
Dihyan baru saja tiba, nafasnya bahkan masih ngos-ngosan setelah berlari memburu waktu.
Di sana telah ada Reno yang mentapnya dengan perasaan entah Ia pun tak tahu. Namun setidaknya ia harus mengucapkan terima kasih terlebih dahulu pada pria itu Karena telah memberinya kabar tentang Rima.
Baru saja menapakkan kaki tepat di depan pintu, pintu itu terbuka dari dalam, membuat kedua pria itu sama-sama menoleh menatap seorang perawat wanita.
" Bapak boleh menemani istri bapak selama proses persalinan!" Ucapnya dengan tenang.
Sayangnya posisi perawat wanita itu salah. Ia berdiri tepat di hadapan Reno, memandang pria itu dengan senyuman. Mungkin telah memberi semangat pada pria yang menurutnya sebentar lagi menjadi ayah.
Membuat Reno membulatkan mata karena terkejut, tak bisa dipungkiri ada rasa takut yang menyelinap masuk hatinya.
Takut jika selama ini ia diam-diam menemui Rima saat bekerja. Biar bagaimanapun ia belum memiliki hak apa-apa kepada wanita itu.
" Maksud kamu apa hah?"
Benar saja, Dihyan telah menghampirinya sambil mencengkram kerah bajunya. Baru saja pria itu hendak berucap terima kasih, namun yang iya dapatkan justru bawahannya ini mengaku sebagai suami dari Rima. Jelas saja ia tak terima!
"Ck, aku hanya mengantar Rima ke sini, aku tak pernah bilang bahwa aku ayah dari anak yang dikandung Rima." Sambil memegang tangan Dihyan yang berada di lehernya. Ia tak ingin bertengkar saat Rima justru tengah berjuang sendiri di dalam sana.
Melihat pertikaian yang terjadi di depannya, perawat wanita tadi meringis, merututi kesalahannya dalam menyapa calon ayah.
Setahunya pria itu memang sering datang menghampiri dokter Rima. Dan sekarang, pria itu pula yang mengantar dokter Rima ke ruang persalinan. Nyatanya ia salah.
" Ah maaf-maaf, maaf Pak!" Ucapnya sambil menundukkan kepala, berharap dengan ini ketegangan diantara kedua pria itu berhenti.
" Suaminya Dokternya yang mana ya?" Memilih bertanya terlebih dahulu sebelum ia kembali salah mengira.
Dihyan segera melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju Reno diiringi dengan dorongan yang sangat keras, membuat pria itu terhubung ke belakang.
" Saya suaminya!" Sambil memukul dadanya dengan keras, menunjukkan diri pada perawat wanita itu.
" Saya ayah dari bayi Rima!" Ucapnya kembali menegaskan diri.
" Ah iya pak. Maaf saya salah!"
" Bapak boleh menemani istri anda di dalam!"
Sang perawat wanita memilih menunduk enggan melihat wajah-wajah bermusuhan di antara dua pria itu.
Dengan helaan nafas keras Dihyan mulai mengayunkan kaki masuk ke dalam ruangan meninggalkan Reno yang merapikan penampilannya dengan sedikit kasar.
Hatinya membenci ini, di mana ia harus kembali membiarkan kebersamaan Rima dengan pria lain. Namun sekali lagi ya tak bisa berbuat apa-apa.
" Ck, Kenapa lama sekali b0d0h?"
Pertanyaan itu menyambut kedatangan Dihyan, nyatanya wanita itu benar-benar menanti kehadirannya.
Rima bisa mengeluarkan ekspresi apa saja di depan Dihyan. Jauh berbeda saat dia berhadapan dengan Reno. Maka sebisa mungkin, Rima hanya ingin tetap terlihat cantik dan anggun di depan pria itu.
" Iya maaf-maaf!" Dihyan menyegerakan langkah kakinya menghampiri Rima. Tangannya segera menggapai dan menggenggam tangan wanita itu, menyampaikan bahwa ia berada di sisi wanita itu menemaninya dalam kesakitan.
