
Bugh.
Pyar.
Suara riuh dari dalam ruang sang Bos mengagetkan Ghea dan Armada yang berada di depan ruangan.
Keduanya tertegun dan saling berpandangan, mungkin saling bertanya meski melalui telepati.
Pyar.
Kembali suara pecahan dari dalam ruangan mengangkat bahu mereka secara serempak.
"Mada," Ghea mulai mendekat sambil menarik lengan baju pria muda itu. Ia berharap mendapatkan perlindungan dari partnernya ini.
Armada hanya mampu memandang wanita ini, Ia juga bingung harus melakukan apa sekarang. Meski rasa penasaran membuatnya serasa ingin membuka pintu itu, hendak melihat apa yang terjadi di dalam sana.
" Cepat bukain sana!" PintaGhea, raut wajahnya ketakutan.
" Aku nggak berani, nanti kalau dimarahin gimana?"Armada mungkin saat ini telah membela diri. Jika dimarahi Ia pun menjadi korban pertama sebagai pemegang handle pintu, bukan wanita ini.
" Tapi kalau ada korban gimana? Kamu mau tanggung jawab?" Yang jelas wanita ini sedang mencari keamanan diri juga, sama seperti dirinya. Ingin tahu, tapi tak ingin menjadi korban amukan juga.
" Nggak mungkin juga kan korban jiwa?" Armada masih membela diri agar tak menjadi sasaran pembuka pintu.
" Mana kutahu, kalau memang ada korban jiwa gimana?" Ghea. Rasanya gemas sehingga wanita itu menarik tangan pria itu mendekat dengan pintu.
" Cepetan buka!" Ucapnya sambil mendorong Armada hingga tubuh pria itu menyambar pintu. " Cepetan ishh, tinggal buka pintu segala, Apa susahnya sih?" Kesal juga saat Armada justru berdiam diri sambil memandangnya.
" Aku nggak berani, ya udah kita Panggil keamanan saja!"
" Mereka bukan tamu yang harus diamankan!" Ghea.
" Bismillah!" Ucap pria itu sambil menutup mata, memohon pertolongan agar Ia tak menjadi korban amukan setelah ini. Memberanikan diri menekan handle pintu demi melihat kekecewaan apa yang terjadi di sana.
Bugh.
Mereka justru disambut dengan tubuh Reno yang terhuyung ke belakang hingga jatuh tepat di hadapan mereka.
" Dasar pelak0r!" Suara Dihyan menggelegar turut menghampiri indra pendengaran mereka.
" Kamu itu pria lajang, Kamu nggak malu menghancurkan rumah tangga orang lain?"
Ghea dan Armada saling memandang mencari tahu dengan tatapan mata mereka.
Siapa yang pelakor dan siapa yang dilakori?
__ADS_1
Reno masih betah dengan duduknya di lantai. Tangannya bergerak mengusap tepian bibir yang sobek akibat mendapatkan kepalan tangan Dihyan.
" Bukan pelak0r."
Santai sekali pria itu, terlihat tidak hendak membela diri. " Pelakor itu kepanjangan dari berebut lagi orang."
Ia berucap, sementara tangannya masih mengusap pelan di sudut bibirnya, hendak mencari tahu Sebesar apa luka yang ia terima.
" Yang benar itu pembinor, perebut bini orang!"
" Dan kamu bangga dengan sebutan itu hah?" Suara Dihyan kembali menggelegar, menyambung ucapan Reno.
Reno mulai bergerak, bangkit dari duduknya menatapnya nyalang arah depan tempat rivalnya berada.
" Ia aku memang pebinor!" Tantangnya dengan begitu nyata.
" Kalau aku pebinor terus kamu namanya apa hah?"
" Kamu yang datang di antara kami berdua."
" Asal kamu tahu, aku dan Rima saling mencintai, sebelum kamu dan istrimu datang memisahkan kami."
Ghea dan Armada kembali saling menatap. Rima siapa kah yang mereka maksudkan?
Rima istri bos mereka kah?
Sedikit otak mereka menerima jika wanita seperti Rima menggoda pria lain saat dia memiliki seorang suami.
Mereka pun mulai membandingkan antara Reno denganDihyan.
Dari segi ketampanan, memang masih jauh lebih tampan Reno, tubuh pun jauh lebih tegap tinggi dan atletik dibanding Dihyan.
Tak salah rasanya, jika Rima jatuh menautkan hati saat memandang paras Reno.
