
Mendengar kegaduhan di ruang kerja anaknya, kedua orang tua Reno turut menghampiri.
Di sana telah terlihat Reno yang sudah kembali mengangkat kepalan tangan bersiap kembali memukuli bosnya.
“Reno. Apa yang kamu lakukan?” Tangan keriput itu telah meraih tangan kekar Reno, menahan agar tidak mendarat lagi pada Dihyan.
"Astaghfirullah, ..."
Suara ibu yang turut masuk menyaksikan ruangan yang telah mulai berantakan, menghampiri Dihyan yang terlihat berdarah di ujung bibirnya.
Di sana anaknya masih berdiri dengan gagah meski tertahan tangan bapak.
Bos yang jadi korban, dan pelakunya justru anak buahnya sendiri. Heh.
“Kalian kenapa?” Ibu masih bisa bersikap lembut. Mengusap pelan wajah Dihyan.
“Tak usah membela seorang pembunuh!” Reno hampir saja melayangkan pukulan kembali sebelum bapak
meneriaki namanya,
“RENO.”
Untung saja hanya dua kali pukul.
Kesal sendiri, mungkin karena tak bisa lagi menghajar pria itu. Memilih keluar meninggalkan Dihyan dan kedua orang tuanya.
“Maafkan Dihyan pak, bu!" Kepala tertahan dalam menunduk.
"Istriku keguguran karena ulahku. Aku menyesal pak, bu!” Dihyan berhasil mengatakan penyesalannya di hadapan kedua orang tua Reno tanpa di tanya sebelumnya. Berikut titik bening yang mulai membasahi wajah.
“Aku tidak tau kalau istriku sedang mengandung, aku juga tidak sengaja bu!” Dihyan tak mampu menatap Ibu, membiarkan diri terus bersimpuh di lantai meski tangan kedua orang tua itu terus terulur hendak menggapainya.
“Sudah, mungkin bukan rezeki kalian. Jangan putus asa nak!” Ibu sambil mengelus punggungnya.
Teduh.
Teduh sekali rasanya.
*Andaikan saja mama yang bersikap seperti ini, aku akan menangis *kencang dalam pelukannya.
Nyatanya mama lebih memilih menghukumnya dari pada memberi maaf dan sebuah kesempatan padanya.
“Makasih bu, aku pulang dulu!”
Dihyan semakin sendu. Berjalan gontai meninggalkan rumah sang asisten.
Setidaknya ada sedikit rongga di dada yang bisa membantunya sedikit bernapas setelah menyampaikan rasa hatinya.
Meski hanya sedikit, selebihnya kembali menghimpit dada.
Mungkin putus asa kini telah datang mengetuk pintu hatinya.
Harus minta bantuan kepada siapa lagi?
Om Cashel? Tante Cintya?
Tidak mungkin, pasti mama telah mewanti-wanti mereka untuk tidak membantunya.
Pikirannya kali ini tidak lagi positif.
Semua orang menjauhi. Bahkan Reno lebih memilih dipecat daripada membantu.
Bingung melanda.
Dihyan menjalankan mobilnya menjauh dari kediaman Reno. Tak tau ke mana arah dan tujuannya.
Hanya menyetir, belok kanan, belok kiri, terus. Lalu berhenti. Entahlah!
Kembali ke RS tempat Rima dirawat beberapa hari lalu.
Mencari sosok yang baru saja dikenalnya dengan cara yang jauh dari kata ramah.
Suster yang merawat Rima.
Yah, matanya terus berputar mengelilingi tiap sudut Rs hingga orang yang hampir ia pukul tadi tampak di hadapannya.
Berlari sambil memanggil.
__ADS_1
"Suster!"
Wanita yang merasa terpanggil justru berlari pelan menjauh.
“Sus maaf suster, maafkan saya!”
Belumpun mereka saling berdekatan, hanya mencegah wanita itu semakin menjauh darinya.
“Saya hanya mau tanya, berapa usia kandungan istri saya?” Dihyan.
“Ibu Rima?" Sang suster masih saja berupaya tenang dan ramah, meski hatinya sedikit menciut. Siap kembali berlari jika terjadi sesuatu diluar kendali.
"Kalau tidak salah dokter bilang usia kandungan ibu Rima memasuki 12 minggu.” Sedikit gemetar namun tetap tenang.
“12 minggu, 3 bulan yah?” Pandangannya kini lurus ke depan melepaskan cengkraman tangannya pada sang
perawat yang sedari tadi telah gemetar.
3 bulan.
Dihyan ingat betul, bahwa dirinyalah orang yang membuka segel Rima sekitar tiga bulan yang lalu.
Itu artinya janin itu telah ada saat pertama kali Dihyan memasuki Rima, dan selama itu pula Dihyan dan Andra masih menyiksanya.
Tapi kenapa ia tak mengetahuinya sama sekali, meski beberapa kali pula ia mengunjungi Rima.
Bahkan Rima tak pernah mengeluh mual, atau semacamnya seperti wanita ngidam pada umumnya
“Subur dan kuat,” Gumamnya lirih.
Hingga akhirnya janin itu benar-benar pergi karena sudah tak kuat menahan kekejaman ayahnya sendiri.
Dihyan menjatuhkan lulutnya membentur lantai mengingat kekejaman yang ia lakukan pada istrinya saat hamil.