"Ssstttt, sakit!" Rima meringis menikmati sakit pada perut dan pinggulnya. Ia bahkan bisa mengeluh semaunya di hadapan pria ini.
Setitik air jernih meluncur begitu saja. matanya memandang ke arah sang suami, seolah ia telah meminta bantuan pada pria itu.
" Iya yang sabar ya! Aku ada di sini kok!" Dihyan mencoba menenangkan, tangannya menggenggam erat menyalurkan kekuatan.
"Ini sakit b0d0h, bagaiman bisa kamu menyuruhku untuk bersabar?"
Entah apa yang terjadi pada wanita ini hingga mampu mengumpat se-lugas ini.
"Iya aku tahu, demi anak kita Rima. AKu akan menemanimu di sini!" DIhyan.
Meski bingung namun sebisa mungkin ia tetap memberikan semangat pada ibu dari anaknya ini.
Sesekali ya ikut meringis mengikuti Rima yang meringis menahan sakit.
" Pembukaannya sudah lengkap!"
Kalimat itu mampu memotong pandangan mereka, sama-sama menoleh demi mencari sang sumber suara.
" Kita mulai menghitung ya bu dokter." Dengan senyuman manis dan terlihat sangat tenang, sang dokter mulai mengarahkan Rima.
" Dalam hitungan ketiga boleh mengejan ya bu dokter!" Lanjutnya lagi.
" Satu, dua, tiga,"
Rima mulai mengejan, sementara sang dokter membantu mempercepat persalinan dengan mendorong perutnya ke bawah.
Dihyan kembali meringis saat melihat perjuangan sang istri demi melahirkan anak nya. Tanpa terasa Ia pun turut menyumbangkan setitik air bening yang membasahi pipinya.
Dan ternyata perjuangan Belumlah berakhir. Rima masih diarahkan oleh sang dokter untuk mengejan.
" Gigit tanganku saja!" Dihyan mengulurkan lengannya di hadapan Rima. tak tahan rasanya saat melihatRima yang kesakitan.
Dan wanita itu tak lagi memikir apa-apa kecuali sakit yang ia rasakan. Mulutnya kini terbuka meraih lengan yang tersodor tepat di depannya.
__ADS_1
" Boleh kita ulangi?"
" Satu, dua, tiga, dorong!"
"AAAAA,…" Itu suara Dihyan yang begitu lantang dan menggema memenuhi ruang persalinan. Lengan yang tadi disodorkannya benar-benar difungsikan dengan baik oleh Rima.
Wanita itu menggigit lengan Dihyan, membagi rasa sakit yang ia rasakan saat persalinan pada suaminya.
Sakit sekali, padahal ia tak berharap akan sesakit ini. Hendak menyesal tapi tak sanggup. Biar bagaimanapun rasanya ia ingin berbagi kesakitan Rima saat ini.
Setidaknya ada yang bisa ia ceritakan pada anak dan keluarganya nanti.
" Bagus bu dokter, dorong lagi!" Dokter yang membantu persalinannya memberikan semangat.
"AAAAA,…" Dihyan kembali meraung, sauranya sangat besar seolahan hendak memecahkan gendang telinga para tim medis yang ada di sana.
Hingga suara tangisan bayi mungil menggantikan suara ayahnya dalam ruangan itu.
" Wah jagoan, selamat ya bu dokter, selamat Pak sudah jadi ayah!"
Namun kedua suami istri itu belum membalas bahkan bereaksi apa-apa.
Mereka masih sibuk mengatur nafas masing-masing. Dihyan bahkan belum menarik lengannya dari hadapan Rima.
" Sudah selesai?" Rima dengan nafas yang masih terdengar pendek-pendek.
" Belum, kita masih ada proses selanjutnya untuk bu dokter. Sementara bayinya biarkan dibersihkan dulu, setelah itu bisa dia adzankan oleh ayahnya!"
" Pindah bodoh!" Rima sambil menepis tanganDihyan yang berada di dagunya.
" Jangan mengumpat di depan anakku Rima, atau aku cium kamu di sini!" DIhyan mulai bergerak, menarik tangannya dari hadapan Rima. Menggulung lengan bajunya hingga nampaklah bekas gigitan RIma di lengannya.
