
"Keluarlah!" Ucapnya pada Reno yang baru saja memberikan laporan pekerjaan.
Kini Reno bukan lagi temannya, melainkan hanya seorang bawahan semata.
Berdiri, membalikkan badan mengarah pada dinding kaca di belakang kursi kerjanya.
Pandangan menembus tanpa batas.
Kini ia kembali sendiri.
Sebagai makhluk sosial, Ia mungkin takkan sanggup berdiri lama dengan kaki sendiri. Namun apa mau dikata ia harus tetap bisa menopang tubuhnya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Hanya karena satu kesalahan saja, Ia ditinggalkan oleh semua orang.
Sesulit itukah yang namanya kata maaf.
Mungkin mulai sekarang, dia akan kembali bekerja sendiri.
Tanpa keluarga.
Tanpa orang tua.
Dan tanpa teman.
Yang butuh hanya uang untuk membayar orang suruhannya.
Berbalik ke arah meja kerjanya, mengangkat telepon yang berada di meja lalu menekan tombol dial.
"Minta tolong sama OB, siapkan satu meja kerja di samping kamu."
Singkat padat dan jelas. Namun mampu membuat orang yang di sana ketak-ketir.
Ghea berpikir, jika sebentar lagi seseorang akan menggeser posisinya sebagai sekretaris pribadi.
Tetap menjalankan perintah dari sang Bos, merasa meski masa depannya terancam.
Menghubungi OB sesuai perintah pimpinan.
"Sudah siap pak." Lapornya pada Dihyan setelah beberapa saat.
"Panggilkan Armada bagian humas! Saya kurang tahu nama lengkapnya siapa." Perintah Dihyan lagi.
"Siap pak!" Gea lagi-lagi mengangguk menerima perintah. Dalam hati terus berdoa Semoga tetap menjadi yang terbaik untuknya.
Pintu kembali diketuk untuk kesekian kali, menampilkan Ghea bersama seorang pria muda yang turut memikirkan nasibnya setelah ini di belakangnya.
Alasan apa gerangan Ia dipanggil pimpinan?
Mungkin satu kesalahan besar yang tak ia sengaja. Atau juga mungkin saja ada sesuatu yang telah menyinggung Bapak bosnya ini.
Dirinya hanyalah tak biasa, merasa diri tak berwenang hanya untuk berjumpa dengan atasan tertinggi.
"Kamu boleh keluar!" Dihyan sambil menatap Gea.
Sekretarisnya itu sebenarnya telah menunggu apa yang akan dikatakan oleh bosnya. Mungkin ini juga berkaitan dengan pekerjaannya. " Baik Pak!" meng-iyakan saja.
"Kamu sudah menikah?" Dihyan memulai wawancara.
"Belum pak." Pria muda itu menjawab dengan tegas. Tanpa dipersilahkan duduk, pria itu berdiri tegap di hadapan Dihyan.
"Sudah punya pacar?"
"Be-belum pak." Menjawab dengan ragu, takut jika pendengarannya salah menangkap.
"Bagus!" Dihyan mengangguk. " Belum pernah pacaran?" Dihyan.
"Pernah Pak." Armada.
"Sejak kapan?" Dihyan.
"S-M-P pak." Masih ragu. Huruf di eja satu persatu.
Sebenarnya ini wawancara dalam rangka apa? Pacaran tak ada hubungannya dengan pekerjaan.
"Waaaah, suhu ternyata." Dihyan tersenyum mengejek.
Membayangkan Jika seorang anak pria yang baru saja berpisah tidur dengan ibunya telah mulai berpacaran.
"Mantanmu Sudah berapa?" Dihyan kini telah bertopang dagu sambil menatap pria muda di hadapannya. Pembahasan ini sedikit lebih menarik daripada pembicaraan tentang pekerjaan.
Armada meringis, berpikir jika ia harus menghitung dari mana.
__ADS_1
"Ku- kurang tahu Pak."Armada.
Seketika itu pula tawa Dihyan pecah.
Hahahahaha,...
Membayangkan jika dirinya saja yang usianya jauh lebih tua yang memiliki pacar hingga istri hanya dengan hitungan jari satu tangan.
"Banyak berarti." Ucapnya dengan sisa tawa.
Kepala mengangguk-ngangguk, entah pria itu mengerti atau menerima pengakuan sang bawahan.
Membayangkan anak SMP menyatakan cinta mereka, apa yang akan mereka katakan?
Aku menyukaimu?
Aku Menyayangimu?
Aku mencintaimu?
Lalu apa jawaban dari gadis yang ditembaknya.
Iya, Aku juga menyukaimu.
Iya, Aku juga Menyayangimu. Atau,
Iya, Aku juga mencintaimu.
Aduuuuh, geli terasa perut ini.
Anak baru menetas sudah pintar mengatakan cinta pada lawan jenisnya.
Jadi jangan kaget jika generasi sekarang lebih cepat dewasa dari pada gengerasi sebelumnya.
Lamunannya tertuju pada Divany, sang adik bontot. Sudah SMA saja Gadis itu masih sering ditemani Mama menjelang tidurnya.
Apalagi kalau sakit, beuuuh manjanya nggak ketulungan.
Mama hanya bisa beranjak dari sampingnya saat hendak ke kamar mandi saja.
Lalu apakah gadis itu sudah tahu dengan kata-kata Cinta?
Ah, sudahlah!
Armada, Seorang Pria Muda yang sedikit mampu mencuri perhatiannya.
"Saya ingin seseorang yang bisa dipercaya tentang urusan pekerjaan dan pribadi saya." Pembicaraan Dihyan mungkin mulai serius.
