
Reno masih berdiri terpaku di tempat, telah berapa lama ia berdiri di sini.
Dihadapannya bangunan rumah sederhana, tempat selama ini ia pulang dalam keadaan apapun. Namun hampir sebulan lamanya ia tak lagi menginjakkan kakinya di sini.
Meski penerimaan ibu padanya sangatlah baik, namun ia bisa menebak ada rasa kecewa yang mampu terbaca dari pandangan mata teduh itu.
Ia mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya itu. Saat ini ibu berada di rumah sakit menemani bapak, sementara di rumah ini hanya ada adik dan istrinya. Ia tak bisa menebak apa yang terjadi saat dua wanita itu berada di sana. Aman kah?
Pintu telah ia tutup dengan perlahan, hendak marah saat tahu pintu rumah tak dikunci dengan baik, sementara yang di dalam hanya dua orang wanita.
Dua oranga yang saling menghindar satu sama lain. Ketika Diandra berada di luar, maka Dira akan lebih memilih masuk ke dalam kamarnya. Begitupun sebaliknya, gadis bulat itu baru keluar saat tahu jika kakak iparnya telah masuk ke dalam kamar.
Tubuh pria itu telah masuk ke dalam ruangan yang terdengar sedikit gaduh. Dari sana, nampak seorang wanita yang penuh kesabaran.
Bagaimana tidak sabar, ketika ia sendiri lebih memilih pergi meninggalkan rumah ini, wanita yang berstatus sebagai istrinya itu masih tetap berada di rumah ini dan berbakti pada keluarganya.
Jangan lupakan kalimat-kalimat pedas yang pernah ia lontarkan pada wanita ini?
Sabar bukan istrinya ini?
Wanita itu berbalik setelah membersihkan tangannya. Matanya membulat tak percaya dengan apa yang ada di depannya.
Diandra mengerjapkan mata, lalu mengecuk demi membersihkan indera penglihatannya yang mungkin terganggu saat ini.
Namun sosok itu masih tetap berdiri di sana. Bahkan kini telah merentangkan kedua tangannya.
Meski tak percaya, wanita itu tetap mengayunkan langkah mendekat. Tak peduli ini nyata atau tidak, setidaknya bisa sedikit saja menyurutkan rasa rindunya.
Dua tangannya ikut merentang, hingga tubuh itu benar-benar bertemu dengan kedua tangan yang saling melingkar di tubuh.
__ADS_1
Ini nyata. Reno yang ia peluk benar-benar nyata dan bukan hanya sekedar ilusi.
Semain nyata kala wanita itu merasakan sentuhan yang menyapu di punggunnya.
" APa kabar?" Reno.
Hanya sekedar basa-basi keadaan Diandra bahkan telah terbaca jelas di mata pria itu.
"Baik. Kak Reno?"
Mereka masih berpelukan saat saling melontarkan tanya.
Reno mulai menggerakkan tangannya, dengan jari telunjukkan ia mencoba mengangkat wajah sang istri.
Raut wajah itu terlihat sendu dengan menahan kerinduan yang ada, tersenyum kaku saat pandangan mata mereka bertemu. Dan saat Reno menundukkan wajanya, Diandra hanya terdiam, menantikan apa yang akan terjadi setelah ini.
Ia masih menahan diri, kala sentuhan itu semakin tak terkendali. Matanya hanya sesekali tertutup kemudian kembali terbuka hanya untuk memastikan segala yang ia rasakan ini benar-benar nyata.
Kembali menutup mata, mempersembahkan diri pada sang pemilik tubuh.
" Rima dan Reno saling mencintai."
" Cinta itu buta melekat pada siapa saja yang ia kehendaki, Begitu juga dengan Reno yang mencintai Rima sejak dulu, bahkan sebelum aku menikah dengan Rima,"
" Jika suatu saat Reno meminta untuk berpisah, maka Lepaskanlah. Karena kebahagiaan Reno bukan bersamamu!"
Perkataan Dihyan nyatanya tak terbukti. Reno sama sekali tak menyinggung tentang perpisahan, bahkan baru saja menyempurnakan pernikahan mereka.
Reno baru saja menyentuhnya, memberikan nafka batin yang telah lama tertunda pada sang istri. Mungkin rasa rindu membawa pria itu menari-kan tangan di atas tubuh wanitanya. Dan kini Diandra telah menjadi istri yang sesungguhnya untuk seorang Reno.
__ADS_1
Di kamar sederhana itu, mereka telah merajut kasih, menyatukan cinta dengan lembut dan peluh. Meleburkan rindu yang menggunung setelah lama tak bersua.
" Kau senang?"
Di bawah gulungan selimut Diandra mengangguk menjawab pertanyaan Reno sambil tersenyum. Kembali mengeratkan pelukan yang telah rapat.
Meski rasanya sakit dan bahkan masih menyisakan perih di sana, namun wanita itu bahagia telah memberikannya pada pria yang ia cintai. Pria yang memang berhak atasnya.
" Kalau besok bertemu dengan Rima, Berterima Kasihlah padanya!" Reno.
" Karena Rima yang menyuruhku untuk menyentuhmu."
" Rima yang memintaku untuk memperlakukanmu seperti istri sebenarnya."
" Jika suatu saat kau bahagia dengan pernikahan ini maka pada Rima."
" Karena Rimalah yang memintaku untuk membahagiakanmu."
Diandra hanya mampu menutup matanya dengan erat kala mendengar serentetan kalimat yang mampu menyayat hatinya.
Ia yang tadinya di buat melayang, menari di atas awan serasa ditarik hingga terperosok ke dalam jurang kesakitan.
Ia pikir, Reno menyentuhnya karena ingin menyempurnakan pernikahan mereka. Nyatanya semua ini karena permintaan Rima. Wanita yang dicintai suaminya.
Lalu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Benih Reno telah masuk ke dalam rahimmya, dan mungkin sedang saling berburu kehidupan di dalam sana.
Bukan menyesal telah menyerahkan tubuhnya pada pria ini. Namun apakah ia bisa merasakan kebahagiaan saat suaminya sendiri masih saja terporos pada satu wanita itu.
Ia tahu ini bukan salah Rima. Toh wanita itu yang menyuruh Reno untuk menyentuh dirinya, nyata sekali jika mantan sahabatnya itu ingin rumah tangganya bersama Reno berjalan normal seperti pasangan-pasangan lainnya.
__ADS_1