Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Cerita Sepiring Berdua


__ADS_3

“Eh, pengantin barunya udah turun, cowoknya mana?” Seorang wanita berjilbab syar’i.


“Gak tau mbak. Ini juga lagi nyari!” Pikirannya mulai kalut, bagaimana jika ternyata Reno meninggalkannya semalam, malam pertama pernikahan mereka yang harusnya begitu indah namun terlewati begitu saja.


Entah mengapa otaknya mengatakan jika Reno sedikit terpaksa menikahinya. Kejadian semalam rasanya cukup membaca perasaan Reno padanya. Perasaan yang bukan tertuju padanya.


Tapi kenapa harus nama Rima lagi yang berada di antara mereka?


“Ya udah, aku ke dapur mau bantu-bantu yah!”


"Hah, I-iya kak!"


Terkejut, saat lamunannya di ganggu.


"Kamu kenapa? Ada masalah?"


"Eh, enggak kok. Ini mau, ... ke sana dulu!" Telunjuknya naik, entah mengarah ke mana sesungguhnya.


"Mau cari Reno dulu, hehehe!” Andra berjalan ke belakang melewati dapur dan terlihat beberapa wanita tengah mempersiapkan sarapan pagi.


Dari tempatnya berdiri saat ini, telah nampak di teras belakang beberapa pria dewasa tengah bercengkrama tapi


Matanya belum menangkap sosok yang ia cari hingga ia terus melanjutkan langkahnya sampai ke pintu, “Pa Reno mana?”


“Cie, cie, Reno pengantin kamu lagi nyariin!” Pak Herman telah tiba di rumah itu, pakaian olah raga menempel di tubuh. Sesuai janji Pak Cakra semalam, hari ini mereka akan berolah raga golf bersama, sambil menatap ke arah taman.


Dimana Reno tengah berdiri dengan memegang selang di tangannya guna menyirami tanaman bersama pak Mumun.


“Biasalah pengantin baru, gak bisa jauh-jauh!” Ayah.


Reno hanya menyinggung senyumannya kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya.


Daripada jadi bahan bulyy-an Andra lebih memilih masuk dan bergabung bersama para wanita di dapur meskipun sejujurnya ia tak terbiasa di dapur. Hari-harinya yang penuh dengan kesibukan membuatnya jauh dari jangkauan tempat paling ribet di dunia itu.


“Beres!”


“Kamu panggil yang lain yah!” Perintah mama yang ditujukan pada Andra yang sedari tadi hanya bisa melihat kegiatan di dapur.


“Sarapan dah siap!” Andra saat sudah berada di ambang pintu.


Sementara Reno baru saja membersihkan tangannya yang terlihat sedikit kotor.

__ADS_1


Papa Cakra, Ayah Azzam, abang telah berlalu masuk ke ruang makan, Diandra masih berdiri menatap Reno sambil menunggunya mengeringkan tangan dan kakinya.


“Ayo!” Hanya kata itu yang terdengar tanpa ada uluran tangan, membuat Andra berinisiatif meraih tangan dingin itu.


Tak ingin semua beranggapan negatif, Reno tak berusaha menenis.


Bersamaan dengan suara salam dari luar, Keluarga Dihyan yang baru saja memasuki rumah.


Semua telah berkumpul di ruang makan.


Ramai, sangat ramai, membuat mereka melupakan konflik cinta segiempat yang terjalin antar mereka.


"Waaah, rame yah!" Dihyan yang telah bergabung bersama mereka.


"Kalian aja yang ngilang semalam," Nusaibah.


"Oh iya, Rima kenalin ini Kak Nus, ayah, ibu, nenek sama Mashita. Ayah itu sepupunya mama." Dihyan memperkenalkan keluarganya pada sang istri yang memang baru bertemu pertama kali.


" Waktu kamu pergi, aku tinggal sama mereka." Ucapnya lagi, matanya memandang lekat pada wajah sang istri hendak melihat ekspersi apa yang tercipta di sana.


"Oh iya, waktu kamu pergi dia tuh sedih banget tau gak. Uring-uringan kayak, ..."


Nusaibah tak mampu melanjutkan kalimannya saat mendapat teguran dari abang yang ikut duduk di sampingnya.


"Ngak pa-pa kali bang, biar Rima tahu kalau suaminya itu sangat kehilangan waktu dia minggat. Itu artinya Iyyan sangat mencintai istrinya."


"Jangan pergi lagi yah!" Pintanya dengan senyuman dan tatapn lembut pada Rima.


Rima turut tersenyum.


Kata cinta seolah ingin ia tapik sejauh mungkin.


Itu bukan cinta kak, dia hanya ingin anak dariku,


Kata hati yang mampu mengiris senyummannya.


Sementara Reno hanya menunduk di tengah percakapan itu.


Panas.


Panas sekali telinga itu mendengarnya.

__ADS_1


Acara sarapan pagi yang sedikit terlambat karena saling tunggu akhirnya mulai berjalan.


Di sebelas sana, nampak sebuah keluarga kecil yang mampu menyita perhatian.


Sang suami yang nampak gagah dengan postur tegap sedang menyuapi sang istri dengan pakaiannya yang syar’i menutup semua permukaan tubuhnya menyisakan tangan dan wajah.


Sepiring berdua dan hanya menggunakan tanggannya sang suami terus menyuapi dirinya sendiri lalu berganti menyuapi istrinya. Sementara istrinya bertugas memperhatikan anak-anak mereka yang juga sedang makan.


Pun dengan Rima. Netranya memandang lekat ke arah itu, ada binar bahagia melalui pancaran mata dan senyum yang tanpa sadar ia ciptakan.


Mungkin memang seperti itu jika pasangan yang menikah dengan cinta.


Hangat sekali, dan bikin iri.


Raut wajah Rima mampu terbaca dengan pasti oleh DIhyan.


Pria itu turut menyodorkan sendok yang berisikan nasi goreng ke mulut Rima yang spontan membuka mulutnya.


“Lagi yah!” Pinta Dihyan.


“Gak usah kak! Malu” Rima kali ini ia menolak, padahal sudah masuk beberapa suapan langsung dari tangan Dihyan.


Aaah, bodoh sekali dirinya yang tak sadar disuapi oleh sang suami. Merutuki dirinya sendiri.


Pasalnya di sini bukan hanya ada mereka berdua, tapi seluruh keluarga dan juga,


Reno.


Andaikan saja ada sedikit rasa cinta di diri Rima, mungkin ia takkan menolak, tapi kisah mereka sangat jauh berberda dengan sepasang suami istri yang sedang makan sepiring berdua di sebelah sana yang seolah tak memperdulikan pandangan orang lain terhadap mereka.


Justru itulah yang bisa ditunjukkan oleh sang suami, tentang rasa cintanya pada istrinya.


“Kakak tau gak, waktu pertama kali liat abang lagi suapin mbak, Kak  Iyan nangis loh!” Ucap gadis manis yang tadi diperkenalkan dengan nama Mashita, yang ditujukan pada Rima.


“Anak kecil sok tau!” Dihyan berlagak jutek, berusaha menutupi raut merah di wajahnya.


“Iya, itukan waktu lagi pusing nyariin mbak yang lagi pergi karena...,” Kalimatnya terpotong saat Dihyan membekap mulutnya dari belakang.


Ck, apes sekali Dihyan hari ini.


Semua rahasianya di masa lalu mungkin akan terbongkar oleh ulah keluarganya ini, termasuk dua bersaudara itu.

__ADS_1


__ADS_2