Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Kembali Ke Dunianya


__ADS_3

Dihyan mulai kembali bekerja setelah tiga hari minggat dari kantor dengan alasan sakit. Pria itu memang tetap bekerja meski di rumah.


Singlet milik Rima yang sejak beberapa hari ia jadikan sebagai obat, telah digunting-gunting menjadi beberapa bagian. Kemudian dilipat-lipat lagi membentuk seperti sapu tangan. Sepotongnya simpan di saku celana, agar lebih mudah mengambilnya saat Dihyan membutuhkan.


Sepotongnya lagi disimpan di dalam tas kerja, hanya untuk berjaga-jaga saja. Tak mengapa, semuanya setimpa dengan apa yang akan ia dapatkan.


Wanginya pun telah memudar, mungkin telah masuk ke dalam paru-paru Dihyan.


Setelah memastikan kondisi RIma yang benar-benar tengah mengandung benihnya, pria itu nampak pasrah dengan keadaan. Mungkin nanti ia akan bangga saat menceritakan kondisiya pada semua orang termasuk anak mereka nanti.


Dan hari ini, Dihyan kembali menyuruh Rima untuk menggunakan singlet berbahan kaos agar bisa menyerap keringat dan aroma tubuh lebih banyak.


Setiap pulang kerja, yang Dihyan cari jelas aja Rima. Memeluk, menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri demi mengembalikan stamina yang terkuras habis selama seharian.


"Kapan aku bisa kerja?" Kalimat itu beberapa kali Rima lontarkan pada Dihyan.


" Sabar ya!" Beberapa kali pula Gadis itu hanya mendapatkan jawaban seperti itu. Membuatnya merasa bahwa Dihyan hanya sekedar mengiming-iminginya belaka.


"Aku udah ajuin permohonanmu ke beberapa rumah sakit." Pria itu berdiri dengan kedua tangan di pundak Rima. Berusaha menjelaskan saat melihat wajah istrinya yang cemberut kesal.


"Kamu tidak memiliki bukti pengalaman kerja, padahal terhitung sudah 2 tahun lulus kuliah." Dihyan mencoba merangkul Rima sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Rima harus tahu alasan yang jelas, jika Ia belum bisa mendapatkan pekerjaan.


"Aku juga harus menyesuaikan jadwal jaga kamu, ingat kamu lagi hamil.


"Ditambah lagi, ada yang pernah bilang kalau kamu tidak profesional dalam bekerja."


PLAK.


Tangan Rima melayang selalu mendarat di pundak Dihyan, sadar jika kata profesional itu karena apa.


"Kamu yang membuat aku tidak profesional!" Ucapnya.


Rima meninggalkan pekerjaannya saat kontrak kerja masih berlangsung, dan semua itu karena Dihyan. Mungkin bagi mereka semua itu tak jadi masalah.


Tanpa mereka tahu, sikap Dihyan yang membuat Rima pergi dari tanggung jawabnya justru mengorbankan beberapa orang.


Pasien yang terbengkalai, dan keluarga pasien yang menunggu kehadirannya.


" Hahaha, Iya maaf-maaf!" Terus merangkul pundak Rima tanpa tahu jika wanita itu tengah menikmati rasa kecewa.


Mungkin Rima harus lebih sabar untuk tetap tinggal di rumah tanpa melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya. Ia tak boleh terlalu berharap pada Dihyan. Itu mungkin hanya akan menjadi beban dan membuat hatinya sakit sebab tak mendapatkan apa yang ia inginkan.


Rima diam.


Menanggapi pembicaraan Dihyan hanya dengan kata iya atau tidak, kadang hanya mengangguk atau menggelengkan kepala saja.


"Terima kasih!" Dihyan saat Rima baru saja mengisi piringnya dengan nasi putih dan ikan bakar.

__ADS_1


"Kamu marah?" Baru sadar setelah beberapa lama Rima mendiamkannya.


"Tidak!" Jawaban datar, wajahpun datar. Membuat Dihyan semakin sadar jika istrinya itu tengah merajuk.


Usia kandungan Rima telah memasuki bulan ketiga. Dan selama ini Dihyan belum bisa mendapatkan tempat pekerjaan untuknya? Bagi Rima tak terlalu masuk akal, kecuali jika pria itu memang mengulur waktu.


"Maaf, aku sudah usahakan!"


Gadis itu kembali menganggukkan kepala. Saat ini ia mencoba menerima keadaan, menjadi istri Dihyan sepenuhnya. Dua puluh empat jam dalam sehari, meski dalam hati merasa sesak.


Siapa yang tahan didiamkan seperti ini oleh istri?


