
Di sana, gadis itu berhenti saat mendapati kerumunan yang turut berbalut jas putih kebanggaan mereka.
Reno, sadar!
Pria itu mulai bangkit dari duduknya.
Detik demi detik mengiringi langkah kaki Reno dengan pelan, seperti mengendap-endap. Berharap Rima tak menyadari kehadirannya sebelum tubuh benar mendekat.
Namun tak begitu dengan jantung yang berdetak mengalahkan Denting jarum detik yang seolah hendak melompat.
Dahaga terasa di kerongkongan namun entah apa yang mengganjal, ia bahkan sulit menelan salivanya.
Tangan terulur, menyelinap dari tubuh-tubuh yang menghalangi.
Hingga akhirnya tangan itu dapat diraih.
Rima terhentak mendapatkan setuhan itu, namun tangan mampu di tahan Reno.
"Rima."
Sejenak mereka saling memandang, hampir sama, lekat dan hampir tak berkedip.
"Aku Reno." Ucapnya lirih, takut Rima tak mengenali.
Mustahil, karena Rima jelas masih mengingat paras wajah tampan yang sempat memberinya harapan palsu belaka.
Di bawah pandangan bingung insan-insan yang berada di sekeliling mereka.
"Ngapain kamu hah?"
Teriakan itu menghentak tangan dan halusinasi keduanya sama terlepas.
Nampak seorang gadis bertubuh tinggi tegap dengan penampilan lain berada di antara mereka.
Dari cara bicaranya, Reno tahu Jika gadis ini bukan pribumi, mungkin mereka sebangsa.
" Ayo!" Lagi Gadis itu kembali menghentak tangan Rima, menarik agar ikut dengannya, menjauh dari kerumunan.
Meninggalkan Reno dan yang lainnya melongok memandang kejadian singkat itu.
Sebagian mereka berpikir, jika Reno adalah suami dari Rima.
Mungkin Reno tak mengenali gadis itu, tapi bagi Leli, Reno adalah salah satu orang yang harus dijauhinya dari Rima. Karena pria itu adalah salah satu orang kepercayaan Dihyan.
"Rima." Suara Reno sambil melangkah cepat mengikuti langkah Rima yang tertarik. Tak ingin lagi kehilangan jejak untuk kesekian kali.
"APA?" Suara Leli Lagi menghentak tangan Reno yang kembali terulur hendak meraih.
"Aku cuma mau bicara sama Rima bukan sama kamu!" Reno turut meradang. "Kita gak ada urusan."
Ia mendekati secara baik-baik, tapi disambut seperti itu, pun dengan orang yang dikiranya Tak memiliki hubungan apa-apa dengan mereka.
__ADS_1
"Mau ngapain?" Lagi Leli dengan suara menghentak.
Berhadapan dengan Reno, berarti sebuah pekerjaan berat baginya.
"Sttt, jangan bertengkar di sini, berisik tahu. Kita bisa diusir karena dianggap mengganggu pasien." Ucap Rima menengahi. "Kamu mau bicara apa?" Tanyannya pada Reno, tatapan begitu dingin.
Jika boleh jujur Ia pun enggan berhubungan dengan Reno, hanya menambah deretan asa yang tak tergapai.
Tapi bagi Reno melegakan meski setitik. Setidaknya Rima tak melupakan dirinya seperti yang ia takutkan. Tak ingin bertemu, mungkin saja.
"Aku,... Aku,...." Bingung ingin memulai dari mana.
"Nggak ada yang penting kan? Sana pergi!" Suara ketus dari gadis berbadan sehat itu.
Gadis itu turut mendorong bahu dengan jari-jarinya, membuat tubuh Reno terhuyung ke belakang.
Reno terkesiap menatap Leli.
Gadis itu lebih cocok menjadi alg0j0 daripada sahabat Rima.
" Aku cuma mau bicara sama Rima, bukan sama kamu!" Ucapnya saat tersadar dari lamunan.
"Udah ayo ah, waktu istirahatku bisa habis lihat kalian bertengkar." Lagi Rima menengahi.
