Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Oh Reno


__ADS_3

"Reno ke luar kota?"


 Diandra membeo, mengulang ucapan ibu yang baru saja menyambutnya pulang kerja.


"Iya, aduh tapi ibu lupa, berapa hari yah, ck ibu lupa tanya."


Takut jika sang menantu menanti kehadiran sang suami. Meski ada rasa kasihan pada sang menantu, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa.


Beginilah jika harus memaksakan pernikahan pada mereka yang justru tak menginginkan. Memaksakan cinta pada tempat yang sesungguhnya!


Ibu harus bersabar dan terus berusaha mendampingi sang menantu agar tak terlalu merasa diabaikan dalam keluarganya.


Jangankan untuk pamit, ibu menjadi saksi jika rumah tangga putranya ini tak berjalan dengan baik dan harmonis, hanya bisa berdoa semoga semua akan indah pada waktunya. Mungkin ibu yang akan terlebih dahulu bersujud jika masa itu tiba nantinya.


"Iya, gak pa-pa bu. Aku masuk dulu!" Pasrah sekali wanita ini.


Lagi ibu hanya mengangguk memandangi sang menantu yang memasuki kamar Reno.


Istri yang sabar kala menghadapi sikap sang suami tak berpihak.


Di dalam kamar ia hanya hendak meminta kepastian pada Dihyan ke mana sang suami tengah ditugaskan.


"Gak ada Ndra, ngak ada kirim-kirim orang." Kalimat yang diucapkan Dihyan penuh dengan penegasan, pasalnya sedari tadi adiknya itu seolah tak percaya dengannya.


"Beneran kak?" Tanyanya lagi tak percaya. Jika memang Reno tak ditugaskan ke luar kota lalu ke mana suaminya itu kini?


"Memangnya Reno bilang apa?" Dihyan bertanya, kini ia berlaku sebagai seorang pria seandainya ia berada di posisi Reno. Dan juga sebagai seorang kakak yang akan tetap menjaga adiknya meski hanya sekedar terluka perasaan.


"Gak ketemu kak, cuma tadi pamit sama ibu bilangnya ada tugas luar." Dengan wajah sendu bercampur dengan khawatir.


"Ya udah, kamu tenang aja, nanti aku tanya papa dulu, siapa tau memang ada tapi aku gak tau."


"Kamu istirahat aja, gak usah terlalu khawatir, Reno sudah besar, bisa jaga diri!" Masih berusaha menenangkan sang adik.


Telpon di tutup dengan dua orang yang memiliki pemikiran yang mengembara.


Hampir bersamaan dengan itu, Rima yang baru bersiap untuk pulang kembali mengocek tote bagnya saat mendapatkan getaran ponselnya.


Hanya sebuah pesan dari nomor yang tak ia ketahui.

__ADS_1


"Aku menunggumu!"


Hanya sebuah pesan singkat, ia telah bisa menebak sang pemilik nomor, namun ia masih abai, berharap dengan ini pria itu akan berhenti juga pada akhirnya.


Hingga tiba di rumah mendapati wajah suaminya yang nampak panik dengan ponsel yang tertempel di telinga.


" Aku gak ada kasi kerjaan, toh dia sekarang bukan bawahanku lagi."


"...."


" Aku gak tau pah, nanti aku coba telpon Romi dulu siapa tau dia ke sana!"


Rima mendekat, dengan nyata ia turut menempelkan telinga saat mendengar nama kakaknya disebut. Terlebih ia merasa ini bukanlah sebuah rahasiah, toh Dihyan juga berbicara dengan nada yang sedikit keras di ruang tengah.


"Kenapa?" Wanita itu mulia memberanikan diri untuk bertanya setelah telpon terputus. Dihyan kembali mengotak-atik ponselnya.


"Reno kabur."


Dua kata yang seolah hendak mengankat tubuh Rima lepas dari bumi.


Hilang?


Ia kini berpikir untuk memberi tahukan tentang pesan singkat yang ia dapat dari nomor baru itu, mungkin dengan begitu keberadaan Reno akan cepat ditemukan.


Namun apakah tak ada perasaan yang terluka hanya dengan dua kata itu?


Tidak, tidak.


Semua mungkin akan semakin kacau jika pesan itu diketahui oleh orang lain.


Rima lebih memilih menyembunyikannya dari pada


Lalu kenapa Reno harus kembali melakukan hal gila seperti itu?


Apakah pernikahan pria itu dengan Diandra benar-benar tak baik-baik saja.


Aku menunggumu!


Sampai kapan?

__ADS_1


Dan segila apa Reno nanti?


Rima masih mencoba menelisik besarnya perasaan Reno padanya. Sedalam itukah?


"Pc, kayak anak kecil aja!"


Rima tak lagi mendengar ocehan sang suami yang berada tepat di sampingnya.


"Rom, di sana ada Reno gak?" Ponsel Dihyan kembali tersembung pada orang yang berbeda.


"...."


"Gak tau. Katanya pamit sama ibunya alasannya di kirim ke luar kota untuk kerjaan kantor, tapi seingatku gak ada."


"...."


"Kalo memang mau pergi, kenapa harus pake alasan kerjaan. Terus itu kerjaannya dia terbengkalai dong?"


"Gak bertanggung jawab banget!"


Di samping pria itu, Rima hanya mampu menatap jauh pada sesuatu yang tak berujung.


Imajinasinya terbang seiring ingatannya pada pesan singkat yang ia dapatkan setengah jam lalu.


Reno benar pergi meninggalkan keluarga, dan,...


Mengajaknya.


"Kenapa?"


Dihyan menyadari perubahan sang istri yang menjadi pendiam. Tahu jika kepergian Reno turut menjadi pemikiran buat Rima.


Pria itu meraih tangan sang istri, menggenggamnya erat.


Meski ia tak tahu tentang bagaimana sebenarnya perasaan Rima saat tahu jika Reno meninggalkan Diandra, namun ia hanya ingin memberi tahu jika ia ada di sisi wanita itu.


Dada sedikit lega saat Rima merebahkan tubuh, meletakkan kepala di pundaknya. Lagi-lagi mereka hanya mengandalkan waktu yang menjawab semua masalah yang ada di antara mereka.


Oh Reno, bisakah membuat segalanya menjadi mudah?

__ADS_1


__ADS_2