Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Arti Tujuh


__ADS_3

Entah berapa lama mereka membuang waktu hanya untuk saling berpandangan.


Hingga Reno menggangguk dengan seutas senyuman ringan di wajahnya, mulai berlalu dari sana. Meninggalkan Rima yang masih terdiam di tempat menikmati pemandangan berupa punggung lelaki yang baru saja menyambar hatinya.


Turut tersenyum tipis, menertawakan takdir yang tak mungkin ia kendalikan. Rima mulai melangkahkan kaki perlahan menuju ke tempat tujuannya semula.


"Siang bu!" Sapaan itu dari seorang pria muda yang beberapa kali datang menyambangi rumahnya.


"Bapak ada?" Rima dengan melebarkan senyuman. Meski sebagian hatinya berpikir mengapa mereka masih ada di sini sementara waktu jam istirahat telah berlangsung. Benar-benar karyawan teladan mereka ini


"Ada Bu, ada!" Armada segera mendekat, menekan handle hingga Pintu itu terbuka untuk Rima masuk.


"Kamu datang?" Dihyan yang masih berdiri di dekat meja kerja langsung tersenyum saat memandang Rima yang telah berada di ruangannya.


"Hemmm, Bibi menyiapkan kita bekal, tapi tadi lupa aku berikan, jadi baru bawa sekarang." Mereka sama-sama berjalan menuju ke arah sofa.


" Hemmm, wangi!" Baru saja mendaratkan tubuh di sofa, Dihyan segera menempelkan wajah di ceruk leher sang istri guna menghirup aroma tubuh Rima dalam-dalam. Obat sakit kepalanya kini berada di sampingnya.


Ia dan beberapa karyawannya baru saja selesai rapat, membuat kepala pening dengan sisa-sisa rapat yang belum tuntas. Bahkan sedikit mengambil waktu makan siang.


"Naik apa?"Dihyan.


"Ojek motor, biar lebih cepat."


" Kenapa tidak bilang dulu, bisa ku suruh sopir menjemputmu." Dihyan.


"Sebenarnya nggak kepikiran mau ke sini, tapi lihat bekal Ini jadi kepikiran kamu."


Dihyan mengangguk, kemudian terdiam menyaksikan Rima yang tengah menyiapkan makan siang untuk mereka.


Siang pertama Rima bekerja, menjadi siang pertama mereka makan bersama di kantor.


Dihyan tak tahu kedatangan RIma nyatanya membangkitkan sebuah rasa yang sempat tenggelam pada seseorang di luar sana.


Harusnya pria itu menyingkirkan Reno terlebih dahulu.


"Mau diantarkan sopir?"


Rima menggeleng, tangannya bergerak menata kembali kotak bekal yang telah kosong. "Naik ojek aja, biar nggak kena Macet."


"Tapi kan panas, Banyak debu lagi."

__ADS_1


"Nggak masalah, anginnya bisa menyejukkan. masalah debu, kan ada helmnya."


"Aku pergi dulu yah!"


Rima segera beranjak, "Eits tunggu dulu, kamu istirahat saja, gak usah temani aku turun." Tangannya terulur menghentikan DIhyan yang turut beranjak, memang ingin mengantar sang istri hingga ke luar gedung.


"Aku cuma mau antar kamu, Rima." Ucapnya memelas.


Rima kembali mendekat, mendorong tubuh DIhyan hingga kembali duduk di sofa. Memberikan bantal sofa untuk menyandarkan kepala pria itu.


"Gak usah, baring aja biar gak pusing! Ok!" Dengan menyatukan ujung jari telunjuk dengan ibu jarinya.


Dengan bod0hnya Dihyan menganggukkan kepala, mengikuti segala intruksi dari sang istri.


Siapa yang hamil siapa yang sakit?


Dan harusnya Dihyan tak membiarkan Rima untuk melangkah seorang diri.


Rima keluar dari ruangan Dihyan hampir bersamaan dengan pria di sana yang baru saja membuka pintu ruang kerjanya.


Sama-sama terpaku di tempat sebelum Reno kembali memberikan senyum lalu mulai beranjak dari sana menuju ke arah lift.


