
Tak.
Tak.
Tak.
"RIMA."
“Rima buka pintunya Rima!” Dihyan tak lagi memperdulikan keributan yang ia buat akan membangunkan seisi rumah. Yang jelas, ia sangat butuh Rima untuk melepaskannya dari belenggu gelora.
Tapi Rima tetap tak mau mengerti. Tak ada tanda-tanda dari dalam akan membuka kunci pintunya.
Hingga pria itu tak menghentikan aksinya dalam menggedor-gedor pintu kamar itu kembali.
Ceklek.
Tapi bukannya pintu yang diketuk yang terbuka, justru kamar yang di sebelahnya menampilkan sosok Andra dengan piyama dan wajah ditekuk sambil menggosok-gosok matanya. Tidur lelapnya terganggu oleh sang kakak.
Sedikit terhentak melihat kakaknya yang hanya berbalut handuk di pinggang tengah malam buta sedang berdiri di depan pintu kamar Rima.
Tidak dingin apa?
“Kak, sudah malam!”
Mungkin ia akan marah, tapi melihat Dihyan yang hanya menggunakan handuk ia justru semakin penasaran, “Apa ada yang penting?”
“Ada, urusan suami istri. Kamu gak usah ikut campur!” Jawabnya jujur, sedikit ketus.
“Rima buka pintunya, sebelum semua orang mendobrak pintu kamarmu!” Andra yang sedang membantu kakaknya.
"Rimaaaa, ..." Teriakan Andra semakin mendramatisir malam itu.
Berhasil, karena setelah itu terdengar suara kunci terbuka. Dihyan segera memutar handel pintu dengan tak sabarnya.
“Apa lagi?” Rima dengan nada tingginya. Kesal pastinya, mimpi indah ada kakek sihir yang justru mengganggu tidur cantiknya.
“Kamu harus bantu aku!” Mulai menarik tangan Rima setelah mengunci pintu dengan rapat.
“Bantu apa?” Wajahnya masih menampilkan mimik sebal.
“Ini!” Dihyan sambil menunjukkan handuk di pinggangnya.
“Kamu mau buat aku muntah-muntah lagi?”
“Kamu kira ini mudah buatku. Aku sudah menahannya dari tadi.” Dihyan terlihat sangat Frustasi.
“Aku sangat tersiksa, saat wanita ****! itu mencoba menggodaku, kamu pikir aku tidak tergoda?”
"Tapi aku tahan Rimaaaa, ... "
__ADS_1
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
Mereka masih bertengkar dibelakang pintu.
Dihyan menuntun Rima menuju ke tempat tidurnya. Menjauh dari sana, jangan sampai RIma mendorongnya keluar dari kamar itu. Bisa-bisa getahnya keluar sendiri saat mimpi menyapa.
Segera menuntun tangan Rima melakukan hal yang menjijikan.
Dihyan hanya berupaya menikmati meskipun adanya tak seperti yang ia bayangkan.
“Lama.”
Karena tak puas, dengan pelayanan Rima yang memang harus belajar lebih banyak lagi. Hingga ia langsung menggulingkan Rima dan memulai sesuatu yang biasa dilakukan pasangan suami istri secara normal.
Ini menjadi kali ke tiga Dihyan menitipkan benihnya pada Rima.
Entah Rima sedang bermimpi atau Dihyan yang memang mabuk hingga ia seolah mendengar, “Terima kasih,” berikut dengan kecupan hangat di keningnya sebelum ia benar-benar tertidur.
Berbeda dengan lelaki yang berada dalam kamar mandi yang harus menuntaskan urusannya seorang diri dengan bantuan sabun mandi.
Sambil menyebut nama pujaan hatinya, “Rima. Rima.”
Ialah Reno, yang juga kepanasan setelah mendapatkan perlakuan dari gadis yang sama yang menggoda Dihyan.
Maaf, mungkin ia memang salah karena membayangkan istri orang. Tapi apa lagi yang bisa ia perbuat.
