Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Semangat Lain


__ADS_3

"Kamu bisa menjemput istrimu, dia masih istrimu."


Satu kalimat yang akan menjadi penyemangat bagi Dihyan.


Setidaknya ada orang yang mendukungnya, di saat semua orang Justru tak berpihak padanya.


Namun saat ini, Ia masih tak bisa berbuat apa-apa, keberadaan Rima belum terendus.


Ia ingin menenangkan diri dulu, jauh dari pekerjaan dan hiruk-pikuk kota yang kadang membuat dada terasa sesak.


Sejenak menghabiskan waktu di kampung yang cukup luas ini. Mungkin sampai paru-parunya bersih dari polusi yang sempat ia hirup di kota.


Kembali meninggalkan pekerjaan dengan alasan yang berbeda.


"Bang, temani cari pakaian dong!" Ucapnya pada Abang saat baru saja sampai di depan ruko milik ayah.


Pria yang disapa sejenak melirik jam yang melingkar di tangannya kemudian menatap Dihyan.


Hari telah sore, berapa lama mereka berada di masjid demi mendengar pengakuan Dihyan?


Pria menyedihkan, yang masih berupaya menunjukkan raut tenang.


"Ke pasar aja ya, udah malam ini." Tawarnya.


Dihyan dari kota, setidaknya pria itu pasti menjadikan mall sebagai tempat mencari kebutuhannya.


Tak seperti mereka, pasar tradisional akan menjadi alternatif terdekat, terlengkap, tercepat, termurah dan ter ....


"Iya nggak papa."


Secepat kilat Abang kembali masuk guna mengambil motor, pamitan sebentar pada istri tercinta. Takut wanita itu akan merindu.


"Pakai helm Bang? Emang jauh ya?" Tanya Dihyan ketika menerima benda bulat pelindung kepala.


Situasi jalan kampung yang jarang dilalui polisi, membuat sebagian warga abai terhadap aturan lalu lintas. Termasuk menggunakan helm saat mengendarai sepeda motor.


"Nggak papa, pakai aja, nggak akan rugi kok!" Abang.


Pria tampan dengan tubuh tinggi tegap menggambarkan profesinya.


Menggunakan sepeda motor milik Abang, mereka berboncengan meninggalkan rumah.


Kembali tiba saat hari Mulai gelap, sebentar lagi kumandang adzan maghrib kembali terdengar.


" Assalamualaikum!" Sesaat setelah abang memarkirkan motor di halaman rumah, tak perlu dibawa masuk karena sebentar lagi mereka akan menggunakannya kembali menuju ke masjid.


"Dihyan mana?" Tanya ayah saat melihat Abang di rumah hanya sendiri, dengan dahi berkerut. Apa jadinya jika meninggalkan pria kota itu tanpa pengawasan.


"Ada. Di belakang." Sambil melepaskan helm saat baru saja turun dari motor.


Beberapa kantong kresek telah ia tempatkan di teras, itu barang belanjaan DIhyan.


Kembali berbalik menunggu kedatangan Dihyan.


Ayah segera melangkah mendekati jalan Raya, Mencoba mencari keponakannya yang dari kota itu.


Tak beberapa lama, sebuah motor matic kembali memasuk ke pekarangan rumah, parkir tepat di sebelah sepeda motor abang.


Ayah tercengang, saat pengendara itu membuka helm beserta jaket barunya, Dihyan.

__ADS_1


Pria itu baru sampai dengan mengendarai motor baru.


Ayah menengok ke belakang, memandang Abang seolah meminta penjelasan. Dihyan dapat motor dari mana?


Sementara yang ditatap terkekeh sendirian, "Beda memang orang kaya." Ucanya dengan menggeleng-gelengkan kepala.


Jelas beda, saat mereka harus menghitung-hitung pundi terlebih dahulu sebelum membeli sesuatu seperti motor yang terhitung barang mewah.


Sementara Dihyan, baru sehari saja rela mengeluarkan uang hanya untuk membeli motor. Padahal mobilnya saja terparkir di depan rumah Ayah. Ckckckc boros sekali pikirnya.


Tapi biarlah, mungkin itu cara Dihyan menghibur diri.


Toh yang dipakai membeli motor bukan uangnya juga.


Tak perlu menunggu lama, kini DIhyan dan motor barunya telah di kelilingi anggota keluarga lainnya.


Ibu, nenek, dan satu lagi putri bungsu ayah.


"Waaaah, motor baru?" Suara kagum dari belakang, ibu.


"Kamu yang beli Yan? Buat apa?" Nenek turut .


"Tapi gak papa juga sih. Keren nih, keren." Ibu mendekat turut mengelus motor NMAN merah berplat putih itu.


"Cash?" Tanyanya lagi dengan mata berbinar.


Dihyan mengangguk, sambil tersenyum, memukul-mukul sadel berlekuk.


Motor bukanlah barang yang sulit ia dapatkan, namun mendapat perhatian dari seluruh orang seperti ini, entah mengapa ada rasa bangga dalam diri.