Istirahat di senja ini, waktunya terbuang karena pertemuan dengan Reno, tapi pimpinan pasti tak terima dengan alasan itu.
Shalat magrib dulu, lalu makan malam.
Pertemuan ini tak bisa lagi ia hindari, mungkin akan menjadi jembatan mempertemukannya dengan Dihyan. Selanjutnya ia harus kembali bersiap dengan segala kemungkinan. Terlebih lagi akta cerai belum di tangan.
Bukankah masalah memang harus dihadapi? Hanya masalah waktu saja.
Dan pada akhirnya mereka bertiga telah duduk di kantin.
Reno yang terus memusatkan pandangan pada Rima.
Rima yang terus menunduk sambil menikmati santapan, menghindari tatapan Reno yang duduk di hadapan.
Dan Leli yang terus menatap sinis pada Reno, "Apa?" Sesekali, lagi Ketus.
Hembusan nafas keras dari Reno, kembali menunduk menikmati santapan, selang beberapa waktu kembali mengangkat kepala demi menatap Rima.
Ia hanya ingin berbicara dengan RIma, tanpa harus di temani dengan ondel-ondel pikirnya.
Tanpa sempat membahas apapun pada RIma, Reno harus ikhlas saat gadis itu kembali masuk ke ruangan., menjalankan kewajiban.
Reno hanya bisa mengamati dari jauh, saat RIma masuk lalu kembali ke luar dari kamar-kamar perawatan, melakukan visit.
Meski hati gelisah, karena esok harus kembali ke ibu kota seperti janji pada atasan.
Pertemuan dengan RIma terlalu singkat, masih banyak yang ingin ia bicarakan dengan Rima.
__ADS_1
Hingga jam kerja Rima usai, Reno masih terus memantau.
Mengintai RIma hingga keluar parkiran masuk ke dalam mobil, masih bersama sang alg0j0.
Ternyata Rima sedikit terjamin hidup dirantau.
Tak ingin kehilangan, lekas berlaki menuju mobil pinjamannya guna kembali mengikuti Rima.
Hanya ingin mengetahui kehidupan RIma saja, batinnya menguatkan.
Hanya lima belas menit perjalanan, mobil berbelok ke arah perumahan.
Reno bimbang harus tetap melaju atau tidak.
Memilih berhenti, agar tak terlalu kentara sedang mengikuti. Sebentar ia akan menguatkan pandangan mengecek setiap rumah yang diparkiri mobil tadi.
Memulai misi setelah berhenti hampir setengah jam lamanya.
Mobil melaju pelan, sangat pelan.
Memaksimalkan pandangan mata di malam yang beranjak larut. Menoleh kiri kanan mencari mobil yang persis tadi di kendarai RIma dan temannya.
Hingga matanya menangkap mobil putih yang sedari tadi ia cari.
Dalam hati entah mengapa seperti ada yang tercubit. Bahkan tanpa sadar, ada yang mengendap di pelupuk mata.
Andaikan dulu ia bisa mempertahankan Rima, mungkin mereka tak kan terpisah sejauh ini.
Apakah ini yang namanya penyesalan?
\=======
Kembali ke esokkan harinya, pada jam seperti kemarin.
Melangkah dengan yakin, tak perlu basa-basi untuk bertanya lagi.
Kembali terhenti di depan pintu yang sama.
Mendongak membaca nama yang kembali membuat jantung berdegup.
Duduk di kursi tunggu, menunggu Rima sampai waktu istirahat tiba.
Kegiatan kemarin kembali terulang pada dirinya.
Dalam hati berdoa semoga tak bertemu dengan ondel-ondel lagi.
"Rima." Sapanya, saat baru saja melihat gadis itu keluar dari ruangan. Hanya bermain dengan hitungan detik pria itu telah berada di hadapan Rima.
"Aku harus pulang!"
Rima mengerutkan kening, dalam hati bertanya apakah pria itu tengah memberi info gratis atau sedang meminta izin?
__ADS_1
Semua tentang Reno tak ada hubungan dengan dirinya.
Jika hendak pergi, maka pergilah!