
“Kamu tunggu di sini! Aku akan ambilkan es batu dulu!” Reno berdiri, berjalan ke dapur.
Namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok pria yang tengah berdiri di tangga dan sedari tadi menatap ke arah mereka, memperhatikan semua yang terjadi di atara mereka.
Seorang suami yang menyaksikan secara langsung istrinya dipeluk oleh pria lain. Akh tidak, apakah dia benar-benar seorang suami?
Tatapan tajam mengarah ke arah Reno.
Dalam hati mengutuk tingkah bawahannya itu. Heh, ingin jadi pahlawan dia? Umpatnya dalam hati.
Bukannya takut, Reno justru memandang sinis pada bosnya itu. Di mana hati sang suami melihat istrinya di tindas oleh adiknya sendiri? Lelaki yang berstatus suami tersebutpun bahkan tak berusaha mencari bibit masalah diantara adik dan istrinya.
Tanpa kata ia kembali melanjutkan langkah. Dan kembali membawa sebuah wadah kecil berisikan es batu, dan selembar handuk kecil.
Dihyan masuk ke kamarnya langsung melemparkan tasnya kesembarang arah. Lalu melepas jasnya dengan paksa dan kembali melemparkannya dengan tenaga esktra. Ada yang berdesir di hatinya saat menyaksikan drama Reno dan Rima tadi.
“Dasar perempuan mur@h@n! Beraninya menggoda pria lain di rumahku. Kau liat saja hukuman apa yang akan kuberikan padamu hah!” Kembali melepas kemejanya dengan kasar dan melemparkannya.
Rasanya ada yang mendidih dalam hatinya. Meyakini diri jika itu bukan cinta. Hanya saja harga dirinya merasa diinjak-injak oleh Rima.
Dengan cekatan Reno mengompres tangan Rima yang tadinya mendapat hukuman dari Andra. Reno menekan-nekan pelan handuk yang telah membungkus beberapa butir pecahan es, lalu melilitkannya di tangan Rima.
Reno menggenggam tangan Rima, memberikan kekuatan pada gadis yang pernah singgah di hatinya.
Tak dinyana Rimapun membalas, menggenggam tangan Reno dengan tanganya yang satu.
Tangan mereka saling bertumbuk.
Pandangannya tunduk, tapi tidak dengan pria itu. Ia terus memperhatikan wajah sembab Rima.
Jika boleh ia ingin lebih lama berada di dekat gadis ini.
“Katakan saja kau tak bahagia, maka aku akan membawamu pergi sekarang juga!”Inginnya ia berkata seperti itu. Tapi lagi-lagi tak mampu.
Heh, ia memang pecundang sejati.
Saling menggengam namun tak ada kata yang terucap. Biarlah perasaan mereka hanya sebatas ilusi.
“Pergilah ke kamarmu!” Ucapnya lembut sambil menyelipkan rambut Rima di balik telinga.
Rima menganggukkan kepalanya, mereka saling melepaskan gengaman.
Rima beranjak dari sofa terlebih dahulu, berjalan menuju ke arah tangga.
Berbalik ke arah tempat Reno berdiam diri menatapnya.
Pandangan mereka kembali bertemu.
Pandangan yang menyiratkan cinta dan kesakitan.
Sakit, tak bisa saling memiliki. Meski hati saling terpaut satu sama lain.
Ingin rasanya berlari memelukmu tapi aku tau statusku sebagai wanita yang memiliki suami. Meskipun ia tak menganggapku sebagai istri.
Suara hati yang tak mungkin Rima ungkapkan.
Reno meninggalkan rumah bosnya setelah menyakini Rima telah masuk ke dalam kamarnya. Tanpa ia sadari nasib Rima sedang berada di ujung tanduk.
Baru saja Rima menempatkan tubuhnya di atas tempat tidur sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.
“Haus, bawakan air minum ke kamarku!”
__ADS_1
Tersenyum, meskipun sakit menyerang tubuhnya. Rima turun ke dapur guna memenuhi perintah Bapak Dihyan yang entah sekarang menjabat sebagai atasam atau suaminya.
Tok.
Tok.
“Masuk!” Suaranya terdengar sangat berat.
Rima berada di ambang pintu melihat ke dalam kamar dengan cat berwarna hitam putih itu, sedikit berantakan dengan potongan pakaian kerja pria yang berserakan.
Nampak pria itu duduk di sisi tempat tidur dengan dada polos. Sikutnya bertumpu di kedua pahanya yang sedikit di renggangkan. Kedua tangannya saling menggenggam, dan kedua bola matanya menatap tajam ke arah Rima.
“Letakkan di sana!” Sambil menunjukkan nakas di dekat tempat tidurnya hanya dengan matanya.
Seolah ragu bahkan enggan untuk masuk, Rima terpaku di pintu dengan tangannya yang mulia gemetar.
“Masuklah! Aku sudah sangat haus,” Nadanya sedikit lembut tapi tetap menyeramkan bagi seorang Rima.
Rima mencoba melangkahkan kakinya menuju ke nakas yang ditujukan oleh Dihyan. Dan meletakkan jar air minum, sayangnya tempat yang ia pijaki saat ini tepat di hadapan Dihyan yang sedang duduk.
Ingin segera meninggalkan kamar itu tapi belumpun ia berbalik, Dihyan segera bangkit dari duduknya dan merangkul pundak Rima.
