Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Perselisihan Telah Usai


__ADS_3

"Maaf!"


Suara terdengar dari belakang menghentikan pergerakan tangan Rima yang hendak mengangkat mangkuk yang bersihkan buah tomat.


Tanpa menoleh pun, Rima tahu Siapa pemilik sang suara.


Bergetar, jelas saja.


Mereka sudah terlalu lama berselisih, bahkan mungkin menimbulkan dendam satu sama lain. Berusaha untuk saling menjatuhkan, setidaknya menyakiti. Mungkin membuat yang lain merasa menang dengan kesakitan yang dirasakan oleh yang lainnya.


Namun kini, Ia justru mendengar kata maaf terlebih dahulu.


Apakah itu artinya perselisihan telah usai?


Mencoba menenangkan diri, Rima mulai berbalik badan hingga pandangan mata telah menubruk sosok itu.


" Maafkan Aku!" Kata itu kembali terdengar, membuat hatinya melunak seketika. Terlebih saat melihat sosok yang kini tengah berdiri dengan menundukkan kepalanya.


Kini Rima mencoba menarik sudut bibir, membentuk sebuah lengkungan yang membuat wajahnya semakin terlihat manis.


Ck, wanita ini terlalu cepat melunak hanya dengan satu kata maaf. Padahal ia harus merasakan kesakitan yang teramat sangat menyakitkan sebelumnya.


Ia telah melihat, sedari tadi Diandra mencoba menahan diri dari godaan bayi mungil yang sangat menggemaskan.


Terlalu nampak, saat semua keluarga tengah berebut untuk menggendong bayi itu, Diandra justru tak hentinya mencuri pandang ke arah mereka. Meski Gejolak untuk turut mengulurkan tangan hanya demi menyentuh tubuh menggemaskan itu begitu besarnya.


Bayi mungil itu adalah anak dari kakaknya, keponakan pertamanya. Jelas saja ia begitu sangat inginnya menggendong, memeluk, dan membanjiri dengan kecupan. Namun apa daya perselisihan dengan si pemilik tubuh bayi mungil itu Belumlah selesai.


" Kenapa minta maaf?" Rima mencoba mengikuti alur, meskipun sebenarnya keinginannya membiarkan permasalahan mereka berlalu tanpa penyelesaian. Biar waktu yang kembali menyatukan mereka sebagai seorang teman, sahabat dan keluarga.


Tak ada niat untuk kembali mengungkit masalah dulu meski hanya mencari jalan keluar.


" Aku ingin minta maaf, untuk semua yang pernah terjadi di antara kita." Diandra masih menundukkan pandangan.


Malu, jelas saja.


Hanya untuk sebuah kata maaf, namun itu bisa berarti menjatuhkan harga dirinya.


" Semuanya telah berlalu. Mari hidup secara normal, seperti yang lainnya!" Rima masih Mencoba tersenyum.


" Aku terlalu bodoh, terlarut terlalu lama dengan dendamku. Sampai lupa, kalau kamu bukan lagi sainganku tapi sudah menjadi keluargaku, hiks, hiks, hiks." Kini gadis itu, telah menangis saja.

__ADS_1


Terlalu banyak lakon yang pernah ia buat hanya demi menjatuhkan RIma. Memf!tnah agar Dihyan membenci, itu yang paling utama.


Dan kini, sudah sebisa mungkin ia menahan untuk tidak terlarut dengan drama yang ia buat sendiri, tapi tak bisa. Rasa bersalah terlalu besar bersarang di hatinya.


Rima mulai melangkah berjalan mendekati gadis yang dulu pernah sangat dekat dengannya, kedua tangan terbentang hingga merengkuh tubuh gadis itu.


" Jangan menangis!" Ucapnya, tangan bergerak menepuk pelan punggung yang kini telah bergetar itu.


" Dulu kita sahabat, Sekarang telah menjadi keluarga. Itu artinya Tuhan mengizinkan kita untuk terus bersama. Dan keluarga akan selalu memaafkan, karena sesungguhnya kita saling membutuhkan satu sama lain."


" Kamu mau maafin aku?" Di sela-sela tangisnya Diandra masih melontarkan tanya. Apakah Rima tak membencinya dengan semua yang pernah ia lakukan? Dua tangan turut terangkat demi membalas pelukan Rima.


" Ya namanya juga manusia, pasti pernah berbuat kesalahan."


" Kamu nggak dendam?" Tanyanya lagi, tidak percaya jika Rima terlalu cepat menerima maafnya. " Kamu nggak akan membalas perbuatanku dulu?"


" Dendam akan membuat hubungan kita semakin buruk. Mungkin akan berlanjut pada anak dan cucu kita kalau tidak dihentikan sekarang."


" Jadi aku ingin, kita saling melupakan kesalahan yang pernah kita buat. Mari hidup sebagai keluarga seperti yang lainnya."


