Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Calon Istri


__ADS_3

“Bu, ibu liat cewek yang di sini gak?” Reno menunjukkan sofa di ruang tamunya dengan sedikit panik.


“Oh, di dalam lagi sholat,” Ibu dengan santainya tak menghiraukan raut wajah Reno yang kembali menunjukkan wajah terkejutnya.


“What Rima sholat? Gak salah nih? Cewek seksi kayak dia bisa sholat juga?” Benaknya sedang memikirkan kebenaran dari kalimat ibunya.


Ya bisalah! Apapun gaya mu, harus tetap sholat! Karena sholat adalah kewajiban setiap muslim/muslimah.


Reno berjalan mengikuti ibunya menunjukkan ruangan yang di pergunakan Rima untuk sholat.


Dan di sana nampak seorang wanita yang tubuhnya tertutup oleh  mukena berwarna putih telah sujud mencium lantai yang dilapisi oleh sebuah sajadah panjang di hadapan sang pencipta.


Sekilas senyum lelaki itu mengembang, entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Ia sangat betah menatap sang gadis hingga tepukan di pundaknya membuyarkan lamunan dan senyumannya.


“Kenapa?” Sang Ibu yang turut menatap Rima, berganti menatap putranya yang sedang tersenyum penuh arti.


“Paskan buat calon istri?” Reno berbisik sambil memainkan alisnya menatap sang ibu.


“Memang dia mau?” Pekikan sedikit tertahan, berusaha agar obrolan mereka tak terdengar oleh gadia cantik itu.


“Ya, doain aja bu! Ini juga baru usaha.” Reno kini merangkul pundak ibunya, menunjukkan wajah penuh harap.


“Iya, semoga dapat jodoh yang baik yah!” Memberikan senyuman penenang jiwa disertai dengan elusan di lengan putranya.


Mereka meninggalkan Rima yang tengah menengadahkan tangannya sambil memanjatkan doa pada Sang Khaliq.


Setelah melaksanakan kewajibannya, Rima menghampiri Reno dan ibunya di ruang tamu. Masih dengan rasa canggung.


“Diminum dulu nak!” Ibu Reno.


“Iya bu, terima kasih." Kembali menundukkan kepala pada ibu.


"Pak, habis ini bisa langsung pulang kan?” Kini berbalik menatap Reno yang sedari tadi menyumbangkan senyuman manisnya. Rimapun tak tahu mengapa senyuman pria itu seolah tak pernah pudar sejak ia kembali ke ruang tamu.


“Ayah nungguin, dia tau kalau hari ini saya pulang.” Hanya menegaskan, karena sesungguhnya ia sudah sangat ingin pulang ke rumah.


“Abis ini kita pulang, habisin minumnya dulu!” Reno masih bertahan dengan senyuman di wajahnya.


Setelah menghabiskan teh yang telah dibuat ibu merekapun pamit.


“Yang tadi itu, ibu bapak?” Rima membuka pembicaraan di mobil.


“Jangan panggil bapak dong! Umur kita gak


terlalu jauh kok!” Reno mulai menyalakan mesin mobilnya, “Panggil mas juga boleh!” Kembali menunjukkan senyumannya.


Rima mulai risih dengan senyuman itu. Meskipun terlihat manis, tapi sungguh ia tak tahu arti dari senyuman pria tampan itu.


Dan apa tadi? Panggil mas? Memangnya dia siapa?


Hemmm, maunya sih.


Untuk sebagian orang membawa wanita ke rumah sesuatu hal biasa, tapi untuk sebagian

__ADS_1


yang lain adalah hal yang sangat istimewa.


Entah Rima harus menganggap ini biasa atau istimewa? Ia benar-benar tak bisa mengartikan semua ini.


“Hehehe, panggil kakak aja boleh?” Rima mulai menawar.


“Yah itu juga lumayan!” Sebentar menghadap ke arah samping tempat Rima duduk, kemudian kembali menatap jalanan di depannya.


“Ibu pak Reno baik yah?” Rima hanya berusaha membuat ruang tak terlalu canggung.


“Kenapa? Mau jadi menantunya?” Reno enteng.


Sementara Rima langsung diam memandang keluar jendela.


Rasa canggung justru semakin menyelimutinya. Pasalnya, mereka tak terlalu dekat selama ini. Mereka tak saling menyapa saat bertemu di rumah Dihyan. Hanya sebatas melemparkan senyum sebagai sapaan.


Meskipun terkenal centil, tapi untuk berhadapan dengan pria yang lebih dewasa wajib diwaspadai bukan? Meskipun genit, tapi Rima memutuskan untuk tidak pacaran demi kebebasannya.


Ia tak ingin dikekang dengan berbagai macam peraturan aneh bin ajaib hanya dengan dalil cemburu.


Dan di sinilah sekarang mereka berada. Sebuah restoran yang tidak terlalu mewah.


Bahkan dengan gajinya sendiri sebagai dokterpun masih bisa untuk membayar makanannya.


“Kan bisa bawa aku pulang dulu, setidaknya untuk mandi dan ganti baju seperti dia. Dia pasti baik-baik saja, sementara aku? Ugh, gerah! Pakaian ini sejak pagi menempel di badan. Pasti sedikit ada bau acem-acemnya.” Gerutu Rima dalam hati.


