Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Secercah Harap


__ADS_3

" Rima di mana?" Tanyanya pada mereka yang tadi terlihat berbicara dengan Rima.


"Rima siapa dicari Pak?" Seorang wanita yang mengenakan seragam putih-putih, Perawat.


"Rima yang tadi di sini!" Jawabnya kepala masih menoleh ke kiri lalu ke kanan, seperti orang linglung.


" Oh dokter Rima."


"Yaaaa, iya dokter Rima, Iya dokter Rima." Tepuk tangan sekali dengan semangat saat pembicaraan ini dianggap telah nyambung.


"Dokter Rima sudah pulang Pak."


"Pulang?" Kening berkerut menampakan wajah tidak percayanya. Lebih pada rasa tidak terima jika Rima pergi begitu saja sebelum mereka bertemu.


"Dokter Rima tinggal di mana?" Tanya sedikit menuntut.


Sang perawat terlihat bingung, " Apanyaki kah?" Tanyanya.


"Saya? Sa-saya temannya." Jawab Reno tergugup. Bahkan ia pun tak yakin jika masih dianggap teman oleh Rima.


Jangan dikira saat itu perawat percaya padanya. Meski Reno berparas tampan namun saat mempertontonkan wajah kebingungan seperti itu jelas membuat perawat merasa curiga. Lebih memilih tidak menjawab pertanyaan Reno.


Dokter Rima adalah wanita yang cantik, bukan sedikit pria yang menaruh hati padanya.


Sayangnya wanita itu telah bersuami, itu status yang diketahui oleh seluruh penghuni RS. Meski tak pernah sekalipun ada yang tahu paras pria itu.


Setidaknya ini menjadi salah satu pelindung diri bagi Rima. Pun menjadi alasan pada pria yang mendekatinya.


Ck, Reno berpijak kesal. Harusnya tadi ia langsung berlari saat melihat wanita itu. Bukan malah dia berdiri seperti sekarang ini dan menikmati pertanyaan menuntut yang tak mampu di jawabnya.


Sejenak ia tersadar untuk kembali melangkahkan kaki lebih cepat, berharap masih bisa mendapati Rima di sudut rumah sakit ini.


"Rima." Lirihnya dengan berlari, sesekali harus berhenti ketika mendapati sekumpulan orang yang mungkin menjenguk pasien.


Harapan berakhir kosong saat kakinya setelah telah menapak pada paving block parkiran, sementara bayang rima pun tak nampak di pelupuk mata.


Tubuh kembali tersentak, saat merasakan benda yang di pipih disakunya kembali bergetar.


Puffff, menghembuskan nafas keras, nyatanya tugas hari ini Belumlah selesai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sisa hari kemarin Reno habiskan dengan penuh rasa penasaran.


Berjalan penuh percaya diri meski hanya tampak luar saja. Di dalam rasa was-was masih menghantui.


Sekalipun ia bertemu RIma, belum tentu juga wanita itu mau bertemu dengannya, mungkin akan menghindarinya, pikirnya.


" Pagi Kak." Sapa Reno santun saat telah berada di depan meja resepsionis rumah sakit.


"Dokter Rima Damayanti ada?" Ucapnya mantap tanpa ragu, senyum manis turut Iya Sumbangkan. Kemarin sempat dicurigai karena menampakkan wajah bingun dan sedikit tergesa.


"Oh, dokter Rima hari ini shift sore kak. Ada yang bisa saya bantu, atau mau ki titip pesan dulu?" Gadis itu terus tersenyum ramah, apalagi berhadapan dengan pria tampan seperti Reno. Dengan logat daerah yang dimodifikasi menjadi bahasa formal menurutnya.


"Mulai jam berapa?" Reno.


"Shift sore mulai jam tiga kak. Atau Kalau mau Ki Buat janji juga boleh."


Kata Ki di atas, menunjukkan sapaan sopan pada lawan bicara.


