Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Jemput dan Raihlah Cintamu!


__ADS_3

" Reno telah ditemukan." Dihyan berucap dengan tenangnya, sambil menggenggam jemari Rima yang duduk tepat di sampingnya.


Meski sakit, pria itu masih mencoba tersenyum menatap Rima.


Dengan segala usaha yang ia miliki, pula dengan bantuan orang-orang terdekatnya termasuk ayah mertuanya, akhirnya ia bisa menemukan pria yang mengesalkan itu.


Keberadaan Reno dapat terdeteksi saat pria itu mengajukan lamaran pekerjaan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara di pulau Berau dengan bantuan seorang teman.


Mungkin Reno memiliki pemikiran yang sempit saat mengajukan CV-nya. Lupa jika teman-temannya mungkin juga adalah teman Dihyan.


" Aku takkan menahanmu lagi."


" Pergilah, jemput dan raihlah cintamu!"


Walau dalam dada serasa ada petir yang yang menyambar-nyambar. Namun ia bertekad memberikan kebahagiaan pada mereka.


Tatapan sayup itu melambangkan sebuah keputusasaan dan pasrah. Kini ia harus mengambil keputusan terberat dalam hidupnya. Melepaskan Rima, setelah ia bertahan meski dalam keadaan jatuh bangun.


Tangannya menggenggam erat tangan milik sang istri, mungkin esok ia tak lagi bisa berdekatan seperti ini lagi.


Biarlah, ia menemani Diandra menikmati rasa sakit, sama Lepas dari pasangan hidup masing-masing. mungkin ini sebagai ganjaran perbuatan mereka di masa lalu.


Rima terdiam, sedikit tak percaya jika Dihyan mampu mengatakan hal itu.


Dan saat wanita itu melepas genggaman Dihyan, saat itu pula pria itu semakin menundukkan kepalanya. perpisahan seolah semakin nyata di hadapannya.


Wanita itu telah beringsut hingga naik ke atas pangkuan sang suami, kedua tangan mengalung pada leher Dihyan, wajahnya Ia benamkan pada ceruk leher sang suami.

__ADS_1


" Jangan lepaskan aku!" Ucapnya lirih, namun terdengar begitu nyata pada indra pendengaran Dihyan. Pria itu bahkan mengerjakan mata berkali-kali, mencoba menyadarkan diri jika ia memang tak salah dengar.


" Jangan lepaskan aku!" kembali Rima mengulang kata-kata yang sama saat Dihyan Justru tak menanggapinya.


" Aku tidak melepaskanmu, tapi tak tak menahanmu juga. Kini kamu memiliki kuasa penuh atas hidupmu, ingin tetap bersamaku atau ingin kembali bersama dia."


" Jangan lepaskan aku, kumohon." Kini berganti ia yang memohon pada Dihyan!


" Diandra akan semakin marah padaku. Pasti dia akan membenciku."


" Bagaimana dengan Mama? Apa mama baik-baik saja jika kita berpisah?"


" Lalu bagaimana dengan mertua Andra? Mereka pasti kecewa dan ikut menyalahkanku."


Rima memikirkan itu semua, tanpa bertanya bagaimana perasaannya saat ini. Ia hanya ingin hidup tenang, dan setelah itu ia percaya kebahagiaan pun akan datang menghampiri. Toh selama kembali hidup bersama Dihyan, pria itu tak lagi pernah menyakitinya, bahkan selalu saja berusaha menuruti keinginan dirinya.


Meski tak pernah berucapa kata cinta bagi Rima ini saja sudah cukup.


Tenang, damai hingga akhirnya bahagia.


Dihyan lagi-lagi terdiam mendengarkan penuturan sang istri. Kedua tangan telah melilit menahan tubuh Rima agar tak merosot.


Untuk beberapa saat mereka terdiam, tak ada yang bersuara sambil memikirkan apalagi setelah ini.


" Kamu memikirkan mereka semua, tapi tak memikirkan aku dan anak kita." Protesnya kini.


" Bagaimana keadaan Putra kita saat kedua orang tuanya justru berpisah?"

__ADS_1


" Bagaimana nanti jika dia sekolah, saat ada acara yang mengharuskan kedua orang tuanya hadir, dia pasti akan minder karena hanya dia yang datang bersama ayahnya!" Lanjutnya.


" Bagaimana keadaanku dulu saat kamu tinggalkan, Harusnya kamu berpikir seperti itu juga?"


Tangan yang mulai mengusap pelan punggung sama istri.


" Banyak sekali protesnya! Iya itu juga!" Rima hendak menjauhkan wajah, menunjukkan raut cemberutnya pada sang suami, namun dengan sigap Dihyan kembali menahannya agar tetap pada posisi semula, berada dalam dekapannya.


" Boleh, Tapi ada syaratnya." Dihyan.


Loh kok sepertinya ada yang janggal di sini?


" Aku mau, kamu merubah Penampilanmu, bajunya jangan pakai baju anak SD lagi."


Jari telunjuknya ia gunakan untuk mencolek bagian depan tubuh Rima,


" Tuh kan udah nyembul aja, padahal cuma dicolek doang!" ucapnya sambil menunjuk pada kancing Rima yang terbuka.


Rima lagi-lagi menunjukkan raut cemberutnya dengan bibir yang maju. Jelas saja kancing bajunya terlepas, Dihyan mencolek dengan penuh tenaga.


"Ini juga!" Dihyan masih melayangkan protes tentang penampilan sang istri selama ini. Baginya ini adalah waktu yang sangat tepat untuk merubah Rima.


Meski sempat ragu jika Rima akan tetap bertahan di sisinya, tapi akhirnya ia menemukan suatu alasan Rima tak meninggalkannya, keluarga.


Satu tangan pria itu telah bergerak pada paha mulus sang istri yang terpampang akibar roknya tersikap hanya karena duduk. Heh, seperti inilah penampilan Rima, S3ksi!


"Apasih?" Rima melayangkan telapak tangannya menepuk tangan Dihyan yang bergerak nakal.

__ADS_1


" Kamu tau pemikiran pria saat melihat penampilan wanita yang terbuka?" Tanya Dihyan, mata memandang serius  dan begitu dalam pada Rima, tangannya terdiam pada paha putih mulus sang istri.


Apa yah?


__ADS_2