Pukul 3 pagi.
Sesuatu yang mendesak membangunkan Rima dari tidurnya. Tapi ia tak mampu bergerak lebih karena sebuah tangan besar telah melingkar di atas perutnya, dan kaki yang juga menindih kakinya.
“Dasar om-om gunung berapi!” Umpatnya pelan, takut terdengar pada orang yang bersangkutan.
“Om-om labil, puber ke dua belas,” Masih pelan namun dengan nada sinis.
Ia lalu mengangkat sedikit kepalanya, hanya demi melihat bagian kasur yang seharusnya Dihyan tempati justru kosong melompong karena orang itu kini telah berada di tempatnya.
Dengan menggunakan bantal yang sama dengan dirinya, meninggalkan bantal disebelahnya kosong.
“Aku harus meminta sewa kasur tujuh ratus lima puluh ribu. Dia mengambil tempat lebih banyak.”
Rima masih mengoceh dengan lirih. Kemudian berusaha menyingkiran tangan dan kaki Dihyan secara perlahan agar orang itu tak terbangun.
“Mau kemana?”
Hah?
Mungkin pria itu terusik.
“Ke kamar mandi,” kemudian segera meninggalkan Dihyan yang sedang menggeliat sambil mengganti posisi tidurnya.
__ADS_1
“Apa dia bermimpi?” Tanya Rima dalam hati.
Tak peduli, ia segera melenggang ke kamar mandi.
Setelah menyelesaikan urusannya, Rima kembali ke tempat tidur tapi tak langsung naik, justru berdiri di sisi tempat tidurnya.
Karena sebenarnya ia binggung harus tidur di sisi mana. Dihyan menempati sekitar 75 % tempat tidur itu. Dengan tangan yang merenggangkan kedua tangannya ke samping, dan begitu juga dengan kakinya.
Heh, benar-benar Rima harus menangih uang sewa kasur.
Rima memilih menjauh dan menuju ke sofa.
Tak apalah hanya beberapa jam lagi, semoga ia bisa tahan. Atau setidaknya badannya tak pegal-pegal.
Saat telah mendapatkan posisi yang uenak untuk tidur di sofa, Dihyan justru memanggil namanya, “Rima.”
Apakah orang ini benar-benar tidur atau memang sedang bermimpi. Atau mungkin juga ia sangat senang jika ketenangan Rima terusik.
Rima mencoba tetap tenang, berusaha tak menimbulkan gerak seolah ia benar-benar tidur.
Tapi suara itu tetap menganggunya.
“Rima. Kenapa tidur di situ?”
“Rima, sini!”
“Kalau kamu tidak ke sini, biar aku yang ke sana.”
Heh. Mau tak mau Rima harus mengalah. Mengakhiri tidurnya yang pura-pura.
Bangkit dari sofa, dan berjalan kembali ke kasur dengan sangat malasnya.
Sementara Dihyan masih dengan gayanya yang menguasai tempat tidurnya.
Rasa ingin sekali memukul tangan dan kaki pria itu hanya untuk meminta tempat.
“Ah, sakit Rima!” Teriak Dihyan, saat Rima langsung menghempaskan diri di kasur dan mengenai tangannya.
Terlihat Dihyan sedang memperbaiki posisinya memberikan Rima tempat untuk berbaring di sampingnya.
Mungkin malam ini Rima takkan tidur dengan tenang, karena saat ia telah mendaratkan tubuhnya ke kasur, Dihyan kembali menghimpitnya, dan memberikan sentuhan-sentuhan lembutnya.
Kembali membangkitkan gairah indah dalam diri kedua.
“Kalau tadi puber kedua belas, maka sekarang puber ketiga belas.” Dihyan.
Ikhlas atau tidak ia kembali melayani suaminya, hingga benar-benar kelelahan.
Jadilah ini kali ke empat Dihyan menyentuh Rima, menitipkan benihnya pada wanita itu.
__ADS_1