
Hari pertama kembali bekerja setelah cuti melahirkan Rima menyempatkan dirinya untuk mengunjungi Dihyan
dengan membawakannya bekal makan siang meski hanya sebuah kotak dari sebuah resto.
Ia berharap bisa menyerahkan sedikit demi sedikit hatinya pada Dihyan, membangun rumah tangga bersama dengan Azka anak mereka.
Kejutan menunggu, saat ia baru saja membuka pintu ruangan Dihyan. Pandangannya tertuju pada dua orang yang
sedang memadu kasih disana.
Heh, yang benar saja!
Baru saja ia ingin memperbaiki segalanya, tapi apa ini?
Seorang wanita cantik yang sedang bergelayut manja di leher suaminya.
Cemburu? Entahlah.
Yang jelas panas sekali rasanya dalam dada harus melihat pemandangan seperti ini.
Sia-sia rasanya semua pengorbanan yang telah ia lakukan untuk pria yang tengah menikmati wanita lain.
Sayangnya, Dihyan salah jika menganggap Rima seorang wanita lemah yang tak bisa melakukan apa-apa saat di sakiti seperti ini.
Ia marah.
Bahkan sangat marah.
Rasanya seperti, ada api yang keluar dari atas kelapa dan lubang telinganya.
Dan jangan harap jika ia harus mengalah begitu saja.
Lihat saja apa yang bisa ia lakukan. Mungkin ia tak bisa berbuat apa-apa pada pria itu. Ia pernah merasakan kekuatan pria itu, dan nyatanya ia kalah.
Tapi tenang saja, ini pasti akan lebih menyenangkan.
Dengan segera ia melangkah masuk menghentikan proses menikmati keindahan itu, Rima menarik tangan wanita itu membuat kedua orang yang tengah memadu kasih itu terhentak saking terkejutnya.
Tak tanggung-tanggung dengan kekuatannya, ia mampu membuat wanita itu terpental ke belakang hingga punggung wanita cantik itu menubruk dinding.
“Aku sengaja meluangkan waktu untuk mengantarkan bekal makan untukmu, dan ini yang kamu lakukan
dibelakangku?” Suara nyaring memenuhi seluruh ruangan, mata melotot penuh dengan wajah yang memerah.
Tak lupa kotak makan yang ia bawa dilemparkan ke arah Dihyan.
Kembali meraih tangan sang gadis untuk di tariknya.
“Hei, apa-apaan ini?” Gadis itu menjerit sambil terus berusaha melepaskan diri dari Rima.
“DIAM.” Suara Rima mampu menghentikan semua aktifitas di ruang itu termasuk Dihyan yang tadi mencoba
__ADS_1
meraih tangannya.
Suaranya tak kalah dengan tangan yang menghentak kembali menarik tangan wanita itu, membuat musuhnya hampir saja limbung ke depan.
“Rima,” Dihyan hanya bisa menyebut namanya saat ia terus menarik tangan wanita itu berjalan menuju pintu
keluar ruangan.
Kakinya melangkah panjang sambil melepas satu persatu hellsnya, meninggalkannya begitu saja.
Tak lupa sedikit demi sedikit mengangkat roknya ke atas, tak peduli bagaimana penampilannya saat ini yang memperlihatkan lebih banyak kulit paha putih mulusnya.
Setibanya di luar ruangan Rima membungkukkan dirinya dengan wanita itu di belakangnya. Tangannya menarik
tangan wanita itu di atas pundaknya itu, hingga tak mampu menyeimbangkan dirinya.
Dengan mudah Rima munggulingkan tubuh wanita itu hingga punggungnya mencium lantai keramik dengan sangat indahnya. Bagai seorang perenang handal yang melakukan salto di udara dan mendarat mulus di air.
Ingat di air man, di air!
Bukan di lantai keramik seperti gadis itu.
BUG.
Pasti sakit, untuk orang-orang yang tak terbiasa.
Mungkin DIhyan tak pernah tahu, betapa kerasnya didikan sang kakak dan gadis yang bernama Leli dulu pada Rima. Dan inilah hasilnya. Rima begitu mudah menggulingkan seorang wanita dengan satu tangan saja.
Hem, jadi namanya Fely.
Baiklah, kita selesaikan sekarang juga. Kamu perlu diberi pelajaran lebih.
