
"Kak."
"Kak,"
Kedua gadis itu menoleh setelah mendapatkan tepukan di pundak masing-masing, menepi demi memberi ruang pada sosok itu.
"Rima."
Kembali gadis yang disapa mengangkat kepalanya. Tangisnya benar-benar pecah saat berada dalam pelukan sang kakak.
" Kangen!" Ucapnya dengan tersedu.
Hanya sebuah alasan yang bisa ia pergunakan demi melampiaskan Seluruh Rasa sesak di dada.
" Kita keluar!"
Romi bahkan harus menyeret langkahnya dengan Rima yang berada dalam pelukannya.
Membawa adiknya ke taman samping, di mana wanita itu bisa bebas menangis tanpa harus memperdulikan para tamu undangan.
" Sakit banget Kak!"
Rima mulai berani jujur, toh Romi sudah lama tahu tentang kisahnya bersama Reno.
" Iya nggak papa, kalau mau nangis nangis aja." Romi harus merasakan sesak saat adiknya memeluknya dengan begitu erat. Meski begitu, ini bahkan belum cukup demi melampiaskan rasa sakit yang kini di rasakan adiknya.
Di samping Rima, Lely terduduk sambil menepuk-nepuk punggung wanita itu. Entah mengapa Ia turut merasakan sakit yang sama,
Hari telah berganti malam, satu persatu tamu undangan telah meninggalkan rumah tempat pesta diadakan.
" Kita pulang!"
" Ayo bangun!"
Tangis Wanita itu telah reda, namun ia masih betah memeluk sang kakak.
Romi bahkan telah lelah berdiri.
Ketiganya kini berjalan menuju ke tempat Romi memarkirkan mobilnya. Tanpa mereka sadari ada pria lain yang sedang menggendong bayi turut mengikuti langkah mereka dari belakang.
Mereka baru tahu jika telah diikuti saat telah sampai di sisi mobil. Dihyan menghampiri dengan Azka yang telah terlelap dalam dekapannya.
Sedikit Acuh saat melihat kondisi sang istri ia ketahui tentang menangisi si pria lain.
__ADS_1
Seandainya dia bisa jujur, Iya tak suka melihat kondisi Rima seperti ini. Tak mengapa baginya, ini semua akan menjadi akhir cerita cinta yang salah diantara kedua Insan itu.
Rima segera membuka pintu penumpang di samping pengemudi, tak peduli saat ketiga manusia di sana menatapnya.
Di bangku kemudi telah ditempati oleh Romi, sementara di bangku penumpang belakang Dihyan sambil menggendong Sang putra duduk bersebelahan dengan Lely.
Sejenak sang sopir mengamati keadaan ini, Rasanya ada yang salah.
"Dihyan, Kamu yang bawa." Ucapnya pada pria yang duduk di belakangnya.
Tidak mungkin ia memerintahkan Rima yang duduk di sampingnya untuk pindah ke belakang, mood dan kondisi wanita itu masih terlihat berantakan,
" Tidak, terima kasih."
" Ini bukan hadiah Dihyan, Tapi aku nyuruh kamu bawa mobilnya." Pria itu bahkan menolehkan badannya memandang Dihyan serius.
" Tapi aku sedang menggendong anakku, gak bisa bawa mobil untuk saat ini."
" Kasih ke aku, nanti aku yang gendong jadi kamu bisa nyetir," Romi.
" Tidak, terima kasih!"Dihyan lagi.
" Heh dodol, kamu disuruh nyetir nggak mau tapi bilang terima kasih, maksudnya apa?" Mulai kesal rasanya.
" Anakku belum terlalu kenal dengan kamu, kamu juga pasti belum tahu cara menggendong bayi."
Ia harus mempertahankan anaknya agar tetap berada dalam gendongannya. s
Semua yang berada di dalam mobil ini adalah orang-orang tangguh, dan tak satupun dari mereka termasuk dalam kuburnya. Ia bisa saja ditendang keluar dari mobil ini kapan saja dan Oleh siapa saja.
Melihat kedua pria berdebat dan tidak ada mau mengalah membuat Lely memutuskan untuk keluar dari mobil.
Mengetuk pintu kaca tempat Rima berada, " Kita tukaran, kakakmu rese. bisa-bisa mobil tidak jalan sampai pagi."