Seperti telah memenangkan sesuatu.


Pamer? Entahlah!


"Biasa, orang kaya lagi buang-buang duit." Ucapnya sambil mengambil alih tugas menggendong.


Meninggalkan jejak sayang di kening sang istri.


Kembali menoleh ke arah kerumunan motor baru, entah sejak kapan putra sulungnya berada di atas motor sambil berjingkrak-jingkrak, tertawa.


"Mau jalan-jalan?" Dihyan ditujukan pada bocah itu.


"Mau-mau-mau." Lagi menjingkrak senang. Tos keras bersama sang paman.


"Aku ikut! Aku ikut! Aku juga mau ikut!" Suara bocah ke dua sangat nyaring, dengan tenaga penuh berlari mendekati motor baru setelah menghempaskan sepedanya begitu saja. Takut ditinggal oleh sang kakak.


"Udah mau magrib Yan. Besok aja jalan-jalannya." Ayah mencoba menegur.


Namun euforia motor baru seolah tak bisa tertunda.


Kedua cucunya telah menguasai motor, sulit untuk membujuk apalagi senyum dari ketiga orang yang telah siap di atas motor tak dapat di abaikan.


"Kak, aku juga ikuuuuutt." Suara dari belakang tak kalah nyaring.


"Shita, mau magrib."


"Bentaran aja yah, boleh yah?" Pinta sang anak bungsu memelas. Sedetik kemudian ia telah duduk di jok belakang, "Sini dek!" Tangan mengibas ke arah abang, tepatnya pada keponakan bungsunya. Membuat bocah tiga tahun itu turut merentangkan tangan berharap di gapai.


Para penonton hanya mampu menggeleng sambil tersenyum melihat dua orang dewasa yang kini berkolaborasi dengan tiga bocah di atas satu motor.

__ADS_1


Pun dengan Dihyan. Senyum merekah menandakan pria ini sedang berbahagia.


"Gak lama kok yah." Teriak Dihyan sebelum motor benar meninggalkan pekarangan rumah.


Motor melaju sangat pelan. Sebagian penumpangnya di bawah umur, Dihyan tak ingin kena omel pak komandan setelah pulang.


"Kak, belok kiri," Perintah sang gadis yang duduk di belakang, "Ada pasar malam di sana."


"Mau ke pasar malam?"


"Iya kak, selama pasar malamnya buka aku belum pernah datang." Ujarnya dengan bibir mengerucut.


Keposisifan sang ayah terlalu besar, di imbangi dengan penjagaan abang yang tak kalah ketat.


Anak gadis tidak boleh keluar jika tak ada yang menemani. Dan kini ada Dihyan, Sepupu pria yang bisa dijadikan tameng nanti sesampainya di rumah.


"Ya udah kita shalat magrib dulu!" Dihyan menepikan motor di pelataran masjid kampung yang mereka lalui.


Motor kembali melaju mengikuti intruksi gadis di boncengan.


"Kakak bawa ini yah." Menyerahkan bocah paling kecil pada DIhyan.


Kaki baru saja mendarat di sisi jalan, di depan sana lapangan yang telah disulap menjadi pasar malam.


Mengurus anak yang lebih kecil pastilah lebih rempong. Biar yang lebih dewasa yang mengurusnya.


Gadis itu akan bersenang-senang dengan kedua keponakannya yang lain.


Malam itu, mata terasa silau dengan kerlap-kerlip lampu. Berbagai macam permainan menantang untuk


Jajanan ringan hingga berat seresa mencolek perut yang mulai kosong.


Tak perlu khawatir, kantong kak Dihyannya pasti tebal.


Pulang dengan keadaan perut penuh, Sate kambing di pinggir jalan menjadi menu makan malam mereka.


Beberapa camilan juga telah mereka nikmati.


Beberapa balon melayang, masing-masing dengan bentuk dan warna yang berbeda sesuai dengan jumlah bocah di atas motor. Tak lupa permen kapas pun sama dengan jumlah bocah.


Tinnnn.


Tinnnn.


Tinnnn.


Bunyi klakson motor saat yang lain telah bersiap untuk tidur.


"Ya ampunnnnn," Ibu yang dengan segera membuka pintu. Perasaan sedari tadi cemas saat menunggu mereka yang katanya sebentar itu.


"Kan tadinya bilang cum,...."


"Bu cepetan, tolongin ini!" Menghentikan omelan ibu, menunjukkan pada bocah-bocah yang terkulai lemas di atas motor.


"Pegel." Lagi keluhnya, sedari tadi menahan dua tubuh agar tetap stabil di atas motor.


Belum lagi bawaan yang menurutnya tidak penting itu.


Malam itu, Dihyan dengan kesenangan tersendiri, seolah membersihkan hati yang berbalut awan kelabu.

__ADS_1


Menghantarkan ia pada satu kehangatan lain. Meski lelah mengikuti kehendak bocah-bocah itu, namun hatinya terasa bahagia dan menghangat.


...****************...


__ADS_2