Rima baru saja melangkahkan kakinya maju sebelum sepasang tangan berhasil melingkar di perutnya guna
menahan aktifitasnya. Dadanya yang masih kembang-kempis menandakan amarah belumlah tuntas.
Dibalikkan kepalanya, terlihat wajah lelaki yang cukup lama tidak ia jumpai, mungkin sangat ia rindukan. Ia
menyandarkan kepalanya di dada pria yang masih memeluknya dari belakang hingga iapun terdiam menikmati dekapan lelaki ini.
Rima masih berada di dekapan pria itu, ia berusaha mengatur napasnya yang masih ngo-ngosan seperti baru saja
berlari keliling lapangan.
Mungkin sangat nyaman hingga ia mengeleng-gelengkan kepalanya hanya untuk mencari posisi nyaman dalam dekapan pria itu.
Tangan lelaki itu mulai mengendur, itu menjadi jalan buat Rima untuk berbalik membalas pelukan lelakinya. Dan kini mereka saling memeluk di depan semua orang.
Ia terluka, tapi itu tadi. Kini tidak lagi, hahahaha.
Satu sama, pikirnya.
__ADS_1
Kamu punya wanita, aku punya lelaki, lalu apa lagi yang kita pertahankan?
Mata Dihyan mulai memanas menyaksikan adengan di depannya, “Lepaskan istriku!” Suaranya mengema memenuhi ruangan itu.
Tapi kedua orang yang saling berpelukan itu masih tak bergeming.
Hingga Dihyanpun harus maju demi melerai pelukan keduanya dengan sangat kasar meninggalkan Fely yang masih berbaring di lantai. Wanita di sana masih merasakan seluruh sendi dan dan daging di tubuhnya sakit, bahkan sangat sakit.
Wanita seperti apa wanita itu?
Teriakan Dihyan membuatnya sadar mengapa wanita cantik itu marah padanya, tapi tidak seperti ini juga kali.
Mungkin ia akan membalas jika saja wanita itu menarik rambutnya, atau menamparnya. Tapi sekarang, ia bahkan tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya.
Terlebih lagi, bagaimana masa depannya setelah ini?
“Kubilang lepaskan istriku!”
Kembali berteriak sambil menarik tangan Rima masuk ke sisinya, terus ke belakang punggungnya, seolah ingin menyembunyikan sang istri dari pria ini.
“Oh, aku kira dia suamiku!” Sambil berpindah ke pelukan Dihyan. Mudah sekali Rima mengatakan seperti itu.
Mungkin ini sebuah pengharapan yang secara langsung ia ucapkan.
“Bawa dia ke RS!” Tujunya pada Fely.
Reno mendekati Fely demi memeriksa keadaannya dan memerintahkan keamanan untuk membawanya ke RS.
“Ayo masuk!” Dihyan, tangannya masih terus menggenggam tangan Rima. Tak ingin ada keributan lagi, ia ingin menjelaskan semuanya pada istrinya di dalam agar salah paham tak terlalu berlanjut.
Ia pun tak pernah menyangka jika Rima mampu berbuat seberani itu.
Pikirannya melayang, Bagaimana jika Feli membawa kasus ini ke ranah hukum?
Sayangnya istrinya itu masih sedikit memberontak, mungkin masih marah.
Tak apa, mungkin Rima cemburu, sedikit pengharapan dalam hatinya.
tapi ia pun marah saat terima justru memilih lebih memeluk Reno dengan sengaja, bahkan di depan matanya.
“RIMA,” Kembali sedikit berteriak, saat Rima justru menahan langkahnya.
“Iya, tapi tunggu!” Rima sambil menepis tangan Dihyan.
Meskipun masih sedikit ngos-ngosan ia tetap mencoba mengatur nada bicaranya setenang mungkin.
Setelah ia berhasil keluar dari dekapan Dihyan, ia menghampiri Gia yang sedari tadi menjadi saksi insiden itu.
“Kamu liat bagaimana aku memperlakukan pelakor itu kan!” Ucapnya lirih sambil mengelus pipi Ghea dengan lembutnya.
Sangat lembut, bahkan hanya menggunakan ujung jari-jarinya.
__ADS_1
Bukan terlena, namun justru membuat gadis itu merinding ketakutan.