“Bagaimana rasanya dipeluk?” Suara yang disertai hembusan napasnya tepat mengenai telinga Rima, hingga gadis itu merinding.
“Apakah pelukan Reno lebih enak dari pada pelukanku hem?”
“Apakah dia juga pernah menciummu? Bagaimana rasanya?”
Rima semakin menggigil ketakutan dan itu sangat nampak di mata Dihyan.
Rentetan pertanyaan itu terdengar seperti cambuk di telinga Rima.
Lebih menakutkan lagi karena rangkulan tangan Dihyan terasa sangat erat dan sedikit sakit.
Rima tak menjawab.
Jika ia jujur bahwa Reno pernah mencium bibirnya, maka semakin terancam pulalah dirinya kini.
“Kabur, aku harus kabur. Aku harus lari secepatnya!”
Rima melirik pintu yang masih terbuka. Menghitung jarak dirinya dengan pintu itu.
Apakah ia harus memukul Dihyan terlebih dahulu sebelum kabur dari sana?
Seolah tau maksud Rima, Dihyan melompat setengah melayang lalu menendang daun pintu, hingga pintu itu benar-benar tertutup dengan bunyi yang sangat keras tanpa harus meniggalkan Rima terlalu lama.
BRAKKK.
Suara pintu yang tertutup membuat Rima terhentak kaget. Bukan hanya itu, Dihyan mendorong tubuh Rima dengan kasar hingga membentur dindin. Tangan mencengkram dagu Rima dengan sangat keras.
“Apakah kamu lupa posisimu sebagai seorang istri hah? Apa kamu tidak tau jika suamimu ini menyaksikan semua yang kalian lakukan?”
Suara itu kini tak lagi terdengar lembut.
Namun keras menggelegar, mengisi setiap sudut kamar.
Rima hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala. Tak tahu bagaimana caranya membela diri.
Semua yang dikatakan Dihyan adalah benar.
Salah jika Reno menciumnya meskipun hanya di kepala.
__ADS_1
“Dasar tak tau malu, kalian bermesraan di rumahku hah!” Suaranya sangat tinggi, jika
boleh Rima ingin menutup telinganya.
Tapi tidak bisa, dia masih berusaha membebaskan diri dari cengkraman Dihyan dengan mata terpejam. Tak mampu melihat api kemarahan di wajah pria itu.
“Aku akan mengajarimu bagaimana cara menjadi istri yang baik.”
“ Pak jangan pak! Ampun!”
“Tolong lepaskan saya pak! Saya janji gak akan dekat dengan pak Reno lagi! Kami tidak ada hubungan apa-apa.” Rima masih memohon. Berusaha mengeluarkan suaranya.
Saat ini ia semakin merasa teramcam.
semoga saja Dihyan tak memberikan hukuman berat padanya.
“Kenapa?"
"Apa sentuhanku tidak enak? Tidak senyaman dia hah?”
“Aku punya hak lebih dari pada dia. Dia bahkan tak punya hak untuk menyentuh tanganmu sekalipun. Kau tau itu!” Semakin meninggi dengan tatapan masih melekat pada wajah Rima.
Dihyan menghempaskan tubuhnya dengan sangat keras. Meskipun pendaratannya di tempat yang sangat empuk tapi rasa sakit masih tetap terasa bahkan sakitnya menembus hatinya.
Dihyan terus menyerang Rima seolah menjelaskan tugas seorang istri yang belum mereka lakukan selama beberapa bulan pernikahan.
“Pak, maaf pak. Jangan pak!”
Masih berusaha melepaskan diri.
Jangan sampai Dihyan mengambil sesuatu yang sangat berharga dari dirinya. Maka hancurlah hidupnya.
Mimpinya masih panjang.
Pernikahannya dengan Dihyan tak bisa ia harapkan.
Mereka tak saling mencintai, bahkan cenderung saling menyakiti.
Setelah berpisah dari Dihyan nantinya, ia berharap bisa mendapatkan suami yang tulus mencintai dan menyayanginya.
“Pak sakit, tolong lepaskan!”
Jeritan demi jeritan keluar dari bibir Rima, tapi tak mendapat tanggapan dari Dihyan. Dia tetap melanjutkan aktifitasnya tanpa menghiraukan Rima yang meringis kesakitan.
“Pak,....” Kalimatnya semakin terdengar lirih dengan gerakannya yang semakin melemah.
Mengalah, itulah yang ia lakukan saat ini. Bahkan meskipun tak mau, ia terpaksa mengalah tak bisa melakukan apa-apa lagi. Membiarkan Dihyan melakukan apa saja padanya.
Hingga akhrinya panah Dihyan tepat sasaran, sampai target panahnya benar-benar tembus.
Cairan hangat telah di simpan dalam teduhnya tubuh Rima.
Dihyan menarik tubuhnya menjauh dari Rima setelah melaksanakan ritualnya.
Menatap Rima yang entah kapan sudah tak sadarkan diri.
Rima tak mampu mengimbangi Dihyan dalam urusan ranjang.
Dihyan adalah seorang yang telah mahir dan terlatih dibidang itu, jelas bukan saingannya.
Senyum tergambar jelas diwajah lelaki tampan itu, apalagi saat mendapat bercak merah
__ADS_1
di kasurnya, senyummannya kini semakin melebar.