Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Kata Tak Berarti


__ADS_3

"Wanita itu terlalu kuat. Anak buahku kewalahan menghadapinya." Dihyan.


"Tapi bukan seperti itu juga," berbicara dengan bercampur isak tangis.


" Mereka menembaknya."


Yakinlah kini agak ada getir yang terasa.


"Maaf!"


"Kamu memang kejam dan tak punya perasaan. Dihadapanmu wanita tak ada artinya sama sekali."


"Bukan begitu Rimaaaa!"


"Lalu apa? Setelah semua yang kamu lakukan kamu masih ingin menyebut dirimu baik?"


"Kamu bukan manusia, tapi ibl!s!"


"Iya aku memang bukan orang baik! Tapi tak ada perintah dariku untuk melakukan itu. Itu inisiatif mereka, bukan aku yang. Aku hanya menginginkanmu?"


"Kenapa?"


"Karena kamu istriku."


Lagi, Rima tersenyum getir mendengar kata itu.


IStri katanya?


"Kita sudah bercerai. Tak ada hubungan lagi."


"TIDAK. Kita tidak bercerai dan tak kan pernah. Aku masih suamimu, dan kamu masih istriku."


PLAK.


Tangan  mendarat mulus tepat di pipi pria itu. Kesal sekali mendengar kata-kata itu.


Setidaknya ini bisa mengobati hati Rima yang sakit dengan semua kelakuan Dihyan. Meski tak sepadan dengan yang ia alami.


Ini juga bukan balasan dari Leli, bukan. Nanti ada waktunya.


Dihyan terdiam, tak hendak meraih pipi yang terasa panas kini. Menatap wanita yang duduk di sampingnya.


Bukan tak sakit dengan semua yang telah terjadi, ia hanya ingin memperbaiki segalanya, memulai dari awal entah itu dari mana.


Mengapa sesulit ini?


"Makanya, kamu jangan pergi lagi!" Dengan tutur kata Lembut.


"Mereka bisa melakukan apa saja, Agar kamu tetap berada di sisiku!"  Dan semua ini hanya ancaman.


Sudahlah, Ia sudah terlanjur buruk di hadapan orang-orang, termasuk Rima.

__ADS_1


Seribu kali permintaan maaf pun takkan merubah penilaian orang terhadapnya.


Dan Seribu alasan sekalipun, orang-orang juga takkan menerimanya.


Terlanjur jahat, Biarlah!


yang penting sekarang Rima telah ada bersamanya.


“Nanti dilanjut lagi! Makan dulu!” Dihyan mencoba membujuk Rima saat melihat wajah wanita itu sedikit tak bersahabat.


Saat fajar menyingsing menyembunyikan banyak rahasia tentang hari ini. Sebagian mereka mengukir kisah pada lembaran baru hidup. Mungkin begitu pula dengan dua orang yang tengah bersembunyi dalam selimut yang sama namun dengan asa yang berbeda.


Kembali pemandangan yang sama seperti hari sebelumnya nampak oleh Rima.


Dada polos dengan pemilik yang sama di hadapan matanya sedang menatapnya dengan senyuman, “Morning.”


Bugggh.


kepalan tangan Rima hadiahkan tepat di dada itu.


"Ugggggh, Rima?" Sambil mengeluh Dihyan menekan dadanya, sesekali mengusap-mengusap pelan. Sakitnya bukan main-main. Rima menggunakan kekuatan saat memukulnya.


Dihyan bangkit segera meninggalkan RIma, tak ingin menjadi sasaran amukan lagi.


Ia hanya akan menunggu Rima terbiasa berada di dekatnya lagi. Sambil menunggu sesuatu yang bertunas dalam tubuh sang istri. Berpikir jika kelak semua akan baik-baik saja.


“Heh! Lagi-lagi!"


Rima menutup matanya erat. Perlahan kembali membuka menatap ke langit-langit.


Tunggu!