Gadis itu tahu apa yang Romi perdebatan. Posisi yang tidak sesuai dengan pasangan masing-masing. Dan ia sebagai orang yang paling waras harus bisa mengendalikan situasi agar tetap berjalan dengan kondusif.
Hingga akhirnya mobil dapat melaju setelah pertukaran Tempat kedua wanita itu.
Pekatnya malam mengiringi perjalanan mereka pulang ke rumah, dengan diam sebagai teman meski ada orang yang bisa ditemenin bercerita tentang banyak hal.
" Aku ingin pulang!" Rima membuka suara saat mobil telah mendarat mulus di halaman rumah Dihyan.
" Kita sudah sampai di rumah Rima!" Raut wajah Dihyan kembali murung saat mendengar ucapan Rima. Ia bukan orang bodoh hingga tak tahu maksud istrinya.
__ADS_1
" Aku ingin aku ingin pulang ke rumahku, rumah Ayah." Rima.
" Tapi aku nggak bawa perbekalan untuk Azka. ini juga rumah kamu!" Sekian lama Hidup berumah tangga nyatanya mereka tak pernah saling memiliki satu sama lain.
"Rima, ikuti suamimu, kalian boleh menginap di rumah Ayah nanti saja." Lagi lagi Rima Tak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti perintah kakaknya.
Keluar dari mobil begitu saja tanpa memperdulikan suara yang memanggil namanya.
" Thanks bro," Ucap Dihyan sambil memandang Romi yang berdiri di samping pintu setelah membantunya membuka pintu mobil.
"It's Ok. Kalau kamu sudah tak bisa tahan, bisa lambaikan tangan ke kamera."
Dihyan hanya mendengus kesal mendengar penuturan adik iparnya itu.
Sementara Rima telah lebih dulu melesat meninggalkan mereka.
"Apa yang kamu pikirkan tentang mereka berdua?"
Romi telah duduk kembali ke dalam mobil, kedua insan yang tersisa dalam mobil itu masih mengamati punggung DIhyan yang berjalan menjauh.
Lely diam, ia tak tahu apa yang baik untuk dilakukan sekarang.
"Dihyan b0d0h yah?" Itu masih suara Romi yang memberikan penilaian.
"Kenapa?"
"Kalau aku jadi dia, mungkin aku sudah menceraikan istriku. B0doh sekali pria itu mau bertahan dengan wanita yang jelas-jelas tidak mencintainya."
" Namanya juga cinta." Lely kembali menoleh ke halaman rumah yang telah kosong itu setelah menatap Romi yang kembali melayangkan penilaiannya.
"Cinta? Hahaha," Tertawa terpaksa, hanya untuk mendramatisir keadaan. "Mereka tidak pernah saling mencintai. Dihyan juga tidak mencintai adikku, lalu apa lagi."
" Berapa tahun mereka telah hidup bersama. Tidur bersama bahkan mungkin juga mandi bersama, kamu masih menganggap tidak ada cinta diantara mereka?" Lely kembali menoleh ke arah Romi demi melihat raut wajah pria itu.
" Seandainya mereka berpisah, pasti mereka akan tetap saling merindukan!" Kepalanya mengangguk seolah membnarkan sendiri kalimatnya, bahkan teramat sangat yakin, mengingat kebersamaan Rima dan Dihyan sudah lebih dari cukup untuk menimbulkan bibit-bibit cinta.
"Itu bukan cinta namanya, tapi kebiasaan." Jawaban Romi terkesan ketus, aroma-aroma kekalahan semakin terasa.
" Mereka bahkan sudah punya anak, artinya mereka telah mengenal lebih jauh, luar dan dalam." Lely.
"Itu bukan cinta tapi kebutuhan biologis." Bantah Romi lagi. Semakin ke sini, dirinya sebenarnya turut membenarkan penuturan Lely, tapi masak ia harus kalah persepsi begitu saja?
" Lalu apa jadinya anak mereka kalau mereka berpisah?"
__ADS_1
" Sudah ah, kok kita jadi memikirkan mereka, padahal mereka juga sudah sama-sama dewasa. Sudah bisa ambil keputusan. Kita hanya perlu memantau."
"Loh, yang duluan bertanya siapa?"