Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Tahun Baru


__ADS_3

Perut telah terisi penuh, malam pun kian beranjak naik, tapi mereka masih berada di teras dengan segala keseruan.


Kecuali Dihyan yang kembali mengambil alih Sang putra setelah disusui.


Mudah sekali baginya lakukan pekerjaan ini, karena bayi itu akan kembali tertidur setelah perutnya kenyang, dan popok dalam keadaan kering.


" Aman?" Rima yang baru saja muncul demi memastikan kondisi sang anak.


" Iya, kamu tenang aja!" Dihyan tersenyum memandang wanita yang juga terlihat sangat bahagia pada malam ini.


Beberapa kali wanita itu keluar masuk rumah karena tak ingin kehilangan momen kumpul keluarga seperti ini. Tapi iapun masih ingat dengan tanggung jawabnya yang memiliki seorang bayi.


" Di luar lagi ngapain?" Dihyan yang sebenarnya ikut penasaran dengan acara yang masih langsung di teras rumahnya.


" Kamu mau lihat?" Rima menawarkan.


" Nggak usah, dengar dari cerita kamu saja nanti," Tak tega rasanya jika harus memangkas kebahagiaan sang istri.


Wajah cantik itu terlihat sangat bersinar malam ini, mungkin karena Aura kebahagiaannya yang membuat senyum wanita itu tak pernah lepas dari wajahnya.


Rima masih menyembunyikan perihal petasan yang dimiliki adik iparnya. Dia berniat mengamankan sang bayi terlebih dahulu, agar suara yang meledak-ledak nanti bisa terendam sedikit dengan bantuan dinding-dinding rumah.


Tangannya bergerak demi mengambil bayi mungil yang tadinya tertidur di kasur bayi yang diletakkan di atas karpet depan TV.


" Pindahin ke kamar tamu aja yah?" Tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu ia mulai bangkit.


" Loh kok, mau dibawa ke mana?" Dihyan yang tadinya ikut tidur sambil menikmati siaran televisi ikut bangkit meski dengan rasa penasaran.


" Ke kamar ayah, kasihan kalau tidur di situ." Matanya sempat melikir ke arah kasur bayi di sana, "Nanti kedinginan."


Yakinlah jika, itu hanya sebuah alasan karena alasan yang sesungguhnya tak mungkin bisa ia utarakan di depan Dihyan.


" Ya sudah bawa ke kamar kita saja!" Pinta Dihyan yang masih mengikutinya dari belakang.


" Nggak usah ah, aku males kalau harus naik turun!"


Selain itu, kamar di atas mungkin akan menangkap suara yang lebih besar daripada Kamar bawah. Terlebih ledakan itu akan terjadi di atas nanti.


"Tapi jangan di kamar ayah juga, aku malu nanti kalau sampai harus ketemu ayah." Rasa sungkan pada ayah mertuanya memang masih terasa kental.


" Kamar Diva saja!"


"Heeem," Sambil mengangguk Rima terus mengayunkan langkah menuju ke tempat yang Dihyan mau.


Di mana saja asal aman pikirnya dan lebih cepat lebih baik. Sehingga ia pun dapat kembali berkumpul dan melaksanakan misi bersama Diva.


" Kamu mau ikut gabung?" Rima kembali bertanya untuk memastikan, meski dalam hati ia sangat berharap jika suaminya itu tak terg0da dengan keramaian dan keriuhan di samping. Jika tidak maka rencananya dengan Diva mungkin akan diundur.


Dihyan hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Tangan terulur meminta Rima menyambutnya, menarik wanita itu mendekat pada tubuhnya.


Bisa saja ia meminta tolong pada salah satu bibi yang ada di rumahnya untuk menggantikannya menjaga si bayi, namun ia masih ingin menghabiskan waktu bersama putranya sebelum papa kembali mengancamnya hanya untuk menyuruhnya masuk kantor.


" Kamu kelihatan bahagia banget." Ucapnya sambil menarik pinggang sang istri agar lebih merapat padanya.

__ADS_1


Kedua tangan melingkar hingga ke pinggang Rima, hingga Ia bisa menenggelamkan wajah di perut sang istri.


" Iya, habis seru sih!" Wanita itu meladeni keinginan sang suami, kedua tangan turut bekerja mengusap lembut rambut hitam legam itu.


Kebahagiaan itu memang tak bisa ia tapik. Apalagi saat merencanakan sesuatu yang tersembunyi bersama Diva, setiap meledakkan petasan.


Mungkin hal itu terdengar biasa saja bagi orang lain Tapi masalahnya di rumah ini ada seorang bayi kecil yang baru berumur beberapa hari, yang harus mereka jaga, pun dengan pendengarannya.


Belum lagi ada Diandra yang sesekali bertugas memperingatkan Rima dan Diva untuk tidak melanjutkan misi mereka meledakkan petasan.


Yang justru membuat semakin merasa tertantang bagi kedua wanita ini.


Bibir Rima kembali tersenyum. Kali ini menampilkan senyum yang misterius, ah entahlah.


" Aku keluar yah, nggak enak kalau terlalu lama tinggalkan."


Alasan saja wanita ini, padahal justru Ia yang tak sabar untuk kembali bergabung dengan mereka di luar sana.


" Beneran nih gak mau keluar dulu?"


" Nggak usah kamu aja. Aku cukup nonton dari sini saja."