Reno mengangguk mengerti, apa jadinya jika Ia membuat janji bertemu dengan rima. Mungkin saja Rima memilih tidak masuk kerja dengan seribu Alasan.


"Baik terima kasih Kak," Berbalik, berjalan menjauh.


Mungkin ini lebih baik, Reno bisa memulai harinya terlebih dahulu dengan bekerja. Akan kembali ke sini sore nanti, menyelesaikan urusan dengan korban dan juga bertemu dengan Rima.


Sekarang ia akan ke pabrik, harus fokus bekerja terlebih dahulu.


Semangat!


Setidaknya sekarang ia telah tahu keberadaan Rima kali ini.


Semangat!


Kembali menyemangati diri sendiri, memulai langkah.


Datang kembali setelah menyelesaikan pekerjaannya. Pukul setengah empat, Rima mungkin telah menjalankan tugasnya sebagai tenaga medis. Tapi di mana posisinya sekarang?


Kaki terhenti sebelum melangkah semakin dalam.


Apakah ia harus kembali menelusuri rumah sakit ini untuk mencari sosok itu.


Atau kembali bertanya pada resepsionis. Tapi tidakkah terlalu mencurigakan jika ia terus saja bertanya tentang Rima?


Huffff, hembusan kasar menguling otak yang serasa memberat.


Berpikir, apa yang baik ia lakukan.


Tangan merogoh kocek, mengambil ponsel menekan-nekan sebentar seolah mencari kontak seseorang.


Dengan kaki yang terus melangkah mendekati meja resepsionis.


" Baik Pak, saya sudah ada di rumah sakit." Ponsel diletakkan di telinga seolah tengah melakukan panggilan pada seseorang.


"Dokter Rima ada?" Tanyanya tepat saat ia berada di depan meja resepsionis. Sengaja menyibukkan diri dengan ponsel di tangan. Bukan hendak berlaku tak sopan pada lawan bicara hanya berupaya meminimalisir gundah yang mungkin saja terbaca oleh raut wajah.


Petugas telah berganti, sama seperti mereka yang bertugas di meja ini, bukan lagi orang yang ia temui tadi pagi.


"Oh ada ji Om, mungkin sudah bertugas. langsung maki ke ruangannya!" Seru gadis yang Tengah berdiri di belakang meja resepsionis.


Reno mendengus kesal saat mendengar panggilan Om yang disematkan padanya.


Merasa diri masih muda, usia gadis itu pun tak jauh berbeda dengan dirinya.


"Ruangannya di mana?"


Gadis itu langsung menjawab, tanpa bertanya apa-apa lagi.


Senyum cerah kembali terlihat di wajah tampan itu.


Kembali mengayunkan langkah ke tempat yang ditunjukkan sang resepsionis muda tadi.


Terhenti tepat di depan pintu berwarna putih. Kepala mendongak membaca papan hitam bertulis Dr. Rima Damayanti dengan cat putih.

__ADS_1


Jantung lagi berdetak kencang, mengingat segala yang tercipta bersama Rima.


Meski yang terlukis indah itu hanya sepenggal, namun mampu mengungki perasaan yang sempat sengaja ia tapik.


Ah tidak ini bukan cinta kan?


Tanyanya dalam hati kembali mencoba mengelak.


Ini mungkin karena perjalanan tadi menyusuri koridor Rumah Sakit.


Seberapa lama ia berdiri di sana menanti wanita yang sempat ia nobatkan sebagai calon istri.


Rima baru saja menjalankan tugas, masih lama untuknya menanti wanita itu.


Melangkah tenang mendekati kursi tunggu. Menanti waktu istirahat kerja Rima.


Beberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk jantung agar dapat kembali bekerja dengan normal.


Membuka ponsel demi memangkas waktu agar segera melompat.


Pintu ruangan beberapa kali terbuka lalu tertutup kembali, hilir mudik berganti orang membuat kepala juga ikut mendongak.


