Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Indahnya Ber-Rumah Tangga


__ADS_3

Dihyan langsung saja membalikkan keadaan. Kini ia telah berada di atas Rima. Tak terlalu menyusahkan diri, karena tubuh Rima sudah polos dengan sendirinya.


Rima tersenyum miring saat Dihyan telah meletakkan wajahnya di cerul leher sang istri.


Sekarang siapa yang kalah dan siapa yang menang? bisa dipastikan Dihyan telah berada di di Puncak geloranya.


Gadis itu kini telah mengeluarkan suara-suara unik yang berasal dari udara yang keluar langsung melalui tenggorokan seolah tanpa penghalang. Panas tubuh telah menjalar seketika itu juga. Ah Bukan, ini sudah berlangsung lama bahkan sejak kemarin kemarin kemarin kemarin dan kemarin.


Berapa lama Dihyan mengacuhkannya? Tapi mampu membuat rasa rindu akan melayang itu menggelora. Rima bahkan sempat melayangkan pikiran tentang adegan-adegan panas yang akan mereka ciptakan saat mereka tengah saling berdiam-diaman.


Dihyan pun sama, panas tubuh seketika itu melonjak begitu saja.


Hanya butuh sedikit pemanasan untuk tubuh yang memang telah memanas itu. Selanjutnya kedua tubuh itu telah saling menempel dan berpaut satu sama lain.


Melepaskan kerinduan yang sama tertahan karena ego dan gengsi yang sama tingginya.


"Kita akan kembali ke rumah setelah kamu hamil?" Dihyan sambil mengusap pelan perut Rima. Berharap bibit yang ia semburkan dapat tumbuh dan bertunas lebih cepat.


Keadaan sudah kembali normal, baju haram kembali terpasang di tubuh langsing Rima.


" Tapi aku bosan di sini. Aku bisa stress jika lama-lama terkurung di sini."


"Tidak ada pemandangan yang indah, cuma tembok-tembok di sekelilingku." Rima mulai merajuk kembali, meminta dengan memelas lengkap dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.


" Itu hukuman untukmu, karena menggunakan alat kontrasepsi tanpa memberitahuku." Dihyan memeluk dari belakang, usapan-usapan lembut masih terus saja Ia berikan di perut suami istri.


"Kalau begitu ya nggak usah pegang-pegang dulu!"  Rima menghentak tangan Dihyan agar terlepas dari tubuhnya.


"Peluk-peluknya nanti saja, kalau kita sudah pindah." Ia mulai beringsut ke sisi lain ranjang, menjauh dari Dihyan.


"Mau kuat-kuatan diam-diaman nih?" Dihyan menggulum bibir menahan senyuman agar tak terlalu terlihat, masih segar di Ingatan saat Rima mencoba menggodanya dengan mengoleskan tubuh dengan body lotion yang dilakukan seseks! mungkin.


Gadis itu kini justru kembali menentangnya, Dihyan menguluarkan tangan, hendak meraih lengan Rima demi mendekatkannya kembali. Tapi lagi,Rima masih mencoba menepisnya.


" Kita baru berbaikan loh Rima, nggak usah ngambekan mulu." Ucapnya kembali.


" Ya udah nanti kita pindah" AKhirnya Dihyan mengalah begitu saja. Ia pun merasa tak enak jika harus berdiam-diaman dengan sang istri.


Semakin terasa saat malam tiba, harus memaksa mata untuk tertutup hanya demi menanti lelap. Tidur dengan saling membelakangi, semakin menambah porsi penyiksaan menjelang tidur.


"Rima sini, ngambeknya udahan! Capek tahu! Kita udah lama nggak tidur sambil pelukan."


"Iya kita pindah besok deh, tapi ingat syarat dan ketentuan masih berlaku." Dihyan kembali mengulurkan tangan demi menarik Rima masuk dalam pelukannya.


Kali ini Rima tak mengelak, memang terlalu lama mereka saling mendiami. Dia pun terlalu rindu dengan yang namanya sebuah pelukan. Mulai beringsut mundur, hingga punggungnya menyambar tubuh Dihyan dan masuk dalam pelukan pria itu.

__ADS_1


Eemmm, nyaman sekali rasanya.


Sesuai janji di siang semalam, akhirnya mereka kembali ke rumah itu. Dihyan mencoba menepikan ego demi kenyamanan sang istri dan menjauhkan dari kata stress.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Rimaaaaa."


Suara Dihyan menggema memenuhi langit-langit rumah. Pria itu baru saja tiba dari luar masih dengan pakaian kantornya.


Jam berapa sekarang?


Baru jam sepuluh, hari pun belum terlalu siang, namun pria itu kini telah berada kembali di rumahnya.


Melangkah dengan terburu-buru meski raut wajah terlihat nampak pucat dari biasanya. Kamar Rima menjadi tujuan utamanya saat ini.


"Rima." Kembali memanggil nama itu saat baru saja membuka pintu kamar. Nihil, yang dicari tidak ada di tempat itu.


"Rima." Kaki kembali melangkah keluar, menuruni dua anak tangga sekaligus agar bisa melangkah lebih cepat dan menemukan orang yang ia cari segera.