Dihyan benar-benar berusaha mencarikan Rima tempat kerja. Namun jelas saja seperti yang ia katakan tadi, ingin menyesuaikan dengan keadaan istrinya yang sedang hamil saat ini.


Inginnya Dihyan, istrinya itu hanya berjaga di sift pagi bukan mengikuti pembagian jam kerja seperti petugas medis yang lainnya. Dan itu bukanlah perkara yang mudah.


Sekian banyak rumah sakit yang ia hubungi, belum ada yang mau menerima persyaratannya.


Dihyan harus menerima didiamkan oleh Rima hingga Ia mendapatkan apa yang diinginkan.


Mengendap-ngendap naik ke tempat tidur, istrinya telah lebih dulu berbaring membelakangi.


Dihyan masih bergerak secara perlahan, mengangkat tangan menaruhnya ke atas pinggang sang istri.


"Ada kabar baik!" Ucapnya berbisik di belakang telinga Rima.


"Kamu diterima!" Dihyan kembali berbisik meski tak ditanggapi. " Hendra mau terima kamu." Ucapnya lagi memberikan semangat.


"Besok boleh tes wawancara, cuma formalitas saja. Dia temanku kok." Berbicara sendiri, Rima belum mau menanggapi.


" Ya udah kamu tidur saja, Besok harus bangun pagi!" Dihyan sambil mengusap pelan perut Rima yang sudah mulai terasa sedikit menonjol di tangannya.


Rima masih diam, tidur saja dulu. Besok kita lihat apakah ucapan pria ini benar-benar terbukti atau tidak. Ia sudah tak mau lagi menggantungkan harapan terlalu tinggi.


......................


"Beneran?" Rima sedikit tak percaya


Saat bangun pagi, Dihyan telah menyiapkan pakaian kerja untuk sang istri.


Dihyan mengangguk," Kenapa?"


Tanyanya, padahal sudah semalam ia berbicara panjang lebar, tapi istrinya itu justru berdiri melongo memandangnya?


Rima kembali memandang pakaian yang Dihyan letakkan di tempat tidur, rasanya belum percaya.


Masih mengikuti semua arahan Dihyan, mengenakan pakaiannya dengan hati yang berdebar kencang.

__ADS_1


Hari ini, adalah salah satu hari yang bersejarah baginya. Di mana ia akan kembali ke dunia yang sempat dia tinggalkan dulu.


berapa kali menarik nafas demi mengatur kondisi tubuh agar kerja jantungnya kembali normal.


Rima menatapDihyan yang kini telah sama-sama siap.


" kita pergi!" ajakan Rima. " Kamu yang bawa?"


" Iya aku antar. aku tunggu malah." Dihyan tersenyum, dirinya yang telah siap dengan pakaian kerjanya Saya dari tadi justru kali ini menunggu Rima.


Sedikit lebih lama mereka menempuh perjalanan, jarak rumah ke rumah sakit yang mereka tuju sedikit jauh.


Bahkan melewati kantor Dihyan. Tapi tak mengapa, Rima hanya butuh bangun lebih pagi agar tidak terlambat.


Kali ini Dihyan menepati ucapan, mendampingi sang istri hingga ke ruang direktur. Berjalan berdua melalui koridor-koridor rumah sakit.


Pemandangan yang sangat indah bagi seorang Rima.


Beberapa kali memanjangkan leher saat melewati ruang perawatan. Penasaran dengan Bagaimana kondisi orang yang telah berbaring dibrangkar.


Ah rasanya sudah tak sabar saat ia disodorkan nama dan ditel kondisi pasien padanya.


Ada kepuasan tersendiri saat terus mendampingi pasiennya hingga bisa dipersilakan pulang.


Meski kadang kecewa, jika mendapati kondisi pasien yang tak sesuai dengan keinginan mereka.


Dihyan duduk sedikit lebih jauh dari ruangan yang Rima masuki, bermain ponsel mengikis waktu sambil menanti Rima yang katanya sedang wawancara.


"Sudah!"


Rima telah berdiri di hadapannya, dengan wajah yang berseri-seri.


"Gimana?"


"Diterima, mulainya nanti hari Senin." Penuh semangat, bahkan Gadis itu telah merangkul lengan Dihyan saat hendak beranjak dari sana.


"Tapi aku mau belanja dulu." Wajah cantik itu tersenyum manja.


"Mau beli apa?" Dihyan ikut tersenyum, kebahagiaan Rima tertular padanya.


"Baju sama buku."


Ia harus banyak belajar lagi,


"Bentar sore aja ya, habis pulang kerja."


DIhyan tak boleh melewatkan kesempatan ini. Sudah cukup rasanya didiamkan oleh sang istri.

__ADS_1


__ADS_2