Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Bahagiakan Dia Demi Aku!


__ADS_3

Rima Melangkah dengan sedikit cepat menuju ke ruang perawatan Pak Udin. Jam kerjanya telah selesai, Dihyan pun baru saja menelpon akan menjemputnya langsung sore ini.


Dan sebelum pulang ia hendak menjenguk pria paruh baya itu sebagai salah satu kerabat dari Diandra, bukan sebagai kekasih Reno.


Dalam pikirannya, Dihyan akan tiba dalam dan langsung menjemputnya di ruang perawatan itu nantinya. Ini adalah salah satu caranya demi menunjukkan jika keadaan rumah tangganya baik-baik saja, dan tidak tergoncang.


Ia hanya ingin menunjukkan jika hubungannya dengan Reno adalah hanya sebuah gosip Semata.


Pandangan yang menuju pada pergelangan tangannya saat satu tangannya bergerak menekan handle pintu ruang perawatan Pak Udin. Masih dengan langkah yang sedikit terburu-buru, ia ingin menjenguk Pak Udin lebih lama sebelum suaminya benar-benar datang.


Namun langkahnya yang mendekat pada tempat tidur rumah sakit langsung terhenti begitu saja saat pandangannya menangkap satu sosok pria yang kini tengah duduk di samping ranjang Pasien itu.


Detak jantungnya rasanya ikut berhenti bersama dengan denting jam. Apakah mungkin bumi turut berhenti berputar saat ini?


Di sana Reno terduduk dengan satu tangannya menggenggam tangan sang bapak. Ada perasaan bersalah meski hanya sedikit yang bisa menyenggol hatinya. Karena kepergiannyalah hingga bapaknya kini terbaring lemah di sini.


Meski rasa yang menggebu untuk tetap hidup bersama Rima tak bisa ia kesampingkan. Perasaan nya pada wanita itu sangatlah besar, hingga ia harus memelihara egonya sendiri.


Dari sudut matanya Reno tahu sosok yang baru saja masuk ke kamar perawatan ini adalah wanita itu, wanita yang sangat ia cintai.


Bibirnya sedikit menyinggung senyum, mungkin Rima tahu kehadirannya di sini hingga wanita itu mendatanginya. Ia mulai mengangkat kepala mengarahkan pandangannya pada wanita yang sangat ia rindukan saat ini.


Kini ia tak lagi yang bisa menyembunyikan senyum di wajahnya yang tercetak dengan begitu lancang kala mata mereka saling bertabrakan.


Rindu, Ia tak menapik tentang rasa itu yang benar-benar mengacaukan hatinya saat ini.


Berdiri dan mulai melangkahkan kaki dengan perlahan mendekati sang Pujaan Hati, namun sesuatu yang tak ia inginkan justru terjadi, Rima mengambil langkah mundur saat ia telah berada di hadapan Rima.


Senyum di wajahnya seketika surut begitu saja, tak rindu kah Rima pada dirinya setelah hampir 3 minggu tak bersua.

__ADS_1


"Rima," Sapanya dengan nada lirih sedikit kekecewaan.


Rima bahkan menundukkan kepala seolah enggan menatapnya. Tubuh yang sedikit kurus dan kulit yang menggelap mungkin menghilangkan sedikit ketertarikan Rima padanya.


Padahal itu hanya anggapannya Semata. Rima benar-benar ingin mengakhiri segalanya tentang mereka berdua.


" Aku menunggumu!" Ucapnya lagi. Ia masih berkata dengan nada rendah, berusaha untuk tak mengganggu keadaan bapak dengan suaranya.


Tapi mengapa kau tak kunjung datang padaku?


Protes itu hanya bisa ia layakkan dalam hati, tak hendak berucap pasti sebab takut jika Rima benar-benar menjauhinya. Ia tak ingin membahas, takut jika semua prasangka buruknya memang benar, jika Rima lebih memilih bersama dengan pria itu dan meninggalkan dirinya. Ia tak sanggup jika memang harus mendengar kalimat itu.


" Mari akhir segalanya!"


Seberapa kerasnya ia menghindar, akhirnya kalimat itu ia dengar juga.


"Rima," Sanggahnya, agar Rima berhenti berbicara tentang perpisahan.


"Bagaimana bisa kamu mengatakan semua ini padaku Rima."


" Padahal aku telah melakukan semuanya agar kita bisa saling bersama. Tak peduli saat aku meninggalkan seluruh keluargaku, dan berharap kamu akan datang menghampiriku lalu kita saling hidup berbahagia bersama meski harus hidup dalam kesederhanaan.


"Aku tau kamu bisa hidup sederhana kan? Bukankah dulu juga pernah begitu? Dan sekarang kamu tidak lagi sendiri, aku akan mendampingimu Rima. Kamu boleh memilih untuk tinggal di mana, aku yang akan ikut denganmu!" Ucapnya lagi penuh harap. Bahkan matanya pun menyimpan begitu banyak kerapuhan.


"Mari hidup dengan pasangan kita masing-masing!"


"Rima." Lagi Reno hanya berusaha untuk menghentikan segala omong kosong yang ingin Rima utarakan.


"AKu masih menjaga diriku. AKu bahkan belum menyentuh Diandra. Aku masih asli dan itu semua hanya untukmu, Rima." Kedua tangannya membentang ke samping seolah mempersembahkan tubuhnya, tentu saja untuk Rima.

__ADS_1


"Tolong jangan sia-siakan pengorbananku ini!" Lanjutnya lagi.


Rima mendelik kala mendengarkan kata demi kata yang Reno ucapkan. Benarkah Diandra dan Reno tak pernah saling berhubungan suami istri.


Pria itu bahkan dengan bangga menunjukkan dirinya.


"Rima." Pria itu kembali maju mendekat, bahkan tangannya pun kembali terangkat ke arah Rima. Ia hanya ingin melepaskan kerinduannya dengan membelai pipi lembut itu.


Namun lagi-lagi hanya bisa pasrah saat Rima kembali mengambil jarak diantra mereka. Wanita itu menggelenggkan kepala, rasanya ia tak sanggup menghadapi Reno yang seolah masih berjuang demi mendapatkannya.


" Kamu masih mencintaiku?" Tanyanya meski ada ragu terdengar dari nadanya.


"Sangat, sangat mencintaimu."


"Maka kembalilah pada istrimu!"


Meski Reno menggeleng keras Rima masih tetap mencoba bersuara.


"Berilah istriku nafkah batin yang memang seharusnya kamu berikan padanya. Bahagiakan dia seperti kamu yang berusaha membahagiakan aku."


"Dia temanku sejak dulu, sejak sekolah dulu. Jangan sakiti dia lagi! Kumohon!"


"Rima." Kata demi kata yang ia dengarkan begitu menyakiti hatinya. "Tega kamu Rima. Tega kamu padaku!"


"Demi aku!" Rima. "Bahagiakan dia demi aku!"


Kini mereka hanya tertunduk dengan menikmati seluruh rasa yang tercipta. Reno hanya mampu menatap wajah Rima yang sejak tadi lebih memilih menundukkan kepalanya.


Helaan napas keras terdengar dari pria yang sedang patah hati itu.

__ADS_1


"Baiklah jika itu maumu!" Kini ia kembali berucap dengan lirihnya. Putus asa dirinya kini.


"Aku akan menyentuhnya. Maka tunggulah kabar tentang kehadiran keponakan baru kalian!"


__ADS_2