Setelah makan malam bersama, Reno mengantar Rima hingga tepat di depan rumahnya, bahkan sampai ke depan pintu rumahnya.


“Pak, maaf gak bisa ngajak bapak masuk!” Ucap Rima penuh penekanan seolah menginginkan agar Reno cepat-cepat angkat kaki dari sana.


Pintu terbuka menampakkan sosok Romi dari dalam sambil berkata, “kenapa gak masuk?”


Karena sedari tadi dirinya mendengar obrolan dari luar, tapi tak kunjung mendengar ketukan pintu membuatnya berinisiatif membuka pintu sendiri dan di depannya telah berdiri Rima dengan seorang pria tampan.


Rima dengan pria selain Tio?


Tio yang tak gentar mendekati Rima, meskipun telah beberapa kali di tolak.


Romi mengenal Tio dengan permasalahan yang pernah melilit Rima dengan Diandra yang merupakan sahabat adiknya itu. Selain itu, Rima tak pernah membawa lelaki lain ke rumah malam pula?


Hemmm, mungkin ia harus memberikan restu pada pria ini, daripada membiarkan Tio terus mengganggu adiknya.


“Masuklah! Jangan lupa buatkan minum buat tamumu,” Romi sambil membuka pintu lebar-lebar.


Yes, lampu hijau untuk Reno. Selamat!


“Tapi kak!” Sedikit ingin protes.


“Yah! Rima bawa cowok!” Romi sedikit berteriak mengadu pada ayahnya yang masih berada di ruang keluarga seraya menunggu kedatangan Rima yang ia ketahui memang akan pulang hari ini.


Astaga! Apa yang dipiran kakaknya ini?


Dengan berat hati Rima mempersilahkan Reno masuk ke rumahnya dan menyuguhkan teh hangat.

__ADS_1


Di temani sang ayah yang nampak menerima kehadiran Reno dengan hangat sehangat teh yang disuguhkan oleh Rima.


Diawali dengan perkenalan diri, hingga bincang-bincang hangat lainnya seperti keadaan keluarga dan pekerjaan.


Ketiga kaum Adam itu itu telah terlihat akrab. Hingga saat Romi pamit untuk pulang, kedua bersaudara itu turut mengantarkan hingga ke teras.


“Astaga!” Rima sambil menepuk jidatnya sendiri, saat mobil Reno telah meninggalkan kediamannya.


“Kenapa?” Romi.


“Motorku!” Rima baru saja teringat dengan motornya yang stand by di Rumah Nindy.


“Kelamaan pacaran,” Romi sambil menjepit leher Rima dengan lengannya.


“Dia bukan pacarku kak!” Mencoba melepaskan diri.


“Trus siapa? Tio?”


“Bukan juga, ih,” Rima masih berusaha melepaskan diri dari kakaknya yang tak henti menggodanya.


“Aku lebih dukung kamu sama yang tadi, siapa namanya?” Romi dengan menarik adiknya masuk ke dalam rumah.


“Reno, namanya Reno,” Rima juga masih berusaha membebaskan diri dengan memukul-mukul lengan kakaknya.


“Romi, Rima dan Reno kalau di kumpulin kita bisa jadi saudara yah? Saudara ipar maksudnya. Hahaha!” Romi baru melepaskan kepala Rima ketika mereka telah sampai di depan pintu kamarnya.


Dan meninggalkan Rima yang memberenggut kesal setelah sebelumnya ia hujani dengan kecupan manis di seluruh wajah gadis itu.


Bukan kecupan manis, tapi jorok karena sesekali Romi sengaja membasahi bibirnya lalu mendaratkan di wajah Rima hingga meninggalkan jejak basah pada kulit mulus itu.


Tepat seminggu yang lalu Reno mengantar Rima ke rumahnya, hari ini ia kembali mendatangi rumah itu guna menjemput gadis itu. Dan sekarang di temani sang ayah duduk di ruang tamu.


“Turun gak?” Suara pria.


“Gak!” Suara perempuan yang disertai dengan cekikikan.


“Turun!”


“Gak!”


Suara riuh itu dari dalam.


Tak lama kedua sosok itu muncul dari dalam. Romi yang berjalan sambil memutar-mutarkan badannya dengan Rima yang berada di punggungnya, berharap gadis itu mau turun dai punggungnya.


Tapi sepertinya Rima masih betah di punggun kekar itu. Terlihat dari kedua tangannya melilit di leher.


Sepasang kakinya juga melilit di pinggang kakaknya. Wajah gadis itu terlihat sangat ceria, dengan binar kebahagiaan yang terpancar jelas lewat sorot mata dan tawanya.


Romi berhenti setelah melintasi kain gorden sebagai penyekat dua buah ruangan. Keheningan seketika itu tercipta sebagai tanda keterkejutan dari segala penghuni ruangan itu.


Ayah yang melihat kedua anaknya yang sedang bermain gendong-gendongan serasa menahan malu dihadapan Reno sebagai tamunya saat ini, karena kedua anak itu bukanlah anak kecil.


Sementara kedua kakak beradik itu juga terkejut melihat sosok Reno yang sedang duduk di ruang tamu rumah mereka bersama ayah.

__ADS_1


Mereka benar-benar tidak mengetahui perihal kedatangan Reno ke rumah mereka.


__ADS_2