
“Kamu tau kenapa Rima memilih menikah secara mendadak?” Pak Malik sembari menatap Tio.
Karena tak kunjung menjawab Pak Malik memilih menjawab sendiri, “Karena Rima takut sama kamu.”
Tio hanya mampu menundukkan kepalanya. Mungkin ada benarnya, karena ulahnya Rima menjadi takut padanya dan memutuskan untuk menikah secara dadakan hanya untuk menghindarinya.
“Lalu aku harus apa pah?” Tio.
Rasa sakit, shock, sesal dan merasa terabaikan kini beradu menjadi satu dalam kepimilikan dadanya.
“Ya, mau apalagi. Lupakan dia dan carilah yang lain!” Pak Malik.
“Tapi aku mencintainya pah!” Ucap Tio lagi.
Frustasi namun tak mampu berbuat apa-apa. Orang yang ia cintai memilih menikah dengan pria lain hanya untuk menghindarinya.
Oh sungguh alasan yang begitu memalukan bagi seorang Arsetiio Handoko.
Tampan, cerdas, berwibawa, dan kaya. Apa semua itu masih kurang untuk seorang Rima?
Hah, ayahnya saja sudah bangkrut, mau andalkan apalagi gadis itu? Semua imajinasinya sedang berputar mempertanyakan tentang alasan Rima menolaknya
“Kamu bayangkan saja Rima tidur bersama pria lain! Apa kamu masih mau dengannya?” Pak
Malik.
Hahahaha..... Benar juga. Rima telah menikah, ya pasti mereka tidur bersama kan?
Hah, membayangkannya saja sungguh tak mampu.
Harusnya ia lebih mendekati Rima dengan lembut. Bukankah ia begitu karena tau jika Rima dekat dengan si pria mawar merah.
Ah. Tidak ada gunanya menyesal. Biar bagaimanapun Rima tak mencintainya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dua bulan pernikahan Dihyan dan Rima.
Dihyan baru saja berangkat ke kantor saat Rima masuk ke kamar untuk mengantar makanan dan obat untuk Nindy.
“Mbak makan dulu yah!” Rima mencoba membantu tubuh Nindy agar bisa duduk bersandar di head bed. Nindy berusaha tersenyum tapi kembali meringis menahan seluruh sakit di tubuhnya.
Menatap Rima yang terus berusaha tersenyum sambil melayaninya dengan cekatan.
Adanya Rima mungkin membawa warna baru di dalam kehidupannya. Tapi tak bisa dipungkiri, ada setitik rasa sesak dalam hatinya ketika mengingat Rima sebagai istri kedua Dihyan, suaminya. Dengan kata lain adalah madunya.
Ia sangat menerima itu, selama Rima mampu memberi kebahagian pada Dihyan. Betapa ia
sangat mencintai suaminya itu. Menepikan perihnya hati demi kebahagian sang suami.
Tapi melihat interaksi kedua, mungkin bahagia belum bisa disematkan pada Rima dan
Dihyan.
Nindy, menjadi salah satu jurang pemisah antara Dihyan dan Rima. Ia tau Dihyan sangat
mencintainya, dan suaminya itu belum bisa menerima Rima sebagai istrinya.
Dengan bertahan seperti ini hanya semakin membuat suaminya kesulitan.
Kesulitan dari segi biologis.
Iapun tak ingat kapan terakhir kali memberikan Dihyan nafkah batin. Merepotkan suaminya dengan sakit yang dideritanya.
Ia tak boleh terus memenjarakan Dihyan dalam cintanya.
__ADS_1
Dihyan harus bahagia.
Dihyan punya Rima.
Rima panik saat melihat tubuh Nindy yang kejang-kejang.
Segera mengambil ponselnya yang baru saja diletakkan di atas meja dan segera menghubungi Dr. Elina.
“Dok, tolong! Tolong Mbak Nindy!” Rima.
“Kenapa?”
“Kejang Dok! Minta ambulans dok. Cepat!”
“Lama! Kamu saja yang langsung bawa ke RS. Ada mobil gak?”Jawab dari seberang sana.
Ia tak mesti menjawab pertanyaan itu, justru langsung berlari keluar kamar sambil berteriak memanggil para art ,”Biiiii, bi Titin!”
“Biiiii, Bi Lia.” Suaranya semakin keras karena tak mendapat tanggapan dari teriakannya yang pertama.
Panik membuat napasnya memburu.
Gelagapan. Tak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.
Berlari ke sana-ke mari menuju ke beberapa titik rumah yang di rasanya dapat menemukan satu orang saja untuk bisa membantunya. Sambil terus berteriak memanggil-manggil nama para art satu-persatu.
"Bi Titinnnn."
"Bi Lia. Tolong!"
Memilih keluar di kebun samping memanggil pak Dodo, ketemu.
Mengarahkan pria itu untuk menggendong Nindy menuju ke mobil.
Bersamaan dengan munculnya Bi Titi. Jadilah sekarang mereka membawa Nindy dengan Rima yang menjadi sopir, sementara Bi Titi mendampingi Nindy di bangku belakang.
