Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Syarat Dan Ketentuan Berlaku!


__ADS_3

" Sampai kapan kamu mengurungku?"


Dihyan baru saja keluar dari kamar mandi dengan kulit yang lembab dan rambut basah.


" Aku tidak mengurungmu."


" Lalu ini apa? Aku keluar kamar saja kamu marah, apalagi keluar rumah." Rima


" Aku bukannya marah karena kamu keluar kamar, tapi pakaian kamu tolong kondisikan. Kamu boleh berpakaian seperti itu hanya di depanku."


" Ganti bajumu dulu baru boleh keluar kamar! Kemarin juga abis ke mall belanja kan?"


Namun Rima bergeming, mungkin Dihyan harus mencari solusi lain. Membatasi akses masuk pria di rumah ini mungkin?


"Kenapa lagi?" Dihyan saat melihat Rima masih dengan wajah ditekuk.


Masih diam. Dikiranya Dihyan akan mengerti dirinya meski tak berkata sekalipun.


"Kamu kenapa lagi?" Dihyan kembali mengulang pertanyaan saat wajah itu masih cemberut tak menjawab.


Antara ingin pergi berlalu mengabaikan, atau tetap tinggal mengeluarkan segala jurus yang bisa digunakan untuk membujuk wanita yang tengah merajuk ini.


"Kalau aku mau kerja lagi kamu bolehin juga?"


Kalimat itu terucap saat Dihyan baru saja duduk di sisinya. Rima akan kembali menggunakan jurus meong-meong lucu.


Ck, ini sih devinisi dikasi hati minta konro.


Rima merutuki ucapannya sendiri. Baru kemarin permintaannya dikabulkan eh sudah menyebutkan permintaan lainnya.


Pintu diketuk menyelamatkan keduanya.


Rima dengan rasa bersalah, dan Dihyan yang seperti enggan mengabulkan.


Dihyan bangkit dan membuka pintu, tak ingin Rima yang masih seperti itu meninggalkan kamar.


"Maaf pak! Ada tamu di bawah, katanya karyawan bapak."


Dihyan mengangguk, "Suruh tunggu!" Pintu tertutup setelah kata itu.


Kini beralih menghadap pada RIma, "Kalau mau keluar ganti baju dulu!"


Ia akhirnya meninggalkan Rima kembali ke kamarnya, kamar bersama Nindy.


Ini kamar Rima, tak ada barangnya di sini meski hanya pakaian. Sebentar akan meminta tolong pada Bibi untuk memindahkan barangnya ke kamar RIma.


Kini Dihyan dan Armada yang datang membawa laporan kerja telah berada di ruang kerja.


"Jangan bilang apa-apa jika ada yang bertanya tentang aku dan istriku!"


"Baik pak." Pria muda itu mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Sekalipun itu Reno atau Ghea."


"Baik pak. Tapi bagaimana jika mereka bertanya?" Posisi ini sedikit berat baginya, pasalnya ia adalah anggota termuda di sana. Reno dan Ghea adalah senior yang harus dipatuhinya.


"Ya kamu pikir sendiri apa jawabannya. Aku tarik kamu, karena laporan Pak Dwi itu kamu orangnya pintar, kreatif


Jadi gunakan kreatifitas berpikirmu dalam mencari jawaban yang tepat dari pertanyaan mereka tentangku."


"Baik pak." Lagi-lagi Armada hanya mengangguk, meski otaknya harus bekerja lebih.


"Kalo ada yang tanya aku di mana, kamu bilang saja gak tau!"


"Baik pak!"


Dan lagi tugas pria muda itu hanya mengangguk dan berpikir sendiri memikirkan.


Semua ini bukanlah sesuatu yang mudah bagi DIhyan. Ia bahkan telah memberi tahu pada satpam agar tak membiarkan Reno dan Diandra masuk ke dalam kawasan rumahnya. Bukan hanya mereka, kedua orang tuanya pun sama.


Krisis keperyaan yang ia miliki mungkin telah sampai pada batasnya.


Kuat hanya sekedar, namun rapuh benar adanya.


Mereka keluar dari ruang kerja, mulai berjalan keluar dan mendapati Rima tengah berada di ruang tengah sedang menonton. Jangan lupakan puding yang sama seperti tadi Dihyan habiskan.


Dihyan tersenyum, setidaknya pakaian Rima lebih layak dari pada sebelumnya.


"Lagi ngapain?" Tanyanya sambil memeluk dari belakang, sandaran sofa menjadi penghalang tubuh.


