Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Tolong Bantu Aku!


__ADS_3

Dihyan kini telah berada di rumah Rima.


Tak lupa membawa buah tangan untuk keluarga Rima. Setelah memberi salam duduk di ruangtamu bersama ayah mertuanya.


“Ayah apa kabar?” Sedikit berbasa-basi.


“Wajahmu kenapa nak?” Ayah melihat lebam di beberapa titik di tubuh Dihyan, termasuk wajah.


“Haaaahaaaahaaaaa, biasalah yah, lelaki!” Mencoba merubah raut wajahnya serileks mungkin. Tak lupa tertawa, meski garing. “Ayah baik?”


“Seperti yang kamu lihat, ayah baik. Kamu bagaimana?”


“Alhamdulillah yah, baik juga,”


“Apa Rima menyulitkanmu? Bagaimana kabarnya?”


DEG.


Kini ia telah mendapatkan jawaban sebelum pertanyaannya terlontar. Ayah menanyakan kondisi Rima itu berarti dia


tidak pulang ke rumah ini. Lalu kemana?


“Ri-rima baik yah. Sebenarnya. Emmm, sebenarnya ada sedikit kabar buruk, tapi aku mohon ayah jangan kaget


kalau mendengar ini!”


Lebih baik memberi tahu lebih dulu, sebelum ayah mendengarkan dari orang lain. Predikat menantu terbaik bisa hancur begitu saja.


“Emmm, sebenarnya Rima sempat mengandung anak kami, namun mungkin karena terlalu capek kami harus kehilangan calon anak kami." Tertunduk, bersedih. Bukan acting, memang ada yang mencubit di dadanya saat mengatakan itu.


"Maafkan aku yah, karena tidak bisa menjaga calon cucu ayah!”


Hem, pintar mencari perhatian atas kesalahan yang telah dia perbuat.


Terlihat ayah terhentak mendengar kalimat-kalimat Dihyan.


“Kami akan berusaha untuk segera memberikan cucu pada ayah. Dan jangan lupa do’akan kami ya yah!” Dihyan.


Basa basi yang bagus bukan?


Kali ini senyuman ayah perlahan terbit setelah mendengar pinta Menantunya.


“Iya, jangan terlalu tergesa-gesa, kalian masih muda. Kalian bisa pacaran dulu sebelum cucu ayah lahir!” Ayah.


“Terima kasih ayah! Emm, baiklah saya pamit pulang dulu. Kasihan Rima menungguku terlalu lama.” Dihyan, meskipun terlihat tenang namun sesungguhnya banyak pertanyaan yang sedang menari-nari di kepalanya.


Diapun meninggalkan rumah Rima.


Ingin berlari mencari istrinya namun ia tak tau kemana arah dan tujuan kakinya melangkah.


Mungkin dengan berlari bisa membuatnya sedikit menghilangkan kekesalannya.


Ia tak tau harus mencari istrinya dimana? Rima masih lemah, lalu siapa yang membawanya?

__ADS_1


Ah, bod dohnya aku tak bertanya pada perawat itu.


Tapi tidak, aku suaminya. Mereka akan curiga jika tau suaminya tidak mengetahui keadaan istrinya. Di tambah lagi mereka pasti mendengar pertengkaranku dengan mama, dan mama jelas-jelas mengatakan aku mencelakainya.


Mama. Kenapa tidak terpikir sampai ke sana?


Mama, ya mama.


Mencoba menghubungi mama Cinta, namun ia harus bersabar karena meskipun tersambung tapi mama tidak mengangkat telpon darinya.


Bisa dipastikan mama pasti marah dan ini adalah sebuah hukuman untuknya. Entah apa lagi yang akan mama lakukan untuk menghukumku.


Papa Cakra pasti bisa membantu.


Kembali mengotak-atik ponselnya, mencari nomor papanya.


Hanya dengan sekali deringan telpon papa Cakrapun telang tersambung.


“Pah, tolong aku pa!” Dihyan tanpa basa basi. Suaranya sudah bergetar.


Waktu menunjukkan hampir senja, dan Rima belum ketemu.


“Kenapa nak?” Papa Cakra.