"Mbak buka matanya mbak!" Ucapnya lagi.
Air telah tergenang di pelupuk mata.
Tak lagi mampu berpikir positif.
Jika sesuatu terjadi pada Nindy, apa yang harus ia katakan nanti pada Dihyan?
Saat mereka tiba di RS, telah siap beberapa tenaga medis menjemput, yang dipimpin Dr. Elina.
"Aku ikut!" Ucapnya sebelum pintu pemeriksaan ditutup.
Rimapun turut masuk ke ruang pemeriksaan namun dengan tangan yang tak berhenti gemetar menandakan paniknya belum juga reda, membuat Dr. Elina menyuruhnya keluar.
Bahkan dengan bantuan tenaga lain yang harus menggiring Rima keluar ruangan karena ia bersikeras tetap berada di sana.
Ini mungkin bukan yang pertama bagi Rima menghadapi pasien kritis tapi dengan Nindy
sebagai istri dari suaminya, membuat kepanikannya semakin memuncak.
Berjalan mondar-mandir di depan pintu sambil menunggu pemeriksaan.
Lalu duduk dengan kedua tangan menutupi wajah. Berusaha menyingkirkab segala pemikiran buruknya, namun tak bisa.
Perasaan itu terlalu nyata baginya.
Tak lama ruang itupun terbuka, dengan memunculkan Dr. Elina di balik pintu yang menatapnya tenang.
Membuat ia berdiri, melangkah ke depan.
__ADS_1
“Dok?” Hanya itu yang keluar dari mulut Rima, tapi dokter itu langsung mengerti dengan apa yang akan dikatakan.
“Kamu tau jawabannya.” Dr. Elina sambil mengusap pelan lengannya, “Kita terlalu memaksakan diri!”
Ya, mungkin mereka terlalu memaksakan diri, membawa jasad tanpa roh masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Atau mungkin mereka memang hanya memastikan jika Nindy memang telah pergi.
Bahkan setelah mendengarkan itu Rima masih belum bisa menerima kenyataan.
Rima menjatuhkan dirinya, membuat lututnya mencium lantai keramik putih dengan keras.
“Non!” Bi Titi berusaha mengendalikan tubuh Rima dengan memeluk lengannya, menuntun ke arah kursi tunggu.
Pandangannya lurus ke depan namun tampak kosong. “Apa yang harus ia sampaikan pada pak Dihyan?”
Baru saja memikirkan orang itu, sosoknya kini telah berdiri di samping Rima dengan napas
ngos-ngosan. Bisa dipastikan dia orang itu baru saja berlari.
Sambil mengatur napasnya, Dihyan menatap Dr. Elina yang masih berada di depan pintu dan berkata, “Bagaimana?”
Dr. Elina hanya menggelengkan kepalanya sembari menatap nanar pada Dihyan. Dihyanpun hanya mampu terdiam dan menghempaskan tubuhnya duduk di samping Rima.
“Maafkan aku, aku gagal!” Rima berkata lirih.
“Tak usah minta maaf. Ini sudah takdir, kita hanya bisa menerima.” Dihyan sambil mengusap pelan lengan atas RIma.
Syukurlah ia mau bijak menerima kenyataan ini.
Tapi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana perjalan pernikahan Rima dan Dihyan.
Dihyan pernah mengatakan akan melepaskan Rima saat keadaan Nindy semakin membaik. Tapi bagaimana jika Nindy justru pergi, meninggalkan mereka.
Suasana kembali hening, hanya suara isak tangis Rima yang sesekali menyusut hidung.
Dihyan hanya terdiam.
Ia tak menangis. Lihatlah alangkah tegarnya lelaki ini, ketika ditinggalkan oleh pendamping hidupnya.
Tak.
Tak.
Tak.
Suara serentetan kaki yang semakin mendekati mereka. Ada Diandra dan mama yang baru saja datang juga dengan napas yang ngos-ngosan setelah berlari.
“Bagaimana?” Tanya mama pada Dihyan.
Dihyan hanya menggelengkan kepalanya, tanpa menatap keduanya.
Mama mendekati Dihyan, berdiri tepat di hadapan dan meraih kepalanya masuk ke dalam pelukannya.
Sedikit demi sedikit terdengar isak tangis dari pria itu.
Di sinilah batas ketegaran seorang Dihyan, yang akhirnya juga melemah setelah mendapatkan tumpuan yang kuat, yaitu pelukan dari sang ibu.
Dihyan memeluk erat perut mama, semakin menenggelamkan kepalanya di sana. Dengan mama Cinta yang tak hentinya mengelus rambutnya dan sesekali mencium pucuk kepalanya, justru semakin terdengar tangis pilu dari pria itu.
“Kamu yang sabar ya!” Mama masih terus mengelus pelan rambut putranya.
“Mungkin ini lebih baik untuk Nindy, setidaknya di sudah tidak merasakan sakit lagi.”
Entah berapa lama mereka semua terhanyut dalam suasan sedih, sakit di tinggal salah satu
anggota keluarga.
__ADS_1
“Bagaimana Bisa?” Suara wanita yang sangat lantang.