Pandangannya tertuju pada lantai yang dipijaknya saat ini.
Dia ingat, betapa Nindy sangat menginginkan memiliki anak dari Dihyan dan Rima. Nindy akan menerima anak
mereka dengan hati yang terbuka. Tapi sekarang karena kekejaman Dihyan anak itu pergi.
Bahkan Nindy yang diatas sana pasti akan sangat marah padanya.
Rutuknya pada diri sendiri.
Tuhan ampuni aku!
Nindy maafkan aku!
Rima tolong kembalilah!
Anakku maafkan ayahmu ini!
Beribu doa yang ia pinta, mungkin sudah terlambat.
Dihyan memukul-mukul dada sendri, tak menghiraukan pandangan orang lain yang lalu lalang sambil
memandanginya seperti orang yang sangat frustasi.
Rasanya kembali sesak.
Menghitung waktu itu.
Kembali berjalan gontai meninggalkan tempat terakhir ia bertemu dengan Rima.
Di mana Rima?
Bagaimana keadaannya?
Ingin ia berpikir, jika semua itu bohong.
Kandungan istrinya baik-baik saja kan?
Semua ini hanya permainan takdir yang memisahkan dirinya dengan istri dan anak, lalu kembali bertemu saat anak itu telah lahir kelak, mungkin saat anak itu besar. Tak apa, asalkan anak itu baik-baik saja.
Heh, andai ia bisa menulis takdir seperti penulis yang menyusun cerita di sebuah novel?
Menjalankan mobil, dan kini terhenti di sebuah taman.
__ADS_1
Telah terlihat beberapa orang yang sedang melakukan olah raga, ada yang joging atau hanya sekedar duduk menikmati datangnya senja.
Ia mulai berlari, mungkin dengan berlari bisa membuatnya menyalurkan rasa sesaknya yang sejak tadi menyerang dadanya.
Meninggalkan sandalnya di mobil.
Seolah nyaman dengan kaki yang polos menginjak trotoar taman.
Ia berlari, berlari dan terus berlari hingga benar-benar lelah tanpa menggunakan alas kaki.
Berhenti di sebuah kusri panjang dengan napas yang tersengal-sengal dengan tatapannya yang setia menatap
lantai kaki polos tanpa alas.
Hingga petang tiba menyapa tempatnya kini berada, Dihyan melangkah meniggalkan taman itu menuju tempat
mobilnya terparkir.
Di sana, sepasang anak manusia tengah duduk berdua sambil bergenggaman tangan.
AH, tangan siapa yang akan ia raih sekarang?
Nindi?
Rima?
Keduanya sama, meninggalkan dirinya dengan cara yang berbeda.
Bahkan ia tak tergoda untuk menyiram kerongkongan yang kekeringan. Mobilnya terus menjauh meninggalkan
taman.
Ke esokan hari.
Reno telah menyiapkan surat pengunduran diri.
Tak dapat dipungkiri, hatinya teramat teriris mendapati kenyataan seperti ini.
Harusnya sejak dulu ia membatalkan pernikahan Dihyan dan Rima. Namun yang ada, justru ialah yang membantu hingga terlaksananya acara dengan lancar.
Menunggu hingga beberapa lama namun sang bos yang dinantikan tak kunjung datang.
“Dihyan sudah datang?” Pertanyaan itu beberapa kali ia lontarkan pada Gia sang sekretaris. Menyisihkan kata bapak yang harusnya terletak di depan nama bos.
“Belum, sepertinya beliau tidak masuk? Apa pak Dihyan tidak menelpon bapak?” Gia merasa aneh.
Sebelumnya jika Dihyan tidak masuk maka Reno adalah orang pertama yang akan mengetahuinya beserta alasannya.
“Ngak ada, baiklah aku akan menelponya,” Reno berbalik kembali menuju ke ruangannya.
Di sana dia mulai menelpon Dihyan namun hingga beberpa panggilan, bosnya tak merespon. Hingga ia beralih
menghubungi nomor telon rumah Dihyan.
“Dihyan ada?” Reno saat sambungan telponnya tersambung.
“Pak Dihyan lagi tidak enak badan pak, ini lagi di periksa sama temannya non Andra,” Bi Titi di ujung sana.
“Emmm, baiklah makasih bi,”
“Sama-sama pak,” Bi Titi.
Hembusan napas kasarnya terdengar sambil memandangi amplop putih di tangannya yang hendak ia berikan pada sang bos. Untuk sementara mungkin niat mengundurkan dirinya di tangguhkan dulu, hingga bosnya masuk kerja.
Reno mengambil alih sebagian pekerjaan Dihyan dalam mengurus perusahaan hingga akhirnya terlintas
dipikirannya untuk menghubungi Papa Cakra.
“Assalamu alaikum om,” dengan sekali telpon langsung tersambung.
“Waalaikumsalam. Apa ada sesuatu yang terjadi?” Tanpa basa basi papa Cakra melontarkan pertanyaan inti.
“Emmm, gini om. Emmmm, Dihyan tidak masuk kantor hari ini katanya lagi tidak enak badan,” Reno.
“Lalu?”
“Emmmm, sebenarnya saya mau risent. Maaf om!” Reno.
__ADS_1
To Be Continued!