
Sehari cukup bagi Rima untuk mengambil cuti mendadak setelah memberikan hak Dihyan sebagai seorang suami meskipun dengan cara terpaksa.
Berharap suatu hari ia bisa lepas dari ikatan pernikahan dengan seorang Dihyan Pratama.
Lalu memberikan segala yang ia miliki pada seseorang yang tulus memberikan hati padanya.
Pernikahan yang dihiasi dengan cinta dan kebahagiaan.
Tapi apa lagi yang bisa ia berikan untuk pujaan hatinya kelak? Semuanya telah dirampas secara paksa oleh Dihyan, suaminya.
Tanpa cinta.
Mungkin ia tak berhak atas nama cinta. Setidaknya kehidupan yang tenang tanpa ada yang mengusik hari-harinya mungkin sudah cukup.
Tapi semua tak dapat ia rasakan sekarang.
Harus tetap bersyukur setidaknya hari ini ia masih hidup, meski tak bahagia.
Sedari tadi ia berjalan di samping Sarah dengan tatapan kosong hingga tak mengetahui siapa yang telah berdiri di hadapannya.
“Makan siang bersama?” Suara itu menyadarkannya dari angan-angan.
“Kak Romi.” Ia langsung menubruk
tubuh Romi membuat pria itu terhuyung ke belakang.
Emm, sungguh nyaman berada dalam
pelukan ini. Inginnya ia mengis dalam pelukan ini, tapi itu akan menimbulkan tanda tanya pada kakaknya itu. Ia harus menahan semuanya, hingga saat tubuhnya tak mampu lagi menopang penderitaannya.
Dihyan adalah seorang menantu dan ipar idaman. Begitu yang sedari dulu ia dengar dari kakaknya. Sangat ramah dan sering mengirim hadiah pada ayah.
Berbanding terbalik dengan kelakuannya di rumah, yang sering menyakitinya secara fisik dan melontarkan kata-kata mutiara yang sangat berduri.
“Wah tumben datang jenguk Rima?” Tanyanya pada Romi dan dengan raut yang berbinar. Entah itu karena rindu atau berharap bala bantuan.
“Aku ada surprise buat kamu.” Bisik Romi di
telinganya, “Makanya mau traktir kamu.”
“Apa?” Tanyanya bingung.
“Ayo ah,”Menarik tangan Rima terus berjalan ke arah parkiran.
"Ting." Mengulurkan tangan tepat di depan wajah Rima. Di tangan Romi telah tergantung sebuah kunci, kunci mobil. "Mobil baruuu." Ucapnya seiring senyum sumringah.
"Kakak beli mobil baru? Waaaah pasti gajinya sekarang tinggi kan?" Ucap RIma berbinar. Melihat kakaknya sangat bahagia, mampu menyalurkan rasa yang sama pada Rima.
"Bukan kakak, tapi ini dari suamimu. Sebenarnya ini buat ayah, katanya biar lebih keren. Biar aura managernya bisa lebih terlihat. Tapi ayah ngasih ini buat kakak, masih ada mobil lama katanya."
__ADS_1
“Suamimu memang The best!”
Ucapnya lagi, kini di ikuti dengan dua jempol yang disodorkan didepan Rima.
Kemarin?
Setelah pria itu merenggut mahkotanya, Dihyan membelikan mobil baru untuk kakaknya. Picik.
Rima kian menunduk.
Rasa sakit masih ia rasakan. Air mata tak bisa ia tahan.
Memilih memeluk erat kakaknya.
Bayangan Dihyan yang memaksanya kian menari-nari di kepala, sungguh ia tak menerima semua perlakuan pria itu.
Tapi melihat kebahagian yang di berikan pada keluarganya, Rima tak mampu untuk mematahkan semuanya.
"Kamu kenapa dek?" Tanya Romi, yang membalas pelukan RIma. Mengelus pelan rambut hingga punggung.
Rima melonggarkan tangan yang tadi melilit di pinggang Romi. Berbalik sebentar memandang mobil baru yang berada tepat di samping mereka berdiri.
Range Rover mewah yang membuat mata kakaknya lebih bersinar terang.