" Bi istriku mana?" Saat menemukan Bi Siti yang tengah membersihkan rumah.


" Lho kok bapak ada di rumah? Bukannya tadi pergi kerja?"


" Tadi lagi di samping pak, katanya mau bersihkan akuarium."


Segera melangkahkan kaki ke teras samping. Benar saja orang yang dicari ada di sana.


"Rimaaaa." Geram seketika saat melihat penampilan istrinya kembali menggunakan pakaian ****!-nya dalam pandangannya. Entah bagaimana menurut pandangan Rima, hingga wanita itu terlihat  begitu santai dan tanpa risih sedikitpun.


"Loh kok, Kamu kenapa bisa ada di sini?" Rima mulai menegakkan tubuh, di tangan masih ada sikat yang digunakan untuk membersihkan kaca akuarium.


" Kamu kenapa pakai yang seperti ini lagi?"


Bagaimana tidak marah,Rima hanya menggunakan singlet dengan bawahan hotpants yang sangat dan Mini. ditambah lagi Rima tidak sendiri di sana. Ada Pak Dodo yang membantunya membersihkan akuarium selebar 1 Meter itu.


Bagaimana saat Rima membungkuk, pasti belahannya akan terlihat oleh pandangan mata. Oooh ya ampun, membayangkannya saja sudah membuat dada bergemuruh.


"Hehehehe, Aku kira kamu nggak ada di rumah." Rima diiringi dengan kekehan demi menyamarkan jantung yang berdetak kencang karena ketakutan.


" Jadi kalau aku nggak ada di rumah, kamu berpakaian seperti ini?" Tangannya mengibas dan pandangan mata pada Pak Dodo, menandakan ia ingin pria itu pergi dari sini.


"Biar nanti semua pakaianmu yang seperti ini aku bakar saja!"


"Eh, jangan! Ia aku janji ini yang terakhir kalinya." Rima

__ADS_1


"Bener?" Dihyan dengan tatapan tajam siap menerkam.


"Iya janji." RIma memasang wajah yang begitu meyakinkan.


"Kalau aku liat kamu pakai baju seperti ini di luar kamar lagi?" DIhyan. "Aku bakar yah?"


"Iya, iya. Ck. Janji ini yang terakhir kali." Wajahnya telah memberenggut kesal saja.


"Hehehehe, Kamu kenapa pulang? ada yang kelupaan? Kenapa nggak nelpon Bisa aku antarkan ke kantor?" Tubuh seksinya telah menempel pada sang suami, mencoba mengambil hati suaminya yang Iya ketahui kini tengah tersulut emosi.


" Aku Sakit!" Dihyan telah menjatuhkan tubuh di kursi malas yang diletakkan di teras samping.


" Beneran? Kamu kelihatan pucat!" Langsung saja merasa khawatir, terlebih saat memandang wajah Dihyan yang memang terlihat sedikit pucat.


"Apa yang sakit?" Naluri kedokterannya muncul seketika, ia telah berdiri di depan suaminya siap memeriksa lebih lanjut.


Meski saat kedua tangan Dihyan telah melingkar di tubuhnya, berikut sedikit tekanan yang mampu membawa tubuhnya lebih merapat.


" Kangen." Suara Dihyan masih terdengar di telinganya meskipun wajah pria itu tenggelam di perutnya.


" Apanya yang sakit?" Dengan tangannya Rima mencoba menjauhkan kepala Dihyan dari tubuhnya. Ia hendak memperhatikan raut wajah Dihyan.


Dihyan Memutar tubuh Rima, sekali lagi memberikan tekanan hingga membuat tubuh gadis itu berada dalam pangkuannya.


" Pusing." Ucapnya sambil menjatuhkan dagu di pundak sang istri, menoleh ke samping menenggelamkan wajah ke dalam ceruk leher Rima.


Menghirup nafas dalam-dalam, hingga paru-parunya penuh dengan aroma tubuh Rima. Hanya seperti ini saja mampu menjadi aromaterapi yang begitu menenangkan baginya.


"Kamu kenapa?" Rima kembali menjauhkan tubuhnya dari Dihyan. Rasa penasaran masih saja ada tentang keadaan pria itu.


" Kepalaku pusing." Dihyan mulai menjauhkan diri,punggungnya bersandar di sandaran kursi kayu, satu tangan memijat pelipisnya, sementara satu tangan masih melingkar di perut Rima.


"Pandangannya oleng?"


Dihyan mengangguk, mata terpejam saat merasakan pijatan lembut kedua tangan Rima di kepalanya. Ia tak sedang bercanda saat ini.


Benar, kepalanya terasa pusing. Apalagi saat berada di atas kendaraan yang tengah melaju.


"Ya udah kita ke kamar, kamu istirahat di kamar aja."


Berjalan berdua menuju ke kamar dengan Diyan yang bergelayut manja di pundak sang istri.


Ini belum usai yah.


Masih jauhhhh. Moga aja kalian masih sabar menikmati ceritaku ini.

__ADS_1


__ADS_2