Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Harus Bangkit


__ADS_3

Matahari mengintip dari peraduannya dengan malu-malu. Membagikan Cahaya pada makhluk-makhluknya.


Memberi semangat pada semua yang telah siap menjalani hari baru.


Pun dengan Diandra yang keluar kamar dengan menyeret koper besarnya.


Semalam ia telah menelpon tantenya, adik dari Papa. Berharap bisa mendapat tempat di sana meski hanya beberapa hari.


Sadar diri, semalam penyakit Dihyan kembali kambuh karena perkataan dirinya. Dan karena itulah Mama memintanya meninggalkan tempat ini.


Tempat berteduh selama memandangi dunia ini.


Tempatnya pulang saat merasa lelah lahir dan batin.


Dalam hati merutuki Rima yang kembali menjadi pemenang dalam pertarungan yang ia buat sendiri.


Mata sembab, menandakan hujan lokal semalam. Wajah pun sedikit pucat, entah pukul berapa ia terlelap semalam.


Keputusan mama memang menyakiti hatinya. Seolah ia tak lagi dibutuhkan di keluarga ini.


Mengingat kata-kata Diva, jika kedua orang tuanyapun bertengkar karena dirinya.


Seolah ia menjadi sebab kehancuran keluarganya.


Dihyan?


Kakak sulungnya itu yang justru lebih dulu membenci dirinya, saat Rima pergi dan melayangkan gugatan perceraian.


Tak ada lagi yang menganggapnya di rumah ini.


Kecuali papa.


Mungkin jika pergi nanti, hanya papa saja yang akan mencari dan menghawatirkannya.


Turut bergabung di meja makan berniat untuk pamit setelah sarapan.


"Semua orang harus berada di rumah sebelum maghrib." Perintah tegas dari sang ibu membuat semua berada di meja makan itu saling berpandangan.


Kecuali Dihyan yang turut hadir dan disuapi oleh perawatnya.


Di bawah meja Diva mengerakkan kaki hingga menyenggol kaki kakak perempuannya. Kode senyap berlaku.


" Semua yang mau keluar rumah harus diantar sopir!" Lanjut mama.


"Tapi sopir kan cuma satu mah?" Protes pertama kali dilayangkan oleh Diva.


Biasanya jika sepulang sekolah, Ia bisa nongki-nongky cantik di cafe bersama teman-teman. Meminta diri diantar pada siapa saja yang bisa.


Tapi jika sopir jemputan datang tepat waktu, atau bisa saja justru menunggunya di sana. Semakin membatasi geraknya.


"Kalian berdua nanti diantar jemput sama Pak Eko." Menjawab keluhan Sang Putri.


Bibir Diva maju ke depan, wajah memberenggut. Masih ingin protes, tapi takut kena marah.


Kondisi rumah belum stabil.


Kembali menyenggol kaki Diandra yang hanya diam menunduk menantikan waktu yang tepat untuk pamitan.


"Tak ada yang boleh keluar membawa koper!" Ternyata peraturan baru masih ada.


Diandra menganggkat kepala, memandang sang ibu yang justru kembali fokus menikmati sarapan.


Pandangan beralih pada papa, pria itu tersenyum sambil mengangguk. Dibalasnya dengan senyuman pula, mungkin ucapan terima kasih tersirat di sana.


Tak lagi berani mengajukan pamit diri, berharap kondisi keluarga bisa membaik setelah ini.


Papa masih  tersenyum melirik sang istri tercinta yang semalam di ajak healing-healing, mungkin begini cara mama menghalangi kepergian Diandra.


Hingga kedua putri mereka keluar rumah dengan tunggangan yang sama.

__ADS_1


Brukkk.


Suara sesuatu yang terjatuh menghentikan langkah Papa dan mama yang telah berada di ruang tamu. Kembali melangkah ke dalam menuju ke arah sumber suara.


Tubuh Dihyan terlihat terduduk di lantai dekat tangga. Sementara perawatnya setelah sibuk membujuk Dihyan untuk berdiri.


"Nggak apa-apa, nggak ada yang sakit kan?" Ucapkan perawat yang turut berjongkok di depan Dihyan dengan tangan yang terulur.


"Ayo, bisa kan?"


Dihyan menggeleng dengan wajah yang sedih.


"Kenapa?" papa yang kebingungan melihat kondisi itu.


"Tadi kesandung Pak, tapi nggak mau berdiri." Jawab sang perawat.


"Dulu Rima jatuh dari sana." Dihyan sambil menuju ke tangga.


Mama menggeleng, turut menampilkan wajah sedihnya. Mungkin menjawab pernyataan sang anak yang salah. Kecelakaan yang Rima alami bukan terjadi di rumah ini.


"Pasti sakit sekali." Dihyan terdengar pilu. Seolah turut merasakan sakit itu.


"Rima udah nggak apa-apa sayang. Dia sudah baikan sekarang."


"Kamu juga harus baik-baik. Jangan seperti ini terus!" Mama dengan menggelengkan kepala, mulai merendahkan tubuh sejajar dengan Dihyan.


"Rima sudah baikan mah?" Dihyan dengan memandang mamanya.


Mama menganggukan kepala turut menyumbangkan senyum menenangkan untuk sang Putra.


"Ya sudah, kita bangun ya!" Mama sambil mengulurkan tangan.


Meski masih meragu, Dihyan tetap menyambut.