Hingga waktu senja menghampiri, pintu kembali terbuka dengan bincangan ringan antara dua orang wanita yang terdengar.


Salah satunya, ....


Ia tahu suara itu.


Suara yang kembali membuat jantungnya berpacu tak karuan.


Terlebih sosok itu telah muncul dari balik pintu. Kembali menghentikan waktu dalam lingkaran Reno.


Hingga gadis itu melangkah semakin menjauh, waktu bagi Reno belumpun bergulir sebagai mana mestinya.


Matapun tak sempat berpejam, memandang dua punggung wanita yang semakin menjauh dengan senda gurau yang terdengar semakin lirih di telinga Reno.


Bangkit Reno! Bangkit!


Susul gadis itu sebelum kembali menghilang!


To Be Continued!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



Buat Kalian yang lagi nunggui Bab Selajutnya, boleh ke sini Dulu.


Kisah sederhana, tentang dua anak manusia yang masih belia.


Dengan alasan mencinta hingga berakhir dengan pernikahan dini.


Sayangnya, tak selamanya cinta itu indah juga berlaku pada mereka. Terlebih lagi ketika kisah mereka menghadirkan campur tangan orang lain karena dianggap belum mapan dalam mengambil keputusan.


Riuh gemuruh sorak suara memenuhi lapangan basket sebuah alun-alun kota. Bahkan beberapa penonton sempat melompat dan berlari memasuki lapangan.


Bunyi peluit panjang menandakan lomba telah berakhir dengan kemenangan di tangan kampus Trimadha.


sedang bergandengan tangan. Sangat jelas bahwa mereka adalah sepasang kekasih.


“Kamu gak papa?” Lilis yang jelas melihat kesedihan di mata temannya.


“Kita samperin, kita samperin!” Andini yang kini sudah mengebu-gebu.


“Tunggu dulu! Perjelas dulu! Jangan langsung main labrak!” Lilis yang selalu bijak


“Perjelas apa lagi? Tuh kan liat?” geram Andini saat melihat sang lelaki mulai merangkul pundak gadis yang berada di sampingnya.


“Ayo ah!” Tantri yang juga mulai gemas melihat aksi perselingkuhan di hadapannya.


Ini tak dapat dibiarkan! Jelas-jelas ini perselingkuhan. Lelaki itu adalah kekasih sahabat mereka, Rindi. Dan sekarang lelaki itu kini bersama gadis lain? Gadis yang jelas sangat mereka kenal. Heh, mengesalkan.


Andini terus menarik tangan Rindi untuk mendekati sepasang kekasih yang masih asik dengan dunianya sendiri. Dibantu Tantri, sementara Lilis ikut berjalan di belakang mereka.


“Fery.” Saat Rindi menyebut nama lelaki yang kini telah berada dihadapan empat sekawan itu.


Sang lelaki berbalik di ikuti oleh sang gadis. Keduanya terperangah, hanya mampu menatap tanpa sepatah katapun.


“Kalian jadian?” Entah pertanyaan itu tepat atau tidak.


Karena tangan sang pria masih setia merangkul pundak sang gadis, seolah menggambarkan bahwa kalimat yang baru saja terdengar itu benar adanya. Dan tanpa ada yang menyangkal seorangpun, baik dari pihak pria maupun wanita.


“Dasar penghianat!” Andini yang kini tidak mampu menahan geramnya.


“Gak papa kok! Selamat buat kalian!” Rindi yang menyumbangkan senyumannya dihadapan sepasang kekasih selingkuhan.


Ia harus tegar, tak boleh ditindas.


Patah hati? Tak boleh!


Apalagi hanya karena seorang lelaki yang tak setia. Tak sepatutnya ia menangis. Itu justru membuat keadaannya semakin menyedihkan.


