Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Usaha Diva


__ADS_3

" Keadaan Kak Dihyan gimana mah?"


Divany, putri bungsu dari tiga bersaudara. Kini ia berada di tengah, antara kedua orang tuanya yang terlihat tengah menikmati siaran televisi dengan khidmat.


Diandra belum pulang, sementara Dihyan masih tenang di peraduannya sendiri, masih belum banyak perubahan yang ditampakkan pria itu.


"Heeeh,"


Hembusan napas kasar terdengar.


"Diva Bilang sama mamamu untuk membawa Rima kembali pada suaminya!" Papa.


Sejak perselisihan semalam, sepasang suami istri itu saling mendiamkan. Mungkin ini lebih baik guna meminimalisir pertengkaran.


" Diva, kalo seumpamanya pacarmu menyakitimu terus menerus apakah masih mau balikan sama dia?" Kali ini mama yang bertanya. Tubuh di condongkan menatap mata sang putri, mungkin berharap Diva masuk dalam kelompoknya.


" Gimana kalau dia nyakitin lagi? Lagi? Lagi?"


" Aduh amit-amit jabang bayi." Mama sambil mengetuk kepalanya sendiri lalu berpindah mengetuk meja yang berada di hadapannya. Kembali mengetuk kepalanya lalu berganti mengetuk meja.


Papa melirik, Diva hanya memandang kelakuan mamanya.


Berada di tengah-tengah perdebatan seperti ini, Diva hanya diam tak menjawab.


Ia hanya melongok menatap bergantian pada siapa yang mengeluarkan kata-kata.


Dalam hati merutuki pertanyaannya sendiri.


Ck, Kenapa juga dia harus bertanya masalah kakaknya?


Tapi kan memang penasaran.


Kenapa mesti dirinya sebagai perantara sih?


Padahalkan mama dan papa ada di sini. Kenapa tidak bertanya langsung saja?


Hemmm, tapi bisa juga nih. Bisa dimintai ongkir! Lumayan buat jajan.


" Diva, bilang sama mamamu, kalau kakakmu itu menyesali perbuatannya itu."


" Artinyaaaaa, Iyyan tidak akan mungkin mengulang perbuatannya lagiiii." Kali ini papa berbicara dengan sedikit penekanan, berharap semoga istrinya bisa melunak.


Kali ini mama yang melirik sinis.


Sementara Diva, semakin penasaran dengan tingkah kedua orang tuanya ini.


Papa dan Mama bertengkar?


Masalah apa?


APakah benar terkait perginya sang kakak ipar?


Atau tentang keadaan kakaknya yang seperti ini?


Kini ia yang membuang napas kasarnya. Menghentakkan punggung ke sandaran sofa.

__ADS_1


Harusnya saat ini ia menjadi siswa SMA yang baik dan manis. Berada di dalam kamar sambil mengerjakan tugas-tugas atau hanya sekedar mengulang pelajaran sekolah tadi siang. Siapa tahu besok ada ulangan harian dadakan.


Atau mungkin bermain dengan ponselnya sendiri. Nonton Kpop, atau bermain tok-tok kan. Banyak hal yang bisa ia kerjakan di kamar seorang diri. Tak harus berada di sini menjadi penengah perdebatan antara kedua orang tuanya itu.


Malam selanjutnya, ruang tengah rumah besar itu lengkap dengan formasi keluarga.


Meski Dihyan tak terlalu menampakan perubahan dengan sikapnya. Masih diam dan tanpa ekspresi di wajah.


" Kak, mau kenalan dengan pacar baruku nggak?" Divany berbisik tepat di telinga kanan Dihyan. Pria itu tak menggubris.


Diva tahu, hanya ingin memancing saja.


"Cakep loh kak." Tapi wanita itu masih saja mengoceh berbisik. "Tapi matanya mirip siapa yah?" Mata melirik ke arah langit-langit seraya berpikir, kemudian kembali melirik kakaknya.


"Emmm, mirip Kak Rima kayaknya."


Dihyan berbalik, dan Diva terkejut melihat kakaknya langsung menoleh tepat di wajahnya. Sedikit saja wajah mereka hampir saja bersambar.


Hanya dengan mendengar nama Rima, kakaknya itu langsung bereaksi.


Padahal jelas dia hanya mengarang cerita saja. Tidak mungkin juga ia mengenalkan kekasihnya langsung pada kakaknya, ancaman menikah dini menanti.


Pandangan gadis itu mengedarkan ke seluruh penghuni ruangan.


Tak ada yang mendengarkan pembicaraan mereka kan? Mama, Papa Dan Diandra masih menatap TV dengan diam. Perang dingin mungkin masih berlanjut.


