
" SURPRISE!"
Dihyan Berdiri tegap tepat di hadapan Reno dengan kedua tangan yang merentang, wajah tersenyum.
Berjalan ke depan menghampiri Reno sementara yang dihampiri hanya diam, melongok di tempat.
Benar ia terkejut, terlebih saat melihat senyum Dihyan. pria ini terlihat bersemangat dan,
Bahagia.
Entah apa gerangan?
Dihyan berjalan mendekati Reno masih dengan tangan terbuka lebar.
Memeluk sang asisten yang mungkin memang ia rindukan.
"Kaget kan? Kaget kan?" Dihyan masih menampilkan wajah ceria yang entah.
"Ya kaget lah masa enggak."
"Gimana pekerjaannya enteng kan?"
"Ya enteng lah ada papa kok."
Reno hanya melongo menyaksikan pria yang kini menurutnya telah banyak bicara. Bertanya, lalu dijawab sendiri.
"Gimana di Makassar?"
"Kata Papa Kemarin kamu ke sana ngurusin kecelakaan kerja. Gimana udah beres kan?"
Reno mengangguk masih dengan mulut yang terbuka karena keterkejutan.
Dihyan mulai melangkahkan kaki menuju ke ruangannya. Membuka jas lalu melampirkan di sandaran kursi, dirinya siap untuk kembali bekerja.
Papa meliburkan diri, mumpung ada Dihyan yang kembali pulang setelah sebulan lebih berlibur. Entah jika suatu saat nanti Putra sulungnya itu mengambil libur seenak jidat.
Reno masih saja diam, tak menjawab satupun pertanyaan Dihyan.
"Ren udah ada kabar tentang Rima nggak?" Dan pertanyaan itu mampu menghentak kesadaran Reno.
Memamerkan wajah terkejut, mata membulat dengan mulut yang terbuka, Reno masih diam memandang Dihyan.
Jangankan tentang kabar? Dirinya bahkan Telah bertemu dengan Rima.
Lalu apa yang harus ia jawab?
Memberitahukan pada Dihyan tentang keberadaan Rima. Untuk kembali pada pria yang telah merenggut semua kebahagiaan dan masa depannya?
"Ren, Reno?"
Suara Dihyan tak terdengar? Reno masih tenggelam dalam lamunannya.
Bahkan saat Dihyan berjalan mendekati ke arahnya.
Klik.
Klik.
Dihyan menjentikkan jari tepat di hadapan Reno, pria itu barulah sadar.
__ADS_1
"Kamu kayak heran gitu lihat aku, kayak lihat setan aja." Dihyan mulai kesal diabaikan.
"Dari tadi aku ngomong ini itu, kamu masih tetaaaap aja diam."
"Aku udah sembuh, aku udah sadar. Mungkin sekarang giliran kamu yang sakit." Dihyan merocoh panjang.
"So- sorry, beneran pangling lihat kamu. Kayak punya semangat baru lagi setelah pulang kampung." Ucapnya dengan sedikit senyum di wajah, meski dalam hati merasa takut jika dihina benar-benar menemukan Rima kembali.
...****************...
Akhir pekan dimanfaatkan oleh Reno kembali ke tanah rantau tempat Rima berada.
Entah mengapa hatinya selalu tak sabar untuk segera bertemu dengan wanita itu.
Tak ingin membuang waktu lebih lama, Jumat sore menjadi waktu pemberangkatannya. Kini ia telah berada di bandara menunggu panggilan pemberangkatan.
Di dalam dada bertalu saat mengingat akan kembali bertemu dengan Rima.
Bagaimana keadaan Rima di sana?
Rima takkan kembali pergi setelah bertemu dengannya kan?
Getaran ponsel di saku membuatnya tersentak kembali sadar dari lamunan.
" Halo." siapanya terlebih dahulu.
"Ren kamu di mana? Aku mau ketemu nih."
"Sorry bos, aku lagi ada perlu. Mungkin minggu sore baru bisa ketemuan." Ucapnya setelah mendengar suara Dihyan.
"Ck, lama banget? ngapain sih?" Dihyan.
"Kamu mau ke mana sih?" Dihyan.
"Kepo. Udah ya aku mau berangkat, udah dipanggil. Nggak usah rindu rindu itu berat."
"Cih, najis."
Panggilan ditutup dengan kekehan Reno, meski dalam hati tetap saja merasa was-was.
Bagaimana jika Dihyan curiga lalu mengirim orang untuk mengikutinya saat bertemu dengan Rima.
Kembali ke rumah sakit menanyakan jam kerja Rima, pagi.
Berusaha mempelajari sendiri pergantian shift kerja Rima.
Baiklah, mencari hotel sendiri tempat untuk meluruskan punggung selama di sini.