Apalagi harus bertengkar dengan teman sendiri karena memperebutkan seorang lelaki. Bagus jika lelaki itu akhirnya memilihnya, jika tidak? Maka bertambahlah porsi malunya.


Setidaknya kali ini mungkin ia harus mengalah.


“Loh kok?” Pekikan dari Andini yang seolah tak terima dengan sikap tenang terlebih lagi di dampingkan dengan ucapan selamat.


Mana ada kata selamat dari seorang kekasih yang telah dihianati?


“Ini adil buat kita. Aku juga punya seorang kekasih, nanti aku kenalin yah kalau ada waktu!” Mungkin tak apa ia sedikit berbohong demi harga diri.


“Hah?” Serentak dari para temannya.


Rindi meninggalkan tempat kejadian perkara di mana ada sepasang selingkuhan dan ketiga temannya yang menatapnya heran.


Apa tadi? Punya kekasih katanya?


Mengapa ide ini tak ia bicarakan dulu pada teman-temannya yang lain hingga membuat mereka juga terpaku mendengar kalimat itu.


Ia terus berjalan menunduk. Tak bisa dipungkiri hatinya kini tengah porak-poranda. Ingin menangis. No! No! Tahan dulu. Ada kamarnya tempat meluapkan segala perasaannya.


Bugk.

__ADS_1


“Aww,” ia meringis saat sebuah dada telah berada di hadapannya. Sambil mengelus-elus dahinya.


Apakah orang ini raksasa? Hingga kepalanya hanya mampu mencapai dada orang ini. Bahkan ia harus mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah sang pemilik dada.


Dan astaga. Ia menabarak salah satu pemain yang tadi ia beri dukungan, sebelum pandangannya melihat kekasihnya bersama gadis lain.


Pantas saja tinggi, pemain basket. Batin Rindi.


“Ma-maaf kak.” Ia terseyum canggung dihadapan sang pemain basket.


“Kamu gak papa?” Sambil tersenyum.


Hem ganteng. Ramah. Mungkin bisa diajak kerjasama.


“Kak,” lanjutnya dengan suara melemah.


“Ya, ada apa?”


“Boleh minta bantuan?”


“Apa?”


Rindi tak menjawab, namun langsung menyambar tangan  dan berbalik ke arah belakang.


“Aku pulang duluan yah!” Teriak Rindi sambil mengangkat tangan Linggar yang kini telah berada dalam gengamannya.


Linggar


Ia memandang takjub pada salah satu ciptaan Tuhan yang kini telah berada di hadapannya. Dan saat gadis ini tersenyum, nampak gigi ginsul menghiasi menambah kesan manis. Tubuh mini dengan sedikit berisi dilengkapi dengan pipi chubynya. Emm pasti empuk.


Ia bukan tak tahu siapa gadis ini. Tahu, meskipun hanya sekedar tahu nama dan wujud.


Gadis itu adik tingkatnya. Dan salah satu temannya pernah menyimpan perasaan khusus pada sang gadis, tapi sayang temannya terlambat karena gadis ini rupanya telah memiliki kekasih.


Dan saat sang gadis meminta bantuan, ia hanya bisa menatap heran dan bertanya-tanya pada diri sendiri tentang bantuan apa yang bisa ia berikan saat mereka baru saja bertemu.


Ia terkejut saat Rindi meraih tangannya, menggenggam tangannya lalu berbalik ke arah belakang dengan mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi sembari berpamitan pada teman-teman sang gadis, mungkin minta diantar pulang.


Di sana ia menangkap satu sosok yang diketahuinya sebagai kekasih Rindi sedang menggenggam tangan lain . Hem, dari sini ia mulai mengerti keadaan. Kekasih sang gadis selingkuh.


Dan dirinya kini di jadikan kambing hitam.


Apakah sebutan itu cocok untuknya yang tak mengetahui alur cerita yang dilakoni oleh gadis ini dan langsung menariknya masuk ke dalam cerita ini.


