
Dihyan terpekur seorang diri. Di hadapannya pintu kamar Rima tertutup dengan sangat rapat, bahkan terkunci dari dalam. Rima tak membiarkannya masuk.
Pria itu berjalan lunglai meninggalkan kamar Rima, biarlah wanita itu sendiri dulu, mungkin butuh waktu untuk menenangkan diri. Setelah itu, ia berharap semua kembali seperti semua dan tak ada lagi yang akan mengganjal kehidupan rumah tangga mereka.
Dihyan kembali menempati kamar lamanya untuk malam ini. Tidur berdua hanya bersama dengan sang buah hati setelah mengurus keperluan bayi mungilnya itu.
Sejenak ia terdiam mengamati sang putra yang tetap tenang dengan lelapnya. Wajah teduh, lucu dan menggemaskan itu menjadi penguatnya. Demi bayi ini pula ia harus berusaha menahan Rima agar tetap di sisinya.
Tengah malam, Dihyan telah berhasil masuk ke kamar Rima dengan bantuan kunci cadangan yang ia miliki. Pandangannya tertuju pada sosok tubuh yang meringkuk di atas kasur masih dengan gaun yang tertempel di tubuh.
Berjalan mendekat setelah tangannya menutup pintu dengan begitu perlahan dengan satu tangan, sebab tangannya yang satu digunakan untuk menahan tubuh sang putra.
Membaringkan Azka di sisi tempat tidur sebelah Rima, tepuk-tepuk perlahan pada bokong agar kembali tenang.
Menatap wajah istrinya yang masih terlihat sembab, wanita itu benar-benar menjadikan tangis sebagai penghantar tidurnya. Bahkan wanita itu tak membersihkan riasannya.
Dihyan menjauh, hingga beberapa waktu lamanya kembali muncul dengan sebuah wadah berisi air hangat dan sebuah handuk kecil.
Perlahan tangannya bergerak menarik resleting yang berada di punggung gaun sang istri. Kedua tangannya mulai bekerja menurunkan gaun itu dari tubuh ramping sang istri sebab sisi lain gaun tertindih dengan tubuh itu.
Rima sontak membuka matanya saat merasakan sebuah pergerakan yang jelas-jelas mengganggu tidurnya. Tangan yang dikepal erat-erat melayang demi membasmi pengganggu.
Namun sayang, pergerakannya telah terbaca oleh Dihyan hingga bogem itu tak jadi mendarat sempurna.
"Kamu, ...?"
"Sssstttt,..." Dihyan menunjukkan Azka dengan pandangannya.
"Dia tadi udah bangun, mungkin lapar jadi aku bawa ke sini."
"Kita bersihkan tubuhmu dulu yah, keburu dia bangun lagi takutnya langsung nangis kalau gak dapat nenn."
Tangan pria itu kembali bergerak melucuti gaun sang istri. Sementara Rima dengan patuh menerima semua perlakuan Dihyan. Bahkan tubuhnya turut merespon demi memudahkan Dihyan melucuti gaunnya hingga hanya tinggal menggunakan bawahan dalam saja.
"Kamu apa gak gerah kayak gini langsung tidur?"
Rima hanya diam tak menjawab.
Ia tak melayangkan protes sekalipun Dihyan telah bekerja mengusap badannya dengan kain handuk basah. Bagian depan dulu, takut sebentar lagi ini akan dibutuhkan.
Benar saja, tak berselang lama bayi mungil yang tergeletak di samping Rima kini sudah menggeliatkan tubuhnya, bibir di kecap-kecap petanda bayi mereka sedang haus.
Dihyan kembali bergerak, mendekatkan tubuh mungil itu pada sumber nutrisinya. Rima menerima, tubuhnya yang hampir polos ditutupi dengan selimut.
Setelah memastikan semua posisi pada tempatnya dan benar-benar aman tangan Dihyan kembali bergerak, kain handuk basah menyapu seluruh tubuh sang istri, mulai dari tangan, punggung sampai kaki.
__ADS_1
Pekerjaan membersihkan tubuh sang istri telah selesai, lehernya memanjang dari punggung Rima demi melihat Sang putra, bibir mungil itu masih melekat didadarima meskipun hanya tinggal sesekali mengecap.
Pria itu menjauh, kembali mendekat dengan alat perang yang berbeda di tangan. Sebungkus kapas dan sebotol pembersih wajah milik Rima. Ia ingin membersihkan sisa-sisa make up yang masih terlihat di wajah cantik sang istri.