"Sttt, ganas sekali!" Ucapnya sambil mengusap-usap lengannya demi mengurangi rasa perih di sana.
Setelah itu ia justru tersenyum hangat, tangannya kembali terulur meraih tangan Rima, menggengam dan mengelus penuh kehangatan.
...****************...
Sambil nunggu kelanjutan cerita ini, aku mau ajakin kalian nyebrang ke novelku di sebelah.
Di sana ada Reno, Rima sama Dihyan juga.
Ceritanya menguras dompet, eh tissu.
Tenang aja, ini bukan tentang cinta segitunya, eh segitiga maksudnya.
Kalau mau bawa golok juga bisa, siapa tau mau gebukin Reno lagi di sana, hihihi.
Linggar masih terduduk di dekat ranjang Rindi sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.
“Rin, kita nikah ya? Aku takut kamu hamil, kita pasti akan dicemooh orang.” Tuh kan tahu sendiri akibatnya, masih mau bertingkah.
Bangkit dari duduknya hanya ingin mempersembahkan beberapa kecupan di wajah Rindi. Linggar masih bertahan di sana.
“Aku sayang kamu.” Ucapnya lirih tepat di hadapan wajah Rindi. Pucuk hidung saling bersentuhan.
Satu tangannya menggenggam tangan Rindi, Sementara tangan yang lain bekerja mengelus pipi Rindi. Sesekali kecupan di daratkan ke wajah berganti ke tangan yang ia genggam.
Mencoba memberikan ketenangan dan kekuatan kepada kekasihnya. Berharap semua kembali seperti semula. Kebersamaan, kebahagian, serta senyum mereka.
“Aku sayang kamu.” Ucapnya lagi, masih dengan lirih.
Entah berapa ribu kali kalimat itu ia lontarkan. Seperti tak bosan-bosannya.
“Kamu maukan jadi istriku?”
Rindi hanya tersenyum sambil menatap mata sendu kekasihnya itu.
Pria itu seperti berada dalam kubangan penyesalan.
Tapi semua ini berawal dari Rindi. Memang semua ini salahnya.
Ia yang mencoba bermain hati, membangkitkan kemarahan pada seorang Linggar hingga pria itu mampu melangkah melampaui batasannya.
Apakah tak salah jika ia memberikan satu kesempatan pada Linggar? Toh semua sudah terjadi. Beruntung jika Linggar masih ingin bertanggung jawab padanya.
Ia tak lagi bisa mengharapkan pria lain, Pria baik mana yang mau pada gadis sisa pria lain? Bahkan Iqram sekalipun setelah semua kejadian ini.
Rindi mengangguk, menerima semua pernyataan Linggar.
Betapa bahagianya Linggar hanya dengan melihat Rindi yang menggangguk sambil tersenyum. Seperti ia mendapatkan hujan setelah setahun dilanda kemarau panjang.
Setidaknyan Rindi mau jadi istrinya, mau mendampinginya dalam suka dan duka. Setelah itu biarlah ia yang akan memutar otak untuk kehidupan mereka.
Setelah itu wajahnya yang semakin maju, mencoba meraih bibir yang tadi tersenyum untuknya.
__ADS_1
“RO MAN TIS sekali.” Diiringi suara tepuk tangan yang memekakkan telinga.
Membuat kedua pemeran utama berbalik mencari sumber suara. Melupakan kegiatan yang hampir saja terlaksana,
namun terhenti karena di sana, di sofa, Kak Reno telah duduk dengan kaki yang menumpu pada kaki lainnya.
“Bagaimana Rindi tidak terbuai dan terpedaya, mulutmu semanis madu tapi tingkah laku sepedis sambal terasi.”
Santai, namun entah mengapa justru terlihat sedikit menyeramkan dan menyakitkan.
Seketika Linggar langsung meneggakkan badannya menjauhkan wajah dari Rindi. Berbalik menatap sang pemilik suara,
“Mulai berani kamu bertingkah?” Tangan di lipat di depan dada menandakan bahwa ia memiliki kekuasaan di sini.