Baiklah, mari bermain gadis!


Ia turut menyumbangkan senyuman ke arah sana dimana mantan sang gadis berdiri dikelilingi oleh gadis-gadis lain yang ia ketahui sebagai teman-teman Rindi.


Ia turut mengoyang-goyangkan gengaman tangan mereka yang terangkat hanya untuk memberi kesan nyata pada permainan yang kini menyeretnya.


“Kita pulang?” Tanyanya pada Rindi yang langsung diangguki.


Mereka berjalan keluar lapangan sambil bergandengan tangan. Otomatis pemandangan itu mampu mencuri perhatian teman-teman dan para pendukung yang masih berada di lapangan.


“Aku bawa motor sendiri.” Ucap Rindi sambil berusaha melepas genggaman tangannya.


Heh, enak saja. Habis manis sepah dibuang. Dan mulai saat ini kita akan tetap bermain entah sampai kapan.


“Mereka masih lihatin kita.” Linggar yang justru semakin mempererat gengaman tangannya.


“Simpan motormu di mana?” Linggar saat mereka telah berada dekat parkir.


“Di sana.” Rindi sambil menunjuk ke sisi kanan alun-alun.


“Kuncimu mana?” Linggar mengulurkan tangan meminta kunci motor Rindi.


Rindi memberi sebuah kunci sesuai permintaan Linggar.


“Arman.” Linggar sambil mengangkat tangannya memanggil seseorang.


“Ada apa?”


“Tolong bawain motornya, aku pulang sama dia.” Setelah memberikan kunci pada seorang pria yang diketahui sebagai Arman, Linggar menunjuk ke arahnya.


“Tapi aku pulang sama Lilis.” Protes Rindi padanya.


Kunci motor kembali ke tangan Linggar.


“Ya sudah, kita suruh lilis yang bawa motormu pulang.” Linggar menarik tangannya yang masih berada dalam  gengaman kembali ke dalam lapangan.


“Apaan gak jelas banget!” Gerutu seseorang yang baru saja mereka tinggalkan.


Menghampiri teman-teman dan kekasih yang baru beberapa menit saja ia putuskan.


“Lilis.” Sapanya yang sebenarnya mencari yang mana sosok Lilis yang dimaksud Rindi diantara sekumpulan orang-orang.


“Ya,” jawab seorang gadis yang kini ia yakini sebagai Lilis.


“Kamu tolong bawa motor Rindi, biar aku yang antar dia pulang!” ucapnya sembari memberikan kunci motor Rindi.


Tak urung tingkahnya semakin mengerutkan kening mereka yang di sana.


Sementara Rindi terlihat cemberut dengan bibir yang maju berkerucut sambil melirik teman-temannya.


“Ayo.” Linggar yang kembali menarik tangannya yang hingga detik ini sama sekali tak pernah lepas semenjak Rindi mulai menggenggamnya.


Linggar terus membawanya kembali ke luar lapangan yang juga kembali menjadi bahan tontonan.


Ke arah tempat parkir mobil dan menghampiri sebuah mobil sedan merah. Jadi kita naik mobil nih ceritanya.


Berdua? Dengan laki-laki yang baru ia dekati.


Ahhhh ia seperti gadis murihin yang telah berhasil menggaet seorang lelaki kaya.


“Kak.” Rindi ingin melayangkan protes pada Linggar saat lelaki itu telah membuka pintu mobil dan mendorong pundaknya untuk masuk ke dalam mobil.


Linggar berputar ke sisi sebelah dan masuk duduk tepat di samping Rindi.


“Aku mau ganti baju dulu, boleh?” Linggar sambil melirik ke arah Rindi.


“Di sini? Sekarang?” pekik Rindi yang seolah protes pada Linggar yang ingin membuka bajunya saat mereka hanya berdua dalam mobil.


Dinda tunggu di sana ya!

__ADS_1


__ADS_2