Menggunakan mobil sewa Ia kembali mengurungi jalan.
Memilih jalur berputar hanya demi memandang kediaman Rima. Tak ada mobil terparkir di halaman, padahal jadwal kerja yang ia dapat, harusnya Rima berada di rumah saat ini.
Mungkin sedang berbelanja atau menghabiskan waktu bersama temannya yang subur itu.
Arrrgggg, Mengapa kesal sendiri. Masih banyak tanda tanya yang harus ia pecahkan tentang Rima.
Kembali ke rumah sakit di siang hari, agar waktu menanti Rima tak terlalu lama.
Ia tahu ke mana kaki akan melangkah. Membaca papan atas nama Rima Damayanti yang berarti wanita itu tengah berada di dalam ruangan.
__ADS_1
Duduk di tempat yang sama seperti dulu ia menanti Rima di sana. Dan mungkin kejadian ini akan terulang kembali nanti dan nanti.
Setidaknya ada usaha baginya untuk mendapatkan cinta Rima.
Bermain ponsel dan memangkas waktu yang seolah semakin panjang.
"Rima." Sapanya berikut dengan langkah pelan mendekati saat melihat wanita itu keluar dari ruangan.
"Loh kok?" Rima memandang bingung dengan telunjuk di hadapan.
"Pasiennya Kakak udah pulang semua kok."
Reno tersenyum menunduk, sampai di sini Rima belum sadar dengan perhatian Reno. Tak apalah, memang baru bertemu beberapa kali.
"Aku ke sini memang ingin ketemu kamu." Reno.
Rima terdiam, sedikit bingung saat menerima ucapan Reno.
"We, jadi semua jako ke rumahku toh?" Suara di sana riuh membuyarkan konsentrasi mereka. Suara pria berlogat pribumi berbicara dengan riang dan penuh semangat.
"Iyo-iyo jadija saya." Gadis berjilbab biru.
"Saya juga." Sekarang gadis yang berjilbab pink yang menjawab.
"We saya nginap ka nah, Nalarangka bapakku pulang malam." Kembali pada garis berjilbab biru.
"Iya saya juga, mau Ka nginap. Tidak ada bapakku jemput Ka ini. Bawa jako baju toh?" Gadis lain yang tidak menggunakan jilbab, sambil memandang pada garis yang berjilbab biru.
(Ka di sini merujuk pada kata ganti orang pertama tunggal, artinya menunjuk pada diri sendiri.)
"Iyo bawa ja, besarna tasku. Hihihihi." Si jilbab biru cekikikan sambil memamerkan tas ranselnya yang menggembung karena pakaian, siap nginap.
"Iyo nginep semua mako! Di kamarku semua mako tidur. Saya pa tidur di luar, gampangmi itu." Si Aco, pria yang memiliki hajatan di rumahnya.
(Kata mako di sini merujuk pada kata ganti orang kedua baik tunggal maupun jamak, artinya menunjuk pada lawan bicara. Namun kurang sopan jika digunakan pada orang yang lebih tua.)
Menoleh ke arah Rima dan Reno yang berdiri bersisian, "Kita iya bu dokter pergi Jaki juga toh?" Si Aco kembali melemparkan tanya.
(Nah kata Ki di sini merujuk pada kata ganti orang ke dua tunggal yang digunakan untuk menghargai lawan bicara.)
Rima mengangguk dengan wajah yang tersenyum ceria, memandang ke sana yang di balas tak kalah ceria dan riuhnya.
"Nginep maki juga bu dokter Nah!" Lagi si Aco, ini merupakan mode pembujukan.
"Ih tidak bisai kapang? Pasti dilarangi sama pengawalna, to bu dokter?" Si jilbab pink mencoba menebak,
"Iyo dik. tapi btw, kemanaki pengawalna bu dokter nah? Tidak kulihat Ki." si Aco kembali bertanya.
"Tapi kalau tidak ada itu, bisa jaki bermalam toh dokter?" Si Acok penuh pengharapan.
Rima hanya tersenyum menanggapi pembicaraan teman-teman perawat di sana.
Sudah menjadi hal umum di rumah sakit itu, Leli dikatakan pengawal Rima yang selalu siap mengikuti kemanapun Gadis itu pergi. Dan tanpa segan melarang Rima ini dan itu jika memang tidak disenangi Leli.
Contohnya Ini, bermalam di mana saja. Bisa dipastikan wanita subur itu pasti akan melarang Rima.
"Jadi kok, aku juga ikut." Rima.
"Aku juga ikut ya?" minta Reno Dengan bodohnya, padahal Ia sendiri tak tahu apa yang kini menjadi pembahasan orang-orang itu.
__ADS_1
Waktunya bertemu dengan RIma tak banyak, ingin memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin.