
Andra memilih memasuki ruang kerja kakaknya untuk berbicara hal yang penting menurutnya. Melihat sikap Dihyan yang sedikit melemah pada Rima tak bisa ia biarkan.
“Ada apa?” Tanya Dihyan saat melihat kepala adiknya yang sedang mengintip dari balik pintu.
“Aku mau bicara. Bisa?”
“Hemm, masuklah!” Dihyan setelah melirik adiknya.
Perlahan melangkahkan kaki mendekat kemeja kerja sang kakak.
“Kakak tau?” Andra mulai menjalankan misinya tanpa di persilahkan.
“Apa?” Dihyan mungkin sedikit penasaran.
“Rima membujuk mama untuk melegalkan pernikahan kakak dan Rima.”
Sayang, Dihyan tak menanggapnya masih betah dengan matanya yang tertuju pada laptopnya, mungkin itu tak terlalu penting baginya.
“Kakak tau kenapa Rima bersikeras melegalkan pernikahan kalian?”
“Memang kakak percaya sama Rima?”
“Rima tuh, licik kak. Genit, centil, aku tak terlalu yakin kalau dia gak punya simpanan di luar. Emm, teman kerja mungkin.”
Dilihatnya raut wajah Dihyan mulai berubah, rahangnya mengeras dengan hembusan kasar keluar dari hidungnya.
Meskipun pria itu tak membalas semua ucapan Andra dan masih sibuk dengan aktifitasnya sendiri.
Andra harus berusaha lebih giat lagi.
“Trus matre lagi! Kalau kalian nanti berceraikan dia juga bisa minta harta gono-gini dari kakak. Untung di dianya kan? Enak aja, baru masuk juga minta gono gini.”
Yang sebenarnya Rima sama sekali tak pernah membicarakan hal tersebut, bahkan untuk memikirkan itu saja tak pernah terlintas.
"Padahalkan baru sebulan lebih Kak Nindy pergi." Suaranya perlahan melemah, mengharapkan simpati dari kakaknya.
" Dia Seenaknya saja mau ngambil posisi Kak Nindy."
Yes berhasil.
Dihyan terlihat memejamkan mata dengan eratnya.
menyebut nama mendiang sang istri tentu saja menarik perhatian Dihyan.
“Kalau kakak,........” Andra masih berusaha meniup bara api di dada kakaknya dan sepertinya berhasil. Karena belum lagi ucapannya selesai Dihyan telah berdiri dari tempatnya meninggalkan Andra sendiri dalam ruang kerjanya.
__ADS_1
Tak lupa gebrakan pintu yang baru saja ia tutup, membuat Andra terhentak karena kagetnya. Tapi setelah itu ia cekikikan sendiri melihat bara yang tadi ia tiup kini telah berbuah menjadi nyala api yang tengah berkobar.
Sekali lagi ia berhasil.
Dihyan keluar dari ruang kerjanya hendak menghampiri Rima di kamarnya. Tapi sang istri justru terlihat berjalan dari luar yang berarti ia baru saja pulang.
Dari mana? Ini bahkan telah lewat makan malam. Terlintas ucapan Andra, “Rima tuh, licik kak. Genit, centil, aku tak terlalu yakin kalau dia gak punya simpanan di luar. Emm, teman kerja mungkin.”
Dihyanpun tak memungkiri jika Rima memang centil dan genit, bahkan itu terlihat saat dirinya belum menjadi suami dari gadis ini. Apa benar istrinya ini punya simpanan?
Bahkan penampilan yang terkesan sepsi itu seolah mengatakan Rima wanita seperti apa. Dan sangat mustahil untuk mengatakan bahwa gadis ini tipe setia.
Rima berhenti tepat di ujung tangga hanya melihat tatapan tajam Dihyan yang tersorot padanya.
“Memangnya kamu perempuan seperti apa, pulang malam-malam begini?”
“Kamukan tau pekerjaanku seperti apa? Kadang kala harus tinggal karen keadaan genting."
Inginnya Rima cepat-cepat berlalu dari sana. Tapi Dihyan yang berada tepat di hadapannya menghalangi jalan.
Apa iya harus terus berjalan sambil menyenggol keras lengan Dihyan, seperti di adegan-adegan novel atau film saat seseorang sedang kesal. Hingga membuat musuhnya nya menyingkir secara terpaksa.
Hahahaha....
" Genting, Genting seperti apa?" Badan tegak kedua tangan telah bertumpu di pinggang.
"Genting karena ada lelaki kaya? Atau genting karena ada lelaki yang tampan?" ucapnya dengan sorot mata tajam.
Sementara Rima hanya mampu mengerutkan keningnya sendiri. Dasar pria ini, emosi tapi tak tahu apa yang menjadi bahan emosinya.
mungkin pengaruh stres karena terlalu banyak pekerjaan.
bertahan di sini tak ada baiknya untuk dan masa depannya. hanya terus menjadi Bulian dan pelampiasan amarah saja.
sebiji kebaikanpun rasanya tak ada.
ditambah lagi tugasnya setelah selesai. jadi tak ada alasan untukny bertahan lebih lama di sini.
“Ceraikan aku!” Pintanya dengan menutup mata. Tangan kanan menggenggam erat tali tas nya.
Tapi entah kenapa Dihyan justru tertawa. Apa ada yang lucu? “Cerai?” Tanyanya.
"Hahahahaha, cerai kamu bilang?"
"Hahahahaha...." Suara tawa itu kembali menggelegar. Mengisi penuh gendang telinga.
__ADS_1
Bahkan kepala sampai mendongak keatas hanya karena tawanya.
“Setelah apa yang kamu lakukan pada istriku kamu ingin pergi begitu saja, hah?”
“Lalu apa yang ingin kau katakan pada ayah dan kakakmu?”
“Mau bilang kamu telah berhasil membunuh Nindy dan ketahuan jadi kita bercerai?”
Tawa yang tadi menghilang berganti dengan kata demi kata yang diucapkan dengan nada tinggi. Emosi kian memuncak.
“Aku tidak mem6unuh mbak Nindy.”
Geram juga terus menerus dituduh membunuh terlebih lagi Nindy adalah pasiennya
yang cukup lama ia tangani. “Kenapa tidak lakukan autopsi pada mbak Nindy!”
“Hah, sudah baik aku tak melaporkan kamu ke polisi. Kamu menyalah gunakan profesi dan ilmumu.”
“Aku tidak pernah berbuat apa-apa pada mbak Nindy apalagi harus menyalah gunakan ilmuku.” Rima pun terbawa emosi dan ikut meninggikan suarnya.
Enak saja pria itu berkata sedemikian.
Apa untungnya juga bagi Rima? Itu akan mengancam profesinya saja.
“Lalu kamu mau aku percaya?” Dihyan yang semakin sinis.
“Kenapa tidak lakukan visum pada mbak Nindy?”
“Visum? Yakin?” Dengan tatapan sinis pada Rima. “Kamu bisa melakukan apa saja pada Nindy termasuk menghilangkan jejak.”
“Aku benar kan?” Dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
Ahhhh, percuma saja memberikan penjelasan pada orang yang terlalu membencinya. Sekalipun benar, orang itu hanya akan terus menyalahkannnya.
“Percuma sekolah tinggi-tinggi tapi ilmu gak di pake.” Rima saat hendak berlalu dari hadapan Dihyan.
mengambil jalan di sebelah tubuh Dihyan. tak berani menyenggol lengan itu.
“Kau menghina suamimu?”
“Suami?” Langkah terhenti mendengar Dihyan menyebut dirinya sebagai suami di hadapannya.
Mau apa lagi pria ini? padahal selama ini tak pernah ada kata serius pada pernikahan mereka.
"Ya, aku suamimu, dan kamu harus tetap patuh pada suamimu, AKU!" Telunjuk berada ke arah dada sendiri.
__ADS_1