Rima sempat menangkap pandangan tangan Reno dengan jari telunjuk dan ibu jari yang terbalik, entah apa artinya.


Rima masuk ke dalam lift dan menekan angka 7, tapi kenapa bukan angka 1 atau tombol B? Bukankah ia hendak turun ke lantai satu atau lobi?


Ia keluar dari lift ketika telah sampai di lantai yang ia tuju dan berjalan menuju ke sebuah pintu dengan tulisan EXIT/ TANGGA DARURAT.


Saat membuka pintu itu, tak butuh waktu lama hingga pandangannya menangkap sosok Reno yang sedang tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya.


Jadi inilah maksud dari simbol jari tujuh yang Reno tujukan? Ternyata bermakna tangga darurat di lantai ketujuh. Beruntung pria itu, Rima mengerti maksudnya.


Rima melepaskan sepatu hellsnya demi meredam suara yang timbul akibat ketukan saat harus beradu dengan lantai. Segera menghampiri lelaki itu dengan tangan yang juga terulur demi menyambut tangan Reno.


“Apa kabar?” Reno memulai saat tangan mereka telah bertemu.


“Baik, kakak?”


“Baik, ah tidak tapi bahagia karena bisa ketemu kamu lagi,” Ucap Reno mengulurkan tangannya yang lain pada Rima, “Mau di bantu?” Meminta sepatu yang berada di tangannya.


“Gak usah kak, masih bisa kok,” Sambil tetap tersenyum.

__ADS_1


Mereka mulai menelusuri tangga dengan melangkah turun sambil tetap bergandengan tangan.


Mungkin mulai saat ini mereka juga akan memulai menelusuri jalan yang salah. Pertemuan rahasia ini bisa saja berlanjut pada esok, esok, esok dan esoknya lagi. Entahlah!


Hanya mereka berdua yang tahu dengan Tuhan juga.


“Aku sudah mulai bekerja lagi,” Rima masih dengan senyumannya.


“Benar kah? Di mana? Kok Bisa?” Pertanyaan beruntun dari Reno. Tahu jika pengawasan Rima begitu ketat. Ia yang pernah bertandang ke rumah dengan alasan pekerjaanpun tak diperbolehkan untuk masuk.


“Dengan satu syarat.” RIma


“Apa itu?" Reno.


Sesaat Rima menghentikan langkahnya sementara Reno terus melangkah turun sebanyak dua anak tangga. Reno membalikkan badannya seolah bertanya ada apa.


Dan seolah Rima mengerti dengan tatapan itu dan berkata, “Kak, aku hamil,” Suaranya bahkan tercekat di tenggorokan.


Ada rasa tak tega saat mengatakan itu. Tapi harus, ia ingin menghentikan cinta yang mungkin saja masih bersemanyam untuknya.


Terlalu percaya diri mungkin. Tapi Rima tak ingin Reno terlalu berharap banyak padanya.


Dan pikirannya tentang perasaan Reno padanya mungkinlah nyata, pria itu terlihat kehilangan senyumannya.


Pria itu terdiam dengan pandangan mata tertuju ke bawah, kaki polos terima yang tengah berpijak di atas lantai marmer.


Hati Siapa yang tersakit, saat mendapati wanita yang sangat dicintai kini di tengah mengandung anak dari perilaku lain, sekalipun itu adalah suami dari wanita itu.


Namun senyuman itu kembali lagi setelah beberapa lama suasana di sana menjadi hening, “Syukurlah! Apa dia menyakitimu?”


Pria ini tengah menguatkan hati.


Rima menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Reno.


“Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja di dalam sana?” Reno masih mengembangkan senyumnya dengan tatapan mengarah ke perut Rima.


Rima melangkah menuruni satu anak tangga, membuat mereka berada dalam posisi sejajar saling berhadapan.


Entah siapa yang yang memulai hingga kening dan puncak hidung mereka saling bertemu, sangat dekat dan saling berbagi nafas.


Saling menikmati keheningan yang sangat bermakna.

__ADS_1


Hingga Reno mulai kembali bersuara, “Jangan seperti ini, aku takut tak bisa menahan diri untuk tidak menciummu!”


__ADS_2