
Kemeja RIma telah terjatuh melambai dengan sangat indah sebelum benar menyentuh lantai. Masih berdiri di depan cermin, betah memandang bayangan tubuh sendiri meski telah sedikit polos.
Masih dengan gerakan gemulai, menarik kasper rok spannya yang terletak di belakang.
Pria di sana telah membeku. Mata hanya sesekali berkedip hanya demi membasahi bola mata yang kian memanas, memancarkan bara api dari dalam tubuh. Dalam hati masih bertanya, apakah Rima benar-benar berani berganti baju di hadapannya.
Gerakan Rima seperti sengaja memperlambat diri saat mengganti bajunya.
Bahkan hitungan detik tubuh itu masih terlihat sangat jelas di retina Dihyan.
Teramat ia akui, tubuh wanita itu sangat sempurna.
Tinggi semampai dengan lekuk tubuh yang terlihat jelas di tiap-tiap sudut, membuatnya semakin terlihat seksssiih.
Kemolekan tubuh wanita itu benar-benar mendekati model. Dibalut dengan kulit putih mulus, membuat wanita itu nampak tak bercela.
Benar-benar pemadangan yang menjadi sebuah ancaman untuk seorang Dihyan.
Mungkin naluri DIhyan tak tagi tertahan. Mengeleng-gelengkan kepala, mencari kesadaran dari segala bentuk hal negatif yang merasuki jiwa. Tak bisa hilang. Bagaimana bisa hilang jika pandangan menggoda itu tepat di hadapan.
Kembali mengangkat kepala, wanita di sana masih setengah polos.
Ia kembali terlolong, dengan mulut yang terbuka. Mungkin air liurnya telah menetes tanpa sadar. RIma mungkin tengah menguji keimanannya yang hanya seonggok itu.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk seseorang mengganti baju? Tak selama ini kan?
Gaun bertali satu dengan bawahan yang bersusun telah terpasang di tubuh RIma. Semakin lengkap dengan wajah cantik memukau dan semakin menyempurnakan tampilan fisik. Senyuman manis semakin membuat Dihyan seolah ingin terjatuh dalam buaian.
Rima masih betah memandangi diri dari segala sisi yang ia mampu. Berputar-putar sambil tersenyum dengan segala macam gaya. Sesekali mengibaskan rambut ke belakang dengan menghentak, membuat rambut jatuh terurai dengan manja di belakang pundaknya. Kembali tersenyum, mengangumi kecantikan sendiri.
Tak sabar, pria di sana telah berdiri dari duduknya. Menyeret langkah berat sebab lutut telah lemas.
Semakin tubuh mendekat, semakin panaslah terasa dalam tubuh. Entah karena apa.
Ada sesuatu yang meronta dalam tubuh meminta untuk segera ditindak lanjuti.
Membuka tangan, memasukkan Rima dalam dekapannya.
"Rima." Suara berat dengan napas yang mulai panas berhembus tepat mengenai leher wanita itu, membuat menggigil meski tak kedinginan. Wajah itu telah merah padam, mungkin karena menahan hasrat diri.
"Kamu mau ap,..?"
Kalimat tanya itu terhenti saat Dihyan menarik tubuhnya berbalik dengan gerakan cepat pria itu telah membenamkan diri di tubuhnya.
Kecupan l!@r telah mendarat di beberapa tempat.
Tali satu yang harusnya berada di pundak telah berpindah tempat sebab merosot.
"Aku suamimu!"
__ADS_1
Sepenggal kata yang mampu membuka mata RIma yang tadinya tertutup meresapi segala tindakan Dihyan atas tubuhnya.
"Aku berhak atas seluruh tubuhmu!"
Kalimat itu semakin membuat tubuh meremang. Menimbulkan gelenjar-gelenjar aneh dalam diri.
Ini yang kedua kalinya Dihyan menyentuhnya dengan sangat lembut dan tanpa terburu.
Kesalahan yang Rima lakukan adalah karena telah menikmati sentuhan lembut nan indah itu. Sentuhan yang mampu melambungkan diri ke awang-awang, bersama.
Bahkan lagi, seperti membuat RIma hendak teriak saat menikmati sentuhan menggelikan dengan rasa aneh.
Namun Dihyan masih memberikan sentuhan lembut menjalar ke seluruh tubuh.
Hendak menyangkal namun tak bisa. Semakin ke sini, suaranya semakin menjadi dan begitu nyata. Seolah tak malu dan enggan untuk menahan diri terlalu lama. Itu hanya akan menyiksa diri saja.