" Hadap sini!" Ucapnya setelah membasahi kapas dengan pembersih wajah, pria itu duduk di samping tubuh Rima.
Wanita itu menurut, menolehkan wajah ke arah Dihyan.
" Kayak gini kan?" Ia hanya pernah beberapa kali melihat istri-istrinya melakukan ini. Mulai menyapu wajah Rima dengan kapas basahnya.
" Apa gak jerawatan tuh muka kalau nggak dibersihkan dari dempul sampai pagi nanti?" Ternyata riasan wajah Rima membutuhkan lebih dari satu slide kapas.
" Bibir juga bisa?" Pria itu bertanya hanya untuk memastikan saja. Setelah Rima mengangguk barulah tangannya kembali bergerak di atas bibir demi menyapu gincu merah menyala di sana.
" Mata?" Takut jika bahan kimia yang ia oleskan ternyata perih di mata Rima.
Lagi-lagi Rima mengangguk, membuat tangannya kembali bekerja.
Beres!
Putra mereka juga telah kembali lelap di sebelah sana.
Namun DIhyan enggan beranjak dari sana. Tangannya kini telah kosong, hingga bisa ia pergunakan untuk mengelus rambut Rima.
Bertiga seperti ini sudah cukup baginya.
Ia mulai membaringkan tubuhnya di samping Rima, berhimpitan sebab berada terlalu di pinggir.
Tangannya mulai menyeberang di perut sang istri, membuat bibirnya dapat dengan leluasa bersentuhan dengan pundak polos putih mulus milik Rima. Hanya ingin merasai arti sebuah keluarga. Dirinya, istri dan anaknya.
Sementara Rima hanya berdiam diri, tak menolak pun membalas segala perlakuan Dihyan.
Pikirannya sempat melayang, tentang malam ini di sana.
Di kamar pengantin baru sana.
Mungkin di sana kehidupan masih berlangsung meski malam telah sangat sangat larutnya.
Mungkin di sana, mereka masih melangsungkan kehangatan berbagi hati, peluh dan hasr@t.
Buat apa memikirkan itu jika akan membuat hatinya kembali sakit.
"Rima."
Suara itu telah terdengar berat saja. Menandakan h@srat suaminya telah datang berkunjung. Napas yang terhempus di belakang pundaknya juga telah mulai hangat.
__ADS_1
Pelukan itu bahkan telah mengencang. Jari-jari lebar dan kuat itu telah merayap bebas ke tempat yang diinginkan.
Rima berbalik saat pundaknya terasa tertarik ke belakang, hingga matanya mampu menangkap pandangan sayu dari sang suami.
Tak ada salahnya bagi mereka saling berbagi hasr@t. Toh di sana juga pasti keadaan akan sama.
Rasanya rugi bagi Rima untuk menahan diri.
Tangan Dihyan telah sampai di pipinya, mengusap dengan sangat pelan dan lembut.
Saat tak mendapatkan penolakan dari sang istri, disitu pria ini semakin yakin untuk melanjutkan misi.
Merapatkan bibir yang telah ia bersihkan dengan bantuan bahan kimia.
Namun, baru saja merapat dan merasa, pria itu menjauh seketika.
"Puuuuftt,... Puuuuftt,... Puuuuftt,...." Lid@hnya bergerak, seolah membuang benda asing dari dalam mulutnya.
"Pait." Ucapnya, lid@h masih bergerak-gerak membersihkan diri dari bahan kimia yang tadi iya olesi di bibir Rima.
"Hehehehe, b0d0h!" Ungkap Rima setelah terkekeh melihat aksinya.
Meski diumpat, Dihyan tak marah.
Hatinya justru menghangat mendengar suara Rima.
Belum lagi, tawa ringan tadi menandakan kini wanita itu telah lebih baik dari sebelumnya.
"Bersihin pake handuk aja yah." Tubuhnya kembali bangkit dengan tangan yang terulur meraih handuk yang kini telah lembab di sapukannya ke bibir Rima.
Kini Dihyan semakin berani menempatkan tubuhnya di atas Rima tanpa pembukaan terlebih dahulu.
Aksinya terhenti saat mendapat tepukan di bahu. "Kenapa?"
"Pindahin adeknya dulu!"
Ooooh ia pikir apa?
Ia pikir Rima akan menolaknya.
Ternyata hanya mengamankan Azka agar mereka lebih leluasa bergerak.
Ok! Siap!
Malam yang tadinya sendu berakhir hangat kembali pada sepasang insan itu.
__ADS_1