Wanita itu kini terlihat mendelik saat mendengar jika suaminya ingin menyaksikan mereka dari kamar ini.


Gawat! Pikirnya.


Bagaimana jika Dihyan tahu tentang rencana mereka? Bisa gagal nantinya.


Ah aman.


Dari balik jendela ini, ia hanya menangkap pemandangan jalanan menuju ke teras samping.


" Kenapa?" Dihyan ikut melangkah ke arah Rima.


" Ah nggak pa-pa." Ucapnya segera menutup tirai.


Namun Dihyan justru mengeluarkan tangan kembali menyingkap kain gorden, jelas rasa penasaran ada.


" Kamu kenapa?" Tanyanya lagi. Entah mengapa rasanya ada yang berbeda dari Rima. Pikirannya kini melayang pada sosok pria yang pernah mengaku sebagai kekasih Rima. Apakah pria itu ikut bergabung dengan keluarganya?


" Di luar ada siapa?" Tanyanya lagi.


" Nggak ada siapa-siapa kok, masih seperti yang tadi, cuma tambah Arman. Kalau nggak percaya, kamu keluar aja dulu!" Lebih baik menyuruh suaminya keluar sekarang selagi kondisi masih aman, agar suaminya itu juga bisa cepat kembali masuk hingga ia bisa kembali menjalankan misinya.


Benar saja, Dihyan segera melangkahkan kaki keluar demi memastikan apakah benar ada sesuatu yang Rima sembunyikan darinya.


Hanya dalam hitungan menit, Dihyan kembali masuk menampilkan wajah penuh kelegaan.


" Udah?" Rima yang kini sudah tak sabar untuk kembali keluar. Meski sempat merasakan kegundahan, namun Ia masih menanam kepercayaan pada Diva yang dia nggak punya bisa diandalkan.


" Ya udah kamu boleh keluar!"


" Eh tunggu dulu!" Dihyan yang kembali menarik tangan Rima hingga menubruk pada dadanya, sengaja.

__ADS_1


"Cium dulu!" Ucapnya sebelum merapatkan bibir. Merengkuh indah dan manisnya dari sana. Rima terlihat terlalu sibuk hingga melupakan dirinya.


Hanya lepas beberapa detik saja guna melegakan pernapasan yang tadinya sempat terhenti karena ciuman mendadak, lalu kembali merapat.


Ah, rindu itu nyatata kembali membangkitkan gairahnya.


Sudah berapa hari ia berpuasa? Nyatanya waktu berbuka masihlah lama.


"Udah ah!" Rima setelah mampu terlepas dari eratnya dekapan sang suami meski dengan napas yang masih pendek-pendek.


Ting!


Segera berlari keluar setelah sebelumnya meninggalkan kedipan mata nakal pada sang suami. Membuat pria itu tersenyum dengan tingkah sang istri yang mencoba mengg0danya.


Dor.


Dor.


Dor.


Suara petasan menggema di langit atas rumah Dihyan, membuat pria itu menyerkit keheranan. Ini bukanlah petasan pertama yang ia dengar malam ini, namun suara letusannya terlalu besar menandakan jika petasan itu tidak jauh dari rumahnya.


Penasaran, pastinya.


Setelah memastikan putranya tak terganggu dengan suara-suara yang menggelegar itu, ia mulai berjalan ke arah jendela demi memastikan apa yang terjadi di luar sana.


Membuka tirai, namun ia hanya bisa menangkap pemandangan langit yang di penuhi dengan kembang api.


Kembali menajamkan pendengarannya, berasal dari mana suara petasan itu.


Rasa penasarannya membawanya kembali ke dekat ranjang hendak menghubungi sang istri dengan ponselnya. Sayangnya ia justru menemukan dua buah alat komunikasi itu tergeletak di sana.


Menghubungi sang adik yang justru di jawab dengan suara teriakan hingga ia memilih memutuskan panggilan yang sia-sia.


hendak keluar namun tak mungkin baginya untuk meninggalkan bayi kecil itu sendirian dalam kamar.


tangannya kembali menari di atas layar ponsel, menghubungi sang mama yang juga sama dijawab dengan teriakan bersanding dengan suara petasan yang silih berganti.


Ah sudahlah, Ia hanya bisa pasrah berada berdua hanya dengan sang Buah Hati di dalam kamar. Toh bayi itu pun tidak merasa terganggu dengan keributan di luar.


Dihyan lebih memilih berdiam diri, sekali menepuk-nepuk bokong Sang putra memberikan ketenangan agar tetap terlelap.


Nasib Dihyan malam ini jauh lebih beruntung dibandingkan pria di sana.


Sosok yang lebih memilih menghabiskan malam tahun barunya di dalam kamar sambil menatap kembang api yang bertaburan di atas langit. Dalam hati berdoa semoga malam ini hujan turun dengan lebatnya, demi menemani kesunyiannya dalam kesendirian.


Hai guys, sebagian otor tengah gundah dengan peraturan ente.


Nah, sekarang aku mau minta dukungan dari kalian buat bisa tetap semangat buat cerita ini.


Hanya sedikit tekanan di bawah cerita, boleh tombol jempol, boleh lope atau sedikit ketikan di kolom komentar. Atau yang mau ngasih kopi atau bunga juga gak pa-pa.


Semangatnya donk kak!

__ADS_1


__ADS_2