Sepertinya ada yang berbeda. Di sapunya seluruh ruangan dengan pandangannya. Jelas sangat berbeda.


Ruangan yang kini dia tempati memiliki lebih perabot yang lebih lengkap. Jelas ini bukan hotel.


Dihyan keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


“Kita di mana?” Rima sambil memandang Dihyan.


“Mandi dulu! Mandi wajib yah! Aku tunggu!” Sekali lagi jawaban yang keluar dari topik pertanyaan.


“Heh,” Ketika di suruh untuk mandi wajib seolah memperjelas tentang kejadian yang sama terulang lagi.


Hubungan suami istri yang tidak ia sadari.


Tak ingin berdebat, Rima mengambil handuk yang di berikan oleh Dihyan.


Setelah sarapan Dihyan pamit pada Rima, “Kamu tunggu di sini, aku kerja dulu!”


"Itu ada beberapa buku." Matanya menunjukkan pada meja nakas, " Bisa kamu baca kalau bosan!"

__ADS_1


Baru saja mendekat hendak mencium kening Rima, namun wanita itu kembali menepis tangannya dan menjauhinya.


“Apa tadi dia bilang? Kerja? Berarti kita berada di IbuKota bukan? Semoga saja!”


Pandangan mengelilingi ruang kamar.


Tempat ini sedikit lebih luas dari pada hotel sebelumnya, jika tak salah mengira maka tempat ini adalah  apartemen.


Hari ini Rima lalui dengan makan, tidur, membaca novel.


Hem, tak terlalu buruk setidaknya mampu mengikis rasa bosan kala seorang diri.


Namun ternyata ia tak sendiri. Seorang wanita paruh baya sedang menemaninya meskipun hanya membersihkan dan memasak untuk Rima.


"Bi?" Coba menyapa.


"Iya non, ada yang perlu saya bantu?" Wanita itu menunduk sopan.


"Ini di mana?" Rima memilih duduk di kursi makan mungkin lebih seru saat ada teman cerita.


"Ini apartemennya Pak Iyyan non."


"Iya tau. Maksudnya, ini daerah mana?"


Sang bibi tak hendak menjawab sepertinya, hanya menatap Rima lalu menunduk. Mungkin memang pak bos melarang mengatakan terlalu banyak pada RIma.


Heh, RIma menjatuhkan kepala pada tangan yang telah ditumpuk di atas meja, "Aku sekarang di tawan bi," Ucapnya lirih. "Keluargaku tak ada yang tau jika aku di culik."


Bibi masih diam, sepertinya lebih percaya pada perkataan Dihyan jika gadis itu adalah istrinya yang bandel.


Tak seru, sepertinya si bibi enggan menjadi temannya, Rima memilih berlalu dari sana. Meraih sebuah novel, membaringkan diri di atas sofa, menghabiskan waktu tawanan dengan membaca.


Tanpa diperintah bibi menyiapkan minuman dan makanan ringan di meja.


"Makasih bi."


"Sama-sama non," Berlalu setelah menganggukkan kepala sopan, "maaf!" Lirih setelah berada di ujung ruang.


Membaca berlembar-lembar mampu membawanya masuk ke alam mimpi.


Mimpi yang sangat indah. Saat dirinya, ayah dan kak Romi berada dalam sebuah taman dengan tikar yang terbentang.


Hamparan Rumput hijau sangat indah di pandangan mata.


Juga tempat berlari, bahkan saat duduk di sanapun ayah tak kan marah, kembali mengambil minuman bersoda setelah lelah berlari.


Nafasnya terasa sedikit berat, mungkin terlalu jauh berlari saat Romi mengejarnya.


Hembusan kasar kini jelas terasa di wajahnya. Tubuhnya serasa berat seperti ada yang menindih. Rima perlahan membuka mata.


Pandangan kini memanaskan mata.

__ADS_1


Dihyan telah berada diatas seolah siap menyerang tubuhnya.


__ADS_2