“Tolong beri tahu di mana istriku sekarang? Aku tak tau harus mencari di mana pah?” Dihyan berucap secara lancar.


“Apa yang terjadi nak?”


“Apa yang telah kamu lakukan pada istrimu sehingga dia pergi?”


“Tidak pa, dia tidak pergi. Rima di bawa pergi seseorang. Pasti mama yang membawa Rimakan pa?” Dihyan.


“Mamamu juga tidak di sini. Kamu yakin mama yang bawa? Tidak ada orang lain yang kamu curigai?”


“Tidak ada pa, mama sangat marah dan menyuruhku menceraikan Rima.”


“Ya kamu ceraikan saja! Kembalikan Rima pada keluarganya. Setidaknya di sana dia tidak tersiksa seperti di rumahmu!” Berbicara dengan santainya tanpa memperdulikan pria yang justru membolakan mata tak percaya.


“Pah!” Dihyan semakin tersulut emosi mendengar kata cerai.


“Kamu cari ke rumahnya dulu, siapa tau dia pulang ke rumahnya,” papa Cakra.


“Sudah pah, ayahnya justru menyuruhku menjaga Rima,” Dihyan.


“Ayah menyuruhmu menjaga Rima tapi apa yang kamu lakukan?”


“Pah, tadi.....” Kalimatnya tergantung demi mengingat seseorang penghuni rumah Rima yang tadi tak nampak


oleh matanya.


Tanpa kalimat penutup segara memutuskan telponnya.


Romi, pasti dia tau di mana Rima berada sekarang.

__ADS_1


Sekarang hari apa, ia bahkan lupa berapa lama berlibur di penjara.


Kembali menyentuh layar ponselnya yang baru saja menghitam.


Sabtu, liburkan?


Tanpa menunggu lama, Dihyan langung menjalankan mobilnya kembali ke rumah Rima, berbicara dengan papa tidak akan menemukan titik temu.


“Ayah, maaf ya, Romi ada?” Dihyan melontarkan kalimat itu setelah bertemu kembali dengan ayah Rima.


“Romi tidak ada di sini nak. Beberapa hari yang lalu dia dipindah tugaskan ke luar kota.”


“Siapa yang kirim?”


Sepengetahuannya dia tak mengganggu gugat pekerjaan Romi, tepatnya belum.


“Bukannya kamu?” Ayah turut terkejut.


“Astaga, mungkin ada miskomunikasi dengan asistenku yah!” Kembali menampakkan senyum garingnya, meski semakin bingung dengan keadaan ini. Dan kali ini Reno kembali menjadi tumbal.


“Kapan tepatnya yah?” Dihyan masih berharap.


“Emmm, kalau tidak salah dua atau tiga hari yang lalu. Emmm, tiga hari yang lalu,” Mata ayah melihat ke


langit-langit seolah sedang berpikir.


Tiga hari yang lalu? Tepat saat dirinya berada dalam sel.


Ok Fixed Romi ikut andil kaburnya Rima.


“Apa ada masalah?” Tanya ayah saat melihat menantu kesayangannya terdiam berpikir.


“Emmm, masalah biasa yah, antar lelaki,” sambil mengibaskan tangannya dihadapan wajah sendiri mencoba menampilkan wajah tenang.


“Baik yah, saya pamit dulu. Ayah baik-baik ya. Maaf jarang berkunjung,” Meskipun ingin segera meninggalkan rumah itu, namun ia berusaha untuk tetap tenang berhadapan dengan mertuanya.


Untuk kedua kalinya dalam hari ini Dihyan meninggalkan rumah Rima.


Hari ini ia habiskan dengan mencari sang istri.


“Ren, dimana?” Dihyan memberhentikan mobilnya.


Kali ini menghubungi sang asisten, masih dengan satu alasan, membantunya mencari RIma.


“Di rumah bos. Ada apa?” Reno.


“Aku butuh bantuan. Ketemu dimana?” Dihyan.


“Emmm, terserah bos. Ada masalah?” Reno.


“Rima kabur,” Dihyan.


“Hah, kabur?”

__ADS_1


__ADS_2