Diandra mulai merenggangkan pelukannya, setelah berani mengangkat kepala meski dengan pandangan dan wajah yang sembab.


Sementara di balik pintu, mama menarik tangan Diva yang juga terpaksa menghentikan langkah mereka saat mendengarkan pembicaraan dengan nada lirih.


Sambil merangkul anak bontotnya, berbalik meninggalkan dapur yang semula menjadi tujuan mereka. Membiarkan kedua wanita di sana saling berbicara, berharap dengan ini keluarganya mereka semakin utuh dan kuat.


Sekian lamanya mereka menunggu hingga akhirnya Rima disusul Diandra di belakangnya kembali muncul di teras samping rumah dengan membawa di masing-masing tangan.


Diandra yang tak ingin masuk bersamaan, memilih memelankan langkah di belakang RIma.


" Lama banget sih?" Keluhan terdengar dari bibir manusia yang memiliki usia paling muda di antara mereka.


Ck, Diandra hanya berdecak kesal dengan kaki yang terus melangkah mendekat ke arah meja. Menampilkan wajah yang cemberut, duduk dengan diam setelah meletakkan wadahnya.


Berharap dengan Ia yang terlihat seperti ini, tak ada lagi yang mau menanyakan tentang keadaannya. Ia akan malu pastinya.


Kemunculan Dihyan di ambang pintu membantunya lepas dari keadaan tak mengenakkan seperti ini.


Sosok pria itu kini menjadi pemandangan utama para peserta acara.


Menggunakan kaos oblong dan celana pendek, mata memerah dan sedikit bengkak menyatakan pria ini baru saja bangun dari tidur lelapnya. Bahkan ia belum mencuci mukanya, Selanjutnya Ia mungkin akan lebih siap begadang malam nanti. Dengan bayi kecil dalam dekapannya.

__ADS_1


Beberapa hari hidup bersama bayi mungkin ini, ia sudah tak kaku lagi. Bahkan terlihat sangat cekatan mengurus bayi. terkadang, ia mengajukan diri membantu mengganti popok bayinya.


Betapa kerinduan pada sosok mungil yang telah lama kini ia bayar tunai.


"Waaaah, sini dek sini dek!" Semangatnya Diva saat melihat keponakannya turut bergabung. Langkah kakinya tak kalah semangat, dengan kedua tangan yang terulur ke depan hendak mengambil alih bayi yang masih terbungkus seperti Kepompong itu.


" Jangan! Kamu belum boleh gendong." Dihyan berbalik, menjauhkan bayinya dari jangkauan gadis yang sedikit ceroboh menurutnya.


"Ck, pelit sekali aku kan cuma mau gendong."


" Kamu belum bisa Dek." Dihyan masih gagah mempertahankan putranya dalam gendongannya.


" Ya namanya juga belajar. Kakak kan juga dulu sama takutnya waktu pertama kali gendong. Ya anggap aja latihan sebelum Aku punya anak."


"Husss, ngawur kamu. Belajar yang bener dulu, baru pikirkan tentang anak." Dihyan


"Kok di bawa keluar, kan dingin Yan?" Mama yang justru melayangkan protes.


" Dia bangun," Berjalan ke arah Rima, sesekali melirik sang bayi. " Sudah lapar mungkin."


tangannya terulur menyerahkan bayi mungil yang terlihat beberapa kali mengecap bibirnya sendiri,


"Uuuuh cayang-cayang!" Rima telah menerima bayi itu dalam gendongannya sambil membanjiri dengan kecupan kecupan ringan. Gemessshhh.


" Nenn-nya di dalam aja!" Dihyan kembali mengulurkan tangan hanya untuk membelai rambut sang istri.


Kini keluarga kecil itu telah beranjak dari sana, meninggalkan anggota keluarga lain yang harus sedikit kecewa karena tak bisa bermain dengan bayi mungil itu.


" Bajumu sudah bau asap!" Dihyan ikut Duduk di samping Rima.


Wanita itu hanya tersenyum menanggapi ucapan sang suami.


" Ganti baju dulu ya!" bujukDihyan.


" Nggak usah, malas harus naik lagi."


Dan alasan ini juga yang ia gunakan memilih ruang tengah menyusui Sang putra sambil menikmati tontonan di televisi.


Rasa bahagianya berkumpul di tengah-tengah keluarga membuatnya merasa rugi jika harus terpisah meski hanya beberapa menit saja.


" Aku ambilin bajumu?" Dihyan.

__ADS_1


"hemm," Rima hanya menjawab dengan anggukan kepalanya, tersenyum manis seolah mengucapkan terima kasih pada sang suami.


Hingga DIhyan kembali muncul, dan kembali membantu RIma dengan segala kemalasannya meski hanya ganti baju saja.


__ADS_2