-benar seorang suami?
__ADS_1
Tatapan tajam mengarah ke arah Reno.
Dalam hati mengutuk tingkah bawahannya itu. Heh, ingin jadi pahlawan dia? Umpatnya dalam hati.