" Dan kamu dengan bodohnya, mengikuti perintah istrimu itu. Meskipun pada ujungnya menyakiti semua orang."
" Jika kamu tak mencintai Rima Kenapa tak melepaskannya sejak awal?"
" Padahal kamu bisa menceraikannya saat Nindy sudah mati. Tapi kamu masih saja bersikap Dengan bodohnya terus menahan Rima sebagai istrimu padahal jelas-jelas kalian tidak saling mencintai."
" Kamu hanya menjadikan Rima sebagai pelampiasan napsvmu. Dan kebodohanmu belum saja berhenti sampai di situ, meskipun kamu telah membunuh anakmu sendiri."
"DIAM!"
Teriakan Dihyan mampu menghentikan ocehan panjang lebar Reno.
__ADS_1
Tak bisa dipungkiri jika semua perkataan Reno adalah benar adanya. Sebelumnya memang ia menganggap Rima sebagai pelampiasan. Ah bukan pelampiasan, lebih tepatnya ajang pembalasan dendam.
Pengetahuannya tentang kematian Nindy yang disebabkan oleh Rima menjadi penyebabnya.
" Hahaha," Reno justru tertawa di tengah amarahnya.
Kedua insan yang berdiri di ambang pintu itu kembali saling pandang. Ada penyesalan kenapa harus melihat perkelahian ini. Tapi jika tak melihat mungkin saja mereka tak bisa tidur malam nanti karena rasa penasaran.
" Kalian tahu?" Pandangannya kini mengarah pada dua orang yang berdiri tepat di gawang pintu menyaksikan pertikaian mereka.
Adduh, kenapa mesti ditunjuk segala.
Batin mereka serasa ingin teriak saja. Maafkan kami telah mencari perbandingan antara kalian.
" Bos yang kalian banggakan ini adalah seorang kriminal." Ucapnya dengan tangan yang menunjuk ke arah depan sana. Mata pun turut memandang tajam pada pria yang ia maksud.
Yakinlah pada hati yang tergores saat ia mengatakan ini.
Mengingat semua tindakan yang sangat melukai Rima bahkan sampai membuat wanita itu keguguran. Sementara Ia tak bisa berbuat apa-apa dahulu.
" Dulu, aku membiarkanmu bersama Rima karena berharap kau bisa memberikan kehidupan yang layak dan bahagia padanya."
" Tapi apa yang terjadi? Nyatanya kamu hanya memberikan luka padanya."
" Dan Kamu kira aku ikhlas melihat wanita yang aku cintai tersakiti begitu saja?" Tersirat kekecewaan dan penyesalan di dalamnya. Harusnya dulu ia bertindak segera membawa Rima jauh dari pria seperti Dihyan sebelum semua terjadi.
" Dan asal kamu tahu, Kenapa Rima mau mengandung anakmu?"
" Hahaha,…" Pria itu kembali tertawa sebelum dilanjutkan kata-katanya.
" Sebab dia ingin memberikan kamu keturunan, setelah itu baru dia akan kembali padaku."
" Sekarang kamu memang memiliki tubuh Rima, tapi perlu kau camkan yang satu ini, Aku adalah pemilik hatinya dari dulu hingga sekarang."
" Aku pun akan mendapatkan tubuh Rima sepenuhnya setelah ia melahirkan anak darimu. Jadi Bersiaplah untuk hari itu."
" Nikmatilah kebersamaanmu bersama Rima, sebelum wanita itu kembali ke tangan yang tepat, hahaha." Kembali tertawa, kakinya mulai melangkah keluar dari ruangan. Tak lupa menyenggol kedua bahu insan yang menjadi saksi perkelahiannya.
Meninggalkan Dihyan yang menatap lurus ke depan. Menikmati punggung tegap sang pemilik pria tampan yang mengaku sebagai kekasih istrinya itu.
Jika benar Reno dan Rima adalah sepasang kekasih sebelum ia menikahi Rima dulu, lalu mengapa pria itu mau membantunya dulu saat ia mencari keberadaan wanita itu dulu?
Semua kata yang terucap oleh Reno menjadi sebuah kenyataan pahit dan ancaman baginya.
Benarkah Rima akan meninggalkannya setelah melahirkan anak mereka?
__ADS_1
Apakah Rima sekejam itu?
Sebenarnya siapakah yang tersakiti dari semua ini?