"Main bola." Rima menjawab dengan ketus. Kini ia harus menjalankan strategi baru. Merajuk.


"Apaan sih?" Berusaha melepas pelukan DIhyan pada lehernya.


"Saya pamit dulu pak! Bu!"


"Ok, thank buat hari ini!"


Armada mengangguk, Apa jawaban yang cocok untuk ini?


Aahhh Sudahlah, mungkin Bosnya itu tak menantikan balasan darinya, buktinya saat ini Dihyan tengah sibuk mengerjai istrinya. Beberapa kecupan setelah dipersembahkan pada sang istri.


Ah lebih baik ia segera beranjak dari tempat ini, sebelum ia melihat hal-hal yang menggelikan daripada ini.


"Jangan marah! Bisa-bisa kecantikannya rontok loh!" Dihyan telah menyebrangi sandaran sofa yang sedari tadi menjadi penghalang bagi mereka. DUduk di sisi sang istri, sedikit-sedikit mencolek dagu, pinggang dan paha hanya untuk mendapatkan perhatian dari Rima.


Wanita itu belum mau meliriknya. Sedikit-sedikit mengeser tubuh ke sisi sebelah mencoba menjauh dari suaminya hingga tubuh benar-benar mentok sampai sudut. Hari ini ia telah berjanji untuk tak memberi jatah pada Dihyan. Berusaha untuk tetap bertahan meski sentuhan menggelikan mulai terasa di sekujur tubuh.


"Apasih?" Ucapnya.


"Kamu maunya apa?" Dihyan.


"Ijinkan aku untuk bekerja!" Ucapnya tanpa ragu.

__ADS_1


"Kemarin minta pindah ke sini, udah dibawa ke sini eh minta kerja lagi padahal kartu udah di kasih, kurang?" Dihyan.


"Bukan kurang, aku mau punya kegiatan. Lama-lama tinggal sendiri di sini aku bisa gemuk, kerjanya cuma makan!" Rima.


"Kemarin bilang mau bibi buat teman bicara. Eh sekarang ngakunya tinggal sendiri di rumah."


Saling melempar argument masing-masing.


Rima kalah!


Semua yang diucapkannya dengan begitu mudah DIhyan patahkan.


Wanita itu memilih meringsut semakin tersudut, kaki berada di sisi Dihyan sebentar-sebentar bergerak menggeser pria itu agar menjauh darinya. "Sana!"


Dihyan justru terkekeh dibuatnya.


"Ok, kamu boleh kerja!" Sambil menarik tangan istrinya agar mau duduk dengan benar.


"Beneran?" Tubuh yang hampir berbaring miring tadi kini tiba-tiba tegak terduduk. Semangat langsung berkobar dalam diri.


Dihyan mengangguk dengan senyuman, "Bener."


"Ngak bohong?"


Dihyan menggeleng, masih memasang senyuman di bibir. "Syarat dan ketentuan berlaku!"


"Ok!"


Paling syaratnya, ia harus tetap di dampingi oleh pengawal setiap kali keluar rumah atau pulang tepat waktu.


Tersenyum saat memikirkan syarat itu.


Biarlah, nanti saja, ia akan kembali merayu suaminya agar mau melepaskan sedikit demi sedikit rantai yang membelenggu hidupnya.


"Apa syaratnya?" Semangat saat mengajukan pertanyaan itu.


"HArus pulang tepat waktu."


Rima mengangguk sambil tersenyum. Benarkan dugaannya? Tangan dengan menunjukkan telunjuk, mulai menghitung syarat yang diajukan Dihyan.


"Harus selalu memberi kabar setiap waktu."


Lagi Rima mengangguk, Pasti.


"Pakaian harus dikondisikan dengan benar!"


Kali ini Rima cemberut, sedikit tak setuju dengan syarat ini. Mereka berdua memiliki selera yang berbeda, dan di sini ia yang harus mengalah. Demi dapat bekerja.


Ah, nanti juga ia akan kembali merubah sesuai dengan priabadinya, dan saat itu terjadi Dihyan pasti tak mungkin menyuruhnya berhenti bekerja. Rima masih tetap mengangguk, menerima syarat ini. Melirik pada tangannya, Dihyan terlalu banyak mengajukan syarat.


"Dan, ... hamil!"

__ADS_1


Rima tercengang mendengar syarat terakhir itu.


"Kamu ngak boleh bekerja sebelum kamu hamil anakku!" Dihyan kembali mengulang kata-katanya, memperjelas satu syarat yang mampu membuat wanita itu melongo menatapnya.


__ADS_2