Kekuasaan pada dua orang yang masih saja bergenggaman tangan.
“Mau jadi suami adikku? Heh, jangan mimpi!”
“Kamu kira aku mau punya adik ipar b3jat seperti kamu?” Dengan lirikan mata yang begitu sinis. “Ogah.”
“Siapa yang menyuruhmu datang menemui orang tuaku untuk melamar Rindi. Kamu sudah melangkahiku dalam meminta ijin.”
Lalu apa yang harus Linggar katakan untuk membela diri. Pria di sana adalah calon kakak iparnya, kakak kandung wanita yang ia cintai.
Ternyata langkahnya dalam menikahi Rindi tak semulus yang ia perkirakan. Masih ada rintangan yang harus
ia lalui. Meskipun orang tua Rindi telah memberikan restu, ternyata tidak pada pria yang di sana.
“Sini!” Pria di sana memanggilnya, berikut dengan gerakan tangan yang mengibas.
“I-iya kak.” Linggar terbata, namun tetap melangkah mendekat ke arah sofa.
Semua perbuatannya harus ia pertanggung jawabkan. Termasuk kemarahan sang calon kakak ipar.
Duduk di sofa lain dengan menundukkan kepalanya.
Takut?
Entahlah, yang jelas ia harus tetap menghargai pria ini. Biar bagaimanapun, dirinyalah yang salah.
Sangat wajar jika pria ini marah atau membencinya setelah apa yang ia lakukan pada adik dari pria itu.
“Apa yang bisa kamu berikan pada Rindi. Pekerjaan saja belum punya. Uang jajan saja masih minta orang tua
sok-sok-an mau menanggung hidup orang lain.” Reno
Iya, itu semua benar. Ia belum memiliki pekerjaan. Ia yang masih meminta pada orang tua hanya untuk uang
jajan. Lalu apa yang akan ia berikan pada Rindi untuk memenuhi segala kebutuhan Rindi nanti.
Sangat lucu jika semuanya masih ditanggung orang tuanya.
Ia harus berterima kasih pada Kak Reno, karena telah mengingatkannya kembali.
“Kenapa tidak selesaikan kuliah dulu baru melamar Rindi hah?” Ucapnya membentak di sertai gerakan kaki yang
menghentak ke arah Linggar. Tepat mengenai betis Linggar.
Pasti sakit, saat kaki yang berbalut sepatu pantofel itu menendang dan mengenai betis Linggar. Linggar
hanya meringis namun tak berani membela diri.
Kemudian kembali menahan wajah agar tetap tampil seperti baik-baik saja.
Ia terima segala kemarahan, sekiranya itu bisa menebus kesalahannya.
“Apa kamu mau jika ada anggota keluargamu diperlakukan seperti itu hah?” Sekali lagi bentakan yang diikuti dengan tendangan.
Sementara Linggar hanya pasrah. Iya benar, iapun tak kan terima jika ada yang berbuat tak senonoh pada
keluarganya. Tapi sungguh bukan itu maksudnya.
Ia hanya ingin menahan Rindi agar tetap berada di sampingnya meskipun dengan cara yang salah.
Rindi yang masih terbaring di sana tak mampu membelanya. Hanya menatap nanar pada Linggar yang sedang di
sidang oleh kakaknya.
Ingin membela tapi rasa takut juga menghampirinya. Jika saja kakaknya tahu kejadian yang sebenarnya, bukan tidak mungkin ia juga mendapat hukuman dari sang kakak.
“Maaf kak, aku akan......”
“Akan apa hah? Memangnya dengan maaf bisa mengembelikan semuanya?” Kembali ia mendapatkan tendangan mesra di betisnya untuk ke sekian kalinya.
Bahkan ia tak diberikan waktu hanya untuk sepatah katapun meski hanya meminta maaf. Kini ia sadar, bahwa apapun yang akan ia katakan atau lakukan akan tetap salah di depan pria ini.
Karena kebencian pria itu sepertinya telah merasuk ke dalam dada.
__ADS_1
\====