Tadi ia hanya berbisik, semakin yakin jika pembicaraan itu tak ada yang dengar.


Kembali menatap ke dalam mata kakaknya, mata Dihyan tenang namun menyiratkan kepedihan. Bahkan hanya memandang pria itu saja, orang-orang pasti akan iba. Apalagi jika tahu kisah kakaknya yang ditinggal oleh sang istri saat mengandung?


Diva masih memeras otak, menjungkir balikkan pikiran hanya untuk mencari kalimat selanjutnya.


Pembahasan apa lagi yang harus ia utarakan demi melihat reaksi Kak Dihyan?


Ia senang kakaknya itu terlihat bereaksi. Setidaknya ada harapan meski samar.


"Kakak mau lihat foto pacarku?"


Mampus.


Kenapa justru kata itu yang terucap?


"Aduuuh,.... Sory-sory gak ada kak." Ucapnya lekas meralat kalimatnya sendiri.


Kembali melirik Dihyan, pria itu masih menatapnya.


Ck, kok jadi salah tingkah sendiri sih?


Apalagi pandangan Dihyan seolah menuntut. Pasti penasaran dengan wajah yang katanya mirip Rima.


"Kakak punya foto kak RIma gak?"


Pertanyaan yang masih saja datang secara spontan.


Ck lagi, Diva merutuki otaknya yang tak bisa diajak kompromi saat ini.

__ADS_1


Berpikir Diva! Berpikir!


Dihyan menggeleng, membuat Diva semakin miris memikirkan nasib pernikahan kakaknya itu.


Dihyan tak memiliki satu pun foto istrinya. Berbeda dengan Anak SMA satu ini.


Jangan tanya tentang isi galeri ponselnya.


Jangan kan foto pacar, foto gebetan dari sekolah tetanggapun ia punya.


Foto para artis dari negri Gingseng, baik pria ataupun wanita apalagi, berjejer di galerinya bouuu.


"Gak ada yah?" Tanyanya dengan meringis pilu.


Dihyan mengangguk. Bagus, respon yang aktif meski masih tanpa suara.


Menggeser duduk agar semakin dekat dengan Dihyan, kemudian menekuk lututnya di atas sofa. Berupaya menyembunyikan kegiatan dari orang-orang rumah selain kakak sulungnya itu.


"Kita cari sosmednya kak Rima yuk!" Kedua ibu jari telah bekerja di layar ponsel. Mata Dihyan turut tertuju pada ponsel sang adik.


"Ck, pakai nama Rima ternyata banyak juga." Menatap layar ponsel yang menampilkan nama "Rima" berjejer ke  hingga ke bawah.


"Nama lengkap kak Rima siapa sih?" Jari terhenti seiring kepala yang kembali berpikir.


"Rima Damayanti kan?" Kembali menoleh pada sang kakak, kini ia benar mengharapkan jawaban bukan ingin melihat respon.


Dihyan mengangguk, membuat gadis itu tersenyum, "Namanya gampang banget ternyata." Bangga dengan dirinya sendiri. Meski tak terlalu dekat karena jarang bertemu, setidaknya ia mengingat nama itu.


Kembali mengetik nama sang kakak ipar.


Namun ternyata nama itupun juga bukan nama satu-satunya yang tampil di layar ponsel, masih banyak ternyata.


"Ck, nama kakak ipar ternyata pasaran kak." Adunya pada Dihyan yang turut mengamati ponsel.


Diva masih tetap menjaga intonasi suara agar tak terdengar oleh yang lain. Bahkan menahan kekehannya saat mengatakan kalimat itu.


"Kita nulis apalagi? Masak harus buka satu-satu?"


Sebenarnya apa yang ditakutkan oleh gadis remaja ini?


Takut ketahuan jika ia tengah menelusuri sang kakak ipar?


"Ngapain kamu cari-cari Rima hah?"


Suara dari belakang sofa yang mereka duduki membuat mereka tersentak kaget. Suara besar dan sedikit kasar.


Ragu, memalingkan wajah pelan-pelan demi melihat sang pemilik suara, meski mereka tahu siapa sebenarnya sosok yang berdiri di sana.


Belum apa-apa gadis itu sepertinya sudah ketakutan saja.


Apakah mencari Rima merupakan suatu kesalahan dalam keluarga mereka?


Lalu apakah semua akan membiarkan kondisisi kakaknya yang seperti mayat hidup itu?


Berdiri tegap dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

__ADS_1


Kilatan mata memandang tajam lengkap dengan wajah menyiratkan kemarahan.


__ADS_2