Papa mengibaskan tangan pada pria yang bertugas merawat Dihyan, kode agar pria itu keluar dari kamar.


Mengulurkan tangan tepat di depan Dihyan, menyerahkan kertas bergambar Hitam Putih.


"Ambil!" Ucapnya.


Dihyan turut mengulurkan tangan meraih kertas potongan persegi.


"Tau itu gambar apa?" Papa.


Dihyan menggeleng.


"Itu fotomu, waktu dalam kandungan mama. Lucu kan? Papa masih simpan loh."


"Kamu udah sebesar ini, udah lama banget artinya."


Dihyan menunduk, menatap gambar diri yang berada dalam kuasanya.


"Papa gak mau Munafik ada rasa bangga dengan diri sendiri. Ternyata Papa juga bisa bikin anak."


Hihihihi. Cekikikan sendiri.


"Mungkin seperti itu anak kalian dulu waktu Rima hamil ya?"


Pertanyaan itu mampu merubah raut wajah sang Putra.


Sedih, tertekan dan penuh penyesalan. Itulah yang dirasakan Dihyan saat ini.


"Tapi kamu masih bisa membuat yang seperti itu!"


Raut wajah Dihyan belum berubah.


"Kamu masih bisa buat Rima hamil anak kamu."


Dihyan langsung menengadahkan kepala memandang sang papa. Seolah ia kini tengah mencari benar akan pernyataan itu.

__ADS_1


Papa mengangguk tersenyum, dalam hati masih saja berdoa semoga ia mampu membangkitkan semangat Dihyan lagi.


"Tapi ada syaratnya. Kamu harus sembuh dulu, baru bisa cari Rima lagi."


"Memang harus bersama dengan Rima kan? RIma istri kamu."


"Papa kasih tahu kau satu rahasia." Kali ini suara sedikit dipelankan, meski di sana hanya ada mereka berdua, membuat suasana lebih dramatis.


"Rima ada dalam kuasa mamamu." Masih berbisik.


Ck, itu bukanlah sebuah rahasia. Hampir semua orang tahu, jika mama mengetahui keberadaan Rima.


"Kalau kamu mau tahu ikuti saja mamamu Nanti kalau dia mau pergi!"


Ck, itu pun pernah dilakukan Dihyan, namun nihil Karena Mama selalu saja tahu jika dibuntuti.


"Tapi papa nggak bisa bantu, Kamu kan tahu sendiri Papa sibuk gantiin kamu kerja." Sindiran kini berlaku, semoga Dihyan merasa.


"Papa juga nggak bisa bantuin kamu masalah dana, semua uang papa ya sama istri papa." Menganggap ini sebuah gurauan.


"Jadi nanti kalau kamu sudah dapetin Rima kembali, jangan kasi semua uangmu, sisakan sedikit untukmu."


Berharap ini menjadi semangat untuk Dihyan kembali.


Hingga, hembusan nafas kasar terdengar mengakhiri pembicaraan sendirinya. Tak ada respon dari pihak sebelah.


Papa tak tahu, apakah motivasi yang ia berikan ini akan berhasil membawa Dihyan kembali pada kehidupan nyata. Atau justru gagal, dan keadaan Dihyan yang kembali memburuk dan mengamuk.


Ia sudah pasrah dengan apa yang selanjutnya terjadi. Meninggalkan Dihyan yang masih tepekur memandangi foto USGnya.


Hari ini masih sama, kembali bekerja menggantikan putranya.


"Pah." Suara itu memecah konsentrasi papa yang tengah khusuk memandang layar di hadapan.


Meski dengan nada standar untuk sebagian orang, namun suara itu seorang menggelegar masuk ke gendang telinga.


Papa terdiam, memandang sang pemilik suara. Sempat meragu bahkan setelah beberapa kali mengerjapkan mata.


"Pa, aku ingin kembali bekerja."


Kalimat itu kini benar-benar membuat papa tersadar, jika ini bukanlah mimpi.


Berdiri, mulai beranjak, berjalan sangat pelan seolah ia takut akan terjatuh dan terbangun dari mimpi indah.


"Dihyan?" Tanyanya, belum percaya jika di hadapannya kini anak sulungnya yang bernama Dihyan.


"Kamu yakin nak?" Memandang Sang putra yang tadi pagi masih menyuguhkan tatapan kosong.


Kini telah berdiri tegak, sempurna dengan jas yang membalut tubuh.


Dihyan mengangguk, meski tak ada senyum di sana.


" Ya ampun dihyan Putraku!" Papa langsung menubrukkan diri dengan tubuh Sang putra. Memeluk, serta memberikan tepukan-tepukan ringan di punggung Dihyan.


"Ini benar kamu kan?" Tanyanya lagi belum percaya.


"Terima kasih nak! Terima kasih telah mau bangkit!" Ucapnya lagi meski belum mendapat jawaban.


Pelukan sang putra terasa nyata.


Ini benar bukan mimpi


Di balik punggung sang anak mata memanas hingga berair.


Mengerjakan mata beberapa kali, berusaha melawan rasa haru namun tak dapat. Beberapa titik air bening berhasil lolos dari pelupuk mata.


Mata sebabnya sempat menangkap sosok tubuh dengan outfit yang sangat ia kenal. Sang istri tengah bersembunyi di balik pintu.


Perjuangan belum berhenti. Rima belum diketahui di mana rimbanya.

__ADS_1


__ADS_2