"Kamu bisa kan?"
"Siap pak!"
Lagi Dihyan mengangguk saat menerima jawaban tegas pria itu.
"Kamu bereskan barang-barang mu!" Dihyan berkata dengan lembut lalu menunduk.
Kalimat singkat itu mampu membelakan mata Armada.
Ia dipecat.
Ia dipecat.
"Bilang sama Ghea untuk membuatkan kamu surat mutasi!"
Puffft, tak jadi dipecat. tapi mau kasih ke mana?
"Saya sudah bilang sama Ghea untuk menyiapkan meja kerja di sampingnya. itu tempatmu!"
Lagi-lagi pria muda itu terkesiap mendengar ucapan dari bosnya.
Dirinya dipindahkan ke lantai atas? sebagai apa?
"Paham?"
"Siap Pak!" Jawabnya menghentak, yang sebenarnya adalah ia terkejut mendengar perintah demi perintah.
"Kamu boleh keluar!" Dihyan.
"Baik Pak!"Pemuda itu mengangguk lalu membalik badan keluar dari ruangan.
Berdiam diri di balik pintu, memikirkan apa yang harus ia kerjakan saat ini.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Pertanyaan Ghea yang mampu menarik pikirannya yang tengah berkelana.
Berjalan menghampiri Gea dengan wajah kaku dan bingung.
"Kak, Pak dihyan bilang, emm,... buatkan,... disuruh buatkan surat mutasi untuk bagianku." Armada.
Masih sedikit bingung hingga kalimat yang tersusun sedikit amburadul.
"Maksudnya surat mutasimu?" Gea.
"I-iya kak." Armada sambil menganggukkan kepala sopan. Wanita di hadapannya ini memiliki status yang lebih tinggi darinya. Dari segi umur pun, Ghea lebih tua meski hanya beberapa tahun.
"Mutasi ke mana?" Ghea mulai mengetik, belum mempersilahkan pria itu duduk.
" Nggak tahu juga Kak."
"Kamu gimana sih? Tadi kan masuk ke ruangan bos, trus tadi bos bilang apa?"
Armada terdiam, tadi bos memang tidak bilang padanya akan mutasi ke bagian mana.
"Tadi bos bilang, katanya kakak, maaf. Disuruh menyiapkan meja, ... untuk saya."
"Oh, mungkin yang ini!" Ghea sambil mukul meja di samping meja kerjanya. Nampak semua telah siap dengan komputer dan perlengkapan kerja lainnya.
Armada mengerti, entah ia sebagai apa nantinya. Sekretaris sudah ada, pun dengan Asisten Pribadi.
Setidaknya tempat kerjanya juga sudah jelas.
"Kak, say pamit sebentar. Mau membereskan barang di bawah dulu."
"Hemm," Ghea tanpa memandangnya, wanita itu telah sibuk dengan jari yang menari di atas keyboard.
Selang beberapa waktu, Pria muda itu kembali muncul dengan sekotak barang bawaan dan tas punggunnya.
Perlahan mendekat, meletakkan barang-barangnyapu dengan sangat pelan. Takut mengganggu pekerjaan sang sekretaris bos.
Pria itu telah selesai menata barangnya, namun gadis di sampingnya masih saja sibuk dengan pekerjaan tanpa menghiraukan dirinya.
Bingung apa yang harus ia kerjakan kini.
Bertanya? Takut menganggu.
Pria itu hanya diam sambil menatap gadis di sampingnya.
Tangan telah berada di atas keyboar, tapi entah apa yang harus ia ketik di sana.
Sesekali pandangan matanya menyeberang ke meja samping.
Apa memang sekretaris itu semua cantik-cantik yah?
"Kamu kenapa?" Gea dengan sedikit sinis. Ditatap lumayan lama oleh seorang pria, nyatanya membuatnya salah tingkah.
"Saya kerja apa kak?" Tanya sungkan.
"Memang pak bilang apa sih? Memang pak bos bilang apasih sama kamu? Ngasih perintah setengah-setengah. Heran deh. Kamu juga, bukannya bertanya sama bos kerjaannya apa, eh malah tanya aku. Aku juga tau mau kasih kerjaan kamu apa."
Sebagai orang merasa terancam posisinya, rasanya Gea ingin pelit sedikit. Merasa tak rela berbagi pekerjaan dengan pria muda ini.
Biarlah nanti mereka kelabakan sendiri tanpa dirinya.
Ia ingin sedikit saja merasakan dihargai, dicari karena pekerjaan penggantinya kurang memuaskan.
Armada meringis mendengar omelan wanita cantik itu.
Mungkin ia telah mengganggu konsentrasi sang sekretaris.
"Kenapa Ge?" Reno menghampiri keduanya.
"Emm, ini pak. bisa minta tolong berikan job desk untuk dia nggak?" Wajah sedikit memelas, berharap Reno mau memberikan sedikit pekerjaan untuk pria muda itu. Setidaknya untuk sementara posisinya aman.
Reno mencibir dengan kedua bahu terangkat, Untuk masalah ini ia sedikit cuek. Ia tak tahu ada staff baru yang bosnya pekerjakan.
Setikit tak ambil pusing, pun karena ia merasa tak kan selamanya berada di sini.
Ingat Rima menanti di sana.
"Kamu ke bawah, minta laporan tiap-tiap devisi, terus kamu periksa buat rapat bulanan!"
"Baik pak!" Armada dengan sigap berdiri dari duduknya. Mengangguk sebentar sebelum berlalu demi mengerjakan tugas yang Reno perintahkan.
"Bereskan?" Tanya Reno pada Ghea.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...