Kembali berbalik, membenamkan wajah di dekapan kakaknya. Rima semakin mengeratkan pelukannya.
"Deeekkk." Panggil Romi sembari menepuk pelan bahu adiknya.
Tangis yang Rima perdengarkan terasa memilukan. "Kamu kenapa?" Matanyapun mulai berembun.
"Ngomong kalo ada yang nyakitin kamu! Kakak gak akan mungkin tinggal diam."
Rima hanya mampu menggeleng dalam pelukan kakaknya. Kembali berbalik ke arah samping tepat di mobil baru kakaknya.
Kesuciannya telah Dihyan ganti dengan sebuah mobil mewah.
Rasanya tak setimpal untuk dirinya.
Tapi keluarganya tak tahu....
Romi mengikut arah pandang Rima, mobil barunya.
Mungkin adiknya ingin mobil yang serupa.
"Kalau kamu mau, kamu boleh deh ambil mobil ini. Aku pakai motor aja gak pa-pa." Dalam hati berpikir mengapa Dihyan tak membelikan istrinya mobil terlebih dahulu sebelum ia atau ayah.
Mungkin saja mobil dalam garasi Dihyan terlalu banyak hingga tak ingin menambah mobil baru. Tapi sayangnya Rima tak ingin salah satu mobil Dihyan.
Romi meringis saat mengingat bahwa adiknya itu memang sedikit pemilih. Terlebih lagi saat ini Rima mendapatkan suami dari kalangan atas.
__ADS_1
Heh, adiknya itu akan kembali menikmati hidup dengan mewah.
Tanpa ia ketahui, bahwa Rima menangis dalam gelap malam seorang diri hanya untuk memberikan kebahagiaan pada keluarganya. Merutuki pernikahan yang menyakitkan itu.
"Deek, kamu ngomong dong!"
"Kita diliatin orang."
"Nanti dikiranya aku abis nabok kamu. Gak kan? Kakak gak pernahkan nyakitin kamu?"
"Pernah." Tangisnya Rima mulai surut.
"Aku pernah dibanting di tempat tidur." Rima dengan senyuman.
Romi kembali meringis, adiknya itu dendam padanya. Padahal mereka hanya bercanda waktu itu.
Melepaskan pelukan kakaknya kemudian menyusut ingus dengan tissu setelah merogoh tasnya.
Tak ingin terlalu lama larut dalam tangis, bisa-bisa kakaknya akan curiga.
"Aku juga pengen mobil baru tapi gak dikasi. Kakak kok curang iiih."
"Aku cuma dikasi mobil lama. Gak mau, mending pake motor." Dengan memanjakan suara. Sengaja tak berjeda, agar Romi tak curiga.
"Tadikan udah dibilang mobil ini buat ayah. Cuma ayah yang ngasi pinjam. Kalau kamu mau ambil aja deh. Tapi awas sikutnya sakit loh, abis ngasih diambil kembali."
“Jadi aku ditraktir di mana nih?”
Rima memilih untuk tersenyum seolah ia baik-baik saja, selama ayah dan kakak
bahagia, bertahan sedikit mungkin tak apa.
Selama makan siang bersama Rima
hanya mendengarkan cerita Romi yang sangat mendambakan suaminya itu.
Hah begitu hebat kah ia?
Dihyan bahkan ingin membangun
rumah untuk ayah. Tapi menggunakan uang gabungan dari mereka yaitu uangnya, uang Romi dan uang Dihyan.
Katanya Dihyan bisa saja memberikan rumah pada ayah dengan uangnya sendiri, tapi ia ingin membangun cerita jika anak-anaknya ikut membangun rumah tersebut, dan itu bisa di jadikan cerita pada anak mereka nantinya.
Apakah maksudnya Dihyan ingin punya anak bersama Rima?
Bukankah Dihyan sangat membencinya? Bagaimana bisa mereka membangun rumah tangga dengan kebencian yang menjadi pembatas mereka.
Meskipun mereka telah tidur bersama, bukan berarti harus bertahan selama hidup bersama dengan orang sangat membenci.
__ADS_1