Kini wajahnya turut terlihat memerah. Tubuhpun telah terkulai lemah tak berdaya di atas peraduan.
Ingin berterima kasih pada sang suami karena telah mewujudkan kepuasan batin namun enggan karena malu.
Namun Dihyan terlihat belum hendak menyudahi, padahal tubuhnya telah lelah seperti telah menyelesaikan lari keliling komplek.
Dihyan masih on, dan masih terlihat segar bugar seperti sedia kala. Kini benar ia semakin tak malu lagi untuk mengeluarkan suara menjijikkan yang keluar langsung dari tenggorokan tanpa terhalangi. Ingin malu, tapi malu pada siapa.
Dalam hatipun hendak mengeluh namunpun mengagumi kekuatan Dihyan yang seperti tak ada habisnya.
Ck, kehendak hati selalu saja berbelok dari kehendak tubuh.
"Udaaaah!"
"Aku capek!"
Keluhan itu terdengar sangat terpaksa. Namun bersukur karena Dihyan segera menghentikan aksinya.
"Pegel banget!"
"Kamu buat tubuhku rontok semua."
Mata itu telah terpejam, saat berucap namun terdengar seperti gumaman.
"Ya udah, kita tidur." DIhyan dengan napas yang sama ter-engah dan telah payah. Sempat tersenyum saat mendengar keluhan RIma.
"Capek banget yah?" Memberikan pijatan-pijatan lembut di lengan Rima. Iapun tak mengerti dari mana datangnya kekuatan tak berakhir tadi.
Mungkin jika RIma tak menegurnya, ia masih bertempur, mengeluarkan seluruh h@srat yang terpendam selama ini.
Aaaah, terpendam?
Padahal telah beberapa kali menyentuh dan menyalurkan hasratnya pada wanita itu.
__ADS_1
Namun, tadi?
Ia seperti lepas kontrol. Tak mampu mengendalikan diri yang selalu saja kembali on setelah baru saja selesai menumpahkan. Mungkin tubuh RIma terlalu menggoda pikirnya.
Hemmmmm.
"Kamu ngantuk?"
Tanya itu kembali ia jawab dengan gumaman panjang.
Hemmmmm. Benar, rasa kantuk menyerang begitu saja.
RImapun menyiapkan diri berbaring guna mengistirahatkan tubuh yang remuk redam.
Setelah ini ia harus benar-benar berpikir jauh terlebih dahulu untuk melakukan segala yang mampu membangkitkan singa dari tidurnya.
Kini ia lagi tak peduli saat tubuhnya yang terasa ringkih berada dalam dekapan Dihyan.
Bahkan semakin beringsut masuk saat mencium aroma maskulin dari tubuh sang suami.
Betapa keras hati mencoba menolak, namun tubuh tak dapat menjauh.
ARoma itu seperti menariknya semakin dalam dan jatuh dalam pelukan pria itu.
Meski dalam hati tetap menguatkan hati agar tak terjatuh oleh godaan dan perlakuan Dihyan.
Cukup raga saja yang dimiliki pria itu, jangan dengan hati.
Dihyan terbangun saat merasakan tempat di sampingnya kosong melompong.
Menggerak-gerakkan dan kaki hingga menggapai seluruh sisi ranjang. Namun tubuh yang ia cari belum ketemu jua.
Dengan memaksakan diri, membuka mata guna mencari sosok itu dengan penglihatannya. Tak ada.
Kali ini pendengaran turut di pertajam, sambil memandang ke arah pintu kamar mandi. Tak ada suara gemercik air pun.
Di mana RIma?
Seketika membangunkan raga secara terpaksa. Mengumpulkan kepingan kesadaran yang masih menari-nari di atas kepalanyapun dengan terpaksa.
"RIMA." Teriaknya meninggalkan peraduan, bekas berkenala bersama Rima tadi siang.
Melangkah dengan segera ke arah kamar mandi, barang kali ia belum fokus tadi hingga tak menyadari keberadaan RIma di dalam yang tengah membersihkan diri.
Membuka pintupun dengan tergesa. Pintu tak terkunci membuat ia mudah masuk tanpa penghalang yang berartipun. Kosong, tak ada Rima meski matanya telah terbuka lebar.
Di mana RIma?
Bukankah tadi wanita itu mengeluh lelah?
__ADS_1